| FAQ |
| Calendar |
|
|||||||
| Lounge Berita atau artikel yang unik, aneh, dan menambah wawasan semuanya ada disini dan bisa dishare disini. |
![]() |
|
|
Thread Tools |
|
#1
|
||||
|
||||
|
Foto terkait Musibah kecelakaan Sukhoi Superjet 100
1. Kartu Tanda Penduduk milik seorang penumpang yang ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI ![]() 2. Kartu identitas karyawan Sky Aviation yang ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI ![]() 3. Kartu ATM atas nama Ganis Arman Zuvianto di Lokasi Jatuhnya Pesawat Shukoi di Gunung Salak, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI ![]() 4.Sebuah laptop dan beberapa serpihan barang milik penumpang Sukhoi Superjet-100 ditemukan oleh tim relawan 37 di Puncak Salak 1, Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/5). REUTERS/Duyeh Cidayu ![]() [/quote] Quote:
Quote:
TEMPO.CO , Bogor - Pakar telematika Roy Suryo menyatakan Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat Sukhoi Superjet 100 yang berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan masih menggunakan frekuensi lama, sehingga sinyal saat terjadinya kecelakaan pesawat tersebut tidak bisa terdeteksi. "Pesawat Sukhoi Superjet 100 ini masih menggunakan ELT frekuensi lama di 105 VHF. Di Indonesia rata-rata 406 VHF," kata Roy di posko helipad Pasir Pogor, Cijeruk, Kabupaten Bogor, Senin 14 Mei 2012. Menurut Roy, ELT sendiri dulunya bernama Emergency Locator Beacon (ELBA). Alat tersebut merupakan standar penerbangan sipil karena saat terjadi kecelakaan pesawat dengan tekanan di atas lima, secara otomatis alat tersebut akan memancarkan frekuensi. "ELT ada tiga jenis, ELT untuk pendaki gunung, kapal laut, dan pesawat. Itu otomatis on. Pertanyaan kenapa ELT tidak terdengar sama sekali, sekarang terjawab sudah," katanya. Roy Suryo yang ikut dalam rombongan KNKT dan Badan SAR Nasional ke posko evakuasi menyatakan yang menjadi panduan Indonesia dalam panduan monitor sateli, adalah memonitor frekuensi di 406, tapi ternyata ELT yang digunakan pesawat Sukhoi ini masih menggunakan ELT dengan frekuensi lama, yaitu di 105. "Akibatnya, tidak lagi termonitor karena frekuensi 105 menggunakan VHF, yang jenis pancarannya lurus. Kalau kemarin on, tapi terhalang oleh gunung, itu tidak terdeteksi," ujar Roy. "Kalau 406, itu akan terdeteksi minimal di Australia atau Singapura." </div> |
![]() |
|
|
Terkait
|
||||
| Thread | Forum | |||
| Galliani membantah menjadikan Kaka seperti Pirlo | Sepak Bola | |||
| Terbang di indonesia seperti masuk neraka | Lounge | |||