Ceriwis

Ceriwis (https://forum.ceriwis.com/forum.php)
-   Minangkabau (https://forum.ceriwis.com/forumdisplay.php?f=328)
-   -   Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau (https://forum.ceriwis.com/showthread.php?t=12249)

dex 1st May 2010 12:20 PM

Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
 
Trit iko wak buek dengan alasan,supayo yang datang ka Reg.Minangkabau ko bisa mandapek informasi mengenai Adaik, budayo, Seni, sarato Sejarah ranah awak ranah Minangkabau

Jadi,trit iko khusus untuak posting sagalo nan berhubuangan dengan Adaik, Budayo, Seni, sarato Sejarah Minangkabau

Dimohonkan kapado Uda jo Uni nan singgah ka trit ko untuak indak Nge-Junk



--------------------------------------------------------------------------------



Persembahan:
Trit ini ditujukan untuk seluruh pengunjung baik yang merupakan orang minang ataupun yang bukan orang minang.
Trit ini sengaja dibuat agar pengunjung trit dapat mengetahui, mempelajari, dan memberikan informasi mengenai Adat, Budaya, Seni, dan Sejarah Minangkabau
Demi tertibnya trit ini saya mohon kepada pengunjung sekalian untuk tidak nge-junk di trit ini
Terima Kasih


--------------------------------------------------------------------------------------------

Kritik, saran, request, dll silahkan PM saya :senyum2:

dex 1st May 2010 12:21 PM

Reserved untuak daftar isi trit :senyum2:

dex 1st May 2010 12:22 PM

Ciri dan Adat Orang Minang

Spoiler for Isi:
1. Aman dan Damai
Bila dipelajari dengan seksama pepatah-pepatah adat Minang, serta fakta-fakta yang hidup dalam masyarakat seperti masalah perkimpoian, sistem kekerabatan, kedudukan tanah pusaka tinggi, peranan mamak dan penghulu,kiranya kita dapat membaca konsep-konsep hidup dan kehidupan yang ada dalam pikiran nenek-moyang kita.

Dari konsep-konsep hidup dan kehidupan itu, kita juga dapat memastikan tujuan hidup yang ingin dicapai oleh nenek-moyang kita.
Tujuan hidup itu adalah: BUMI SANANG PADI MANJADI TARANAK BAKAMBANG BIAK

Rumusan menurut adat Minang ini, agaknya sama dengan masyarakat yang aman damai makmur ceria dan berkah, seperti diidamkan oleh ajaran Islam yaitu "Baldatun Taiyibatun wa Robbun Gafuur". Suatu masyarakat yang aman damai dan selalu dalam penmgampunan Tuhan. Dengan adanya kerukunan dan kedamaian dalam lingkungan kekerabatan, barulah mungkin diupayakan kehidupan yang lebih makmur. Dengan bahasa kekinian dapat dikatakan bila telah tercapai stabilitas politik, barulah kita mungkin melaksanakan pembangunan ekonomi.

2. Masyarakat nan "Sakato"
Kalau tujuan akan dicapai sudah jelas, yaitu suatu masyarakat yang aman damai makmur dan berkah , maka kini tinggal bagaimana cara yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Kondisi yang bagaimana yang harus diciptakan. Menurut ketentuan adat Minang, tujuan itu akan dapat dicapai bila dapat disiapkan prasarana dan sarana yang tepat. Yang dimaksud dengan prasarana disini adalah manusia-manusia pendukung adat Minang, yang mempunyai sifat dan watak seperti diuraikan diatas. Manusia dengan kualitas seperti itulah yang diyakini adat Minang yang akan dapat membentuk suatu masyarakat yang akan diandalkan sebagai sarana (wahana) yang akan membawa kepada tujuan yang diidam-idamkan yaitu suatu masyarakat yang aman damai makmur dan berkah.
Suatu Baldatun Taiyibatun Wa Robbun Gafuur. Corak masyarakat idaman menurut kacamata adat Minang adalah masyarakat nan "sakato".

3. Unsur-unsur Masyarakat nan Sakato
Terdapat 4 unsur yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat untuk dapat membentuk masyarakat nan sakato.
Sakato artinya sekata-sependapat-semufakat. Keempat unsur itu adalah:

a. Saiyo Sakato
Menghadapi suatu masalah atau pekerjaan, akan selalu terdapat perbedaan pandangan dan pendirian antar orang satu dengan yang lain sesuai dengan yang lain dengan pepatah "kapalo samo hitam, pikiran ba lain-lain".
Perbedaan pendapat semacam ini adalah sangat lumrah dan sangat demokratis. Namun kalau dibiarkan berlanjut, maka akan berakibat masalah itu takkan terselasaikan. Pekerjaan itu akan terkatung-katung. Karena itu harus selalu dicari jalan keluar. Jalan keluar yang ditunjukkan adat Minang adalah melakukan musyawarah untuk mufakat, bukan musyawarah untuk melanjutkan pertengkaran.

Keputusan boleh bulat (aklamasi) tapi boleh juga gepeng atau picak (melalui voting). Adat Minang tidak mengenal istilah "Sepakat untuk tidak se-Mufakat". Bagaimana proses keputusan diambil, namun setelah ada kata mufakat maka keputusan itu harus dilaksanakan oleh semua pihak. Keluar kita tetap utuh dan tetap satu. Setiap individu Minang disarankan untuk selalu menjaga hubungan dengan lingkungannya.

Adat Minang tidak terlalu memuja kemandirian (privacy) menurut ajaran individualisme barat. Adat Minang mengajarkan supaya membiasakan berembuk dengan lingkungan kendatipun menyangkut masalah pribadi. Dengan demikian adat Minang mendorong orang Minang lebih mengutamakan "kebersamaan" kendatipun menyangkut urusan pribadi. Kendatipun seorang individu Minang menduduki posisi sebagai penguasa seperti dalam kedudukan mamak-rumah atau pun Penghulu Andiko maka keputusan tidak mungkin juga diambil sendiri. Karena itu sikap otoriter tidak pernah disukai rang-orang Minang.

Adat Minang sangat mendambakan persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Minang. Orang Minang yakin tanpa persatuan dan kesatuan itu akan menjauhkan mereka dari tujuan masyarakat yang ingin dicapai. Mereka memahami pula dalam hidup berkelompok dalam masyarakat akan selalu terdapat silang selisih, marah dan sengketa akan selalu terjadi. Antara sanduak dan periukpun tak pernah sunyi akan selalu ada kegaduhan. Namun demikian orang Minang mempunyai dasar filosofi yang kuat untuk mengatasinya.

Adat Minang akan selalu mencoba memelihara komunikasi dan kemungkinan berdialog. Karena dengan cara itu segala masalah akan selalu dapat dipecahkan melalui musyawarah. Orang Minang menganggap penyelesaian masalah diluar musyawarah adalah buruk. Dalam mencapai kata sepakat kadangkala bukanlah hal yang mudah. Karena itu memerlukan kesabaran, ketabahan dan kadangkala terpaksa menguras tenaga. Namun demikian musyawarah tetap diupayakan

b. Sahino Samalu
Kehidupan kelompok sesuku sangat erat. Hubungan individu sesama anggota kelompok kaum sangat dekat. Mereka bagaikan suatu kesatuan yang tunggal-bulat. Jarak antara "kau dan aku" menjadi hampir tidak ada. Istilah "awak" menggambarkan kedekatan ini. Kalau urusan yang rumit diselesaikan dengan cara "awak samo awak", semuanya akan menjadi mudah. Kedekatan hubungan dalam kelompok suku ini, menjadikan harga diri individu, melebur menjadi satu menjadi harga diri kelompok suku.
Kalau seseorang anggota suku diremehkan dalam pergaulan, seluruh anggota suku merasa tersinggung. Begitu juga bila suatu suku dipermalukan maka seluruh anggota suku itu akan serentak membela nama baik sukunya.

c. Anggo Tanggo
Unsur ketiga yang dapat membentuk masyarakat nan sakato, adalah dapat diciptakannya pergaulan yang tertib serta disiplin dalam masyarakat.
Hal ini berarti bahwa setiap anggota masyarakat dituntut untuk mematuhi aturan dan undang-undang, serta mengindahkan pedoman dan petunjuk yang diberikan penguasa adat. Dalam pergaulan hidup akan selalu ada kesalahan dan kekhilafan. Kesalahan dan kekhilafan itu harus diselesaikan sesuai aturan. Dengan demikian ketertiban dan ketentraman akan selalu terjaga.

d. Sapikua Sajinjiang
Dalam masyarakat yang komunal, semua tugas menjadi tanggungjawab bersama. Sifat gotong royong menjadi keharusan. Saling membantu dan menunjang merupakan kewajiban. Yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing. Kehidupan antara anggota kaum, bagaikan aur dengan tebing, saling bantu membantu, saling dukung mendukung. Dengan masyarakat nan sakato ini diharapkan akan dapat dicapai tujuan hidup dan kehidupan orang Minang sesuai konsep yang diciptakan nenek moyang orang Minang.

BUMI SANANG PADI MANJADI
PADI MASAK JAGUNG MAUPIA
ANAK BUAH SANANG SANTOSA
TARANAK BAKAMBANG BIAK
BAPAK KAYO MANDE BATUAH
MAMAK DISAMBAH urang PULO




dex 1st May 2010 12:23 PM

Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau I

Spoiler for Isi:
Pengetahuan adat Minangkabau itu dihimpun di dalam "Undang nan Duo Puluh Cupak nan Duo"

I. Adat Ampek

Ini terdiri dari :
1. Adat sabana adat
2. Adat nan diadatkan
3. Adat teradat
4. Adat istiadat

Adat pada nomor 1 dan 2 disebut adat babuhua MATI yakni, Adat sabana adat dan Adat nan diadatkan. Dalam sehari-hari disebut "Adat".
Adat pada nomor 3 dan 4 disebut adat BABUHUA SENTAK yakni, Adat teradat dan Adat istiadat. Maka keempat keempat jenis adat ini disebut "adat istiadat Minangkabau".

a. Adat Sabana Adat
Ialah suatu peraturan yang seharusnya menurut alur dan patut, seharusnya menurut Agama Islam (syarak), menurut perikemanusiaan. Adil dam beradab. Sebelum masuknya Islam di Minangkabau, adat nan sabananyo adat ini adalah suatu aturan dalam masyarakat yang dicontoh dan dipelajari oleh nenek moyang kita Dt. Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan dari kenyataan alam, yang disebut dalam pepatah :
Panakiak pisau sirauk
Ambiak galah batang lintabuang
Silodang ambiak ka niru
Nan satitiak jadikan lauik
Nan sakapa jadikan gunuang
Alam takambang jadi guru.

b. Adat Nan Diadatkan
Ialah peraturan yang dibuat oleh Dt. Parpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan yang dicontoh dari adat nan sabananyo adat, dan dilukiskan peraturan itu dalam pepatah, yakni persoalan yang bersangkutan dengan peraturan hidup masyarakat dalam segala bidang, umpamanya :
a. Kedudukan seseorang sebagai pribadi
b. Kedudukan masyarakat
c. Eknomi

Dan juga mengatur bidang :
a. Susunan masyasrakat
b. Tujuan masyarakat
c. Cara mencapai tujuan masyarakat

Kedudukan sesorang sebagai pribadi :
Nan kuriak iyolah kundi
Nan merah iyolah sago
Nan baiak iyolah budi
Nen endah iyolah baso


Yang tujuannya untuk mencapai :
Nan tuo dihormati
Nan ketek dikasihi
Samo gadang baok bakawan
Anyuik bapinteh, hilang bacari
Salah dibatuakan
Tarapuang bakaik
Tabanam baslami.


Kedudukan masyarakat :
Nan barek samo dipikua
Nan ringan samo di jinjiang
Nan elok bahimbauan
Nan buruak bahambauan
Nan elok diawak katuju dek urang
Sahino samalu
Sasakik sasanang
Sakik disilau, mati bajanguak


Ekonomi :
Elok lenggang di nan data
Rancak Rarak di hari paneh
Hilang rono dek pinyakik
Hilang bangso tak barameh
Dek ameh sagalo kameh
Dek padi sagalo jadi
Duduak marauik ranjau
Tagak maninjau jarah


Dan sebagai dasar adalah :
Sawah ladang, banda buatan
Batanam nan bapucuak
Mamaliharo nan banyawa

Ka sawah babungo ampiang
Ka rimbo babungo kayu
Ka sungai babungo pasia
Ka lauik babungo karang
Ka tambang babungo ameh
Nan lunak di tanami padi
Nan kareh di buek ladang


Artinya sebagai prinsip dasar dalam bidang ekonomi adalah pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dll.

Susunan masyarakat seperti kata pepatah :
Ingirih bakarek kuku
Panggang pisau sirauik
Panggarek batuang tuonyo
Batuang tuo ambiak ka lantai
Nagari ba kaampek suku
Dalam suku babuah paruik
Kampuang diagiah batuo
Rumah dibari batunggana
i

Dengan ketentuan :
Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka penghulu
Penghulu barajao ka mufakat
Mufakat barajo ka nan bana
Bana badiri sandirinyo
Nan manuruik alua jo patuik


Tujuan masyarakat :
Bumi sanang padi manjadi
Padi kuniang jaguang maupiah
Taranak bakambang biak
Anak buah sanang santoso
Bapak kayo mande batuah
Mamak disambah urang pulo.


Artinya untuk mencapai kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan dalam masyarakat.

Cara mencapai tujuan masyarakat :
Nan barek samo dipikua
Nan ringan samo dijinjiang
Ka bukik samo mandaki
Ka lurah samo manurun
tatungkuik samo makan tanah
Tatilantang samo makan ambun
Tarapuang samo anyuik
Tarandam samo basah.

Kato surang di bulati
Kato basamo dipaiyokan
Kalau mambilai samo laweh
Kok maukua samo panjang
Ketek kayu ketek bahan
Gadang kayu gadang bahan

Nan ado samo dimakan
Nan tidak samo dicari
Hati gajah samo di lapah
Hati tungau diagiah bacacah


c. Adat Teradat
Ialah peraturan yang dibuat secara bersama oleh para ninik mamak, pamangku adat dalam suatu nagari.
Peraturan tersebut berguna untuk merealisasi peraturan-peraturan yang dibuat oelh nenek moyang dalam Adat Nan Diadatkan.

Di dalam aturan Adat Nan Diadatkan, peraturan-peraturan yang bersangkutan dengan kehidupan masyarakat baik dalam bidang sosial, politik, hukum dan lain-lainnya, dituangkan dalam bentuk pepatah-petitih, mamang bidal, pantun dan gurindam yang disusun dalam bentuk kalimat kelimat pendek, tetapi mengandung arti kiasan yang menghendaki adanya peraturan pelaksana untuk menjalankannya dalam masyarakat.

Peraturan-peraturan Adat Teradat ini tidak sama pada tiap-tiap nagari. Karena peraturan-peraturan yang dibuat harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setiap nagari di Minangkabau. Hal ini disebut dalam pepatah :
Lain lubuak lain ikannyo
Lain padang lain belalalngnyo
Lain nagari lain adatnyo

Baadat sapanjang jalan
Bacupak sapanjang batuang


d. Adat Istiadat
Ialah kebiasaan dalam suatu nagari atau golongan yang berupa kesukaan dari sebgian masyarakat tersebut, seperti kesenian, olah raga, dan sebagainya, seni suara, seni lukis, dan bangunan-bangunan dan lain-lain, yang disebut dalam pepatah :
Nan baraso bamakan
Nan barupo baliyek
Nan babunyi badanga


Kesimpulan :
Adat yang empat macam itu sifatnya dibagi dua :
1. Adat nan babuhua mati
2. Adat nan babuhua sentak

Adat nan babuhua mati
Ialah adat nan sabananyo adat dan adat nan diadakan oleh Dt. Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan.

Adat nan babuhua sentak
Ialah adat teradat dan adat istiadat. Yang kedua ini dapat diubah bentuknya dengan tidak mengubah dasarnya (sendinya), yang disebut dalam pepatah :
Sakali aia gadang, sakali tapian bagaranjak
Sakali musim batuka, sakali caro baganti


Perubahan ini sesuai dengan situasi dan kondisi, dan haruslah diubah dengan kata mufakat.

Sumber : Buletin Sungai Pua 15 Juni 1986

dex 1st May 2010 12:25 PM

Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau II

Spoiler for Isi:
2. Nagari Ampek
Nagari Ampek terdiri dari :
a. Taratak
b. Dusun
c. Koto
d. Nagari

a. Taratak :
Adalah tempat mula-mula didiami nenek moyang kita untuk tempat beberapa orang anggota keluarga memulai "manatak". Selanjutnya "taratak" itu dijadikan tempat berkehidupan secara bersama yang sifatnya jauh dari sederhana.

b. Dusun :
Pada mulanya taratak dengan taratak lain yang mempunyai hubungan baik satu dengan yang lain mulai menyusun kesatuan keluarga yang jumlahnya sangat terbatas sekali. Dalam hal ini telah dimulai membuat rumah secara sederhana sekali, begitupun sumber-sumber penghidupan telah muali dilaksanakan secara tetap.

c. Koto :
Adalah dusun-dusun yang tadinya terpencar-pencar, kemudian dengan persetujuan bersama dilakukan pengelompokan yang dihubungkan dengan tali keturunan secara adat yang dimulai dengan pemufakatan yang bulat (sakato). Maka tempat yang telah diperoleh dengan cara pemufakatan bersama ini disebutlah "koto". Dalam hal ini masyarakatnya telah mulai berkembang maju, yaitu telah mulai bekerja membuat sawah ladang dan irigasi secara bersama-sama.

d. Nagari :
Beberapa koto, yang biasanya terdiri dari tiga kelompok koto, dijadikan satu. Yang pernah ditemui adalah Kepala Koto, Tengah Koto, Ikua koto. Ketiga koto ini disusun menjadi satu kesatuan hukum yang disebut "nagari" yang disebut dalam ketentuan adat :
Kok ketek balingka tanah
Jikok gadang balingkuang aua
Nagari bapaga undang
Kampuang bapaga buek
Kampuang baumpuak
Suku ba joroang


3. Kato-Kato Adat Ampek

Terdiri dari :
a. Kato Mufakat
b. Kato Pusako
c. Kato Dahulu Batapati
d. Kato Kamudian Kato Bacari

a. Kato Mufakat
Ialah :
Kato surang dibulati
Kato basamo dipaiyokan
Duduak surang basampik-sampik
Duduak basamo balapang-lapang

Baiyo jo adiak
Batido-tido jo kakak
Dibulekkan kato jo mufakat
Bulek baru digolekkan
picak baru dilayangkan
Saciok bak ayam
Sadanciang bak basi
Bulek indak basuduik
Picak indak basandiang
Tapauik balantak
Takuruang bakunci


b. Kato Pusako :
Ialah seperti yang disebutkan dalam ketentuan Adat :
Mamahek manuju barih
Tantang bana lubang ka tambuak
Malantiang manuju pangka
Tantang bana buah ka rareh
Manabang manuju pangka
Tantang bana ruweh ka rabah


Artinya meletakkan sesuatu hendaklah pada tempatnya, menurut mungkin dan patut adanya.

c. Kato Dahulu Batapati
Ialah sesuatu hasil mufakat yang telah disepakai bersama menjadi suatu keputusan, tetapi belum sempat untuk dilaksanakan karena sesuatu dan lain hal. Apabila telah tiba waktunya untuk dilaksanakan, maka pelaksanaan tersebut haruslah sesuai dengan Adat tentang Kato dahulu batapati :
Suri tagantuang batanuni
Luak taganang basauak
Kayu batakuak barabahkan
Janji babuek batapati

Titiak buliah ditampuang
Maleleh buliah dipalik
Satitiak buliah dilauikkan
Sakapa buliah digunuangkan


d. Kato Kamudian Kato Bacari
Adalah setiap persoalan yang telah dimufakati pada mulanya, tetapi belum mencapai keputusan, kemudian datang suatu hal yang menghalangi maka permufakatan itu ditunda waktunya. Setelah sampai pada waktu yang telah ditentukan, timbul pemikiran baru yang lain yang lebih baik dari pada yang sudah. Tanpa mengubah prinsip, maka dicari kata yang baru dalam hal ini. Maka yang demikian disebut "Kato kemudian kato bacari".

4. Hukum Ampek

a. Hukum ilmu: sesuatu yang dihukum dengan ilmu
b. Hukum sumpah : sesuatu yang dihukum dengan bersumpah
c. Hukum kurenah : sesuatu yang dihukum dengan fi'il
d. hukum perdamaian : sesuatu yang dihukum secara berdamai

5. Undang Ampek
a. Undang-undang Luak
Luak ba-pangulu
Rantau barajo


b. Undang-undang Nagari
Basasok bajarami
Bapandam bapakuburan
Balabuah batapian
Barumah batanggo
Basawah baladang
Bakorong bakampuang
Babalai bamusajik


c. Undang-undang dalam nagari
Salah ditimbang hutang babaia
Salah ambiak mangumbali
Salah cotok malantiangkan
Salang mangumbali
Alek bapanggia mati bajirambok
Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang
nan elok bahimbauan
Nan buruak bahambauan


d. Undang-undang duo puluah :
Dua belas dari undang-undang ini disebut "tuduah nan bakatangguangan" Atinya sesuatu yang bisa menjadikan seseorang dituduh mengerjakan suatu kejahatan, yaitu :
1. Anggang lalu atah jatuah
2. Pulang pagi babasah-basah
3. bajalan Bagageh-gageh
4. Kacondongan mato urang banyak
5. Dibao ribuik, dibao angin
6. Dibao pikek, dibao langau
7. Tasidorong jajak manurun
8. Tatukiak jajak mandaki
9. Bajua bamurah-murah
10. Batimbang jawab ditanyoi
11. Lah bauriah bak sipasin
12. Lah bajajak bak babakiek

Kalau kiranya yang dua belas macam ini salah satu telah ditemui pada diri seseorang dalam satu kejadian yang sifatnya kesalahan, maka seseorang itu telah dapat dituduh.

Delapan macam dari undang-undang dua puluh tersebut disebut di dalam adat Minangkabau "cemooh nan bakaadaan". Artinya bila seseorang yang dituduh melakukan kejahatan telah lengkap pembuktiannya, seperti :

13. Dago-dagi mambari malu
14. Sumbang salah laku parangai
15. Samun saka tagak di bateh
16. Umbuak umbi budi marangkak
17. Curi maliang taluang dindiang
18. Tikam-bunuah parang badarah
19. Sia baka sabatang suluah
20. Upeh racun batabuang sayak

dex 1st May 2010 12:26 PM

Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau III

Spoiler for Isi:
6. Cupak Duo
Cupak dalam adat adalah ukuran dan takaran untuk penakar makanan yang tidak boleh dilebihi dan dikurangi, apabila dipakai untuk jual beli.

Cupak ini terbagi dua macam :
a. Cupak usali (asli)
b. Cupak buatan

a. Cupak Usali
Ialah nan disabuik cupak duo baleh taia, gantang nan kurang duo limo puluah, yakni peraturan adat dibuat oleh nenek moyang kita Dt. Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan. Gantang nan kurang duo limo puluah adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan Allah dan Rasul. Cupak duo baleh taia dan gantang kurang duo limo puluah ini di Minangkabau tidak dapat diubah.

Cupak usali adalah peraturan-peraturan yang telah kita teima turun-temurun tentang adat Minangkbau yang berhubungan dengan gelar pusako (soko), harta pusaka, undang-undang pergaulan di Minangkabau, tentang penyelesaian sengketa, soal sosial, keamanan, dan sebagainya, dan peraturan dalam adat yang kita sebut adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, adat nan kawi, syarat nan lazim. Cupak usali itu yang sebenarnya adalah kata kiasan, maksudnya peraturan-peraturan yang asli tentang adat dan syarak, yang tidak dapat ditambah dan dikurangi.

Cupak papaek gantang piawai, cupak duo baleh taia, gantang kurang duo limo puluah. Cupak duo baleh taia ini disebut juga cupak nan anam ka ateh, anam ka bawah, yakni enam hal yang bersangkutan dengan perdata, dan enam yang bersangkutan dengan pidana. Gantang kurang duo limo puluah, adalah 20 sifat yang wajib, 20 sifat yang mustahil pada Allah, dan 4 sifat yang wajib pada Rasul, 4 sifat yang mustahil pada Rasul, sehingga berjumlah 50 kurang dua, satu harus pada Allah, satu harus pada Rasul

b. Cupak buatan :
Persekutuan yang memberi lazat bagi sagalo hati manusia. Artinya peraturan-peraturan yang dibikin oleh cupak buatan ialah peraturan adat dalam satu nagari. Peraturan itu memberikan kelazatan dalam pergaulan masyarakat, sebab kalau sudah dapat dilaksanakan akan membawa hasil yang baik dalam hubungan satu dengan yang lainnya.

Cupak Tiruan :
Ialah hawa nafsu yang diharuskan bagi hati setengah manusia. Artinya adalah keinginan yang dipunyai oleh sebagian orang karena dalam keinginan yang dimaksud itu tidak semua orang menyukainya, adakalanya lantaran tidak ada kesanggupan untuk memiliki keinginan tersebut, dan adakalanya lantaran tidak adanya kesukaan terhadapnya.

Cupak nan piawai :
Adalah suatu pekerjaan di dalam masyarakat untuk mencapai kehidupan yang sempurna dan pergaulan yang baik serta kebutuhan hidup yang diridhai oleh Allah SWT.
Cupak nan piawai ialah memenuhi kebutuhan hidup yang suatu penghidupan yang dapat mengahsilkan sesuatu untuk kebutuhan sehari-hari.

7. Ukua Jangko Di dalam Adat Minangkabau
Menurut adat Minangkabau ada beberapa ketentuan yang menjadi ukuran dan hinggaan yang harus diamalkan oleh setiap orang, untuk mencapai tujuan secara baik di dalam kehidupan bergaul. Ketentuan tersebut dinamakan "ukua jangko" yang terdiri delapan macam.

a. Nak Luruih Rantangan Tali
Supayo jan manyimpang kiri jo kanan
Luruih manantang barih adat
Mangarek tantangan ukua


Artinya :
Selalulah di dalam kehidupan ini berlaku lurus dan benar, dan jangan menyimpang dari ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat (adat, syarak, undang-undang).

b. Nak tinggi naiakkan budi
Mancari jalan kabanaran
Supayo jan kalangkahan
Tagak jan tasundak
Malenggang tidak tapampeh
batutua dengan lunak lambuik
Lunak bak santan jo tanguli
Suatu karajo nan lalu salasai sajo.


