Ceriwis  

Go Back   Ceriwis > DISKUSI > Health

Health Mencegah lebih baik dari mengobati. Cari tahu dan tanya jawab tentang kesehatan, medis, dan info dokter disini

Reply
 
Thread Tools
  #1  
Old 9th March 2016
Gusnan's Avatar
Gusnan Gusnan is offline
Moderator
 
Join Date: Jun 2013
Posts: 27,623
Rep Power: 50
Gusnan memiliki kawan yg banyakGusnan memiliki kawan yg banyakGusnan memiliki kawan yg banyak
Default Kisah Dokter Asal Medan yang Dibayar Seiklasnya, Pasiennya Ada yang Dari Eropa











Sebuah bangunan tua di kawasan Jln. Puri Medan, Kelurahan Komat, Kecamatan Medan Area, Medan Sumatera Utara, kerap didatangi orang-orang yang mengendarai becak, sepeda motor, hingga mobil. Mereka adalah pasien seorang dokter yang akrab disapa Buya. Nama lengkap sang dokter dengan deretan gelarnya adalah Prof. Dr. Aznan Lelo Ph.D, Sp.FK.
Di kediamannya itu, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini membuka praktik tanpa memasang papan nama, kepada pasiennya dia tidak memasang tarif. Pasien membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati. Resepnya untuk obat apotek pun terjangkau. Cukup fenomenal, kontras dengan umumnya dokter, apalagi di kota-kota besar.
Mengisi amplop sekehendak hati
Biasanya praktik buka pukul 17.00 WIB. Ada pasien yang datang dan mendaftar sejak siang kemudian pergi, banyak pula yang datang langsung mendaftar dan menunggu giliran. Ruang tunggu yang juga bagian dari garasi itu kadang dipenuhi pasien, sesuai giliran mereka masuk ke ruang praktik berukuran minimalis.
Di meja registrasi di ujung garasi itu disediakan amplop-amplop putih bergaris putih biru-merah. Pasien yang sudah sering datang tahu cara dan jumlah pengisian amplop untuk tarif “ikhlas hati” itu. Amplop yang sudah diisi dibawa masuk ke ruang praktik saat diperiksa, dan seusai pemeriksaan ditinggal di meja dr. Aznan. Bagi yang belum tahu dan menanyakan biaya, ada kalanya kena semprot kegusaran dan ketersinggungan Pak Dokter.
Kadang dr. Aznan memberikan obat hasil racikannya sendiri, kadang pula menuliskan resep. Obat-obat yang dipilihnya pun generik, bisa diperoleh di banyak apotek dengan harga terjangkau.
Andi (30), seorang kontraktor yang tinggal di Jln. Eka Rasmi, Kelurahan Gedung Johor Medan, yang datang dengan mobil APV putih, mengatakan, alasan utama membawa tiga anaknya ke dr. Aznan bukan hanya karena sang dokter tidak mematok tarif. Tapi ia betul-betul percaya pada kualitas dokter itu. Hari itu ketiga anaknya menderita batuk pilek.
“Tiga anak saya ini dulu punya penyakit kelenjar di leherny Dokter lain yang pernah saya datangi memvonis harus diambil tindakan medis. Tapi alhamdulillah, sama Buya tidak. Waktu itu pengobatannya selama enam bulan, dan radang kelenjar pada tiga anak saya sembuh,” kata Andi.
Ia menuturkan, metode pengobatan yang dilakukan dr. Aznan sangat teratur dan bagus karena punya keahlian meracik obat. “kalau dokter lain resep obatnya mahal. Di sini obat yang diresepkan Biaya relatif terjangkau kita bisa dapat di apotek mana saja. Komposisi obatnya saya rasa sangat tepat, karena beliau sendiri ahli farmakologi,”
Sebagai pasien yang sudah sering berobat kepada dr. Aznan, Andi cukup tahu diri mengisi amplop. “Saya sewajarnyalah, apalagi kalau anak kita sudah sehat, maka kalau ada rezeki kita tambah, kalau tak ada ya ala kadarnya.”
Ia menilai dokter Aznan juga rajin bersedekah. “karena sudah lama kenal, pernah juga membuka amplop dari pasien di depan saya. Saya lihat bahkan ada yang memberi Rp. 5.000. Pernah uang dari amplop pasien dibelikan durian untuk dimakan sama-sama, “ujarnya”
Membandingkan dr. Aznan dengan dokter lain, Andi berkomentar, “Waduh, kalau di luar sana, untuk dokter anak saja, sekali konsultasi bisa Rp. 200.000. Itu lain obat yang terkadang kan ada dokter yang komersil, diresepkan kepada kita brand tertentu yang susah kita cari, mau tidak mau kita beli dari apoteknya.
Pendapat senada diungkapkan Restu Manik, (30) warga Jln. Siriaon, Mandala By Pass, Medan. Restu, karyawan di PT Media Elektronik, mengaku pada 2005 divonis dokter THT (telinga hidung tenggorokan) mengidap polip pada hidungnya dan harus menjalani operasi kecil.
Dari temannya ia tahu praktik dokter Aznan, kemudian dia datangi. “Alhamdulillah, setelah minum obat resep dari Buya, polipku sembuh dalam empat bulan.”
Dari pengalamannya berobat ke dr. Aznan, Restu menceritakan pasien datang dari pelbagai tempat. Dari Aceh, Padang Sidimpuan, Rantau Prapat, dsb.
“ada pasien dimrahi. Dia nanya berapa biaya berobatnya, terus kena sental (dimarahi) sama Buya, “udah gak usa bayar aja, kata Buya, ” cerita Restu.
Menurut pengakuan Restu, sekali berobat ia memasukkan Rp. 25 ribu, kadang Rp. 30 ribu dalam amplop. “beginilah dokter yang kita inginkan, arif, bijaksana dan tidak komersil.”
Reply With Quote
  #2  
Old 16th August 2018
indah75's Avatar
indah75 indah75 is offline
Senior Ceriwiser
 
Join Date: Apr 2016
Location: Klaten
Posts: 5,189
Rep Power: 17
indah75 mempunyai hidup yang Normal
Default

Ungkapan syukur yang akan memberikan kepuasa batin. Bisa menolong sesama....sikap yang patut ditiru.....
Reply With Quote
Reply


Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off


Terkait
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Dokter ini berhasil menyambung tangan pasiennya yang putus, hebat! Gusnan Health 0 23rd July 2015 02:59 PM
Dokter Yang Rela Dibayar Dengan PISANG sotoayam Lounge 0 28th May 2012 06:42 AM
Ini Dia Dokter Saraf yang Rela Dibayar dengan Pisang rumahmenteng Lounge 0 27th May 2012 07:19 PM
dr Endang Kustiowati, Dokter Saraf yang Rela Dibayar dengan Pisang bakwanmalang Lounge 0 27th May 2012 06:54 PM
Dokter yang Jutek Akan Ditinggalkan Pasiennya sampahkampus Health 1 16th February 2011 06:25 AM

 


All times are GMT +7. The time now is 04:51 AM.