Artinya :
Selalulah bergaul dengan baik sesama manusia, yang tua dihormati, yang kecil dikasihi, sama besar bersaudara, dan berkatalah dengan lemah lembut, dan bergaullah dengan sopan hormat menghormati.

c. Nak haluih baso jo basi
Jan barundiang basikasek
Jan bakato basikasa
Jan bataratak bakato siang
Mahariak mahantam tanah
Jan babana ka pangka langan
Usah ba-utak ka ampu kaki.

Pandai maagak maagiahkan
Budi baiak baso katuju
Muluik manih kacindan murah.


Artinya :
Bergaullah penuh sifat ramah tamah, sopan dan santun, hormat menghormati sesamanya, yang senantiasa mencerminkan tingkah laku yang berlandaskan budi luhur.

d. Nan elok lapangkan hati
Mancari jalan kabaikan
Nan dapek suluah nan tarang
Mampunyai saba jo ridha
Sarato hemat dan cermat


Artinya :
Selalulah di dalam bergaul mempunyai sifat lapang hati dan sabar, tenang dan beribawa, tetapi tegas dan bijaksana, serta mempunyai sifat malu di dalam diri, dan hati-hati.

e. Nak taguah paham dikunci
Jan taruah bak katidiang
Jan baserak bak anjalai
Kok ado rundiang ba nan batin
Patuik baduo jan batigo
Nak jan lahia didanga urang


Artinya :
Yang terlalu lyoal, selalu menyimpan rahasia yang patut dirahasiakan. Bertindak dan berbuat penuh kebijaksanaan.

f. Nak Mulia tepati janji
Kato nan bana ka dipegang
Walau bak mano sangkuik pauik
Asa indak mahambek bana
Namun janji batapati juo


Artinya :
Kalau ingin dimuliakan atau jadi orang yang mulia, selalulah menepati janji yang telah dijanjikan, klecuali mendadak datang halangan.

g. Nak labo bueklah rugi
Namuah bapokok babalanjo
Namuah bajariah bausaho
Marugi kito dahulu
Dek ujuik yakin manjalankan
Lamo lambek tacapai juo


Artinya :
Berusahalah selalu untuk kebutuhan hidup sehingga mencapai keuntungan yang wajar. Dan setiap keuntungan yang ingin hendak dicapai senantiasa menghendaki pengorbanan.

h. Nak kayo kuat mancari
Namuah bajariah bausaho
Namuah bapokok babalanjo
Asa lai angok-angok ikan
Asa lai jiwo-jiwo patuang
Nan tidak dicari juo.


Artinya :
Setiap kesenangan dan kekayaan serta kebahagiaan biasanya dapat dicapai oleh seseorang, terlebih dahulu dengan membanting tulang dan memeras keringat.

Kalau sekiranya ukua jangko yang delapan macam tersebut dapat dilaksanakan oleh seseorang dalam hidup ini secara perorangan maupun secara bermasyarakat, maka bertemulah menurut kaedah adat :
Kok mamahek lah dalam barih
Kok batanam di dalam paga


Tetapi kalau sekiranya tidak dilaksanakan, juga adat mengatakan :
Bakato bak balalai gajah
Bicaro bak katiak ula
Babicaro kapalang aka
Bapikia saba tak ado
Bailimu kapalang paham
Rumah tampak jalan tak tantu
Angan lalu paham tatumbuak
Aka panjang itikad salah
Ukua sampai jangko alah sudah
Hari tibo hukuman jatuah
Di akhirat sajo mangkonyo tahu
Tuhan sandiri manantukan
Jalan dialiah dek rang lalu
Cupak dirubah rang manggaleh.

dex 1st May 2010 12:28 PM

Adat Sumando Manyumando

Spoiler for Isi:
Sumando adalah hubungan adat yang terjadi antara seorang lak-laki dalam suatu suku dengan kaum keluarga suku lainnya di Minangkabau, sebagai akibat pernikahannya dengan seorang perempuan dalam suku tersebut. Maka dalam hal ini sumando manyumando ini, berdiri adat didalammnya.

1. Tantangan sumando manyumando, yang sama-sama senagari,

nan selingkung aur,
nan berjumbai daun,


atau yang berbatasan tanah;

jauh nan buliah ditunjuakkan
dakek nan buliah dikakokkan
malompek lai basitumpu
mancancang lai basangkalan,
badiri adat tantang itu
nan batali buliah dihirik
nan batampuak buliah dijinjiang.


2. Sewaktu marapulai telah sampai si rumah anak daro, maka dia disambut menurut adat, disongsong dengan sirih di carano yang ditutupi kain dalamak. Sedangkan yang bertugas menyambut marapulai tersebut adalah urang sumando pula. Selanjutnya dia pulalah yang membawa marapulai naik ke atas rumah gadang serta mendudukannya di tempatnya.

3. Marapulai didudukkan ditempatnya, yaitu membelakang ke bilik dalam dan menghadap ke luar rumah, maksudnya ialah di rumah isterinya itu dia bernama urang sumando dan harus selalu bisa menempatkan diri pada posisi yang telah ditentukan. Dia tidak boleh mencampuri urusan harta pusaka dan tidak ikut bertanggung jawab didalam masalah-masalah yang timbul dalam keluarga isterinya itu, kecuali apabila dia sebagai urang sumando diajak duduk sehamparan dalam membahas sesuatu masalah yang memerlukan kehadiran urang sumando.

Dalam duduk sehamparan itupun dia harus tahu bahwa setiap kata yang dikatakannya bukanlah "kata mamak" akan "kata urang sumando". Kata mamak adalah "kata manurun", sedangkan urang sumando "kata malereng".
Sehubungan dengan kedudukannya, didalam adat disebutkan bahwa urang sumando itu adalah :

mangabek indak arek
mamancuang indak putuih

maksudnya adalah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, dia tidak boleh

memakan menghabiskan
mencencang memutuskan

dirumah nan bermamak, kampuang nan bertua. Walaupun pekerjaan baik sekalipun yang akan dilakukannya didalam rumah isterinya itu, maka wajib baginya membawa kata dengan mufakat dengan mamak rumah. Hak mamak tersebut dilambangkan dengan tempat duduknya didalam rumah gadang, yaitu membelakang ke luar dan menghadap ke bilik dalam.

4. Urang sumando harus manyadari benar bahwa kedudukannya dirumah isterinya itu tidak berurat berakar. Statusnya sebagai urang sumando didalam adat disebutkan sebagai :

langau di ikua kabau
lacah di kaki
abu diatas tunggua


Seorang laki-laki di Minangkabau harus menyadari bahwa dia mempunyai dwifungsi kepemimpinan didalam hidupnya, yaitu sebagai kepala keluarga di dalam rumah isterinya dengan tugas, tanggung jawab dan wewenang sesuai dengan "kode etik" urang sumando, dan juga sebagai tanggung jawab mamak rumah dalam keluarga ibunya dengan tugas, tanggung jawab dan wewenang sesuai dengan "kode etik" mamak rumah.
Dalam tugas dwifungsinya itu hendaklah dia melaksanakan ketentuan yang disebutkan dalam adat :

anak dipangku
kamanakan dibimbiang

Apabila laki-laki tersebut bersikap "indak nan labiah pado bini", sehingga melalaikan tanggung jawabnya terhadap ibu, dunsanak dan kemenakannya, ataupun dia berbuat sekehendaknya dirumah anak isterinya sehingga melupakan batas-batas wewenangnya sebagai urang sumando, maka dapatlah dikatakan bahwa laki-laki tersebut kurang :

batunjuak bajari

oleh ibu bapak dan mamaknya atau termasuk katagori :

indak baguru baraja

sebagai urang sumando. Hendaknya disadari bahwa apapun dapat terjadi dalam hidup ini, termasuk hubungan suami isteri tersebut :

saiyo babana, sataka bacarai
jikok carai nan basuo,
bukuak padang babalah buluah,
pinang pulang katampuaknyo,
ayam pulang ka pautan.


Bila masalah perceraian yang disebut, maka berdiri pula adat didalamnya, yaitu :

carai hiduik baponih surek
carai mati beranggun-anggun;


Terbang langau di ekor kerbau, hanyut lacah di kaki dan hilanglah abu diatas tunggul, kembalilah si laki-laki kerumah ibunya atau dunsanak lemenakannya dengan fungsi mamak rumah atau tungganai.

5. Selanjutnya apabila sumandi manyumando itu terjadi dari satu nagari ke nagari lain atau dari satu luhak ke luhak yang lain, hal itu disebut :

tali tarantang indak putuih
sangkutan tagantuang indak patah
indak lapuak dek hujan
indak lakang sabab dek paneh


Penyebutan dengan ungkapan demikian, karena orang dalam tiga luhak bila ditelusuri masih mempunyai hubungan satu sama lain, setidak-tidaknya mempunyai hubungan adat.
Ada beberapa sebutan atau julukan terhadap fungsi urang sumando itu, bila dilihat dari sudut cacad dan celanya, sedangkan dari sudut yang terbaik hanya satu julukan yaitu :

"urang sumando ninik mamak"

yang sangat didambakan semua pihak.
Adapun pengertian urang sumando ninik mamak antara lain adalah :

kok kusuik sato manyalasaikan
kok karuah sato mampajaniahan


Bila terjadi silang selisih dalam rumah nan bermamak.
kaganti bumi dengan langik
kaganti cincin dengan gelang

payuang panji tampek balinduang
kaganti si tawa jo si dingin

panjang nan ka mangarek
singkek nan mambilai.


Untuk itulah diperlukan pengertian tentang falsafah yang terkandung di dalam pakaian kebesaran tersebut.
Maka semua hal itu hanya dapat diketahui anak kemanakan yang muda-muda, apabila diterangkan oleh seorang mamak kepada mereka. Seangkan mamak tersebut barulah akan dapat memberikan ajarannya apabila dia sendiri sudah menghayati pula tentunya.

Sumber : Buletin Sungai Puar 24 maret 1988

dex 1st May 2010 12:29 PM

Aspek Hukum Dalam Masyarakat Minangkabau

Spoiler for Isi:
UNDANG-UNDANG DUOPULUAH

Suatu hal yang ikut berperanan dalam perkembangan sosial budaya Minangkabau, ialah ketentuan hukum adat. Dimana nenek moyang orang Minangkabau telah mengatur adat sebagai undang undang dan hukum. Ketentuan tersebut dijadikan ukuran bertindak dan berperilaku ditengah komunitas sosial, baik seebagai individu maupun masyarakat secara luas.

Secara sistematis undang undang dan hukum disusun menurut empat kategori :
1. Undang undang Nagari
2. Undang undang isi Nagari
3. Undang undang luhak dan rantau
4. Undang undang nan duo puluah

Semua jenis undang-undang itu merupakan satu kesatuan yang utuh, kemudian dijabarkan secara luas dan teratur dalam masyarakat, sehingga terbentuklah satu kesatuan hukum yang berlaku di ditengah masyarakat Minangkabau.

Pada kesempatan ini kita akan mengetengahkan undang undang duopuluah. Undang undang duopuluah adalah undang undang yang terdiri dari 20 pasal. Pasal pasal yang terdapat didalam merupakan ketentuan tentang hukum pidana atau tindak kejahatan. Ditinjau dari segi bentuknya, undang undang duopuluah dikelompok menjadi dua bagian, undang undang nan salapan dan undang-undang nan duo baleh.

Undang-undang nan salapan adalah pasal pasal yang menyangkut jenis kejahatan atau yang disebut "cemo ba-kadaan" sedang 12 pasal lagi adalah nan duo baleh, yaitu ketentuan yang menyangkut alasan untuk menangkap dan menghukum seseorang, disebut juga "duo baleh tuduah nan bakatunggagan". Menurut a.A.Navis dalam buku "Alam Takambang Jadi Guru" bahwa undang undang ini terdiri dari dua bagian yang masing masing terdiri dari enam pasal. Bagian pertama disebut bagian tuduh, yakni pasal pasal yang dapat menjadikan seseorang tertuduh dalam melakukan kejahatan. Enam pasal lainnya dinamakan "cemo" (cemar), yaitu merupakan prasangka terhadap seseorang sebagai orang yang telah melakukan sesuatu kejahatan, sehingga ada alasan untuk menangkap dan memeriksanya (1984-111-112)

Agar lebih jelasnya pasal pasal dalam undang undang duo pluah ini, penulis akan menyuguhkan satu persatu sesuai dengan kedudukannya.

Undang-Undang Nan Salapan
Bila kita lihat secara teliti tentang pasal pasal dalam undang undang nan salapan, dianya mencantumkan jenis kejahatan yang dilakukan seseorang. Tiap pasalnya menpunyai dua jeniskejahatan yang hampir bersamaan, akan tetapi kadarnya berbeda. Untuk lebih jelasnya berikut ini kita muat pasal pasal sebagai berikut :

1. Dago dagi mambari malu.
Dago adalah perbuatan yang mengacaukan, sehingga terjadi kehebohan dan desas desis. Sedangkan dagi adalah perbuatan fitnah ditengah masyarakat sehingga orang yang difitnah merasa malu atau dirugikan

2. Sumbang salah laku parangai.
Yang dimaksud dengan sumbang adalah perbuatan yang menggauli seseorang yang tidak boleh dinikahi. Misalnya bergurau antar pemuda dengan saudara perempuannya atau dengan gadis sekaum. Dalam masyarakat Minangkabau kita mengenal beberapa perbuatan sumbang, diantaranya sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang diam, sumbang perjalanan, sumbang pekerjaan, sumbang tanyo, sumbang jawab, sumbang kurenah, sumbang pakaian, dan sumbang pergaulan.
Semua unsur diatas berbeda kadarnya. Kemudian yang dimaksud dengan salah adalah perbuatan keji, misalnya seseorang pemuda melakukan perzinahan denganwanita yang bukan istrinya. Jadi sumbang salah kejahatan yang berkenaan dengan tingkah laku individu, sehingga menimbulkan keributan terhadap orang banyak.

3. Samun saka Tagak Dibateh
Samun adalah perbuatan merampok milik orang lain dengan membunuh orang tersebut. Sedang saka adalah perbuata merampok milik orang lain dengan kekerasan, paksa atau menganiaya orang tersebut. Dulu setiap terjadi tindak kejahatan ini selalu di batas jalan. Akan tetapi sekarang kejadian seperti ini bukan hanya terjadi dibatas aja, tetapi sering terjadi juga dirumah rumah, kebun, sawah dan sebagainya.

4. Umbuak Umbi budi marangkak
Umbuak adalah perbuatan rayuan atau penyuapan pada seseorang sehingga dapat merugikan orang lain. Umbi adalah perbuatan membujuk seseorang agar sama sama mau melakukan kejahatan. Dalam pasal ini mempunyai persamaan dengan "kicuah kecang", kicuah adalah perbuatan penipuan yang merugikan orang lain. Sedang kecang adalah perbuatan pemalsuan yang merugikan orang lain.

5. Curi Maling taluang didindiang
Curi adalah perbuatan mengambil barang orang lain disaat penghuninya lengah, maksud dalam mengambil milik orang lain tidak direncanakan, tetapi hanya sambil lalu saja. Sedangkan maliang adalah perbuatan mengambil milik orang lain disaat pemiliknya tidak ada ditempat itu. Dari sisi lain dapat juga disebut mengambil milik orang lain dengan melakukan perusakan, seperti bekas yang terluang pada dinding.

6. Tikam Bunuah padang badarah
Tikam adalah menancapkan benda tajam kepada seseorang, sehingga orang tersebut terluka oleh perbuatannya. Sedangkan yang dimaksud dengan bunuah adalah perbuatan mehilangkan nyawa orang lain. Apakah perbuatan itu untuk mengambil milik orang lain atau merupakan dendam lama.

7. Sia Baka sabatang suluah
Sia (siar) adalah tindakan membuat api sehingga milik orang lain terbakar. Umpamanya seseorang membakar perkebunannya, lalu api perkebunan itu menjalar kekebun orang lain, dan membakar tanaman yang ada. Baka (bakar) membakar milik orang lain dengan sengaja.

8. Upeh Racun batabuang sayak
Upeh adalah perbuatan aniaya kepada seseorang dengan memasukan ramuan kedalam makanannya, sehingga menimbulkan sakit bagi orang tersebut. Sedang racun adalah tindakan pembunuhan dengan memasukkan ramuan atau benda yang berbisa kedalam makanan orang tersebut.

Dari penjabaran pasal pasal undang nan salapan ini, maka dapat kita pahami bahwa masyarakat Minangkabau jauh sebelum berlakunya undang undang pidana di Indonesia, telah membuat konsep hukum dalam masyarakat.
Jadi konsep hukum yang terdapat dalam undang undang nan salapan adalah kategori kejahatan dan jenisnya.
Berdasarkan uraian diatas terdapat 16 macam perbuatan yang membuat seseorang itu dijatuhkan hukuman.

Undang-Undang Duobaleh
Seperti yang telah dibicarakan pada uraian terdahulu bahwa undang undan "duo baleh" adalah pembagian dari undang undang "duo puluah"

Konsep pada undang undang ini adalah dasar atau alasan menuduh seseorang. Pasal pasal dalam undang undang duo baleh terdiri dari 12 pasal, keseluruhannya merupakan alasan untuk menjatuhkan tuduhan. Seperti undang undang nan salapan, undang undang nan duo baleh juga diungkapkan secara berpapasan, yaitu :

1. Tatumbuak, Taceak
Tatumbuak maksudnya adalah si pelaku tidak dapat membalas tuduhan yang datang kepadanya, sehingga dia tidak dapat berucap apa apa. Taceak yaitu terdakwa terpaksa mengaku dan berterus terang atas tuduhan itu, bahwa yang melakukan perbuatan itu adalah dia sendiri.

2. Tatando, Tabukti
Yang dimaksud dengan tatando adalah ditamukan milik terdakwa ditempat kejadian atau ditempat berlangsungnya kejadian. Tabukti adalah terlihat bukti yang melekat pada tubuh atau pakaian bahwa adalah pelaku kejahatan.

3. Taikek, Takabek
Taikek dapat diartikan orang yang melakukan kejadian itu ditemui sedang melakukannya. Sementara takabek dimaksudkan orang melakukan kejahatan itu bertemu dilokasi terjadinya peristiwa, sehingga mereka tidak bisa lari dari lokasi tersebut.

4. Tacancang, Tarageh
Tercencang merupakan bekas yang ditemukan akibat tindakan terdakwa ditempat kejadian. Tarageh yaitu ditemukan pada tubuh terdakwa bekas yang ditimbulkan oleh benda yang ada ditempat berlangsungnya peristiwa.

5. Tahambek, Tapukau
Yang dimaksud Tahambek adalah terdakwa tidak dapat lolos dari pengepungan. Sedang Tapukau adalah terdakwa tertangkap setelah dikeroyok atau terpukul oleh orang yang mengejarnya.

6. Talalah, Takaja
Talalah yakni ditemukan terdakwa dalam tempat persembunyiannya setelah dilakukan pengejaran. Sementara takaja adalah terdakwa dapat tertangkap dalam pengejaran.

Keenam pasal diatas merupakan hal hal yang berhubungan dengan alasan untuk menangkap terdakwa. Pasal ini menyatakan pembuktian secara langsung dan dapat dijadikan sebagai syarat untuk menjatuhkan hukuman. Namun disisi lain, ajaran adat Minangkabau juga menjelaskan tentang kesaksian hukum. Hal itu dapat menjadi penguat dari pasal pasal diatas. Berikut ini pasal pasal yang menyatakan kesaksian hukum, merupakan kelanjutan dari pasal undang undang duo baleh, yaitu sebagai berikut :

7. Basuruik bak sipasan bajajak bak bakiak
Ditemukannya bekas atau jejak ditanan menuju tersangka

8. Anggang lalu, atah jatuah
Maksudnya seseorang ditemukan ditempat kejadian bersamaan terjadinya peristiwa

9. Kecondongan mato urang banyak
Diwaktu kejadian banyak mata melihatnya. Dari sisi lain dapat pula dikiaskan bahwa hidup tersangka tiba tiba berubah secara mendadak, sedangkan orang banyak belum mengetahui asal usul perubahan itu.

10. Bajua bamurah murah
Yaitu didapati seseorang sedang menjual barang atau alat alat dengan harga muranh sekali, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa barangyang dijual itu bukan miliknya.

11. bajalan Bagageh gageh.
Terlihat tersangka sedang berjalan sangat cepat sekali atau tergesa gesa, kemudian dari air mukanya memancarkan rasa ketakutan.

12. Dibaok pikek, dibaok langau.
Pikek adalah sejenis serangga yang mencari makanan pada tubuh kerbau, ukuran badannya agak besar dari lalat. Jadi maksud ungkapan dibaok pikek, dibaok langau yaitu terdakwa ditemukan hilir mudik tampa diketahui tujuan yang pasti Dari uraian diatas dapat dipahami, bahwa undang undang duo puluah hanyalah menyatakan bentuk kejahatan yang dilakukan seseorang, tuduhan dan diperkuat dengas kesaksian hukumnya. Sedangkan pelaksanaan peradilan dan proses pengambilan keputusan tidak dimuat dalam undang undang tersebut.


Sumber : Buletin Sungai Puar No. 46 - April 1994

dex 1st May 2010 12:32 PM

Pambagian Rang Sumando

Spoiler for Isi:
Rang Sumando Kacang Miang
Yang dikatakan rang sumando kacang miang adalah rang sumando pengacau, pengharu biru dalam kampuang, suka menghasut dan memfitnah antara andan pasumandan, antara pambayan sesamanya dan antara orang badunsanak.
Kacang miang menerbitkan gatal, pindah memindah pada orang yang menghampirinya. Dalam susunan adat istiadat inilah sumando nan cilako.

Rang Sumando lapiak Buruak
Rang sumando lapiak buruak adalah rang sumando yang bodoh dan tidak mau keluar rumah berusaha, seperti kesawah ataupun keladang, atau berdagang berniaga untuk nafkah anak dan istrinya. Yang disukainya adalah duduak bamanuang di tapi bandue dan benar-benar pemalas. Sumando seperti ini tentu tidak berguna bagi orang.

Rang Sumando langau Hijau
Sumando langau hijau hanya dipakai untuk memperbanyak anak saja, seperti seekor langau hijau yang terbang kesana kemari, sehingga bertelur dalam sampah dan sesudah itu terbang pula kemana dia suka. Sumando seperti ini tidak mempunyai pedoman hidup yang tetap. Begitu pulalah sifatnya yang mau berbini banyak. Kasinan marongong kamari marongong dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil (manganduang bangan) dan tidak memberikan jaminan hidup terhadap keluarganya.|

Rang Sumando Bapak paja
Yang ini adalah untuk memperbanyak anak saja. Dia tidak peduli apa yang terjadi di kampung (pasukuan) istrinya. Yang terpenting baginya adalah suasana lahir batin yang terjadi di kampung (pasukuan) dia saja.

Rang Sumando Niniak Mamak
Rang sumando niniak mamak ini adalah sebenar-benarnya rang sumando. Dia adalah orang sama mengatur barang sesuatu dalam keluarga istrinya dan tidak mengambil hak mamak rumah. Dia mengumpulkan yang berantakan dalam keluarga istrinya. Mangampuangkan nan taserak, manjapuik nan tacicie, mengingatkan mana yang lupa, sehingga dalam kampuang (pasukuan) istrinya itu dia mempunyai paham seperti paham niniak mamak. Keruh menjernihkan, kusut menyelesaikan. Dalam segala hal yang mungkin terjadi, pertimbangannya perlu dimintak, dan dia tidak akan ditinggalkan orang dalam tiap-tiap perundingan di kampung (pasukuan) istrinya.

Sumber : Adat Minangkabau - Pidato Pasambahan & Tata Cara Adat Perkimpoian, Jakarta 1991


Pambagian Wanita Manuruik Adat Minangkabau

Spoiler for Isi:
Mengingat pentingnya peranan wanita didalam dan luar rumah tangga, maka menurut adat Minangkabau wanita dapat digolongkan kepada tiga macam.
Kalau syarak mangato adat mamakai, maka syarak yang mengatakan wanita itu tiang nagari atau negara, bilamana baik wanitanya maka baiklah nagari atau negaranya, jika rusak wanitanya maka rusaklah nagari atau negaranya. Maka secara tajam adat membedakan tiga golongan wanita tersebut, yakni :
· Banamo simarewan
· Banamo mambang tali awan
· Banamo parampuan

1. SIMAREWAN
Oleh adat adalah :

Bapaham bagai gatah caia
Iko elok etan katuju
Bak cando pimpiang dilereang
nan bak santano pucuak aru
Kamano angin inyo kakiun
alun dijujai inyo alah galak
Alun diimbau inyo alah datang
Nan bak balam talampau jinak
Sifat bak lipeh tapanggang
Umpamo caciang kapanasan

Nan pancaliak bayang bayang
Nan panagak ditapi labuah
Lain geleng panokok
Asiang kacundang sampik
Tagisia labiah bak kanai
Tasingguang labiah bak jadi

Kok tumbuah gaua jo laki laki
Banyak galak daripado kecek
Banyak kucikak jo kucindam
Malu jo sopan tak tapakai
Ereang jo gendeang tak baguno
Bak umpamo katidiang tangga bingkai
Bak ibarat payuang tangga kasau

Elok baso tak manantu
Kecek bak caro mambaka buluah
Suko bakato kato cabuah
Mamakai sipat sio sio
Tabiak caba dipakaian
Duduak jo tagak tak nan sopan
Katonyo banyak ka nan bukan
Rundiang banyak bakucekak
Galak bak ibarat gunuang runtuah
Tapuang jo sadah tak babeso
Baiak dimuko sanak famili
Ataupun dimuko urang lain
Indak barundiang jo timbangan
Rundiang ka nan tidak babalabeh
Taruah bana bak katidiang
Taserak bana bak anjalai
Manyingguang puncak bisua urang
Manjunjuang balacan dikapalo
Manggali gali najih dilubang
Hati busuak pikiran hariang
Muluik kasa kecek manggadang
Hati diateh langik biru
Ibuk bapak tak babeso
Niniak jo mamak tak nan tau
Urang dipandang sarok sajo
Nan tuo indak bahormati
Nan ketek indak bakasihi
Korong kampuang nan tak jaleh
Adat indak baisi
Limbago indak batuang
Imbau nan indak basahuti
Panggilan nan indak baturuti
Urang batuan dihatinyo
Urang barajo di dimatonyo
Durhako kapado ibu bapak
Labiah kapada rang tuo tuo


Aratinyo wanita nan jauah dari kasopanan dalam setiap tingkah lakunya.

2. MAMBANG TALI AWAN
Yang dimaksud oleh adat Minangkabau wanita yang disebut mambang tali awan,

Iyolah wanita tinggi hati
Kalau mangecek samo gadang
Atau barundiang ka nan rami
Sagalo labiah dari urang
Tasambia juo bapak si buyuang
Basabuik juo bapak siupiak
Nan sagalo labiah dari urang
Baiak tantang pambalinyo
Atau tantang kasiah sayangnyo

Siang jo malam jarang dirumah
Naiak rumah turun rumah
Etan karumah tanggo lain
Suko mangecek jo maota
Tantang buruak baiak urang
Gilo mambandiang bandiangkan urang
Baiak jo elok badan diri
Ataupun dikayo laki awak
Kok tibo di di gadih mudo mantah
Nan panduduak ditapi jalan
Nan panagum diateh janjang
Nan pamegu dimuko pintu
Bak ibarat kacang diabuih ciek
Bak lonjak labu tabanam
Gadang tungkuih tak barisi
Bak ibarat buluah bambu
Batareh tampak kalua
Tapi didalam kosong sajo
Karajo parampuan tak nan tau
Karajo batandang siang jo malam
Kok tumbuah mandi ditapiang
Kecek mangecek lumak lamik
Mambincang bincang urang sakampuang
Mampakatokan urang sarumah
Baiak antaro laki bini
Ataupun dalam korong kampuang
Dio manjadi upeh upeh racun
Duduak tagak karajo sumbang
Baiak didalam tingkah laku
Atau dalal pi'il jo parangai
Manyusah pandang urang banyak
Suko bagaduah tangah rumah
Suko bacakak jo urang kampuang
Asuang siasah lah pakaian
Dangki kianat lah parangai
Aka buruk pikiran salah
Gilo dimabuak angan angan
Raso pareso tak tapakai
Malu jo sopan jauah sakali
Tasingguang urang kanai miangnyo
Takuncang urang kanai rabehnyo
Bak ibarat baolok olok
Bagai kancah laweh arang
Paham bak tabuang sarueh
Capek kaki tapi panaruang
Ringan tangan tapi pamacah.


3. PARAMPUAN
Yang dimaksud parampuan menurut adat Minangkabau adalah seorang wanita, baik gadis maupun telah menjadi ibu atau istri yang senantiasa menpunyai sipat terpuji menurut adat, yang dilengkapi dengan segala kecakapan dan pengetahuan sesuai dengan kemampuan seorang wanita.

Parampuan adalah seorang wanita yang baik budi pekertinya, sopan tingkah lakunya, memakai sifat malu didalam dirinya, seperti kata adat :

Adapun nan disabuik parampuan
Tapakai taratik jo sopan
Mamakai baso jo basi
Tahu diereang jo gendeang
Mamakai raso jo pariso
Manaruah malu jo sopan
Manjauahi sumbang jo salah
Muluik manih baso katuju
Kato baiak kucindam murah
Baso baiak gulo dibibia
Pandai bagaua samo gadang
Hormat kapado ibu bapak
Hidmat kapado urang tuo tuo
Mamakai di malu samo gadang
Labiah kapado pihak laki laki
Takuik kapado Allah
Manuruik parentah Rasul
Tahu dikorong jo kampuang
Tau dirumah jo tanggo
Tahu manyuri manuladan
Takuik dibudi katajua
Malu dipaham ka tagadai
Manjauahi sumbang jo salah
Tahu dimungkin jo patuik
Malatakkan sasuatu pado tampaiknyo
Tahu ditinggi jo randah
Bayang-bayang sapanjang badan
Buliah ditiru dituladan
Ka suri tuladan kain
Kacupak tuladang batuang
Maleleh buliah dipalik
Manitiak buliah ditampuang
Satitiak buliah dilauikkan
Sakapa dapek digunuangkan
Iyo dek urang di nagari

Wanita demikian tepat memakai predikat Bundo Kanduang

Sumber : Buletin Sungai Pua 17 November 1986.

dex 1st May 2010 12:37 PM

Adat Raso Jo Pareso

Spoiler for Isi:
Sebelum masyarakat Minangkabau mengenal dan menganut agama Islam, filsafah adatnya adalah

Adat basandi kapado alua,
Alua basandi kapado patuik jo mungkin.
Raso bao naiak,
Pareso bawo turun


Kemudian pada awal abad ke 19 sesuai dengan perkembangan, maka dibuatlah kesepakatan yang sangat mendasar sekali antara ninik mamak dengan alim ulama di bukit Marapalam. Dibukit Marapalam ini terpatri :

Adat basandi Syarak.
Syarak basandi Kitabulah


Namun adat tetap bersandarkan :

Raso bao naiak
Pareso bao turun
Tarimolah raso dari lua
Pareso bana raso kadalam
Antah iyo antah indak
.

Karena intisari dari adat adalah "Raso jo Pareso" Rasa takut kepada Allah, Rasa malu dan sopan terhadap sesama manusia, segan menyegani, tenggang rasa dan saling menghargai diantara sesama anggota masyarakat. Dari rasa malu timbul rasa sopan.

RASO inilah sebagai perekat dan mengikat dengan erat ditengah masyarakat dalam kehidupan semenjak fase taratak sampai fase nagari. Demikian juga fase selanjutnya, yaitu fase rantau.

Karantau madang dihulu
Babungo alah babuah balun
Marantau bujang dahulu
Dikampuang baguno balun
Hiu bali balanak bali
Ikan panjang bali dahulu
Induak cari dunsanak cari
Induak samang cari dahulu.


Raso mambuahkan malu dan takut berbuahkan budi. Malu laksana humus dalam padang kehidupan bermasyarakat yang berfungsi sebagai biang penyubur dan sebagai dasar untuk bertumbuh kembangnya kehidupan di Minangkabau. Minangkabau bataluak budi, ranahnyo titian tanah baso .

Falsafah dasar hidup masyarakat yang demikian makin mempercepat masuk dan berkembangnya agama Islam. Malu adalah sebagian dari iman sabda Rasulullah SAW, Selanjutnya ditegaskan lagi "Innamabu'itstu li utammima makaarimal akhlaq. Sesungguhnya aku diutus kata rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Dengan demikian Emotional and Spritual Quotion (ESQ) yang lagi popular sekarang ini, ternyata di Minangkabau telah lama menjadi pakaian sehari hari. Tetapi bunga tulip dihalaman tetangga lebih bagus daripada bunga tulip dihalaman kita, bak pepatah Belanda.

dima kain kabaju,
Dijaik indaklah sadang,
Lah takanak mangko diungkai.
Dimalah nagari ndak kamaju,
Adat sajati tu banalah nan hilang
Dahan jo rantiang nan bapakai.

Supayo jarami naknyo takerai
Larakkan padi ditampuaknyo
Supayo nagari naknyo salasai
Latakkan sesuatu ditampaiknyo.

anak urang koto hilalang
pai kapakan baso
Malu jo sopan kalau lah hilang
Hilanglah raso jo pareso

Rarak limau dek binalu
Tumbuah sarumpun jo siakasek
Kalau hilang malu jo sopan,
Nan bak kayu lunnga pangabek

Dek ribuik rabahlah padi
Dicupak nak urang canduang
Hiduik kalau indak babudi
Duduak tagak kumari tangguang

Talangkang carano kaco
badarai carano kandi
Bareh nan samo dirandang
Baganggang karano dek raso
Bacarai karano dek budi
Itu nan samo kito pantangkan

Nan merah iyolah sago
Nan kuriak iyolah kundi
Nan indah iyolah baso
Nan baiak iyolah budi

Pulau pandan jauah ditangah
Dibaliak pulau si angso duo
Ancua badan dikanduang tanah
Budiak baiak dikana juo.
Pisang ameh bao balai
Masak sabuah dalam peti
Hutang ameh buliah di bayia
Hutang budi dibawo mati.


Begitu pentingnyo raso jo pareso, maka adat Minangkabau menuntun masyarakatnya untuk menanam raso malu dengan raso sopan. Raso takut terhadap Allah SWT raso malu terhadap sesama manusia, malu antara lelaki dan perempuan, malu antaro sumando dengan mamak rumah, malu antara mertua dan menantu, malu berbuat sumbang salah, malu melanggar aturan adat, malu melihat kalau ada tetangga merintih kelaparan, malu berbuat tidak sopan, malu kalau kalau hati orang lain terluka, malu kalau kalau terambil hak orang lain dan lain sebagainya.

Bahkan raso malu dikaitkan dengan harta benda, Harta dapat dibagi tapi malu tidak dapat dibagi. Bagi mereka yang tidak memakaikan raso jo pareso dan malu jo sopan disebut dengan yang tidak tahu di nan ampek, indak tau diatah takunyah, indak tau disuduik kancah.

Raso jo pareso dan malu dengan sopan dapat diperoleh dari didikan orang tua dirumah terutama sekali dari ibu/bundo kanduang. Bundo kanduanglah limpapeh rumah gadang, acing-acing dalam nagari. Tampaik maniru dan manuladan, kasuri tuladan kain, cupak tuladang batuang. Tampaik pa aja baso dengan basi pendindiang malu jo sopan. Bundo kanduanglah yang harus gigih mendidik anaknyo rajin sekolah dan mengaji supaya kelak menjadi anak yang beraklak dan beriman tangguh, narako jalan tabantang sarugo jalan batampuah, karano kalau karuah aia dihulu biasonyo karuah pulo kahilia. Kalau kuriak induaknyo, rintiak anaknyo, karano cucuran atok jatuahnyo ka palambahan.

Inilah yang diperingatan oleh Allah SWT dalam firmanNya pada surat Anisaa ayat 9. Dan hendaklah (orang tua) mereka menjaga jangan sampai meninggalkan anak yang lemah dibelakang hari, yang dikawatirkan akan sengsara (karena kehilangan pegangan). Oleh karena itu hendaklah ia patuh kepada Allah dan hendaklah mengatakan/mengajarkan perkataan yang benar dan sabda Rasulullah SAW, beri ilmulah anakmu, sesungguhnya zaman yang kamu lalui tidak lagi akan ditemui anakmu nanti.

Sedang dalam pelaksanaan "nan ampek" dalam masyarakat diperlukan aturan, agar tidak keluar dari baris dan menimbulkan cemooh dalam masyarakat. Malabiah ancak ancak, mangurangi sio sio, bayang baying sapanjang badan, sasuaikan patuik jo mungkin, letakkan sesuatu pada tempatnya.

Aturan aturan tersebut tertuang dalam nan barih balabeh, nan bacupak bagantang, cupak nan 12 taia, gantang nan kurang duo lino puluah.
Masing masing komponen masyarakat harus memahami posisi dan funsi serta sifatnya dalam masyarakat, apakah sebagai mamak, kemenakan, mamak rumah, urang sumando, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang atau urang mudo mantah. Kalau kita memahami semua itu maka inilah yang dikatakan orang arif budiman lagi jauhari bijaksana pandai maninbang tau manjalankan.

Sumber : Surek kaba Anak Nagari SUNGAI PUA edisi 02 Januari 2003.

dex 1st May 2010 12:42 PM

Kato Dalam Adat Minangkabau

Spoiler for Isi:
Kato adalah suatu lafaz yang menghendaki makna
Makna adalah suatu pengertian yang tidak mempunyai huruf dan suara.
Rundingan adalah suatu pembicaraan yang menghasilkan suatu maksud.

I. Kato Terbagi tiga dalam adat.
1. Kato muqabilah
2. Kato bakilah
3. Kato bahelah

1. Kato Muqabilah
Ialah kata-kata dalam adat, yaitu

Rundiang nan saiyo
Bana nan saukua
Bak batang dalam tanah
Tigo puluh tahun dalam lunau
Namun tareh mambangun juo
Bak ibarat bungo pinggan
Walau pacah basimpang tujuah
Bamusin dalam tanah
Namun ragi tak namuah hilang


Artinya :
Kato ini adalah kato kebenaran yang tidak dapat diubah dan tidak dapat ditukar. Disebut juga kato yang hak yang harus dilaksanakan oleh ninik mamak dan pemimpin.
Kato ini pulalah yang harus ditegakkan dan dituruti.

2. Kato Bakilah
Adalah kato-kato di dalam adat yang tidak dapat dijadikan pedoman dan pegangan, seperti :

Mangambiak contoh
Ateh kebenaran orang lain
Sagalo kato-kato urang
Napi kasadonyo
Nan batua dirinyo sajo
.

Artinya :
Perkataan seseorang yang hanya kata dia saja yang benar, dan kata-kata ini diambil dari kata-kata orang lain, yaitu orang yang tidak dapat katanya dibantah, karena kebodohannya.

3. Kato Bahelah

Menghelah seorang lain atas jalan kebenaran.

barih luruih alua tarantang
Sakato kito mangunjuangi bananyo.
Nak bulan ka tabik
Pahamnyo bak api dalam sakam
Di lahia indak mangasan
Lah anguih sajo mako tahu.


Artinya :
Kata yang selalu dihelah karena ingin lari dari kebenaran atau orang yang mengatakan dialah yang benar, orang lain tidak benar.

Rundingan
ada tiga macam :

1. Rundingan basimanih
2. Rundingan basiginyang
3. Rundingan basiransang

1. Rundingan Basimanih
Ialah :
Rundingan nan liok-liok lambai
Rundingan nan lamak-lamak manih
Lamak bak santan jo tangguli
Sakali runding disabuik
takana juo salamonyo


Artinya :
Perkataan dalam pergaulan sehari-hari yang baik dan manis, menarik hati orang sehingga mudah untuk membawa kepada suatu pengertian dan kebenaran.

2. Rundingan Basiginyang
Ialah :
Rundingan nan tagang-tagang kandua
Rundingan nan tinggi-tinggi randah
Bak mahelo tali jalo
Agak tangan di kanduri
Diam di kato nan sadang elok


Artinya :
Perkataan dalam pergaulan sehari-hari yang selalu bisa menaklukkan orang yang menimpang dari jalan yang benar. Pembicaraan ini tidak menghendaki tindakan yang keras, hanya cukup untuk menundukkan seseorang dengan perkataan yang baik dan lunak lembut.

3. Rundingan Basiransang
Ialah :

Banyak andai jo kucindan
Sarato galuik jo galusang
Ka lalu raso ka tasabuik
Ka suruik jalan tataruang
Ditampuah juo kasudahannyo.


Artinya :
Pembicaraan yang ragu dan tidak tegas dalam suatu persoalan.

Sifat Kato jo rundingan tigo macamnyo :
1. Tipuan Aceh
2. Gurindam Barus
3. Tangguak Malayu

1. Tipuan Aceh

Ditipu jo muluik manih
Dikabek jo aka budi
Dililik jo baso baiak
Muluik manih talempong kato
Baso baiak gulo di bibia
Budi haluih bak lauik dalam
Tampek bamain aka budi


2. Gurindam Barus

Dipahaluih andai rundingan
Dipabanyak ragam kecek
Dipaeloki tungkuih garam
Dipagadang tungkuih rabuak
Padi dikabek jo daunnyo
Manusia di kabek jo akanyo
Sarato di helo jo budinyo


3. Tangguak Malayu

Tak kaik tupang manganai
Tak siriah pinang mamalan
Tak tajak tajuak tajarang
Tak pasin tangguang tibo
Tak laju dandang di aia
Di gurun ditajakkan juo
Umpamo mancakau buruang
Kok lari ka ateh kayu
Di temak jo damak
Kok lari ka aia diserakkan jalo
Kok lari ka dalam tanah
Di kali jo Tambilang
Kok ka awang-awang
Dipasuang jo asok
Lamo lambek jatuah juo kasudahannyo


Sifat kato dan rundingan yang dimaksud di dalam adat ialah : seorang penghulu atau pemimpin dalam masyarakat selalu berusaha untuk membawa orang kepada jalan kebenaran. Tetapi hendaklah dilakukan kebijaksanaan dengan kata-kata yang baik, lunak, lembut karena kata yang lunak lembut itu merupakan kunci bagi hati manusia, dan sangat perlu.
Metode seperti ini bagi seorang penghulu atau pemimpin untuk membawa orang kepada kebenaran, kalau sekiranya orang ini bersikeras kepala tidak patuh, dan tidak mau menerima suatu kebenaran, kalau menurut pendapatnya tidak diterima oleh orang lain, seperti kata pepatah :

Bungkuak sauah tak takadang
Kareh hiduang sangiek kaluan
Nan bak umpamo tukang rabab
Nan balaku bak katonyo surang
Nan bana bananyo sorang
Nan di urang bukan kasadonyo.


Jangan hendaknya terjadi di dalam pemimpin kita untuk membawa orang kepada suatu kebenaran dengan jalan kekerasan, seperti :

Kuek katam karano tumpu
Kuek sapik karano takan

Tetapi,
Palu-palu ula dalam baniah
Baniah tak leso
Tanah tak lambang
Panokok tak patah
Tapi nan ula mati juo


Begitupun sifat kato dan rundingan ini berguna sekali dalam pergaulan sehari-hari karena seseorang penghulu atau pemimpin akan menjadi contoh dan tauladan bagi anak kemenakan dan orang banyak. Pepatah mengatakan :

Muluik tataruang ameh padahannyo
Kaki tataruang inai padahannyo
Mulutmu harimau-mu
Itu yang menjadi musuh padamu

Murah kato takatokan
Sulik kato jo timbangan
Anjalai pamaga jo timbangan
Tumbuah sarumpun jo lagundi
Kok pandai bakato-kato
Bak santan jo tangguli
Kok tak pandai mangaluakan kato-kato
Bak alu pancukia duri.


Sumber : Buletin Sungai Puar 16 Agustus 1986

dex 1st May 2010 12:43 PM

Tambo Minangkabau

Spoiler for Isi:
Disadur dari buku "Kato Pusako"

Adopun katiko langik takambang
Juo katiko mulai bumi tahampa
Katiko nabi Adam mulai kaditampo
Allah Ta'ala lah sudah manantukan
Anak cucu Adam nan mahuni dunie
Anak Adam nan bungsu manjadi rajo

Adopun anak Nabi Adam 'alaihissalam
Tigo puluah sambilan banyaknyo
Nikah ba antaro satu anak ka satu anak
Anak nan bungsu indak mandapek jodoh
Dilarikan malaikaik ka awang gumawang
Mako heranlah Adam jo Hawa anak baranak

Mako batiuiklah angin dari sarugo
Diguguah gandang si Rajo Nobaik
Ditiuik sarunai si Randang Kacang
Dibunyikan pulo rabab jo kucapi
Dikambangkan pulo payuang ubua ubua
Mako manari narilah anak bidodari
Takajuk maliek anak Adam nan bungsu
Basamo malekaik di awang gumawang

Marebak harum haruman didalam sarugo
Turun malekaik di langik nan katujuah
Mako baguncang kayu sidratul muntaha
Tabukak pulolah pintu baitul makmur
Sagalo malekaik manamui anak Adam nan bungsu
Basamo samo mambimbiang jo mamapahnyo
Adam sakaluarga mamandang ka awang gumawang
Nampak anak nan bungsu mamakai tanduak
Batanduak dinamokan ameh sajati jati
Takuik Adam anak baranak malieknyo
Tadanga pulo suaro dari puncak bukik Kaf
Mamandang Adam anak baranak kabukiktu
Nampak panji panji dikabang diateh bukik
Bantuak ombak dilauik mamutuiah ruponyo
Mako heranlah Adam jo Hawa anak baranak

Mako mando'a Adam pado Allah Rabbul'alamin
Mintak dipatamukan juo jo anak cucunyo
Mako Allah Ta'ala manurunkannyo ka dunie
Mako tajadilah ombak basabuang dilautan
Manyumbua pulo lah ikan nan banamo Nun
Lalu bagoyanglah bumi kasaluruhannyo
Mako antah barantahlah gamponyo alam
Sabab itulah mako banamo tanah Rum

Bakato Adam jo sagalo anaknyo nan laki laki
Sangaik takajuik kito maliek anak nan bungsu
Diturunkan malekaik anak Adam nan bungsutu
Mako sampai pulo lah ka ateh bumi nan suci
Antaro nan dinamokan Pasirik jo Pasiruang
Antaro nan dinamokan Masrik jo Magrib
Antaro bukik banamo Siguntang Mahameru
Itulah nan dinamokan kini tanah Rum

Mako balakulah takadia Allah Ta'ala
Dikalukan anak Indo Jati dari sarugo
Tasabuik dinamokan Cati Reno Sudah
Salapan urang jumlah banyak kasadonyo
Sangaik rancak rancak rupo bantuaknyo
Sangaik sopan sopan bana parilakunyo
Lunak lambuik bicaronyo
Itulah nan kajadi salaku sumbangan
Untuak anak anak Adam kasaluruahannyo
Suatu pambarian hadaiah Allah Ta'ala

Mako bakumpualah anak Adam kasadonyo
Katonyo takuik kami akan tanduakmu
Wahai sudaro kami nan paliang bungsu
Mako dikareknyolah tanduaknyo tu
Sakarek manjadi Mangkuto Sanggohani
Sakarek manjadi Lambiang Lambuaro
Sakarek lai manjadi Kumalo Sati
Sakarek lai manjadi Tuduang Saji
Sakarek lai manjadi Pinang Pasie
Sakarek jadi Siriah Udang Tampowari
Tampuaknyo kuniang, gagangnyo sirah
Daunnyo digala untuak manjadi ubek
Mako dinamokan Tambago Siramin Koto

Mako diturunkanlah pulo malekaik
Nan datang dari langik nan katujuah
Untuak ma agiah namo tanduaktu
Mako dibarilah namonyo Zulkarnain
Aratinyo mampunyoi duo ujuang dunia
Ujuang Masrib jo ujuang Magrib
Untuak rajo dibari namo Iskandar
Namo Zulkarnain dipakai jadi galanyo

Bakatolah rajo Iskandar Zulkarnain
Kapado sudaro sudarony nan banyak
Jiko baitu nan lah dikatokan malekaik
Ikuiklah apo nan dikatokannyo tu
Siapo nan ka jadi kaki tangan ambo
Siapo nan kajadi panggiriang ambo
Siapo nan ka mambawo payuang ambo
Siapo nan ka mamarentah karajaan ambo
Siapo nan ka manjalankan parentah ambo

Mako manyabuiklah sudaronyo kasadonyo
Kami nan banyakko lah nan mauruihnyo
Kasadonyo lah cukuik jo kalangkok-annyo
Sadonyo lah langkok jo kagadangannyo

Mako babarapo lamo pulo diantaronyo
Mako lauik pun suruik manyintak turun
Dijadikan Allah Ta'ala sagalo bukik
Untuak dijadikan sabagai pasak bumi

Mako rajo pun bakandak nak punyo istri
Mako datanglah parentah dari Allah Ta'ala
Jiko rajo bakandak nak punyo istri
Japuiklah anak bidodari dari sarugo

Lalu malekaik jibril turun ka dunie
Singgah langsuang taruih ka sarugo
Nampak anak bidodari sadang batanun
Mananun kain Sang Seto Kalo namonyo

Bakato malekaik Jibril pado anak bidodari
Oi Bidodari, marilah kito turun ka dunie
Karano parentah dari Allah Rabbul'alamin
Angkau akan dijadikan istri rajo didunie

Batangisan anak bidodari kasadonyo
Mako manyauiklah surang anak bidodari
Bagaimano ambo suko pai ka dunie tu
Karano ambo kiniko sadang batanun kain

Mako bakato pulo lah malekaik Jibril
Jiko engkau patuah parentah Allah
Bawoklah alat tanun engkau itu kadunie
Mako sugirolah anak bidodari bakameh kameh

Karano indak dapek saketek juo mintak janji
Diguluangnyo alaik tanunnyo jo pisau Kaciak
Dipasuntiangnyo sigulandak ditalingo suok
Mako diguguah uranglah dalam sarugo
Babagai macam alaik bunyi bunyian
Gagap gumpito azmat kadangarannyo
Mako manarilah sagalo anak bidodari

Bakato pulo Jibril kapado anak bidodari
Bao juolah sagalo alaik pakaianmu ka dunie
Supayo suko saisi dunie untuak dituladani
Bahimpunlah mareka kasadonyo ditanah Rum
Diturunkan Allah Ta'ala malekaik ampek urang
Manjadi wali jo saksi panikahan rajo tu

Hatta ateh takadia Allah Ta'ala juo
Lamolah pulo sasudah rajo dikimpoikan
Dikaluakan buruang nuri dari sarugo
Buruang nuri Zamzailan ka namonyo
Walau buruang, batinnyo malekaik juo
Manantukan manusia hiduik dinagari
Kapado buruangtulah hambo Allah baguru

Mako babarapo lamo pulo sasudah tu
Mako baranak pulolah rajo tigo urang
Laki laki sajo anaknyo katigonyo
Surang banamo Sultan Maharajo alif
Surang banamo Sultan Maharajo Dipang
Surang banamo sultan Maharajo dirajo
Lamolah pulo antaronyo sasudah itu
Lalu dewasalah katigo anak itu

Mako mamandang daulaik dipatuan ka Masrik
Tantang itu kasadonyo rantau kito
Mamandang pulo baliau ka Magrib
Tantang itu kasadonyo rantau kito
Mamandang pulo baliau ka Selatan
Tantang itu kasadonyo rantau kito
Mamandang pulo baliau ka Utara
Tantang itu kasadonyo rantau kito

Mupakaiklah anak rajotu katigonyo
Ka arah mano kito handak barangkek
Lalu mamndang mereka ka arah Magrib
Mako diliek dikajauahan tabik api
Antaro ombak ombak basabuang dilautan

Mako bakahandak daulaik dipatuan handak balaie
Mako mupakaik katigonyo di Pulau Langkapuri
Antaro bukik Siguntang Mahameru dilauik Sailan
Mako tioknyo mangingini Mangkuto Sanggohani
Mako barabuik rabuiklah antaro mereka katigonyo

Mako jatuahlah Mangkuto masuak kadalam lauik
Mako dibueklah sabuah limbago cambul kaco
Mako disuruahlah kapado Cati Bilang Pandai
Mako nampaklah Mangkuto didalam lauik
Kalihatan Mangkuto sadang dipaluak ula bidai

Babaliak Cati Bilang Pandai kadalam perahu
Nampak katigo daulaik dipatuan sadang lalok
Mako bapikialah pulo Cati Bilang Pandai
Dileiknyo ado tasadio ameh sajatah jati
Dipabueknyo tiruan Mangkuto sanggohani
Mangkuto Sanggohani sudah tukang dibunuah
Indak mungkin lah kadapek ditiru lai
Cati Bilang Pandai masuak ka parahu
Didapatinyo surang daulaik dipatuan jago
Inyolah nan banamo Sultan Sri Maharajo Dirajo
Nan maambiak mangkuto tu
Jatuah jadi miliknyo

Mako sangaik heranlah rajo nan baduo
Marentak balaie Sultan Maharojo dipang
Inyolah nan taruih sampai ka banua Cino
Kudo ameh disabuikkan namo karajaannyo
Bajajaran lawehnyo sampai taruih ka utaro

Surang nan banamo Sultan Maharajo Alif
Babaliak kumbali pulang ka tanah Rum
Mamarentah Turki, Parancih, Ulando, Inggirih
Manguasoi bagian baraik dunie lalu ka utaro

Mako balaielah Sultan Maharjo Dirajo
Dapeklah manggunokan parahu kayu jati
Anam baleh urang kasadonyo pangiriangnyo
Ikuik dalam rombongan limo istri rajo

Surang istri rajo disabuik anak Rajo
Lakunyo mardeso, sopan suko mamiliah
Ado istri rajo disabuik anjiang Mualim
Lakunyo suko mamintak jo pambirunguik
Ado istri rajo disabuik kuciang Siam
Lakunyo suko manjamua diri, mandakek-I rajo
Surang istri rajo disabuik Harimau Campo
Lakunyo ganeh pamberang walaupun ka rajo
Surang istri rajo disabuik Kambiang Utan
Lakunyo suko baulam jo makan siriah

Mako balaielah sampai kapulau ujuang ameh
Parahunyo pacah karano tasakek dibukik karang
Mupakaik rombongan, dek takuik pado titah rajo
Bapikie Cati Bilang Pandai mamelok-I parahu tu
Manitiah daulaik dipatuan kapado sa isi parahu
Jiko kamu pelok-I parahu tu sabagai samulo
Akan aku ambiak kalian ka jadi minantu

Sukolah sagalo urang nan baraka di parahu
Dipelok-I parahu tu sabagai suruik samulo
Mako sangaiklah heran rajo daulaik dipatuan
Mako balaielah rajo manuju pulau Jawi
Lalu babaliak ka gunuang Marapi sandirinyo

Sasungguahnyo Allah sangaik kasiah kapado rajo
Istri rajo pun malahiakan limo anak padusi
Istri, Anak Rajo malahiekan surang anak
Istri, Anjiang Mualim malahiekan surang anak
Istri, Kuciang Siam malahiekan surang anak
Istri, Harimau Campo malahiekan surang anak
Istri, Kambiang utan malahiekan surang anak

Mako lamo pulo antaronyo sasudah itu
Cukuiklah umue anak padusi kalimonyo
Lalu dikimpoikan pulo jo limo laki laki
Nan mamelok-I parahu sasuai jo janji rajo

dex 1st May 2010 12:44 PM

Lanjutan Tambo Minangkabau....

Spoiler for Isi:
Mako lamolah antaronyo sasudah ka-win
Sabulan duo sampai ampek bulan lamonyo
Batanyo rajo kapado sagalo minantunyo
Apobilo ado angkau sapamakanan jo sapaminuman
Adolah nan kadisabuik, untuak ditanyokan
Lalu manyabuik kasado minantu nan balimo
Babagai jawek mereka indak ado nan sarupo
Hanyo surang sajo nan sapamakan sapaminuman
Mako rajo bapike, taraso babagia dihatinyo

Mako lamo pulo antaronyo sasudah itu
Mako lauik pun susuik manyintak turun
Ditumbuahkan Allah Ta'ala rumbio rumbionyo
Tigo jurai banyaknyo diateh gunuang
Sajurai ma arah ka ranah Tanah Data
Sajurai maarah ka ranah Lubuak Agam
Sajurai ma arak ka ranah Limo Puluah Koto

Disuruah anak minantui nan balimo tadi
Surang ka Ranah Tanah Data iyolah anak Anak Rajo
Surang ka Lubuak Agam iyolah anak Harimau Campo
Surang ka Limo Puluah Koto iyolah anak Kambiang Utan
Surang ka Canduang Koto Laweh anak Kuciang siam
Surang Ka Kubang iyolah anak Anjiang Mualim

Mako bagurulah rajo kito kapado sagalo alam
Mako mandapek Galundi nan Baselo namonyo
Iyolah nan turun ka arah Ranah Tanah Data
Balun Lahie induak Katumangguangan
Jo adiaknyo Parpatiah Nan Sabatang

Mako lamo pulo antaronyo
Mako kambanglah sagalo anak rajo tadi

dex 1st May 2010 12:46 PM

Rumah Gadang

Spoiler for Isi:



Di Minangkabau rumah tempat tinggal, dikenal dengan sebutan rumah gadang (besar). Besar bukan hanya dalam pengertian fisik tetapi lebih dari itu, yaitu dalam pengertian fungsi dan peranannya yang berkaitan dengan adatnya. Bila diperhatikan rumah tempat kediaman bagi suatu daerah erat sekali hubungannya dengan faktor alam dan adat atau lingkungan rumah itu didirikan. Daerah yang berawa-rawa, banyak sungai, ada gangguan binatang buas dll kecenderungan rumah didirikan dengan tiang yang tinggi dan besar. Dengan bertiang tinggi dan rumah panggung bisa terhindar dari segala macam bahaya seperti bencana alam dan gangguan lainnya.

Beberapa hal yang berkaitan dengan rumah gadang ini adalah sbb:

1. Mendirikan Rumah Gadang
Rumah gadang didirikan diatas tanah kaum yang bersangkutan. Jika hendak mendirikan, penghulu dari kaum tersebut mengadakan musyawarah terlebih dahulu dengan anak kemenakannya. Setelah dapat kata sepakat dibawa kepada penghulu-penghulu yang ada dalam pesukuannya, seterusnya dibawa pada penghulu-penghulu yang ada dinagarinya.

Untuk mencari perkayuan ke hutan diserayakan orang kampung dan sanak keluarga. Tempat mengambil kayu pada hutan ulayat nagari. Tukang yang mengerjakan rumah tsb berupa bantuan dari tukang-tukang yang ada dalam nagari atau diupahkan berangsur-angsur. Rumah yang dibangun diperuntukkan pada keluarga perempuan, sedangkan untuk laki-laki dibangun rumah pembujangan dan setelah Islam masuk ada surau. Walaupun rumah itu diperuntukkan bagi perempuan namun yang berkuasa adalah penghulu dan yang bertanggungjawab langsung pada rumah gadang tsb adalah tungganai.
Bila rumah gadang itu sudah usang dan perlu perbaikan maka seluruh anggota kaum mengadakan mufakat.

Seandainya rumah gadang itu akan dibuka lantaran tidak mungkin untuk diperbaiki, maka harus setahu orang kampung atau senagari dan terutama penghulu-penghulu yang ada di nagari tsb.

Tidak semua keluarga diperbolehkan mendirikan rumah gadang dan ini harus mempunyai syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat itu antara lain kaum yang akan mendirikan rumah gadang itu merupakan kaum asal di kampung tsb yang mempunyai status adat dalam suku dan nagarinya. Walaupun sebuah kaum itu kaya, tetapi dia adalah keluarga pendatang baru yang tidak mempunyai status adat dalam suku dan nagari tersebut tidak dibenarkan mendirikan rumah gadang.

Walaupun demikian kemufakatan dari penghulu-penghulu yang ada pada suku dan nagari sangat menentukan apakah sebuah kaum itu dibenarkan mendirikan rumah gadang atau tidak.

Dilihat dari cara membangun, memperbaiki dan membuka rumah gadang adanya unsur kebersamaan dan kegotongroyongan sesama anggota masyarakat tanpa mengharapkan balas jasa. Fungsi sosial sangat diutamakan dari fungsi ekonominya. Walaupun rumah gadang itu milik dan didiami oleh anggota kaum namun pada prinsipnya rumah gadang itu adalah milik nagari karena mendirikan sebuah rumah gadang didasarkan atas ketentuan-ketentuan adat yang berlaku di nagari itu dan setahu penghulu-penghulu untuk mendirikannya atau membukanya.

2. Fungsi Rumah Gadang
Rumah gadang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sebagai inggiran adat. Ukuran ruang tergantung daripada banyaknya penghuni dirumah itu. Namun jumlah ruangnya biasanya ganjil spt lima ruang, sembilan ruang dan malahan ada yang lebih. Sebagai tempat tinggal rumah gadang mempunyai bilik-bilik sebelah barisan belakang yang didiami oleh anak-anak wanita yang sudah berkeluarga, ibu-ibu, nenek-nenek dan anak-anak.

Yang penting lagi fungsi rumah gadang adalah sebagai inggiran adat, mengerjakan suruhan, menempatkan adat atau tempat melaksanakan seremonial adat seperti kematian, kelahiran, perkimpoian, mendirikan kebesaran adat, tempat mufakat, sepanjang adat dll.

Perbandingan ruang tempat tidur dengan ruangan umum adalah 1/3 untuk ruangan tidur dan 2/3 untuk kepentingan umum.
Perbandingan ini memberi makna bahwa kepentingan umum lebih diutamakan dari kepentingan pribadi.

3. Pola Rumah Gadang
Rumah gadang Minangkabau berbentuk kapal yaitu kecil kebawah dan besar ke atas. Bentuk atapnya punya bubungan yang lengkung ke atas yaitu lebih kurang setengah lingkaran. Denah dasar berbentuk empat persegi panjang dan lantai berada diatas tiang-tiang. Tangga tempat masuk berada ditengah-tengah dan merupakan serambi muka. Ada juga yang membuat sebuah ujung, ditempat mana biasanya terdapat dapur.

Rumah adat Minangkabau tidak mempunyai ukuran yang pasti dengan memakai meter. Panjang dan lebar rumah ditentukan dengan labuh (jalur) dan yang biasa dijadikan ukuran adalah hasta atau depa. Lebar ruang atau labuh (jarak antara tiang menurut lebar dan panjang) bervariasi antara 2 1/2 m sampai 4 m. Panjang rumah sekurang-kurangnya 3 ruang dan bahkan ada yang sampai 21 ruang, yang normal 3,7,9 ruang. Sedangkan lebarnya sekuang-kurangnya 3 jalur dan sebanyak-banyaknya 4 jalur. Ukuran tidak dimakan siku, tetapi disebut ukuran alur dan patut. Condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak.

Jalur atau labuh memanjang rumah. jalur pertama dari muka disebut bandua tapi, jalur kedua disebut labuah gajah. Jalur ketiga disebut labuah tangah, sedangkan jalur keempat disebut Biliak. Ruangan terletak pada potongan rumah menurut lebar rumah. Satu ruang ditengah dinamakan "Gajah maharam (gajah mengeram). Dua ruang dikri disebut sarambi papek dan dua ruang ke kanan disebut raja berbanding.
pada ujung kiri dan kanan ada anjungan dan terdiri dari tiga tingkat banyaknya sekurang-kurangnya dua tingkat. Anjung merupakan tangga yang terletak pada tengah bagian lebar rumah.

4. Tonggak
Tonggak dari bahan kayu bersegi delapan dan panjang tiang tidak sama, tiang-tiang berbaris/berjajar. Banjar muka dan banjar belakang rendah. Banjar barisan nomor dua dari muka dan belakang lebih tinggi dan banjar/barisan di tengah yang paling tinggi.

5. Rasuk
Antara tiang dengan tiang membujur dan membelintang dihubungkan oleh rasuk pelancar. Rasuk melintang melalui pahatan pada tiang. Rasuk bahannya dari ruyung batang kelapa atau dari kayu hutan yang keras. Pahatan lebih kurang 2m dari dasar atau sendi. Pahatan tiang yang sama tingginya pada setiap tiang adalah untuk pahatan rasuk pelancar. Di atas rasuk melintang berada di bawah pahatan rasuk pelancar. Rasuk melintang ditopang dengan ruyung yang sama tebalnya dengan rusuk melintang hingga mengenai tinggi pahatan rasuk pelancar. Diatas singgiran disusun jeriau lantai, hingga lantai menjadi datar.

6. Sandi
Setiap kaki tonggak berdiri diatas sebuah batu yang disebut dengan sandi. Sandi batu didatangkan kemudian setelah semua tiang dihubungkan oleh rasuk dan paran-paran. Paran, ialah sebuah kayu atau ruyung panjang dari pohon kelapa yang menghubungkan setiap tiang pada ujung atas. Sama dengan rasuk. Ada yang disebut paran panjang dan paran melintang. Punco-punco tiang yang dihubungkan oleh paran panjang tidak pula sama tingginya hingga terlihat lengkungnya atau disebut paran ular mangulai (mengulai). Lengkung paran inilah yang akan membentuk gonjong (pucuk atap).

7. Lantai
Rumah gadang dilantai dengan papan. Lantai papan dipasang diatas jeriau dan adakalanya lantai dibuat dari pelupuh (bambu yang dipecah). Untuk lantai rumah gadang ini ungkapan adatnya mengatakan "lantai banamo hamparan adat, tampek si janang main pantan, tampek penghulu main undang. Lantai rumah gadang ada dua jenis bila dilihat dari bentuknya.

Perbedaan dari jenis lantai ini sebagai membedakan rumah gadang Bodi Caniago dengan rumah gadang Koto Piliang. Lantai datar untuk semua bidang merupakan jenis Bodi Caniago. Semua penghulu yang duduk sama martabatnya, dengan kata-kata adatnya duduak samo randah, tagak samo tinggi. Sedangkan pada adat Koto Piliang lantainya bertingkat atau beragam, lantainya setingkat lebih tinggi dari lantai bandul gajah dan bendul tepi. Penghulu-penghulu yang duduk dari Kelarasan Koto Piliang di rumah gadang sesuai dengan tingkatannya.

8. Anjung
Anjung adalah ruangan yang lantainya bertingkat dua atau tiga pada ujung pangkal rumah, yaitu ruangan yang menyambung dan disebut raja berbanding dan serambi papek (pepat). Anjung adalah tempat mulia dan terhormat.

dex 1st May 2010 12:47 PM

Lanjutan Rumah Gadang...

Spoiler for Isi:
9. Atap
Atap rumah gadang dari bahan ijuk, dipasang diatas kap yang diatur terletak diatas paran yang melengkung kira-kira setengah lingkaran dan seperempat dari lingkaran dari paran tinggi ketuturan (kedua belah sisi bidang atap). Kap dibuat berpucuk (gonjong) dan sekurangnya empat buah yang membagi panjang rumah. Dua gonjong ditengah berbentuk setengah lingkaran, yang dua lagi menyusul kiri kanan mengikuti lengkung pertama. Selanjutnya gonjong ruangan ujung-ujung kiri dan kanan mengikuti lengkung sebelumnya hingga gonjong menjadi enam buah.

Bila rumah gadang ini mempunyai serambi maka ditambah lagi satu gonjong serambi yang menyatu dengan gonjong tangga. Gonjong serambi dibuat ditengahruang ganjil yang menyatu antara serambi papek dengan raja berbanding atau sejalan dengan ruangan gajah mengeram. Gonjong serambi mengahadap ke pekarangan. Gonjong disebut juga rabuang mambasuik. Pimpinan lentik seperti ular gerang. Pimpiran adalah bahagian pinggiran atap yang ditebalkan pasangan ijuknya dan diukir atau diikat dengan tali ukiran berwarna perak. Pimpiran membujur metik mulai dari tuturan yang seklaigus menjadi tulang untuk menopang gonjong. Tuturan adalah pinggiran atap yang terendah dan tempat air hujan menyatu jatuh ke tanah.

Untuk naik rumah gadang ada tangga; jumlah anak tangga mempunyai bilangan ganjil dan biasanya 5,7 dan 9. Kata-kata adatnya mengatakan 'turun dari tanggo, naiak dari janjang. Maksudnya dalam membicarakan sesuaru persoalan yang erat hubungannya dengan adat hendaklah melalui tingkatan-tingkatan yang sudah diatur sedemikian rupa. Sebagai contoh untuk mengangkat seorang penghulu bicarakanlah terlebih dahulu pada tingkat kaum, setelah itu baru dibawa ketingkat suku dst ke tingkat nagari. Sebaliknya bertangga turun bila ada sesuatu yang akan disampaikan oleh hasil Kerapatan Adat Nagari maka penyampaiannya kepada anak keponakan tidak secara langsung tetapi melalui penghulu-penghulu suku, tungganai, mamak rumah dst.

Sumber : www.minangnet.com

dex 1st May 2010 12:55 PM

Rangkiang

Spoiler for Isi:


Sebuah rumah gadang tidak lengkap apabila didepannya tidak ada rangkiang. Sebuah rumah gadang dengan rangkiang didepannya menambah keanggunan rumah gadang tersebut. Jadi dari segi artistik menambah keindahan dan semaraknya rumah gadang bila rangkiang ada didepannya. Namun lebih dari itu rangkiang mempunyai arti yang lebih dalam lagi, bila dikaitkan dengan falsafah hidup dan kehidupan orang Minangkabau.

Dari segi ekonomi menunjukkan bahwa penghuni rumah gadang berada dalam kecukupan dari segi material. Rangkiang adalah bangunan untuk menyimpan padi. Tempat menyimpan padi yang lain yaitu lumbuang dan kapuak namun tidak terletak didepan rumah gadang. Bangunan rangkiang sesuai dengan gaya bangunan rumah gadang yaitu beratap ijuk dan diberi bergonjong, malahan ada pula yang diberi ukiran. Tiang penyangganya sama tinggi dengan tiang rumah gadang, bentuknya ramping, besar keatas, dan lebih kecil kebawah. Untuk memasukkan padi atau mengambilnya dipergunakan tangga, sebab pintu rangkiang ini terletak pada bagian atas. Tangga yang dipergunakan bisa dipindah-pindahkan dengan demikian tangga tidak menyatu dengan bangunan rangkiang. Bila sudah dipergunkan tangga tadi lalu disimpan didalam kandang rumah gadang.

Di Minangkabau nama rangkiang bermacam-macam sesuai dengan kegunaan dari padi yang disimpan dalam rangkaian tsb. Dari literatur yang dikumpulkan memberi keterangan sbb:

H. Djafri Dt. Lubuk Sati Dsn, mengemukakan ada sembilan macam rangkiang.

1.Sitinjau Lauik atau kapuak adat jo pusako. Kegunaannya untuk hal-hal yang berkaitan dengan acara adat, spt mendirikan penghulu, kematian dll.

2.Mandah Pahlawan atau kapuak tuhuak parang. Kegunaannya untuk makanan bagi orang-orang yang mempertahankan kampung halaman dari musuh yang datang

3.Harimau Paunyi Koto atau kapuak pembangunan nagari. Untuk membangun nagari dana dapat diambil dari rangkiang ini.

4.Sibayau-bayau disebut juga kapuak salang tenggang. Kegunaannya untuk membantu orang-orang yang sedang dalam kesempitan.

5.Sitangka lapa atau kapuak gantuang tungku. Isi rangkiang ini dipergunakan bila terjadi paceklik.

6.Galuang bulek basandiang atau kapuak abuan penghulu. Kegunaannya untuk penghulu yang ada dalam kaum tsb. Untuk menjalankan tugasnya sehari-hari ada jaminan ekonominya.

7.Garuik Simajo Labieh atau kapuak abuan sumando. Orang sumando juga mempunyai abuan untuk kepentingan anak isterinya.

8.Gadang Bapantang Luak kegunaannya untuk makanan harian anggota keluarga rumah gadang.

9.Kaciak Simajo Kayo atau kapuak abuan rang mudo. Kegunaannya untuk anak muda yang ada dalam rumah gadang seperti untuk keperluan kimpoi maka dia membutuhkan sesuatu dan biayanya diambil dari rangkiang ini.

A.A. Navis dalam bukunya "Alam Terkembang Jadi Guru". Ada empat jenis rangkiang yaitu :

1.Sitinjau Lauik, yaitu tempat penyimpan padi yang akan digunakan untuk membeli barang atau keperluan rumah tangga yang tidak dapat dibikin sendiri. Tipenya lebih langsing dari yang lain, berdiri diatas empat tiang. Letaknya ditengah diantara rangkiang yang lain.

2.Si bayau-bayau, yaitu tempat menyimpan padi yang akan digunakan untuk makan sehari-hari. Tipenya gemuk dan berdiri diatas empat tiangnya. Letaknya disebelah kanan.

3.Si tangguang lapa, tempat menyimpan padi cadangan yang akan digunakan pada musim paceklik. Tipenya persegi dan berdiri diatas empat tiangnya.

4.Rangkiang kaciak, yaitu tempat menyimpan padi abuan yang akan digunakan untuk benih dan biaya mengerjakan sawah pada musim berikutnya. Atapnya tidak bergonjong dan bangunannya lebih kecil dan rendah. Adakalanya berukuran bundar.

Dari literatur yang telah dikemukakan diatas terdapat adanya variasi dalam mengungkapkan istilah dan pengertian rangkiang. Namun demikian adanya kesamaan dan fundamental dalam arti dan fungsi rangkiang bagi orang Minangkabau. kesamaan itu adalah sbb:
Rangkiang mencerminkan kesejahteraan ekonomi orang Minangkabau pada masa dahulu. Tanpa ekonomi yang sejahtera dan berkecukupan tidak mungkin adanya istilah-istilah mengenai fungsi dari rangkiang tsb.

Rangkiang juga memperlihatkan keadailan sosial yang dimiliki oleh orang Minangkabau. Mereka tidak mementingkan diri sendiri tetapi juga memikirkan orang lain yang perlu dibantu. Hati tungau samo dicacah, hati gajah samo dilapah; indak samo dicari, ado samo dimakan. Hal ini terlihat dengan adanya fungsi rangkiang sebagai tempat selang tenggang bagi orang yang dalam kesulitan ekonomi.

Rangkiang juga memberikan gambaran, bahwa orang Minangkabau ada memikirkan masa depan ekonominya. Hal ini adanya rangkiang yang isinya untuk abuan, untuk benih dan untuk menghadapi musim paceklik.
Walaupun ada berbagai nama rangkiang dengan berbagai fungsinya, namun biasanya terdapat tiga rangkiang didepan rumah gadang yaitu si Bayau-Bayau, si Tinjau Lauik dan si tangka Lapa.

Sumber : www.minangnet.com


dex 1st May 2010 12:56 PM

Adab Makan di Ranah Minang I

Spoiler for Isi:
Ado adab/caro makan (baradaik) di nagari awak nan kini alah samakin langka dikarajoan urang, makan basamo katiko baralek sacaro adaik, jo caro bajamba. Makan basamo, balimo sampai baranam urang maadok-i ciek piriang gadang. Sacaro sederhana nampak bahaso urusanno indak labiah dari 'makan basamo', tapi dalam kanyataanno banyak aturan-aturan nan musti dikatahui dek urang-urang nan sato makan, sabab kalau sasaurang salah, awakno kadapek cap indak bataratik, atau labiah jauah indak baradaik.


makan bajamba samo ado dikarajoan rombongan laki-laki ataupun urang padusi. Untuak laki-laki, katiko makan alah sabana ka dimuloi, sasudah salasai pasambahan untuak mampabasoan urang nan sadang adok dalam sidang karapatan untuak kasamo makan, mako si pangka, atau nan mawakili tuan rumah ditiok jamba, mamasuak-an samba alias lauak pauak nan dilatak-an ditangah-tangah piriang gadang nan alah baisi nasi. Piriang gadangko ado kalono dilatak-an di ateh dulang tapi bisa juo indak baaleh jo dulang. Malatak-an sambako musti arif bijaksano supayo jaan sampai latak samba cako tampak kurang adia, jadi musti sabana di tangah. Di masiang-masiang jamba duduak ipa jo bisan, si pangka jo si alek, ado nan tuo, ado nan dituokan, sainggo proses makan basamo sabana musti dijago supayo tatap dalam kaadaan bataratik.

Irama suok turun naiak musti basilambek, indak buliah karocoh pocoh, musti nanti manantian. Nan disuok hanyolah nan diadok-an awak masiang- masiang, jadi indak buliah malintehi 'panyuok-an' urang di suok kida awak Katiko mamuloi indak nampak bana sia nan paliang daulu, sabab mambasuah tangan sabalun ka makan buliah samo sarangkek. Tapi ka baranti ado aturan nan musti dijago, indak buliah nan mudo daulu mambasuah tangan. Walaupun awakno alah kanyang, bagianno alah abih, ano musti manantian sampai nan labiah tuo atau nandituo-an salasai sudah itu mambasuah tangan labiah daulu, baitu taratikno.

Makan bisa dilaluan sambia maota-ota ketek, tapi musti dijago pulo kato- kato jo caro mangecek, jaan sampai bakapantiangan nasi kalua dari muncuang. Indak bataratik namono kalau makan disaratoi jo galak takakah-kakah, sabab jo caro ikopun amuah pulo tabosek nasi dari muncuang kalua. Makan indak buliah barimah atau taserak nasi kalua, sabab nan sarupo iko indak kameh namono alias mubazia. Kalau ka ditambuah-an nasi, apo lai tambuahan nan nomor sakian, musti samupakaik urang sajamba. Kalau urang alah sabana manulak, bukan lai dek babaso, jaan dipasoan juo supayo jaan sampai basiso. Basisoko indak buliah. Jadi fihak si pangka (nan kamanambuah-an nasi) iyo bana harus pandai maakuak-an. Bajamba makan nasi, bajamba pulo 'minum kawa' sasudah itu.

Jamba minun kawako tadiri dari katan, jo ajik, jo kalamai, jo pinyaram nan dilatak-anditangah-tangah. Sabalun ka minun kawa ado pasambahan saketek dulu, mamintak si alek malakek-an parabuang, dek kini musim paujan, baitu jano.

Romboangan padusi baitu juo carono. Nan babedo hanyolah di caro duduak,
sabab urang padusi duduak basimpuah, samantaro laki-laki duduak baselo.
Seloko indak buliah lapeh sajak mulo duduak sampai sabana tagak maurak selo, sasudah salasai makan jo minum kawa, sasudah salasai jo pasambahan mintak kato katurun, nan lamono bisa jadi sampai ampek jam (panah ambo alami du). Antah baa lo lah carono, alun panah nampak urang nan indak pandai tagak sasudah duduak baselo salomo itu doh.
Paliang-paliang agak sapiradan kaki tu sabanta, ta tengkak-tengkak saketek, sudah tu aman sajo.

Di kampuang ambo, dulu ambo paratian ado sabagian kaum ibu-ibuko nan
mamasuak-an nasi ka muncuang jo caro 'baambuangan'. Nasi tu di 'pamainan' mareka jo jari, sabagian ado nan di 'amia-amia' di tangan babarapo saat sabalun diambuangan ka muncuang. Atraksi nan sabanano cukuik hebaik sababindak ado nan taserak nasi tu doh.

Baiak dikalompok urang laki-laki ataupun urang padusi, biasono anak-anak
indak disatoan sajamba jo urang tuo-tuo doh. Anak-anak ko diagiah sajo
piriang surang, supayo indak manggaduah.

Sumber: www.cimbuak.com
Penulis: Muhammad Dafiq Saib, St. Lembang Alam

dex 1st May 2010 12:58 PM

Adab Makan di Ranah Minang II

Spoiler for Isi:
Ado apak kawan ambo saisuak di Banduang biaso maajai kami. Kalau kalian makan di meja makan, di undangan atau di rumah urang, mamakai sendok jo garapu, musti kalian paratian bana, jaan sampai babunyi badanciang- danciang sendok jo garaputu di piriang. Kalau makanan bakuah saumpamo sup, indak buliah babunyi 'sarupuik' no. Makan indak buliah mancapak- capak. Indak buliah mairuik-iruik salemo kok nyampang tabik salemo dek makan kapadehan. Indak buliah malapehan sindao gadang. Kalau alah sudah makan, sendok jo garapu musti ditungkuik-an latakno basisian dipiriang, itu ka tando bahaso awak alah sudah makan indak ka batambuah lai. Baitu jano baliau maajai kami. Caro-caroko tantu sajo bukan caro baradaik di nagari awak, tapi caro-caro 'taratik' urang Bulando. Sabagian lai sasuai ambo, lai juo ambo pagunoan kalau ambo makan diundangan urang caro makan duduak di meja bakurisi, kacuali malatakan sendok batungkuik- an tu.

Sasudah bakarajo jo urang Parancih, sakali samaso pai (tapaso) mamanuahi undangan makan malam mareka, nan kudian-kudian ko samakin acok ambo tulak.

Ambo tulak sabab indak lanteh angan lai duduak sameja jo urang minum khamar, tau ambo baso sato badoso awak walau hanyo sakadar sato duduak mangawani sajo. Katiko pai tapaso tu (dulu) ambo usaoan untuak samo duduak sameja jo urang nan indak minum khamar tu. Makan mampagunoan pisau jo garapu. Pisau disuok, garapu dikida. Dek makan jo tangan kidako adolah caro makan setan (hadits Rasulullah) mako ambo mamotong-motong makanan jo pisau, sudah itu ma istirahatkan pisau di tapi piriang, mamacik-an garapu jo tangan suok. Lai alun panah nan managua atau nan batanyo lai doh.

Kalau urang Parancih iyo sabana baunyai-unyai makan ko, sabana barapi- rapi ota, langkok jo galak takekeh-kekeh bagai, katiko ado carito lucu. Nan indak basamangaik bana awak mancaliak katiko ado (bahkan sangat umum) nan malansiang salemo ka serbet jo bunyi nan sabana mengezutkan. Di kalangan mareka itu bukanlah tabu, bukanlah indak sopan. Awak nan duduak dakek mareka iyo janiah-janiah ayia liyua dibuekno.

Undangan nan biasono pukua satangah salapan malam, dimuloi jo minum-minum sambia maota-ota. Mareka minum sampanye, awak buliah mintak jus limau misalno. Tagak sambia maota-ota ka ilia ka mudiak. Iko alah kurang manyanangan diambo. Pukuah satangah sapuluah baru muloi makan. Duduak dikurisi meja-meja bulek untuak salapan urang sameja, atau ado juo di meja panjang bahadok-hadokan. Makan baunyai-unyaiko, balapih-lapih nan dimakan, makanan pambukak, makanan utamu, ado pulo desert bisa labiah dari ciek, ado pulo makan-makan keju (ado nan busuak sangaik bagai baunno), dan sabagaino, dan sabagaino nan masiang- masiangno tu sabana lamo, sainggo panah bakasudahan pukuah duo pagi, diselingi jo hota nan indak bakarunciangan amek. Nan cilakono, manuruik tatakrama mareka, jamuan ko alun salasai kalau alun di tutuik jo kopi atau teh. Jadi kalau alun ditutuik jo minum kopi alun buliah awak lai mintak ijin nak daulu, baitu pulo konon. Salamo minum kopiko duduak alah buliah bebas, biasono tuan rumah bakuliliang pulo malawan tamu-tamu maota agak saketek surang, kasampatan untuak saliang manggajobohan
antaro tuan rumah jo tamu.

Sumber: www.cimbuak.com
Penulis: Muhammad Dafiq Saib, St. Lembang Alam

dex 1st May 2010 12:59 PM

Adab Makan di Ranah Minang III

Spoiler for Isi:
Mandatangi undangan baralek alah ado sajak saisuak. Di kampuang- kampuang dulu undanganko disampai-an jo mambao / maantaan siriah dikalangan urang padusi, manjalehan pabilo alek tu kadiadoan, alek apo nan dimukasuik (alek parnikahan, alek katam kaji, alek mangaqiqah-an anak, alek manaiak-i rumah). Di lua acara adaik saumpamo katiko aleh nikah, urang nan diundang 'buliah' datang bilo sajo. Datang baralek pabilo wakatu sajoko biasono disabuik 'paimakan'. Sainggono alek di kampuang saisuak tu baunyai-unyai, baari-ari. Kok nyampang alektu alek parnikahan, kadang-kadang, lah pai anak daro dibao no marantau dek marapulai, urang datang juo lai baru, pai makan ko. Kalau nan datangno alah takudianko bana, tantu tapaso manantian urang batanak jo manggulai baliak dulu mangko ka dapek makan.

Makan di rumah urang baralek, duduak dilapiak, di lantai, nan baaleh jo siprah makan. Duduak malingka maadoki juadah di ateh kain siprah tu. Nan laki-laki baselo, nan padusi basimpuah. Diateh siprah makanko basusun samba-samba, langkok sakali jo paminun kawa, katan jo ajik, jo kalamai, jo
pinyaram, jo kue talam, disusun tingkah batingkah. Juadah nan dilatak-an sarupo iko biaso disabuik sabagai jamba baserak. Urang nan datang 'pai makan' biasono indak musti sarangkek-sarangkek, nan datang-datang juo, nan alah sudah salasai makan buliah pai maninggaan rumah urang baralek Si pangka mameloki jamba baserak cako satiok kali sarombongan tamu pai sasudah salasai makan. Samba nan alah bakeh diambiak tamu sabalunno dibao ka balakang, ditambah atau diganti baliak piriangno. Katiko datang baralek sarupo iko jarang urang nan makan bajamba, jadi makan di piriang surang-surang. Caro duduak pun samo duduak sajo laki-laki jo padusi, paliang-paliang agak dipisah-an sajo saketek antaro rombongan apak-apakjo rombongan induak-induaktu. Nan datang sabagai tamu tantu tatap musti bataratik katiko makan. Duduak baselo, makan kulimek-kulimek, indak barimah, indak jambak-jambau maambiak samba nan juah dari tampek awak duduak, indak mancapak-capak, indak manyingajo manyisoan nasi di piriang. Baitulah adab makan nan dibiasokan urang, di kampuang.

Urang-urang padusi nan datang pai makan indak mambao kado, tapi mambao bareh di dalam kaduik atau kampia. Urang laki-laki biasono malenggang sajo. Kok tadunsanak bana, basalam tempe saketek biko katiko kapai, tapi itu pun jarang pulo. Alah agak kudian-kudian saketek, dek tamu nan datang ado nan kawan kanti satampek bakarajo, mako di antaro tamu muloi ado nan mambao kado. Acok kali kadoko paralatan pacah balah, galeh salusin (dalam kotak), atau piriang salusin, atau cangkia jo tadah agak salusin dsb, dsb. Sainggo sasudah baralek amuah panuah lo Biliak ciek jo barang pacah balahbatumpuak-tumpuak.

Kini di kota ataupun di kampuang urang mangiriman kartu undangan. Alek
biasono sakali jadi, bahkan dalam jangko wakatu (jam) nan ditantuan. Urang kini indak amuah lai mangarajoan alek baunyai-unyai, baabih hari, sababindak praktis. Di kota urang baralek biasono di gaduang partamuan. Disiko adab makan manjadi 'marosot', sabab urang makan sambia tagak.

Sumber: www.cimbuak.com
Penulis: Muhammad Dafiq Saib, St. Lembang Alam

dex 1st May 2010 01:00 PM

Adab Makan di Ranah Minang IV

Spoiler for Isi:
Adab makan ko rupono iyo balain antaro ciek tampaik jo tampaik lain. Balain bagi surang urang jo urang lain. Nan di sabagian urang biaso-biaso sajo,
amuah manjijikkan dek nan lain. Sarupo mampakumua ayia minum, atau mancukia gigi sasudah makan.
'Mampakumua' ayia minum, asa jan talampau 'demonstratif' bana (sarupo katiko sudah manggosok gigi), mungkin memang iyo ado paraluno, untuak 'maanyuikkan' makanan nan tasangkuik antah dimaa-dimaa di dalam muncuang. Sainggo kalau ka dikarajoan juo musti jo caro haluih, basilambek, untuak indak manjadi paratian urang nan samo duduak. Baitu juo mancukia gigi, iko indak monopoli di rumah makan Padang sin do, di restoran di hotel babintang pun tusuak gigiko ado disadioan urang. Cuma teknik mancukia gigitantu musti haluih. Biasono mancukia gigitu sambia batutuik muncuang jo tangan kida, supayo indak tampak di urang nan di tukiangi' tu. Sudah tu, kok basuo no, kalua-an jo sopan atau jo haluih ka serbet atau ka tissue. Jadi indak di 'hambuihan' ka piriang bakeh awak do, itu tantu indak sandereh nampak di urang.

Contoh lain nan dapek manjadian sabagian urang salah persepsi adolah makan manyuok jo tangan. Urang awak, baitu pulo umumno urang Malayu tamasuak jo urang Malayu di Tanah Semenanjuang, sangaik tabiaso makan manyuok jo tangan.
Indak mamakai sendok jo garapu doh. Di awak ado tampek basuah, 'kabasuah', 'kobokan' untuak tampek mambasuah tangan baiak sabalun makan maupun sasudah makan. Di Malaysia ado cerek khusus, jo panci khusus balubang-lubang tampek manampuang ayia pambasuah tangan nan dituangan dari cerek pambasuah tangantu. Samantaro urang ado nan 'jajok' bana mancaliak awak manyuok jotanganko. Konon, inyiak Haji Agus Salim, di suatu parjamuan di nagari Bulando dicimeeh-an dek surang urang Bulando katiko baliau manyuok jo tangan ko. Kecek si Bulando ko, 'Mancaliak caro angku makan, nampakno iyo alun patuik nagari angku mardeka lai do. Angku makan sarupo urang primitif makan, ' jano. Aa jawek inyiak Haji Agus Salim. 'Lai tau angku alah bara banyak muncuang urang nan ditampuahno di sendok nan angku pakai tu? Lai tauangku apo-apo sajo panyakik tiok urang nan alah panah mamakai sendok tu?
Samantaro tangan amboko iyo surang ambo sin nan mampagunoan untuak makan, alun ado urang lain lai doh. Dan ambo tau bana nilai kabarasiahan no. 'Ndak pandai mangecek si Bulando tu lai jadino. Namun baitu antaro sasamo awakpun kadang-kadang nampak juo nan dikarajoan urang lain dakek awak agak 'mangganjia'. Sakali wakatu ambo makan jo kawan-kawan di restoran hotel. Dek kabatulan makan jo gulai ikan, jo samba lado, dan kabatulan kami sameja adolah urang nan biaso makan pakai tangan kasadono, kami katapianlah sendok jo garapu, kami mintak 'kobokan'. Cepak cepong kami makan. Sasudah makan, sasudah mambasuah tangan saketek jo 'kobokan' ambo tagak, pai mambasuah tangan ka 'westafel'. Surang kawan ambo, sasudah mambasuah tanganno di kobokan, lalu manyiram tanganno jo ayia minum dari galeh nan dituanganno ka piriang. Walaupun di ambo indak aneh bana pamandangan tu, tapi di kawan ambo urang Sunda, tabulancik matono mancaliak. 'Baa mangko disinan jo caro sarupo itu ang mambasuah tangan, indak pai sin ka kran di sampiang sinan? Aa iyolah sabana jorok ang, ' jano.

Di ambo nan sangaik indak suko bana mancaliak urang makan basiso. Biasono dek akok, dek gadang mato pado paruik, mako sampai makan basiso. Di tampek urang baralek mancaliak nan sarupo itu, 'babulu' mato ambo, tapi aa nan ka disabuik. Panah ambo basuo jo urang nan singajo bana manyisoan nasi dipiriangno sasudah makan. Bukan nasi rimah-rimah, tapi masih saparampek piriang, di tutuikno jo tampek basuah, di basuahno tanganno. Ambo tanyoan, baa mangko disisoan nasi sabanyaktu? Baa jano, itu rasaki taranak, buliah diagiah-an ka ayam atau ka kuciang. Jaleh itu bukan jawaban. Jaleh pulo bahaso kabiasoan sarupo itu sangaik indak elok, mubazia.

Sumber: www.cimbuak.com
Penulis: Muhammad Dafiq Saib, St. Lembang Alam

dex 1st May 2010 01:01 PM

Sejarah Minangkabau I

Spoiler for Isi:
I.Kerajaan Pertama Di Gunung Merapi

1. Maharaja yang Bermahkota

Dikatakan pula oleh Tambo, bahwa dalam pelayaran putera-putera Raja Iskandar Zulkarnain tiga bersaudara, dekat pulau Sailan mahkota emas mereka jatuh ke dalam laut. Sekalian orang pandai selam telah diperintahkan untuk mengambilnya. Tetapi tidak berhasil, karena mahkota itu dipalut oleh ular bidai di dasar laut.


Ceti Bilang Pandai memanggil seorang pandai mas. Tukang mas itu diperintahkannya untuk membuat sebuah mahkota yang serupa.

Setelah mahkota itu selesai dengan pertolongan sebuah alat yang mereka namakan "camin taruih" untuk dapat menirunya dengan sempurna. Setelah selesai tukang yang membuatnya pun dibunuh, agar rahasia tidak terbongkar dan jangan dapat ditiru lagi.

Waktu Sri Maharaja Diraja terbangun, mahkota itu diambilnya dan dikenakannya diatas kepalanya. Ketika pangeran yang berdua lagi terbangun bukan main sakit hati mereka melihat mahkota itu sudah dikuasai oleh si bungsu. Maka terjadilah pertengkaran, sehingga akhirnya mereka terpisah.

Sri Maharaja Alif meneruskan pelayarannya ke Barat. Ia mendarat di Tanah Rum, kemudian berkuasa sampai ke Tanah Perancis dan Inggris. Sri Maharaja Dipang membelok ke Timur, memerintah negeri Cina dan menaklukkan negeri Jepang.

2. Galundi nan Baselo

Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Merapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Lebih ke baruh lagi belum dapat ditempuh karena lembah-lembah masih digenangi air, dan kaki bukit ditutupi oleh hutan rimba raya yang lebat.

Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Kemudian diangsur-angsur membuka tanah untuk dijadikan huma dan ladang. Teratak-teratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai.

Sri Maharaja Diraja menyuruh membuat sumur untuk masing-masing isterinya mengambil air. Ada sumur yang dibuat ditempat yang banyak agam tumbuh dan pada tempat yang ditumbuhi kumbuh, sejenis tumbuh-tumbuhan untuk membuat tikar, karung, kembut dsb. Ada pula ditempat yang agak datar. Ditengah-tengah daerah itu mengalir sebuah sungai bernama Batang Bengkawas. Karena sungai itulah lembah Batang Bengkawas menjadi subur sekali.

Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan "Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun".

Keturunan Sri Maharaja Diraja dengan "Si Harimau Campa" yang bersumur ditumbuhi agam berangkat ke dataran tinggi yang kemudian bernama "Luhak Agam" (luhak = sumur). Disana mereka membuka tanah-tanah baru. Huma dan teruka-teruka baru dikerjakan dengan sekuat tenaga. Bandar-bandar untuk mengairi sawah-sawah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Keturunan "Kambing Hutan" membuka tanah-tanah baru pula di daerah-daerah Gunung Sago, yang kemudian diberi nama "Luhak 50 Koto" (Payakumbuh) dari luhak yang banyak ditumbuhi kumbuh.

Keturunan "Anjing yang Mualim" ke Kubang Tigo Baleh (Solok), keturunan "Kucing Siam" ke Candung-Lasi dan anak-anak raja beserta keturunannya dari si Anak Raja bermukim tetap di Luhak Tanah Datar. Lalu mulailah pembangunan semesta membabat hutan belukar, membuka tanah, mencencang melateh, meneruka, membuat ladang, mendirikan teratak, membangun dusun, koto dan kampung.


3. Kedatangan Sang Sapurba

Tersebutlah kisah seorang raja bernama Sang Sapurba. Di dalam tambo dikatakan "Datanglah ruso dari Lauik". Kabarnya dia sangat kaya bergelar Raja Natan Sang Sita Sangkala dari tanah Hindu. Dia mempunyai mahkota emas yang berumbai-umbai dihiasai dengan mutiara, bertatahkan permata berkilauan dan ratna mutu manikam.

Mula-mula ia datang dari tanah Hindu. Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Disana dia jadi menantu raja Lebar Daun. Dari perkimpoiannya di Palembang itu dia memperoleh empat orang anak, dua laki-laki yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka; dua perempuan yaitu Cendera Dewi dan Bilal Daun.

Pada satu hari Sang Sapurba ingin hendak berlayar menduduki Sungai Indragiri. Setelah lama berlayar, naiklah dia ke darat, akhirnya sampai di Galundi Nan Baselo. Waktu itu yang berkuasa di Galundi Nan Baselo ialah Suri Dirajo, seorang dari keturunan Sri Maharaja Diraja. Suri Diraja tekenal dengan ilmunya yang tinggi, ia bertarak di gua Gunung Merapi. Karena ilmunya yang tinggi dan pengetahuannya yang dalam, ia jadi raja yang sangat dihormati dan disenangi oleh penduduk Galundi Nan Baselo dan di segenap daerah. Ia juga bergelar Sri Maharaja Diraja, gelar yang dijadikan gelar keturunan raja-raja Gunung Merapi.

Anak negeri terheran-heran melihat kedatangan Sang Sapurba yang serba mewah dan gagah. Orang banyak menggelarinya "Rusa Emas", karena mahkotanya yang bercabang-cabang. Oleh karena kecerdikan Suri Dirajo, Sang Sapurba dijadikan semenda, dikimpoikan dengan adiknya bernama Indo Julito. Sang Sapurba adalah seorang Hindu yang beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa). Dan disitu juga terdapat sebuah candi buatan dari tanah tempat orang-orang Hindu beribadat. Ada juga yang mengatakan tempat itu adalah tempat beriang-riang.



4. Raja yang Hanya Sebagai Lambang

Sang Sapurba lalu dirajakan dengan memangku gelar Sri Maharaja Diraja juga. Tetapi yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap Suri Dirajo sebagai orang tua, sedangkan sang sapurba hanya sebagai lambang.
Untuk raja dengan permaisurinya dibuatkan istana "Balairung Panjang" tempatnya juga memerintah. Istana ini konon kabarnya terbuat dari : tonggaknya teras jelatang, perannya akar lundang, disana terdapat tabuh dari batang pulut-pulut dan gendangnya dari batang seleguri, getangnya jangat tuma, mempunyai cenang dan gung, tikar daun hilalang dsb.

Karena Pariangan makin lama makin ramai juga Sang Sapurba pindah ke tempat yang baru di Batu Gedang. Seorang hulubalang yang diperintahkan melihat-lihat tanah-tanah baru membawa pedang yang panjang. Banyak orang kampung yang mengikutinya. Mereka menuju ke arah sebelah kanan Pariangan. Terdapatlah tanah yang baik, lalu dimulai menebang kayu-kayuan dan membuka tanah-tanah baru. Selama bekerja hulubalang itu menyandarkan pedang yang panjang itu pada sebuah batu yang besar. Banyak sekali orang yang pindah ke tempat yang baru itu. Mereka berkampung disitu, dan kampung baru tempat menyandarkan pedang yang panjang itu, sampai sekarang masih bernama Padang Panjang.

Lama kelamaan Padang Panjang itu jadi ramai sekali. Dengan demikian Pariangan dengan Padang Panjang menjadi sebuah negeri, negeri pertama di seedaran Gunung Merapi di seluruh Batang Bengkawas, yaitu negeri Pariangan Padang Panjang. Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai. Ditanam dua orang untuk Pariangan dan dua orang pula untuk Padang Panjang. Masing-masing diberi pangkat "penghulu" dan bergelar "Datuk". · Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo untuk Pariangan · Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa untuk Padang Panjang. Orang-orang yang berempat itulah yang mula-mula sekali dijadikan penghulu di daerah itu. Untuk rapat dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan.

5. Sikati Muno

Seorang orang jahat yang datang dari negeri seberang tiba pula di daerah itu. Karena tubuhnya yang besar dan tinggi bagai raksasa ia digelari orang naga "Sikati Muno" yang keluar dari kawah Gunung Merapi.

Rakyat sangat kepadanya dan didongengkan mereka, bahwa naga itu tubuhnya besar dan panjangnya ada 60 depa dan kulitnya keras. Ia membawa bencana besar yang tidak terperikan lagi oleh penduduk. Kerjanya merampok dan telah merusak kampung-kampung dan dusun-dusun. Padi dan sawah diladang habis dibinasakannya. Orang telah banyak yang dibunuhnya, laki-laki, perempuan dan gadis-gadis dikorbankannya. Keempat penghulu dari Pariangan-padang Panjang diutus Suri Drajo menghadap Sang Sapurba di Batu Gedang tentang kekacauan yang ditimbuklan oleh Sikati Muno. Untuk menjaga prestisenya sebagai seorang semenda, Sang Sapurba lalu pergi memerangi Sikati Muno. Pertarungan hebat pun terjadi berhari-hari lamanya. Pedang Sang Sapurba sumbing-sumbing sebanyak seratus sembilan puluh. Akhirnya naga Sikati Muno itu mati dibunuh oleh Sang Sapurba dengan sebilah keris. Keris tersebut dinamakan "Keris Sikati Muno", keris bertuah, tak diujung pangkal mengena, jejak ditikam mati juga.

Sejak itu amanlah negeri Pariangan-Padang Panjang, dan semakin lama semakin bertambah ramai. Oleh sebab itu Sang Sapurba memerintahkan lagi mencari tanah-tanah baru. Pada suatu hari raja sendiri pergi keluar, melihat-lihat daerah yang baik dijadikan negeri. Dia berangkat bersama-sama dengan pengiring-pengiringnya. Ia sampai pada suatu tempat mata air yang jernih keluar dari bawah pohon tarab. Sang Sapurba berpikir, tanah itu tentu akan subur sekali dan baik dijadikan negeri. Lalu diperintahkannyalah membuka tanah-tanah baru ditempat itu. Sampai sekarang tanah itu dinamakan Sungai Tarab. Kemudian hari jadi termasyhur, tempat kedudukan "Pamuncak Koto Piliang" Dt. Bandaharo di Sungai Tarab. Selain itu raja menemui pula setangkai kembang teratai di daerah itu, kembang yang jadi pujaan bagi orang-orang Hindu. Raja menyuruh mendirikan sebuah istana di tempat itu. Setelah istana itu siap raja lalu pindah bertahta dari Pariangan-Padang Panjang ke tempat yang baru itu, yang kemudian dinamakan negeri Bungo Satangkai, negeri yang kedua sesudah Pariangan-Padang Panjang.

(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka - Tambo Minangkabau)

dex 1st May 2010 01:02 PM

Sejarah Minangkabau II

Spoiler for Isi:
II.Kerajaan Minangkabau Baru

*
Pusat kerajaan kembali lagi ke Pariangan Padang Panjang disebut awal masa kerajaan Minangkabau Baru. Sejak inilah diciptakan dan dikukuhkan aturan adat Minangkabau yang kita amalkan sampai sekarang. Walaupun telah bergnati musim adat Minangkabau tetap terpakai disebut; Tidak lakang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan. Siapapun diantara putra-putri Minangkabau yang dengan sengaja melanggar aturan adat itu, akan tersisih hidupnya dalam keluarga sendiri.

Tahun 1127, Sultan Sri Maharaja Diraja menikah dengan puti Indo Jelita, yakni adik kandung dari Datuk Suru Dirajo. Setelah 14 tahun menikah, ternyata belum juga mendapat keturunan. Maka atas sepakat dewan kerajaan, Sultan Sri Maharaja Diraja menikah lagi dengan Puti Cinto Dunia. Setelah dua tahun menikah dengan Puti Cinto Dunia, tidak ada juga tanda-tanda kehamilan Puti tsb. Maka Sultan menikah lagi dengan Puti Sedayu.
Atas rahmat Tuhan, tahun 1147, lahirlah Sultan Paduko Basa dari permaisuri Puti Indo Jelito, yang kemudian diangkat sebagai Raja Minangkabau, bergelar Datuk Ketemanggungan. Tahun itu juga lahir pula Warmandewa dari Puti Cinto Dunia, yang kemudian bergelar Datuk Bandaharo Kayo. Tahun 1148, lahir lagi Reno Shida dari Puti Sedayu, yang kemudian bergelar Datuk Maharajo Basa. Dengan demikian telah 3 orang putra Raja, masing-masing dari tiga orang ibu.

Tahun 1149, Sultan sri Maharaja Diraja mangkat dan waktu itu anak raja yang tertua masih berusia 2 tahun. Atas sepakat dewan kerajaan, Ibu Suri Puti Indo Jelito, langsung memegang tampuk kerajaan Minangkabau sementara menunggu Sutan Paduko Basa menjadi dewasa. Tugas harian dilaksanakan oleh tiga pendamping raja yakni Datuk Suri Dirajo, Cetri Bilang Pandai dan Tantejo Gurano.

Karena kasih sayang Datuk Suri Puti Indo Jelito menjanda, lalu dinikahkan dengan Cetri Bilang Pandai. Dari perkimpoiannya itu melahirkan 5 orang anak :
1. Jatang Sutan Balun bergelar Datuk Perpatih nan Sabatang (lahir 1152)
2. Kalap Dunia bergelar Datuk Suri Maharajo nan Banego-nego (lahir 1154)
3. Puti Reno Judah lahir 1157, kemudian dibawa oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang ke Lima Kaum untuk keturunan kemenakannya nan menjadi penghulu
4. Puti Jamilan lahir 1159, kemudian dibawa Datuk Ketemanggungan ke Sungai Tarab dan ke Bunga Setangkai untuk keturunannya nanti menjadi raja dan penghulu
5. Mambang Sutan lahir th 1161, setelah berumur 4 th bergelar Datuk Suri Dirajo menggantikan gelar mamaknya (abang dari Puti Indo Jelito)

Mambang Sutan merupakan kemenakan pertama di Minangkabau yang menerima gelar dari mamaknya. Tahun 1165 yakni sewaktu Sutan Paduko Basa telah berumur 18 tahun, beliau diangkat sebagai penghulu bergelar Datuk Ketumanggungan, sekalipun menduduki tahta kerajaan Minangkabau, pengganti raja yang telah 16 tahun mengemban tugas dari ibunya Puti Indo Jelito. Selain itu, semua anak laki-laki Sultan Sri Maharaja Diraja dinobatkan pula menjadi penghulu.
Tahun 1174 kerajaan Minangkabau baru memperluas daerah adatnya ke Sungai Tarab, Lima Kaum dan Padang Panjang. Masing-masing daerah diduduki oleh seorang penghulu anak dari tiga orang istri Sultan Sri Maharaja Diraja. Karena kepadatan penduduk daerah Pariangan maka tahun 1186-1192 diadakan perpindahan penduduk, maka terbentuklah Luhak Nan Tigo.

Pada masing-masing luhak dibentuk beberapa kelarasan dan pada kelarasan dibentuk pula beberapa suku. Adapun suku dalam daerah kerajaan Minangkabau diatur menurut garis keturunan ibu. Siapapun bapak dari seorang anak atau apapun pangkat bapaknya, namun suku anaknya menurut suku ibunya. Untuk mengukuhkan berdirinya suku, maka harta pusaka dari nenek, diwariskan kepada ibun dan dari ibu diwariskan pula kepada anak perempuan. Aturan adat yang demikian disebut Matrilinial.

Hanya dua daerah di dunia ini yang memakai aturan Matrilinial. Satu didaerah pedalaman Hindia, asal nenek moyangnya dahulu 2000 tahun sebelum masehi. Dan satu lagi berkembang di Sumbar. Bagi perempuan harta pusaka bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk jaminan hidup keturunan suku.

Pada tahun 1292, cicit dari Puti Jamilan, bernama Putri Dara Jingga yang pemangku Putri Mahkota, dinikahkan dengan Mahisa Anabrang, Panglima kerajaan Singhasari, keluarga dari Raja Kartanegara. Sebelum menikah terlebih dahulu Mahisa di-islamkan. Tahun 1293 Puti Dara Jingga sedang hamil, pergi mengikuti suaminya pulang ke Singhasari yang dipanggil oleh raja Pertama Majapahit (Raden Wijaya). Putri Dara Jingga membawa adik seayah dengannya yaitu Puti Dara Petak untuk pengasuh anaknya yang akan lahir. Beberapa bulan dikerajaan Majapahit yang mengambil alih kerajaan Singhasari itu, lahirlah anak dari Puti Dara Jingga yang diberi nama Adityawarman.

Puti Dara Petak, dinikahi oleh Raja Majapahit (Raden Wijaya). Puti Dara Petak berubah nama menjadi Diyan Sri Tribuaneswari. Walaupun telah menjadi istri Raja Majapahit, Puti Dara Petak tetap mengasuh Adityawarman di kerajaan Majapahit.

Karena Datuk Ketumanggungan telah sangat tua, maka tahun 1295, Puti Dara Jingga dipanggil pulang ke Minangkabau untuk menjadi Raja di Minangkabau dengan panggilan Bundo Kanduang. Anak Bundo Kanduang yang bernama Adityawarman tetap tinggal dikerajaan Majapahit, karena Puti Dara Petak tidak mau melepasnya pulang, ingin terus mengasuh anak kakaknya.

Setelah Bunda Kandung menjadi Raja Minangkabau, memanglah Datuk Ketumanggungan mangkat dalam usia 149 tahun dan disusul oleh meninggalnya Datuk Perparih Nan Sebatang dalam usia 146 tahun.
Si Kambang Bendahari (dayang-dayang utama dari Bunda Kandung) dinikahkan dengan Selamat Panjang Gobang (1292) yakni seorang diplomat utusan dari kerajaan Cina (khubilai Khan). Sebelum menikah terlebih dahulu Selamat Panjang Gombak di-Islamkan. Perkimpoian itu melahirkan seorang anak bernama Cindur Mato th 1294.

Cindur Mato diasuh ilmu perang oleh Mahisa Anabrangyang yang teringat akan anak kandungnya Adityawarman jauh di Majapahit. Selain itu Cindur Mato dididik ilmu silat pula oleh ayah kandungnya Selamat Panjang Gombak. Maka menjadilah Cindur Mato seorang pendekar yang tangguh dan Panglima kerajaan Minangkabau yang tiada tandingan dizamannya.

Adityawarman sendiri yang Putra Mahkota Kerajaan Minangkabau, dididik ilmu perang dan ilmu kerjaan oleh Majapahit. Adityawarman pernah menjadi Wirdamatri yang merupakan predikat setaraf dengan Mpu Nala dan Maha Patih. Karena itu Adityawarman salah seorang Tri Tunggal Kerajaan Majapahit.

Setelah dewasa pulanglah Adityawarman menemui Bundo Kandung dan kimpoi dengan Puti Bungsu (anak mamaknya Rajo Mudo) dari Ranah Sikalawi-Taluk Kuantan, sebelum menikah Adityawarman yang menganut Budha, terlebih dahulu di-Islamkan.

Pada tahun 1347 Adityawarman dinobatkan menjadi Raja Minangkabau bergelar Dang Tuanku (Sutan Rumandung). Pernikahan Adityawarman dengan Puti Bungsu melahirkan anak yang bernama Ananggawarman.
Gahah Mada pernah marah kepada Adityawarman karena tidak mau takluk kepada Majapahit. Tapi Adityawarman tidak segan kepada Gajah Mada, karena mereka sependidikan. Gajah Mada mencoba menyerang Minangkabau pada th 1348, tapi gagal, malah Adityawarman pernah membantu Majapahit menaklukkan Bali.

Sewaktu Minangkabau dibawah pimpinan Ananggawarman tahun 1375-1417, pertahanan kerajaan Minangkabau telah sangat kuat. Patih Wikrawardhana dikerajaan Majapahit, masih mencoba menyerang kerajaan Minangkabau tahun 1409, tapi tetap tidak berhasil. Itu merupakan serangan yang terakhir terhadap Minangkabau.

Kalau dizaman Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang, kerajaan Minangkabau terkenal dengan aturan adat dan filsafahnya, maka dizaman Bundo Kanduang, Adityawarman dan Ananggawarman kerajaan Minangkabau terkenal dengan keahlian Cindur Mato sebagai panglima perangnya.

Sesudah Ananggawarman tidak terdengar lagi kegiatan Raja Minangkabau, mungkin karena raja dan penghulunya tidak lagi membuat ubahan, baik untuk kerajaan, maupun untuk rakyat yang memang telah sempurna dibentuk oleh cerdik pandai terdahulu.

Demikian sempurnanya aturan adat dikerjakan Minangkabau sangat pula membantu pelaksanaan aturan adat itu, karena adat Minangkabau disusun bersendi syarak (agama Islam) dan syarak bersendi Kitabullah.

(Sumber : Kerajaan Minangkabau - Jamilus Jamin)

dex 1st May 2010 01:04 PM

Sejarah Minangkabau IV

Spoiler for Isi:
Fakta-fakta dan problem

Sejarah Pada sebuah tempat yang bernama Sungai Udang kira-kira 23 mil dari Seremban menuju Port Dickson terdapat sebuah makam keramat. Disana didapati juga beberapa batu bersurat seperti tulisan batu bersurat yang terdapat di Batu Sangkar. Orang yang bermakam disana bernama Syekh Ahmad dan berasal dari Minangkabau. Ia meninggal dalam tahun 872 H atau 1467 Masehi. Dan masih menjadi tebakan yang belum terjawab, mengapa kedatangan Sekh itu dahulu kesini dan dari luahk mana asalnya.

Raja berasal Minangkabau

Dalam naskah pengiriman raja-raja yang delapan orang antaranya dikirimkan ke Rembau, Negeri Sembilan bernama Malenggang Alam. Tetapi bilamana ditinjau sejarah negeri Sembilan raja Minangkabau pertama dikirimkan kesini Raja Mahmud yang kemudian bergelar Raja Malewar.

Raja Malewar memegang kekuasaan antara tahun 1773-1795. Beliau mendapat 2 orang anak Tengku Totok dan puteri bernama Tengku Aisah. Beliau ditabalkan di Penajis Rembau dan kemudian pindah ke istana Seri Menanti. Sehingga sekarang masih populer pepatah yang berbunyi :

Be raja ke Johor
Bertali ke Siak
Bertuan ke Minangkabau

Kedatangan beliau ke Negeri Sembilan membawa selembar rambut yang kalau dimasukkan ke dalam sebuah batil atau cerana akan memenuhi batil atau cerana itu. Benda pusaka itu masuh tetap dipergunakan bila menobatkan seorang raja baru. Yang mengherankan kenapa sesudah meninggalnya Raja Malewar dalam tahun 1795 tidak diangkat puteranya menjadi raja melainkan sekali lagi diminta seorang raja dari Minangkabau. Dan dikirimlah Raja Hitam dan dinobatlkan dalam tahun 1795. Raja Hitam kimpoi dengan puteri Raja Malewar yang bernama Tengku Aisyah sayang beliau tidak dikarunia putera.
Raja Hitam kimpoi dengan seorang perempuan lain bernama Encek Jingka. Dari isterinya itu beliau mendapat 4 orang putera/puteri bernama : Tengku alang Husin, Tengku Ngah, Tengku Ibrahim dan Tengku Alwi. Dan ketika beliau wafat dalam tahun 1808 mengherankan pula gantinya tidaklah diangkat salah seorang puteranya.

Tetapi sekali lagi dikirimkan perutusan ke Pagaruyung untuk meminta seorang raja baru. Dan dikirimlah Raja Lenggang dari Minagkabau dan besar kemungkinan inilah Raja Melenggang Alam yang dikirimkan dari Minangkabau dan tersebut dalam naskah pengiriman raja-raja yang Delapan di Minangkabau.

Raja Lenggang memerintah antara tahun 1808 sampai tahun 1824. Raja Lenggang kimpoi dengan kedua puteri anak raja Hitam dan mendapat putera dua orang bernama : Tengku Radin dan Tengku Imam.

Ketika raja Lenggang meninggal dinobatkanlah Tengku Radin menggantikan almarhum ayah beliau. Dan inilah raja pertama Negeri Sembilan yang diangkat oleh Pemegang Adat dan Undang yang lahir di Negeri Sembilan. Dan keturunan beliaulah yang turun temurun menjadi raja di Negeri Sembilan. Raja Radin digantikan oleh adiknya Raja Imam (1861-1869). Dan selanjutnya raja-raja yang memerintah di Negeri Sembilan : Tengku Ampuan Intan (Pemangku Pejabat) 1869-1872, Yang Dipertuan Antah 1872-1888, Tuanku Muhammad 1888-1933, Tuanku Abdul Rahman 3/8/1933-1/4/1960, Tuanku Munawir 5/4/1960-14/4/1967, Tuanku Ja'far dinobatkan 18/4/1967.

Terbentuknya Negeri Sembilan

Semasa dahulu kerajaan negeri Sembilan mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Minangkabau. Yang menjadi raja dinegeri ini asal berasal dari keturunan Raja Minangkabau. Istananya bernama Seri Menanti. Adat istiadatnya sama dengan Minangkabau, peraturan-peraturannya sebagiannya menurut undang-undang adat di Minangkabau. Mereka mempunyai suku-suku seperti orang Minangkabau tetapi berbeda cara pemakaiannya.

Perpindahan penduduk ini terjadi bermula pada abad ke :XIV yaitu ketika pemerintah menyarankan supaya rakyat memperkembang Minangkabau sampai jauh-jauh diluar negeri. Mereka harus mencari tanah-tanah baru, daerah-daerah baru dan kemudian menetap didaerah itu. Setengahnya yang bernasib baik dapat menemui tanah kediaman yang subur dan membuka tanah dan membuat perkampungan disitu. Ada pula yang bersatu dengan rakyat asli yang ditemui merka dan menjadi pemimpin disana. Sudah tentu adat-adat, undang-undang, kelaziman dinegeri asalnya yang dipergunakannya pula dinegeri yang baru itu. Sebagai sudah diuraikan orang-orang Minangkabau itu menjalani seluruh daerah : ke Jambi, Palembang, Indragiri, Taoung Kanan dan Tapung Kiri, Siak dan daerah lainya. Sebagiannya menyeberangi Selat Melaka dan sampai di Negeri Sembilan.

Pada abad ke XVI pemerintahan negeri mereka disana sudah mulai tersusun saja. Mereka mendirikan kerajan kecil-kecil sebanyak 9 buah dan kesatuan kerajan kecil-kecil itu mereka namakan NEGERI SEMBILAN. Negara ini terjadi sewaktu Minangkabau mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil ini dan diperlindungkan dibawah kerajan Johor. Setelah negara kesatuan ini terbentuk dengan mufakat bersama dengan kerajaan Johor dimintalah seorang anak raja Pagaruyung untuk dinobatkan menjadi raja di Negrei Sembilan itu. Pada waktu itulah bermula pemerintahan Yang Dipertuan Seri Menanti.

Asal usul anak negeri disitu kebanyakan dari Luhak Lima Puluh Kota yaitu dari : Payakumbuh, Sarilamak, Mungka, Batu Balang, Batu Hampar, Simalanggang dan sebagian kecil dari Luhak Tanah Datar. Dari negeri-negeri mana mereka berasal maka nama-nama negeri itulah menjadi suku mereka. Sebagian tanda bukti bahwa rakyat Negeri Sembilan itu kebanyakan berasal dari Luhak Lima Puluh Kota sampai sekarang masih terdapat kata-kata adat yang poluler di Lima Puluh Kota : "Lanun kan datang merompak, Bugis kan datang melanggar". Kata-kata adat ini sering tersebut dalam nyanyian Hikayat Anggun nan Tunggal Magek Jabang. Di tanah Melaka kata-kata ini menjadi kata sindiran atau cercaan bagi anak-anak nakal dan dikatakan mereka "anak lanun" atau anak perompak.

Kalau dibawa kepada jalan sejarah diatas tadi, maka yang dimaksud dengan "lanun" itu ialah perompak, rakyat dari Raja Daeng Kemboja yang hendak merampas Negeri Sebilan. Dan Bugis adalah nama negeri asal Daeng Kemboja tadi. Dan memang aneh, kata lanun yang jadi buah nyanyian oleh rakyat Lima Puluh Kota ini tidak dikenal oleh rakyat Luhak Agam dan sedikit oleh rakyat rakyat Luhak Tanah Datar. Karena memang fakta sejarah keturunan anak negeri Sembilan itu sebagian besar berasal dari Luhak Lima Puluh Kota. Nama suku-suku rakyat disana menjadi bukti yang jelas.

Oleh karena Sultan Johor sudah memberikan bantuannya dalam melindungi rakyat Negeri Sembilan ini dari jarahan lanun atau Daeng Kemboja, disebabkan ini pulalah Yang Dipertuan Pagaruyung memberikan bantuan kepada Sultan Johor dalam memberikan bantuan ikut bertempur di Siak untuk memerangi bangsa Aceh. Maka hubungan yang demikian rapat semenjak berabad-abad itu menjadikan hubungan antara negara yang akrab : Negeri Sembilan pada khususnya, Indonesia - Malaysia pada umumnya.


(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka - Tambo Minangkabau

dex 1st May 2010 01:13 PM

Adat Perkawinan II

Spoiler for Isi:
4. urang Sumando
Disamping menganut sistem eksogami dalam perkawinan, adat Minang juga menganut paham yang dalam istilah antropologi disebut dengan sistem "matri-local" atau lazim disebut dengan sistem "uxori-local" yang menetapkan bahwa marapulai atau suami bermukim atau menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat istri, atau didalam lingkungan kekerabatan istri. Namun demikian status pesukuan marapulai atau suami tidak berubah menjadi status pesukuan istrinya.

Status suami dalam lingkungan kekerabatan istrinya adalah dianggap sebagai "tamu terhormat", tetap dianggap sebagai pendatang. Sebagai pendatang kedudukannya sering digambarkan secara dramatis bagaikan "abu diatas tunggul", dalam arti kata sangat lemah, sangat mudah disingkirkan. Namun sebaliknya dapat juga diartikan bahwa suami haruslah sangat berhati-hati dalam menempatkan dirinya dilingkungan kerabat istrinya.

Dilain pihak perkawinan bagi seorang perjaka Minang berarti pula, langkah awal bagi dirinya meninggalkan kampung halaman, ibu dan bapak serta seluruh kerabatnya, untuk memulai hidup baru dilingkungan kerabat istrinya. Prosesi turun janjang dari rumah tangga orang tuanya, bagi seorang perjaka Minang adalah suatu peristiwa yang sangat mengharukan. Rasa sedih dan gembira bergalau menjadi satu. Upacara turun janjang ini, dilakukan dalam rangka upacara "japuik menjapuik", yang berlaku dalam perkimpoian adat Minang.

Pepatah Minang mengatur upacara ini sebagai berikut;

sigai mancari anau Anau tatap sigai baranjak

Datang dek bajapuik

pai jo baanta

Ayam putieh tabang siang

Basuluah matoari

Bagalanggang mato rang banyak.

Indonesia :

(Tangga mencari enau)Enau tetap tangga berpindah

Datang karena dijemput

Pergi dengan diantar

(Bagaikan) Ayam putih terbang siang Bersuluh matahari

Bergelanggang (disaksikan) mata orang banyak.

Maksud dari pepatah diatas adalah bahwa dalam setiap perkawinan adat Minang "semua laki-laki yang diantar ke rumah istrinya, dengan dijemput oleh keluarga istrinya secara adat dan diantar pula bersama-sama oleh keluarga pihak laki-laki secara adat pula. Mulai sejak itu suami menetap di rumah atau dikampung halaman istrinya."

Bila terjadi perceraian, suamilah yang harus pergi dari rumah istrinya. Sedangkan istri tetap tinggal dirumah kediamannya bersama anak-anaknya sebagaimana telah diatur hukum adat. Bila istrinya meninggal dunia, maka kewajiban keluarga pihak suami untuk segera menjemput suami yang sudah menjadi duda itu, untuk dibawa kembali kedalam lingkungan sukunya atau kembali ke kampung halamannya. Situasi ini sungguh sangat menyedihkan, namun begitulah ketentuan adat Minang.

Secara lahiriyah maupun rohaniah yang memiliki rumah di Minangkabau adalah wanita dan kaum pria hanya menumpang. Tempat berlindung pria Minang adalah surau. Menyedihkan memang. Tapi ini pula yang menjadi sumber dinamika pria Minang, sehingga mereka menjadi perantau atau pengembara yang tangguh.

Kenyataan ini dihayati dan diterima dengan sadar oleh hampir seluruh warga Minang, baik mereka yang menempati Rumah Gadang tradisional, maupun yang menempati rumah gedung modern, baik mereka yang bermukim di kampung halaman, maupun mereka yang sudah merantau ke kota besar.

Berdasarkan pola yang demikian, sudah lazim penghuni Rumah Gadang di Minangkabau adalah kaum wanita dengan suami dan anak-anak mereka terutama anak-anak wanita. Anak-anak laki-laki mulai usia sekolah, dulu sudah harus mengaji di surau-surau, belajar silat, bergaul dengan pria dalam segala tingkat usia, sehingga mereka terbiasa hidup secara spartan (secara keras dan jantan).

Dalam struktur adat Minang, kedudukan suami sebagai orang datang (Urang Sumando) sangat lemah. Sedangkan kedudukan anak-lelaki, secara fisik tidak punya tempat di rumah ibunya. Bila terjadi sesuatu di rumah tangganya sendiri, maka ia tidak lagi memiliki tempat tinggal.

Situasi macam ini secara logis mendorong pria Minang untuk berusaha menjadi orang baik agar disengani oleh dunsanaknya sendiri, maupun oleh keluarga pihak istrinya.

Pada dasarnya di Minangkabau anak laki-laki sejak kecil sudah dipaksa hidup berpisah dengan orang tua dan saudara-saudara wanitanya. Mereka dipaksa hidup berkelompok di surau-surau dan tidak lagi hidup di rumah Gadang dengan ibunya.

Sekalipun di rumah gedung modern sudah ada pencampuran hidup bersama antara anak lelaki dan anak wanita Minang, namun prinsip pergaulan terpisah ini tetap dijalankan. Antara mereka anak lelaki dan anak wanita tetap mempunyai jarak dalam pergaulan sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu dasar dari ajaran moralita menurut adat Minang. Adat Minang tidak mengenal ajaran pergaulan bebas, walau antara saudara kandung sendiri.

Kehidupan keluarga yang seperti ini, diperkirakan telah melahirkan watak perantau bagi pria Minang dan watak Bundo Kanduang bagi wanita Minang, mereka menjadi wanita yang sangat terampil dan cermat dalam mendidik anak-anak dan dalam mengendalikan harta pusaka.

Dengan adanya ketentuan domisili-matrilokal ini, mengharuskan para suami bersikap hati-hati karena akan selalu mendapat sorotan dari keluarga istri.

Berbagai istilah diberikan oleh orang Minang sebagai penilaian atas perangai dan tingkah laku Urang Sumando mereka. Ada Urang Sumando memperoleh sebutan terhormat sebagai "Rang Sumando Niniek-mamak", karena tingkah laku dan adat istiadatnya menyenangkan pihak keluarga istri. Namun sebaliknya banyak pula Urang Sumando ini yang mendapat gelar-gelar ejekan yang diberikan kepada Urang Sumando itu sesuai dengan tingkah polah perangai mereka itu.

"Rang Sumando" yang kerjanya hanya kimpoi-cerai di setiap kampung dan meninggalkan anak dimana-mana disebut dengan "Rang Sumando" langau-Hijau atau "Rang Sumando" Lalat-Hijau yang kerjanya meninggalkan larva (ulat) dimana-mana.

"Rang Sumando" yang kerjanya hanya mengganggu ketentraman tetangga karena menghasut dan memfitnah, atau memelihara binatang ternak yang dapat mengganggu lingkungan seperti itik, ayam, kambing dan lainnya diberi gelar "Rang Sumando Kacang Miang", yaitu sejenis kacang-kacangan yang kulitnya berbulu gatal-gatal.

Di Minangkabau berlaku pepatah "Kaluak paku kacang balimbing, daun simantuang lenggang-lenggangkan anak dipangku kemenakan dibimbing urang kampung dipatenggangkan ". Kalau seorang suami sampai lupa kepada kemenakan dan kampung halamannya sendiri, karena sibuk dan rintang dengan anak dan istrinya saja, maka suami yang demikian itu diberi gelar oleh orang kampungnya sendiri sebagai "Rang Sumando lapiak Buruak", yang artinya Rang Sumando yang diibaratkan sama dengan tikar pandan yang lusuh di rumah istrinya.

Bagi suami atau "Rang Sumando" yang kurang memperhatikan kewajiban terhadap anak-anaknya sendiri, maka "Rang Sumando" yang demikian itu mendapat gelar "Rang Sumando apak paja", yang artinya hanya berfungsi sebagai pejantan biasa dan Rang Sumando semacam ini merupakan kebalikan dari Rang Sumando lapiak buruak yang menjadi "orang pandie" di rumah istrinya.

Dalam zaman modern ini, dimana kehidupan telah berubah dari sektor agraria menjadi sektor jasa dan industri, maka sebagian keluarga Minang terutama di rantau telah berubah dan cenderung kearah pembentukan keluarga batih dalam sistem patrilinial atau sistem keluarga barat dimana bapak merasa dirinya sebagai kepala keluarga dan sekaligus sebagai kepala kaum, menggantikan kedudukan mamak.

Kecenderungan semacam ini telah merusak tatanan sistem kekerabatan keluarga Minang yang telah melahirkan pula jenis. "Rang Sumando", bentuk baru yang dapat kita beri sebutan sebagai "Rang Sumando Gadang Malendo", yang tanpa malu-malu telah menempatkan dirinya sendiri sebagai kepala kaum, sehingga menyulitkan kedudukan mamak terhadap para kemenakannya.

(Sumber : Adat Minangkabau, Pola & Tujuan Hidup Orang Minang)

dex 1st May 2010 01:16 PM

Adat Perkawinan III

Spoiler for Isi:
5. Maresek

Awal dari sebuah perkawinan jika menjadi urusan keluarga, bermula dari penjajakan. Di Minangkabau sendiri kegiatan ini disebut dengan berbagai istilah. Ada yang menyebut maresek, ada yang mengatakan marisiak, ada juga yang menyebut marosok sesuai dengan dialek daerah masing-masing. Namun arti dan tujuannya sama, yaitu melakukan penjajakan pertama.

Siapa yang harus melakukan penjajakan ini ? Apakah pihak keluarga yang wanita, atau pihak keluarga yang laki-laki ?. Inipun berbeda-beda pelaksanaannya di Sumatera Barat. Ada nagari-nagari dimana pihak perempuan yang datang lebih dahulu melamar. Tapi ada juga nagari-nagari dimana pihak laki-laki yang melakukan pelamaran. Namun sesuai dengan sistem kekerabatan matrilineal yang berlaku di Minangkabau, maka yang umum melakukan lamaran ini adalah pihak keluarga perempuan.

Sebagaimana telah kita sebutkan diatas sebelum lamaran yang sebenarnya dilakukan, maka yang dilaksanakan terlebih dahulu adalah penjajakan. Untuk ini tidak perlu ayah-ibu atau mamak-mamak langsung dari si anak gadis yang akan dicarikan jodoh itu yang datang. Biasanya perempuan-perempuan yang sudah berpengalaman untuk urusan-urusan semacam itu yang diutus terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengajuk-ajuk apa pemuda yang dituju telah niat untuk dikimpoikan dan kalau sudah berniat apakah ada kemungkinan kalau dijodohkan dengan anak gadis si Anu yang juga sudah berniat untuk berumah tangga.

Jika mamak atau ayah bundanya nampak memberikan respon yang baik, maka angin baik ini segera disampaikan kembali oleh si telangkai tadi kepada mamak dan ayah bunda pihak si gadis.

Urusan resek maresek ini tidak hanya berlaku dalam tradisi lama, tetapi juga berlaku sampai sekarang baik bagi keluarga yang masih berada di Sumatera Barat, maupun bagi mereka yang sudah bermukim dirantau-rantau. Terutama tentu saja bagi keluarga-keluarga yang keputusan-keputusan penting mengenai hidup dan masa depan anak-anaknya masih tergantung kepada orang-orang tua mereka. Untuk kasus-kasus yang semacam ini, tentang siapa yang harus terlebih dahulu melakukan penjajakan, tidaklah merupakan masalah. Karena disini berlaku hukum sesuai dengan pepatah petitih :

Sia marunduak sia bungkuak
Sia malompek sia patah
Artinya siapa yang lebih berkehendak
Tentulah dia yang harus mengalah


Seringkali resek-maresek ini tidak selesai satu kali, tapi bisa berlanjut dalam beberapa kali perundingan. Dan jika semuanya telah bersepakat untuk saling menjodohkan anak kemenakan masing-masing dan segala persyaratan untuk itupun telah disetujui oleh pihak keluarga laki-laki dengan telangkai yang datang, maka barulah langkah selanjutnya ditentukan untuk mengadakan pertemuan secara lebih resmi oleh keluarga kedua belah pihak. Acara inilah yang disebut acara maminang.


(Sumber : Tata Cara perkawinan Adat Istiadat Minangkabau)

6. Maminang
Pada hari yang telah ditentukan, pihak keluarga anak gadis yang akan dijodohkan itu dengan dipimpin oleh mamak mamaknya datang bersama-sama kerumah keluarga calon pemuda yang dituju. Lazimnya untuk acara pertemuan resmi pertama ini diikuti oleh ibu dan ayah si gadis dan diiringkan oleh beberapa orang wanita yang patut-patut dari keluarganya. Dan biasanya rombongan yang datang juga telah membawa seorang juru bicara yang mahir berbasa-basi dan fasih berkata-kata, jika sekiranya si mamak sendiri bukan orang ahli untuk itu.

Untuk menghindarkan hal-hal yang dapat menjadi penghalang bagi kelancaran pertemuan kedua keluarga untuk pertama kali ini, lazimnya si telangkai yang telah marisiak, sebelumnya telah membicarakan dan mencari kesepakatan dengan keluarga pihak pria mengenai materi apa saja yang akan dibicarakan pada acara maminang itu. Apakah setelah meminang dan pinangan diterima lalu langsung dilakukan acara batuka tando atau batimbang tando ?

Batuka tando secara harfiah artinya adalah bertukar tanda. Kedua belah pihak keluarga yang telah bersepakat untuk saling menjodohkan anak kemenakannya itu, saling memberikan benda sebagai tanda ikatan sesuai dengan hukum perjanjian pertunangan menurut adat Minangkabau yang berbunyi :

Batampuak lah buliah dijinjiang,
Batali lah buliah diirik


Artinya kalau tanda telah dipertukarkan dalam satu acara resmi oleh keluarga kedua belah pihak, maka bukan saja antar kedua anak muda tersebut telah ada keterikatan dan pengesahan masyarakat sebagai dua orang yang telah bertunangan, tetapi juga antar kedua belah keluarga pun telah terikat untuk saling mengisi adat dan terikat untuk tidak dapat memutuskan secara sepihak perjanjian yang telah disepakati itu.


Barang-barang yang Dibawa

Barang-barang yang dibawa waktu maminang, yang utama adalah sirih pinang lengkap. Apakah disusun dalam carano atau dibawa dengan kampia, tidak menjadi soal. Yang penting sirih lengkap harus ada. Tidaklah disebut beradat sebuah acara, kalau tidak ada sirih diketengahkan.

Pada daun sirih yang akan dikunyah menimbulkan dua rasa dilidah, yaitu pahit dan manis, terkandung simbol-simbol tentang harapan dan kearifan manusia akan kekurangan-kekurangan mereka. Lazim saja selama pertemuan itu terjadi kekhilafan-kekhilafan baik dalam tindak-tanduk maupun dalam perkataan, maka dengan menyuguhkan sirih di awal pertemuan, maka segala yang janggal itu tidak akan jadi gunjingan. Sebagaimana dalam pasambahan siriah disebutkan :

Kok Siriah lah kami makan
manih lah lakek diujuang lidah
Pahik lah luluih karakuangan
Jika sirih sudah kami makan
Yang manis lekat di ujung lidah
Yang pahit lolos ke kerongkongan

Artinya orang tidak lagi mengingat-ingat segala yang jelek, hanya yang manis saja pada pertemuan itu yang akan melekat dalam kenangannya.

Kalau disepakati sebelumnya bahwa pada acara maminang tersebut sekaligus juga akan dilangsungkan acara batuka tando atau batimbang tando maka benda yang akan dipertukarkan sebagai tanda itu juga dibawa; yang tentu saja diletakkan pada satu wadah yang sudah dihiasi dengan bagus (dulung atau nampan). Yang dijadikan sebagai tanda untuk dipertukarkan lazimnya adalah benda-benda pusaka, seperti keris, atau kain adat yang mengandung nilai sejarah bagi keluarga. Jadi bukan dinilai dari kebaruan dan kemahalan harganya, tetapi justru karena sejarahnya itu yang sangat berarti dan tidak dapat dinilai dengan uang. Umpamanya sebuah kain balapak yang telah berumur puluhan tahun yang pernah diwariskan oleh nenek si gadis sebelum meninggal, atau kain adat yang pernah dipakai oleh ibu si gadis pada perkawinannya puluhan tahun yang lalu.

Karena nilai-nilai sejarahnya inilah maka barang-barang yang dijadikan tanda itu menjadi sangat berharga bagi keluarga yang bersangkutan dan karena itu pula maka setelah nanti akad nikah dilangsungkan, masing-masing tanda ini harus dikembalikan lagi dalam suatu acara resmi oleh kedua belah pihak.

Sesuai dengan etika pergaulan, bertandang biasapun kerumah orang, lazim kita membawa buah tangan, maka dalam acara resmi beradat, seyogyanya pihak rombongan yang datang juga membawa kue-kue atau buah-buahan sebagai oleh-oleh.


Urutan Acara

Pembicaraan dalam acara maminang dan batuka tando ini berlangsung antara mamak atau wakil dari pihak keluarga si gadis dengan mamak atau wakil dari pihak keluarga pemuda. Bertolak dari penjajakan-penjajakan yang telah dilakukan sebelumnya ada empat hal secara simultan yang dapat dibicarakan, dimufakati dan diputuskan oleh kedua belah pihak saat ini.

1. Melamar => menyampaikan secara resmi lamaran dari pihak keluarga si gadis kepada pihak keluarga si pemuda
2. Batuka tando => Mempertukarkan tanda ikatan masing-masing
3. Baretong => Memperembukkan tata cara yang akan dilaksanakan nanti dalam penjemputan calon pengantin pria waktu akan dinikahkan
4. Manakuak hari => Menentukan waktu kapan niat itu akan dilaksanakan

Namun menurut yang lazim dikampung, jika acara maminang itu bukan sesuatu yang sudah direkayasa oleh kedua keluarga sebelumnya, maka acara ini akan berlangsung berkali-kali sebelum urutan ketentuan diatas dapat dilaksanakan. Karena pihak keluarga pemuda pasti tidak dapat memberikan jawaban langsung pada pertemuan pertama itu. Orang tuanya atau ninik mamaknya akan meminta waktu terlebih dahulu untuk memperembukkan lamaran itu dengan keluarga-keluarganya yang patut-patut lainnya. Paling-paling pada pertemuan tersebut, pihak keluarga pemuda menentukan waktu kapan mereka memberikan jawaban atas lamaran itu.

Acara maminang yang berlangsung dikota-kota umumnya sudah dibuat dengan skenario yang praktis berdasarkan persetujuan kedua keluarga, sehingga urutan-urutan seperti yang dicantumkan diatas dapat dilaksanakan secara simultan dan diselesaikan dalam satu kali pertemuan.


(Sumber : Tata Cara Perkawinan Adat Istiadat Minangkabau)

dex 1st May 2010 01:19 PM

Adat Perkawinan IV

Spoiler for Isi:
7. Minta Izin / Mahanta Siriah
Bila seseorang pemuda telah ditentukan jodoh dan hari perkawinannya, maka kewajiban yang pertama menurut adat yang terpikul langsung ke diri orang yang bersangkutan, ialah memberi tahu dan mohon doa restu kepada mamak-mamaknya, kepada saudara-saudara ayahnya; kepada kakak-kakaknya yang telah berkeluarga dan kepada orang-orang tua lainnya yang dihormati dalam keluarganya. Acara ini pada beberapa daerah di Sumatera Barat disebut minta izin.

Bagi pihak calon pengantin wanita, kewajiban ini tidaklah terpikul langsung kepada calon anak daro, tetapi dilaksanakan oleh kaum keluarganya yang wanita yang telah berkeluarga. Acaranya bukan disebut minta izin tapi mahanta siriah atau menghantar sirih. Namun maksud dan tujuannya sama. Tugas ini dilaksanakan beberapa hari atau paling lambat dua hari sebelum akad nikah dilangsungkan.


Tata Cara

Pada hari yang telah ditentukan calon mempelai pria dengan membawa seorang kawan (biasanya teman dekatnya yang telah atau baru berkeluarga) pergi mendatangi langsung rumah isteri dari keluarga-keluarga yang patut dihormati seperti disebutkan diatas.

Setelah menyuguhkan rokok (menurut cara lama menyuguhkan salapah yang berisi daun nipah dan tembakau) sebagai pembuka kata, kemudian secara langsung pula memberitahu kepada keluarga yang didatangi itu bahwa ia kalau diizinkan Allah, akan melaksanakan akad nikah. Kemudian menjelaskan segala rencana perhelatan yang akan diadakan oleh orang tuanya. Lalu minta izin (mohon doa) restu dan kalau perlu minta sifat dan petunjuk yang diperlukan dalam rencana perkawinan itu. Terakhir tentu memohon kehadiran orang bersangkutan serta seluruh keluarganya pada hari-hari perhelatan tersebut.

Biasanya keluarga-keluarga yang didatangi tidaklah melepas pulang begitu saja keluarganya yang datang minta izin secara akrab seperti itu. Dengan dihormati begitu oleh anak kemenakannya, mereka juga merasa terpanggil untuk ikut memikul beban (ringan sama dijinjing, berat sama dipikul) dengan memberikan bingkisan-bingkisan yang berguna bagi orang yang akan pesta. Walaupun misalnya hanya satu kilogram gula pasir saja, sesuai dengan kemampuannya.


Tata Busananya

Untuk melaksanakan acara ini calon pengantin pria diharuskan untuk mengenakan busana khusus. Ada dua pilihan untuk itu yang lazim berlaku sampai sekarang dibeberapa daerah di Sumatera Barat :

1. Mengenakan celana batik dengan baju gunting cina berkopiah hitam dan menyandang kain sarung palekat (atau sarung Bugis)

2. Mengenakan celana batik dengan kemeja putih yang diluarnya dilapisi dengan jas, kerah kemeja keluar menjepit leher jas. Tetap memakai kopiah dengan kain sarung pelekat yang disandang di bahu atau dilingkarkan di leher.

Dahulu si calon mempelai juga diharuskan untuk membawa salapah (semacam tempat untuk rokok daun nipah dengan tembakaunya). Tapi sekarang anak-anak muda telah menukarnya dengan rokok biasa. Sebab tujuan membawa barang tersebut hanyalah sebagai suguhan pertama sebelum membuka kata.

Bagi keluarga calon pengantin wanita yang bertugas melaksanakan acara ini yang disebut mahanta siriah, peralatan yang dibawa sesuai dengan namanya yaitu seperangkat daun sirih lengkap bersadah pindang yang telah tersusun rapi baik diletakkan diatas carano maupun didalam kampia (tas yang terbuat dari daun pandan). Sebelum maksud kedatangan disampaikan maka sirih ini terlebih dahulu yang disuguhkan kepada orang yang didatangi.


(Sumber : Tata Cara Perkawinan Adat Istiadat Minangkabau)

dex 1st May 2010 01:22 PM

Adat Perkawinan V

Spoiler for Isi:
8. Malam Bainai

Secara harfiah bainai artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku.

Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan malam hari sebelum besok paginya calon anak daro melangsungkan akad nikah. Apa sebab demikian ?

Pekerjaan mengawinkan seorang anak gadis untuk pertama kalinya di Minangkabau bukan saja dianggap sebagai suatu yang sangat sakral tetapi juga kesempatan bagi semua keluarga dan tetangga untuk saling menunjukkan partisipasi dan kasih sayangnya kepada keluarga yang akan berhelat. Karena itu jauh-jauh hari dan terutama malam hari sebelum akad nikah dilangsungkan semua keluarga dan tetangga terdekat tentu akan berkumpul di rumah yang punya hajat. Sesuai dengan keakraban masyarakat agraris mereka akan ikut membantu menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, baik dalam persiapan di dapur maupun dalam menghias ruangan-ruangan dalam rumah. Pada kesempatan inilah acara malam bainai itu diselenggarakan, dimana seluruh keluarga dan tetangga terdekat mendapat kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang dan memberikan doa restunya melepas dara yang besok pagi akan dinikahkan.

Selain dari tujuan, menurut kepercayaan orang-orang tua dulu pekerjaan memerahkan kuku-kuku jari calon pengantin wanita ini juga mengandung arti magis. Menurut mereka ujung-ujung jari yang dimerahkan dengan daun inai dan dibalut daun sirih, mempunyai kekuatan yang bisa melindungi si calon pengantin dari hal-hal buruk yang mungkin didatangkan manusia yang dengki kepadanya. Maka selama kuku-kukunya masih merah yang berarti juga selama ia berada dalam kesibukan menghadapi berbagai macam perhelatan perkawinannya itu ia akan tetap terlindung dari segala mara bahaya. Setelah selesai melakukan pesta-pesta pun warna merah pada kuku-kukunya menjadi tanda kepada orang-orang lain bahwa ia sudah berumah tangga sehingga bebas dari gunjingan kalau ia pergi berdua dengan suaminya kemana saja.

Kepercayaan kuno yang tak sesuai dengan tauhid Islam ini, sekarang cuma merupakan bagian dari perawatan dan usaha untuk meningkatkan kecantikan mempelai perempuan saja. Tidak lebih dari itu. Memerahkan kuku jari tidak punya kekuatan menolak mara bahaya apa pun, karena semua kekuatan adalah milik Allah semata-mata.

Dibeberapa nagari di Sum Bar acara malam bainai ini sering juga diawali lebih dahulu dengan acara mandi-mandi yang dilaksanakan khusus oleh wanita-wanita disiang hari atau sore harinya. Maksudnya kira-kira sama dengan acara siraman dalam tradisi Jawa. Calon anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju ke tepian atau ke pincuran tempat mandi umum yang tersedia dikampungnya. Kemudian perempuan-perempuan tua yang mengiringkan termasuk ibu dan neneknya, setelah membacakan doa, secara bergantian memandikan anak gadis yang besok akan dinobatkan jadi pengantin itu.

Jika kita simpulkan maka hakikat dari kedua acara ini untuk zaman kini mempunyai tujuan dan makna sbb:
1. Untuk mengungkapkan kasih sayang keluarga kepada sang dara yang akan meninggalkan masa remajanya,
2. Untuk memberikan doa restu kepada calon pengantin yang segera akan membina kehidupan baru berumahtangga,
3. Untuk menyucikan diri calon pengantin lahir dan batin sebelum ia melaksanakan acara yang sakral, yaitu akad nikah,
4. Untuk membuat anak gadis kelihatan lebih cantik, segar dan cemerlang selama ia berdandan sebagai anak daro dalam perhelatan-perhelatannya.

Bagi orang-orang Minang yang mengawinkan anak gadisnya di Jakarta, acara-acara ini juga sudah lazim dilaksanakan. Tetapi untuk efisiensi waktu dan pertimbangan-pertimbangan lain seringkali kedua acara tersebut pelaksanaannya digabung menjadi satu. Acara mandi-mandipun dibuat praktis tanpa harus benar-benar mengguyur si calon pengantin, tapi cukup dengan memercikkan saja air yang berisi haruman tujuh kembang itu di beberapa tempat ditubuhnya.


Tata busana

Untuk melaksanakan acara ini calon pengantin wanita didandani dengan busana khusus yang disebut baju tokah dan bersunting rendah. Tokah adalah semacam selendang yang dibalutkan menyilang di dada sehingga bagian-bagian bahu dan lengan nampak terbuka.

Untuk serasi dengan suasana, maka orang-orang yang hadir biasanya juga mengenakan baju-baju khusus. Teluk belanga bagi pria dan baju kurung ringan bagi wanita, begitu juga ayah bunda dari calon anak daro.

Disamping itu biasanya juga disiapkan beberapa orang teman-teman sebaya anak daro yang sengaja diberi berpakaian adat Minang untuk lebih menyemarakkan suasana.


Tata cara

Jika acara mandi-mandi dilaksanakan secara simbolis maka di salah satu ruangan di atas rumah ditempatkan sebuah kursi dengan payung kuning terkembang melindunginya. Sesudah sembahyang Magrib kalau tamu-tamu sudah cukup hadir, maka calon anak daro yang telah didandani dibawa keluar dari kamarnya, diapit oleh gadis-gadis kawan sebayanya yang berpakaian adat.

Untuk memberikan warna Islami, keluarnya calon anak daro dari kamarnya ini disambut oleh kelompok kesenian yang mendendangkan salawat Nabi yang mengiringkannya sampai duduk di kursi yang telah disediakan. Seorang dari saudaranya yang laki-laki, apakah kakaknya atau adiknya, berdiri dibelakangnya memegang payung kuning. Ini maknanya ialah bahwa saudara laki-laki yang kelak akan menjadi mamak bagi anak-anak yang akan dilahirkan oleh calon pengantin merupakan tungganai rumah yang bertanggung jawab untuk melindungi dan menjaga kehormatan saudara-saudaranya dan kemenakan-kemenakannya yang wanita.

Setelah itu dua wanita saudara-saudara ibunya berdiri mengapit dikiri kanan sambil memegang kain simpai. Ini maknanya : menurut sistem kekerabatan matrilinial, saudara-saudara ibu yang wanita adalah pewaris pusako yang berkedudukan sama dengan ibu anak daro.

Karena itu dia juga berkewajiban untuk melindungi anak daro dari segala aib yang bisa menimbulkan gunjingan yang dapat merusak integritas kaum seperinduan.

Walaupun acara mandi-mandi dilaksanakan secara simbolik, kecuali ayah kandungnya maka orang-orang yang diminta untuk memandikan dengan cara memercikkan air haruman tujuh macam bunga kepada calon pengantin wanita ini hanya ditentukan untuk perempuan-perempuan tua dari keluarga terdekat anak daro dan dari pihak bakonya. Jumlahnya harus ganjil. Umpamanya lima, tujuh atau sembilan orang. Dan yang terakhir melakukannya adalah ayah ibunya.

Jumlah ganjilnya ini ditetapkan sesuai dengan kepercayaan nenek moyang dahulu yang mungkin mengambil pedoman dari kekuasaan Tuhan dan peristiwa alam, atau karena angka-angka ganjil selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sakral. Seperti sembahyang lima waktu, langit berlapis tujuh, sorga yang paling diidamkan oleh seorang Muslim juga sorga ketujuh. Tawaf keliling Ka'bah dan Sa'i pulang balik antara Safa dan Marwa dilaksanakan juga tujuh kali.

Pada beberapa kenagarian calon anak daro yang akan dimandikan itu selain disiram dengan air yang berisi racikan tujuh kembang, maka tubuhnya juga dibaluti dengan tujuh lapis kain basahan yang berbeda-beda warnanya. Setiap kali satu orang tua selesai menyiramkan air ketubuhnya, maka satu balutan kain dibuka, dst.'

Jika acara mandi-mandi ini dilaksanakan secara simbolik, maka air haruman tujuh bunga itu dipercikkan ketubuh calon anak daro dengan mempergunakan daun sitawa sidingin. Tumbukan daun ini dikampung-kampung sering dipakai diluar maupun diminum, ia berkhasiat untuk menurunkan panas badan. Karena itu disebut daun sitawa sidingin.

Acara memandikan calon anak daro ini diakhiri oleh ibu bapaknya. Setelah itu kedua orang tuanya itu akan langsung membimbing puterinya melangkah menuju ke pelaminan ditempat mana acara bainai akan dilangsungkan.

Perjalanan ini akan ditempuh melewati kain jajakan kuning yang terbentang dari kursi tempat mandi-mandi ke tempat pelaminan.

Langkah diatur sangat pelan-pelan sekali karena kedua orang tua harus menghayati betul acara itu yang mengandung nilai-nilai simbolik yang sangat berarti. Setelah sekian tahun ia membesarkan dan membimbing puterinya dengan penuh kehormatan dan kasih sayang, maka malam itu adalah kesempatan terakhir ia dapat melakukan tugasnya sebagai ibu bapa, karena besok setelah akad nikah maka yang membimbingnya lagi adalah suaminya.

Kain jajakan kuning ini setelah diinjak dan ditempuh oleh calon anak daro, segera digulung oleh saudara kali-lakinya yang tadi waktu acara mandi-mandi memegang payung kuning. Tindak penggulungan kain kuning itu mengandung harapan-harapan, bahwa si calon anak daro benar-benar melakukan perkawinan itu cukuplah satu kali itu saja seumur hidupnya. Kalaupun akan berulang, maka itu karena maut yang memisahkan mereka.

dex 1st May 2010 01:24 PM

Adat Perkawinan VI

Spoiler for Isi:
Bainai

Jika acara memandikan calon anak daro hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, maka acara melekatkan tumbuhan inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita Minang ini dapat dilakukan oleh siapa saja. Dapat pula dimintakan untuk dilaksanakan oleh tamu-tamu yang dihormati malam itu, bisa oleh keluarga calon besan.

Ada beberapa kenagarian di SumBar, acara bainai ini juga dapat dilakukan bersamaan dengan mengikutsertakan calon pengantin pria. Tapi duduk mereka tidak disandingkan, dan kalaupun ada yang langsung mempersandingkan maka tempat calon pengantin pria tidak di sebelah kanan, tetapi di sebelah kiri calon pengantin wanita.

Kuku jari yang diinai sama juga dengan acara mandi-mandi, harus ganjil jumlahnya. Paling banyak sembilan.

Menurut tradisi di kampung dulu, kesempatan pada acara bainai ini setiap orang tua yang diminta untuk melekatkan inai ke jari calon anak daro setelah selesai biasanya mereka berbisik ke telinga anak daro. Bisikan-bisikan itu bisa berlangsung lama, bisa sangat singkat.

Maksudnya mungkin untuk memberikan nasehat-nasehat yang sangat rahasia mengenai kehidupan berumahtangga, atau bisa juga hanya sekedar seloroh untuk membuat si calon anak daro tidak cemberut saja dihadapan orang ramai.

Pelaksanaan kedua acara ini biasanya dipimpin oleh perempuan-perempuan yang memang telah ahli mengenai pekerjaan ini yang dibeberapa daerah di SumBar disebut uci-uci.

Seringkali juga pada malam bainai ini acara dimeriahkan dengan menampilkan kesenian-kesenian tradisional Minang. Di daerah pantai SumBar, hiburan yang ditampilkan lazimnya ialah musik gamat dengan irama yang hampir sama dengan lagu-lagu senandung dan joget Melayu Deli, sehingga mampu untuk mengundang orang secara spontan tegak menari menyambut selendang-selendang yang diulurkan oleh para penyanyi dan penari-penari wanita.


(Sumber : Tata Cara Perkawinan Adat Minangkabau)

dex 1st May 2010 01:26 PM

Adat Perkawinan VII

Spoiler for Isi:
9. Penyambutan Di Rumah Anak Daro
Bila akad nikah dilangsungkan dirumah calon mempelai wanita, bukan di mesjid, maka acara penyambutan kedatangan calon mempelai pria dengan rombongannya di halaman rumah calon pengantin wanita akan menjadi sebuah acara besar.

Acara ini sering juga disebut sebagai acara baralek gadang dengan menegakkan marawa-marawa Minang sepanjang jalan sekitar rumah. Menyiapkan pemain-pemain musik tradisional (talempong dan gandang tabuik) untuk memeriahkan suasana. Menyiapkan payung kuning kehormatan serta pemegangnya untuk memayungi calon pengantin pria. Kemudian juga dipersiapkan barisan galombang adat timbal balik yang terdiri dari pemuda-pemuda berpakaian silat untuk membuka jalan, dan dara-dara berpakaian adat yang akan menyuguhkan sirih secara bersilang dari pihak tuan rumah kepada ninik mamak yang ada dalam rombongan yang datang, dan dari fihak tamu yang datang kepada ninik mamak yang ada dalam rombongan yang menanti.


Tata cara

Secara garis besar ada empat tata cara menurut adat istiadat Minang yang dapat dilakukan oleh pihak keluarga calon mempelai wanita dalam menyambut kedatangan calon mempelai pria yang dilangsungkan pada empat titik tempat yang berbeda pula di halaman rumahnya.

Pertama, memayungi segera calon mempelai pria dengan payung kuning tepat pada waktu kedatangannya pada titik yang telah ditentukan di jalan raya di depan rumah. Atau kalau rombongan datang dengan mobil, pada titik tempat calon mempelai pria ditentukan untuk turun dari mobilnya dan akan melanjutkan perjalanan menuju rumah dalam arak-arakan berjalan kaki.

Kedua, penyambutan dengan tari gelombang Adat timbal balik oleh pemuda-pemuda yang disebut parik paga dalam nagari dengan memberikan penghormatan pertama dan menjaga kiri kanan jalan yang akan dilewati oleh rombongan.

Pada satu titik dipertengahan jalan kedua barisan gelombang ini akan bersobok dan pimpinannya masing-masing akan melakukan sedikit persilatan. Ini mengambil contoh pada perkimpoian di kampung-kampung dahulu di ranah minang, ketika seorang pemuda harus dikawal oleh kawan-kawannya sepersilatan di dalam perjalanan menuju ke rumah calon isterinya yang berada dikampung lain. Kampung isterinya ini juga dikawal oleh pemuda-pemuda yang selalu siap siaga menjaga keamanan. Sehingga tidak jarang antara kedua kelompok pemuda ini sering terjadi salah paham sehingga mereka saling menunjukkan kelihaian mereka dalam bersilat. Karena itulah dalam pertemuan dua barisan gelombang itu sampai sekarang tetap ada acara persilatan sejenak yang berhenti setelah seorang ninik mamak maju ketengah melerai mereka dengan carano adat.

Kemudian acara selanjutnya dengan barisan dara-dara limpapeh rumah dan gadang yang menyonsong mempersembahkan sirih lengkap dalam carano adat bertutup dalamak secara timbal balik dalam gerakan menyilang antara yang datang dan yang menanti.
Ketiga, sambah-manyambah antar juru bicara pihak tuan rumah dengan juru bicara rombongan calon mempelai pria yang dilangsungkan tepat di depan pintu gerbang sebelum masuk ke pekarangan rumah calon mempelai wanita. Menurut adatnya sambah-manyambah di luar rumah ini diawali oleh juru bicara pihak calon pengantin wanita sebagai sapaan kehormatan atas datangnya tamu-tamu ke rumah mereka.

Keempat, penyambutan oleh perempuan-perempuan tua pada titik sebelum calon mempelai pria memasuki pintu utama rumah. Perempuan-perempuan inilah yang menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning sambil berpantun dan kemudian setelah mempersiapkan naik manapiak bandua maningkek janjang, mencuci kaki calon menantunya dengan menuangkan sedikit air ke ujung sepatu calon mempelai pria. Di Jakarta sekarang juga lazim dilakukan setelah pencucian kaki secara simbolik ini, maka calon pengantin pria akan menapak masuk ke dalam rumah melewati kain jajakan putih yang terbentang antara pintu sampai ke tempat di mana acara akad nikah akan dilangsungkan.

Pencucian kaki dan berjalan diatas kain putih ini merupakan perlambang dari harapan-harapan tentang kebersihan dan kesucian hari dari calon menantu dalam melaksanakan niatnya untuk mengawini calon isterinya. Sering juga disebut acara ini bermakna, bahwa calon pengantin pria hanya akan membawa segala yang suci dan bersih ke atas rumah, dan meninggalkan segala yang buruk dan kotor di halaman.

Beberapa besar jumlah pemuda-pemuda yang terlibat mendukung penyambutan dengan tari gelombang serta pemudi-pemudi yang mendukung acara persembahan sirih adat, menunjukkan pula besar kecilnya pesta yang diadakan. Namun yang lazim jumlah tidak kurang dari tujuh orang untuk tiap kelompok. Tujuh orang penari gelombang dari pihak yang menanti, yaitu tujuh lagi dari pihak yang datang dan tujuh orang pula dara-dara yang membawa sirih pihak yang menanti dan tujuh orang pula dari pihak yang datang.

Namun untuk penghematan tenaga, adakalanya dan sah juga adanya juka penyambutan hanya dilakukan secara sepihak oleh keluarga yang menanti. Artinya barisan gelombang dan dara-dara limpapeh pembawa sirih hanya disiapkan dipihak keluarga calon pengantin wanita saja.


Tata busana

Dua orang yang jadi juru bicara untuk sambah manyambah boleh brepakaian yang sama dengan keluarga. Yaitu pakai sarung dan berkemeja dilapisi jas diluarnya. Yang penting kepalanya harus tertutup dengan kopiah hitam.

Boleh juga dikanakan busana model engku damang atau yang sekarang juga sering disebut sebagai jas dubes. Atau kalau dia hanya memakai kemeja dan pantalon biasa, maka dilehernya harus dikalungkan kain palekat yang kedua ujungnya terjuntai ke dada. Sedangkan kepala harus memakai kopiah.

Untuk pemuda-pemuda penari gelombang, busananya adalah baju silat biasa dengan celana galembong tapak itiak berkain samping dipinggang dan destar dikepala.

Sedangkan untuk dara-dara limpapeh rumah nan gadang yang membawa sirih, mengenakan baju kurung dalam berbagai variasi menurut daerah masing-masing. Hiasan kepala dpat berupa tikuluak tanduak atau hiasan kepala yang ringan seperti sunting rendah atau sunting ringan lainnya yang beraneka ragam terdapat diberbagai daerah di Sumatera Barat. Mengingat gadis-gadis ini dalam acara penyerahan sirih juga akan menari, maka seyogyanya pakaian yang dikenakan jangan terlalu berat sehingga menyusahkan untuk dibawa melenggang atau membuat sipenari tampak garebeh-tebeh.


(Sumber : Tata Cara Perkawinan Adat Minangkabau)

dex 1st May 2010 01:27 PM

Alam Minangkabau (I)

Spoiler for Isi:
I. Pulau Andalas
Menurut bunyi Tambo Alam Minangkabau, adapun orang yang pertama datang mendiami pulau andalas adalah ninik kita Sri Maharaja Diraja namanya. Beliau datang datang kemari dari tanah besar Voor Indie, tanah Rum kata orang tua tua, dan beliau kesini bersama dengan ke enambelas orang laki laki perempuan dari kasta Cateri. Selain itu dibawanya juga Kucing Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Muk Alam.
Dikatakan Kucing Hitam, Harimau Campo dan lain lainnya itu, sekali kali bukanlah bangsa binatang, tetapi manusia biasa juga. Mereka dijuluki dengan nama nama seperti itu sesuai dengan tingkah laku dan perangai mereka. Semuanya perempuan dan dipelihara oleh ninik Maharaja diraja seperti memelihara anaknya sendiri.

Ninik Sri Maharaja Diraja berlayar dari tanah besar itu dengan sebuah perahu kayu jati. Mula mula mereka berlayar melalui pulau Jawa yang saat itu belum terlihat tanah pulau Jawa itu. Yang tampak hanya puncak gunung Serang dan dipulau itu perahu beliau tertumpuk batu karang sehingga mengalami kerusakan dan tidak bisamelanjutkan perjalanan. Pada saat itu menitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada mereka yang berada diatas kapal itu "Barangsiapa yang dapat memperbaiki kapal ini seperti sediakala, akan hamba ambil sebagai menantu"
Mendengar titah itu beb erapa cerdik pandai segera berunding, mencari akal agar dapat memperbaiki perahu itu. Maka dengan karunia Allah, maka lima orang tukang segera bekerja dan kapal itu dapat diperbaiki kembali. Sri Maharaja merasa senang dan suka hati serta memuji kepandaian para tukang tersebut.

Kemudian perjalanan dilanjutkan sampai pada suatu kektika mereka melihat sebuah gosong tersembunyi di dalam laut. Tergilang gilang kelihatan dari jauh kira kira sebesar telur ayam, hilang timbuldilamun ombak.
Setelah sampai disitu kiranya ada tanah lebar dengan datarannya, berlabuhlah ninik Sri Maharaja Diraja diatas gosong itu. Gosong itu adalah puncak gunung merapi yang sekarang ini. Disanalah berdiam ninik Sri Maharaja Diraja bersama dengan para pengikutnya. Itulah ninik kita yang mula mula mendiami pulau Andalas ini, hingga menjadi juga oleh yang tua tua dengan memakai pantun ibarat :

Dimana mulanya terbti pelita
Dibalik tanglun nan berapi
Dimana mulanya ninik kita
Ialah di puncak gunung Merapi

Kata orang yang menceritakan, takkala ninik Sri Maharaja Diraja berada di puncak gunung Merapi itu beliau berdo'a supaya disusutkan air laut.
Dengan karunia Tuhan air laut semakin hari semakin susut juga dan bertambah lebar tanah daratan sehingga nyatalah tempat tempat itu adanya diatas gunung yang sangat besar.

Kata sahibulhikayat, takkala beliau masih berdiam dipuncak gunung itu, dengan takdir Tuhan orang orang yang bernama Kucing hitam, Harimau campo, Kambing hutan dan Anjing Muk Alam masing masing melahirkan seorang anak perempuan. Begitu pula istri Ninik Sri Maharaja Diraja melahirkan seorang anak perempuan pula. Sekalian semua anak itu dipelihara oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan kasih sayang yang tiada dibedakan. Kemudian kelak setelah anak anak itu besar, mereka dinikahkan dengan 5 tukang yang memperbaiki kapal tadi.

II. Galundi Nan Bersela dan Guguk Ampang
Setelah beberapa lama mereka berdiam dipuncak gunung itu, air laut sudah berangsur susut juga dan bertambah besar juga tanah daratan, maka sekalian orang itu berpindah kesebuah lekung dipinggang gunung Merapi itu.
Oleh Sri Maharaja Diraja tempat itu diberi nama Labuhan Sitembaga. Disitulah pada masa dahulu ada Sirengkak nan Berdengkang. Disitu pulauntuk pertama kalinya orang menggali sumur untuk tempat mandi dan tempat mengambil air minum, karena disekitar tidak ada air tawar, yang ada hanya air laut.

Selanjutnya mereka membuat sepiring sawah bernama sawah setampang benih. Disebut setampang benih karena dengan padi yang setampang itu sudah mencukupiuntuk makan orang disaat itu, karena mereka belumbanyak. Padi itu pula menjadi asal padi yang ada sekarang. Sepanjang cerita orang tua tua.

Lama kelamaan tumbuh pula Galundi nan Bersela, air laut bertambah susut juga dan daratan bertambah luas, maka Cateri Bilang Pandai mencari tanah yang lebih baik untuk mereka huni.

Ditemukan sebuah guguk disebelah kanan dari Galundi nan Bersela tadi, dan sekalian orang yang berada di Galundi berpindah ke ketempat baru itu. Tempat itu diberi nama oleh ninik Sri Maharaja Diraja serta Cateri Bilang Pandai dengan nama Guguk Ampang.

III. Nagari Pariangan dan Padang Panjang
Tidak berapa lama antaranya, orang orang yang menetap di Guguk Ampang berpindah pula dengan membuat setumpak tanah yang datar di baruh Guguk Ampang itu.

Tanah disini lebih baik daripada tanah di Ampang Gadang. Mereka pun berbondong bondong membuat tempat tinggal ditempat yang baru ini dan oleh ninik Sri Maharaja Diraja beserta Cateri Bilang Pandai tempat ini diberi nama Perhurungan. Guguk Ampang tadi pada saat ini bernama kampung Guguk Atas. Lama kelamaan orangpun bertambah kembang juga, dan kampung Perhurungan bertambah maju. Orang semakin hari semakin riang pula.

Atas prakasa ninik Sri Maharaja Diraja beserta cerdik pandai masa itu, dibuat semacam permainan anak negeri seperti Pencak Silat, Tari Payung dan bermacam peralatan untuk gung dan talempong, gendang, serunai rabab, kecapi dan lain lain sehingga menjadikan orang bertambah riang juga disetiap waktu.

Suasana masyarakat yang selalu dalam keadaan riang itu, menimbulkan keinginan dari ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai untuk menganti nama kampung menjadi Pariangan.

Kemudian karena bertambah kembang juga, seorang hulubalang ninik Sri Maharaja Diraja pergi membuat tempat tinggal dekat sebuah batu besar disuatu tanah disebelah kanan pariangan. Karena tempat itu baik pula, berdatangan orang pariangan membuat tempat tinggal disitu.

Lama kelamaan tempat itu menjadi sebuah kampung yang ramai pula. Oleh Cateri Bilang Pandai kampung itu diberi nama Padang Panjang. Sebab yang pertama sekali menemukan daerah itu adalah hulubalang yang menyandang gelar Pedang nan Panjang. Kampung Pariangan dan Padang Panjang semakin hari semakin ramai, dan kedua kampung ini dibawah hukum ninik Sri Maharaja Diraja.

Pada suatu hari bermusyawarahlah segala isi kampung Pariangan dan Padang Panjang untuk mendirikan sebuah Balairung tempat raja duduk menghukum (memerintah) beserta orang besar lainnya Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai yang bernama Indra Jati. Balairung itu didirikan didalam kampung Pariangan, dihiasi dengan lapik lalang.

Ruangan hanya sebuah saja sehingga sampai saat ini disebut orang Balai Saruang. Disitulah tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan orang orang besarnya menghukumwaktu itu.


Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:29 PM

Alam Minangkabau (II)

Spoiler for Isi:
IV. Penghulu Pertama
Lama pula antaranya orangpun bertambah ramai pula. Pada suatu hari bermusyawarah pula ninik Sri Maharaja Diraja dengan Datuk Suri Diraja dan Cateri Bilang Pandai, serta segala orang banyak dari kampung Pariangan dan Padang Panjang di Balai Saruang tadi.

Musyawarah itu adalah untuk memilih orang yang akan menjadi yang memerintah dan menghukum dibawah raja.

Adapun orang yang akan ditanam jadi ketua adalah orang yang akan menjadi penghulu orang banyak itu, dengan fungsi antara lain :

Kusuk yang akan menyelesaikan
Keruh yang akan menjernihkan
Sesat yang akan menghimbau
Terluncur yang akan menghelakan

Itulah orang yang akan memimpin orang banyak, dibawah ninik Sri Maharaja Diraja.

Didalam permusyawaratan itu dicapai kata sepakat yakni akan menanam dua orang ketua, seorang di Pariangan dan seorang di Padang Panjang. Hasil kesepakatan itu dikembalikanke kepada ninik Sri Maharaja diraja dan beliau menyetujui.

Pada kesempatan itu Datuk Suri Diraja bertitah "Berbahagialah kamu sekalian, telah sama sama sepakat untuk menanam dua orang ketua yang akan menjadi penghulu oleh kamu sekalian. Apa nama pangilan dan apa nama pangkatnya bagi keduanya ?"

Mendengar titah Datuk Suri Diraja itu, tidak ada yang dapat menjawab sebab belum ada kata mupakat tentang itu. Sekalian orang banyak itu memohon kepada ninik Sri Maharaja Diraja untuk kembali bermusyawarah untuk menetapkan apa nama panggilan dan pangkat bagi keduanya tadi.

Tetapi setelah beberapa saat lamanya mereka duduk timbang menimbang, hasilnya nihil sama sekali. Akhirnya sekalian orang banyak itu memulangkan kata kepada ninik Sri Maharaja Diraja.

"Telah puas kami bersama sama mencari nama pangkat dan nama pangilan bagi ketua kami, namun tidak dapat oleh kami, melainkan sebuah kata ketua saja. Oleh sebab itu kami serahkan saja kepada Tuanku semua, apa yang baik bagi Tuanku, kami akan menurut saja."

Setelah itu bertitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada sekalian orang banyak itu : "Adapun orang akan kita jadikan ketua itu tentulah akan dipilih dari kita yang hadir disini, yaitu orang yang lebih pandai dan baik tingkah lakunya. Sebab orang itu, pergi tempat kita bertanya, pulang tempat kita beberita. Orang itulah yang akan memelihara buruk baiknya kita sekalian, tempat kita mengadukan segala hal yang baik dan buruk.

Orang itu yang akan menimbang mudharat danmanfaat diatas kita sekalian serta menghukum barang sesuatunya buruk dan baik.

Oleh sebab itu sepanjang pendapat hamba, patutlah kita muliakan benar orang itu dengan semulia mulianya daripada kita yang banyak ini. Kita tuakan orang itu dengan kata mupakat bersama dan tuanya kita samakan dengan orangtua ninik mamak kita yaitu 'datuk' namanya. Dengan demikian kepadanya kita panggil Datuk meskipun umurnya lebih muda daripada kita.
Kita wajib menghormatinya, apa titahnya kita junjung, apa perintahnya kita turut, agar sentosa kita dari marabahaya selama hidup didunia ini. Jikalau kita tidak bertindak dan tiada turut menurut, niscaya tiadalah kita mendapat keselamatan"

Mendengar penitahan ninik Sri Maharaja Diraja itu, senanglah hati sekalian orang banyak itu. Panggilan Datuk sampai sekarang tidak berubah. Itulah asal mulanya maka segala penghulu itu dipanggil Datuk dan disebut orang juga ninik mamak, ninik daripada mamaknya orang banyak. Setelah putus kata mupakat, diadakan helat jamu di kampung Pariangan dan Padang Panjang.

Pada masa itu ditetapkan kedua penghulu tadi seorang di Pariangan bergelar Datuk Bandaharo Kayo dan seorang lagi di Padang Panjang bergelar Datuk Maharaja Besar. Itulah penghulu pertama yang ada dipulau andalas ini, yang disebut juga pulau Perca.

Adapun Datuk Suri Diraja bukanlah penghulu yang diangkat orang, beliau diberi nama seperti itu hanya karena beliau berkarib dengan raja. Beliau dipanggil datuk karena tuanya saja, dan lagi beliau adalah orang cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, tempat orang berguru dan bertanya pada waktu itu di Pariangan Padang Panjang, serta menjadi guru oleh ninik Sri Maharaja Diraja.

Dengan bertambah ramainya orang di Pariangan dan Padang Panjang, oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan mupakat segala isi kampung diberi nama Nagari Parangan Padang Panjang. Sampai saat ini nama itu tidak pernah dirubah orang dan itulah nagari tertua di pulau Andalas ini.

Dari pernikahan ninik Sri Maharaja Diraja dengan adik datuk Suri Diraja yang bernama Tuan Putri Indah Jalia, lahirlah seorang yang bernama Sutan Paduka Besar.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:31 PM

Alam Minangkabau (III)

Spoiler for Isi:
V. Sungai Tarab Nagari Tua
Seiring dengan perkembangan waktu, masyarakat di Nagari Pariangan bertambah ramai juga, sedang nagari itu tidak begitu luas sehingga sudah penuh sesak oleh orang banyak. Maka bermusyawarahlah ninik Sri Maharaja Diraja dengan segala orang besarnya untuk memindahkan sebagian orang kedaerah baru.

Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan.

Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu.

Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.

Didapati oleh beliau tanah itu lebih luas dari Pariangan Padang Panjang dan nampaknya lebih baik dan lebuh subur.
Disebelah mudik tanah itu ada pula sebidang padang pasi yang amat luas yang sangat baik untuk tempat orang bermain dan bergembira.
Setelah ada keyakinan bagi ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai, lalu keduanya kembali ke Pariangan Padang Panjang untuk menjeput orang orang yang akan mendiami tempat tersebut.

Beliau membawa tujuh karib bai'id beliau laki laki dan perempuan, begitupun Cateri bilang pandai membawa pula enam belas orang, yaitu delapan pasang suami istri.

Setelah mereka tiba ditanah tadi, mereka mulai membuka ladang, berladang mencencang melateh, membuat teratak ditempat itu. Lama kelamaan teratak menjadi sebuah dusun bernama dusun Gantang Tolan dan dusun Binuang Sati.

Kemudian dusun itu bertambah lama bertambah ramai pula. Maka dibuat orang pula dipinggir dusun itu sebuah koto tempat berkampung, berumah tangga. Dari koto itulah orang orang berulang ulang keladangnya yang didusun tadi.

Semakin lama didalam koto tadi orang semakin bertambah ramai juga, lalu koto itupun dijadikan nagari, diberi nama nagari Bunga Setangkai. Kenapa bunga setangkai, sebab sewaktu ninik Sri Maharaja Diraja sampai disitu beliau mendapatkan setangkai bunga yang sangat harum baunya, dan dibawah bunga itu ada pula sebuah batu luas dan datar. Panjangnya tujuh tapak ninik Sri Maharaja Diraja, batu itu diberi nama oleh beliau "Batu Tujuh Tapak" Sampai sekarang batu itu masih ada didalam nagari Bunga Setangkai.

Adapun padang pasir yang di mudik nagari Bunga Setangkai, lama-kelamaan ditumbuhi oleh kayu-kayuan, sehingga kemudian menjadi rimba yang berkampung kampung. Pada akhirnya daerah itu menjadi koto, lalu menjadi nangari yang diberi nama Pasia Laweh, takluk kepada nagari Bunga Setangkai.

Didalam nagari Bunga Setangkai dibuat orang sebuah balairung tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai menghukum. Dekat balairung itulah ninik Sri Maharaja Diraja membuat istana tempatdiam.
Kemudian keluarlah sebuah mata air dibawah sebuah pohon yang bernama tarab dihalaman istana ninik Sri Maharaja Diraja. Air yang keluar sangat jernih dansejuk serta besar sehingga menjadi suatu anak sungai, oleh sebab itu Cateri Bilang Pandai memberi nama Sungai Tarab.

Karena Sungai itu sangat termasyhur nama Bunga Setangkai dilupakan orang sehingga nagari itu berubah nama jadi nagari Sungai Tarab.
Didalam nagari Sungai Tarab ditanam orang delapan orang penghulu yang diambil dari dalam kaum orang yang delapan pasang, yang mula mula mencencang melateh nagari tersebut. Penghulu yang delapan itu memerintah orang dalam nagari Sungai Tarab dan menguasai masing masing kaumnya. Penhulu itu bernama "Datuk nan Delapan Batur" Yakni delapan batu kedudukan dahulu.

Kemudian setiap penghulu itu membuat pula sebuah balairung sehingga disebut orang pula delapan balai kedudukan Datuk Nan Delapan Batu.
Delapan balai kemudian menajdi delapan suku yang terbagi atas 2 kampung. Satu kampung di mudik (Sungai Tarab) dengan lima balai dan satu lagi di hilir dengan 3 balai sehingga kampung ini disebut TigaBatur.

Setelah berkoto, bernagari dan berpenghulu yang akan memelihara orang didalam Sungai Tarab, ninik Sri Maharaja diraja merasa senang sekali dan beliau beserta Cateri Bilang Pandai kembali lagi ke Pariangan Padang Panjang.

Meninggalnya Ninik Sri Maharaja Diraja
Ninik Sri Maharaja Diraja meninggal di Pariangan Padang Panjang, yaitu beberapa lalu kemudian setelah beliau kembali dari Sungai Tarab. Sepeninggal beliau jabatan raja di pariangan Padang Panjang tidak ada karena beliau tidak mempunyai waris. Posisi beliau dijabat oleh karib beliau yang ada di Sungai Tarab. Adapun yang memerintah di Pariangan Padang Panjang sepeninggal ninik Sri Maharaja Diraja adalah Datuk Bandaharo Kayo, Datuk Maharaja Besar, Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai dan Cateri Rino Sudah. Sedangkan yang memerintah di Sungai Tarab dipegang oleh Datuk Delapan Batur, dibantu oleh Cateri Bilang Pandai mewakili karib ninik Sri Maharaja yang belom dewasa.

Tuan Putri Jamilan
Setelah beberapa lama ninik Sri Maharaja Diraja meninggal dunia, Tuan Putri Indah Jalia janda beliau kimpoi dengan Indra Jati yang bergelar Cateri Bilang Pandai.

Dari perkimpoian itu beliau berputra enam orang, dua orang laki laki, pertama bernama Sutan Balun dan yang kedua bernama Sikalab Dunia dan empat orang perempuan bernama: Putri Reno Sudi, Putri Reno Mandi, Putri Reno Judah dan si bungsu Puteri Jamilan. Tuan Putri Jamilan ini kimpoi dengan karib ninik Sri Maharaja Diraja yang menjadi raja di Sungai Tarab itu.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:32 PM

Alam Minangkabau (IV)

Spoiler for Isi:
VI. Datuk Katumanggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, dan Datuk Sri Maharaja Nan Banaga Naga.
Menurut bunyi Tambo Alam Minangkabau dan curaian orang tua tua, setelah dewasa anak ninik Sri Maharaja Diraja yang bernama Sutan Paduka Besar dan anak anak Cateri Bilang Pandai bernama Sutan Balun dan Sikalab Dunia, atas kesepakatan anak nagari Pariangan Padang Panjang dan anak nagari Sungai Tarab, diangkat menjadi penghulu.

Sutan Paduka Besar bergelar datuak Katumanggungan, Sutan Balun bergelar Datuak Parapatiah Nan Sabatang, dan Sikalab Dunia bergelar Datuak Sri Maharaja nan Banaga naga.

Beliau beliau itulah penghulu ninik kita, yang sangat cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, lagi keramat ketiganya. Meliau bertiga menata adat lembaga untuk kita orang Alam Minangkabau.

Kata ahli adat, setelah Sutan Balun diangkat jadi penghulu, beliau pergi berlayar keluar Pariangan Padang Panjang, hendak pergi tamasya ke pulau Langgapuri(Serindip Cylon).

Dalam perjalanan kembali pulang, ditengah lautan beliau mendapat sebatang kayu yang berisi lengkap didalamnya segala perkakas untuk pertukangan seperti kapak, lading, pahat dan perpatih. Oleh sebab itu dia digelari Datuk Perpatih Nan sabatang Kayu, kemudian ditetapkan dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang saja.

Adapun kayu yang berisi alat perkakas ditemukannya itu berasal dari peninggalan nabi Nuh. Perkakas itu diletakkan orang dalam lobang sebuah pohon kayu dan hanyut ke laut.

Dengan karunia Allah kayu itulah yang didapatkan oleh Datuk Parapatiah Nan Sabatang. Benar atau tidaknya cerita ini wallahu 'alam.
Diceritakan kembali, sesudah ninik yang bertigaitu diangkat orang jadi penghulu, semenjak itulah beliau berusaha mencari ikhtiar memperbaiki nagari dan memperluas jajahan di tanah Alam Minangkabau serta berusaha membuat bermacam macam aturan adat lembaga yang akan dipakai orang didalam Nagari yang telah beliau dirikan itu, untuk penjaga kesentosaan dan keselamatan orang yang berada didalam nangari.

Adat lembaga yang beliau tinggalkan menjadi pegangan bagi masyarakat Minangkabau sampai sekarang, adat lembaga itu amat baik dan sempurna aturannya, tidak dapat disanggah oleh jauhari pun, mempunyai akal budi yang sempurna. Bila ada orang yang merubah atau merusak warisan beliau itu, tak dapat tidak pastilah mendatangkan kesusahan dan kerugian besar bagi dirinya serta bagi segala orang di dalam nagari sampai kepada anak cucunya.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:33 PM

Alam Minangkabau (V)

Spoiler for Isi:
VII. Nagari Limo Kaum
Kata ahli adat, pada suatu ketika ninik Parapatiah nan Sabatang bersama lima pasang suami istri berlayar keluar dari nagari Pariangan Padang Panjang menuju tanah lapang yang ditumbuhi rimba berkampung kampung. Di situ kelima pasang tadi mencencang melateh membuat ladang dan dusun tua. Disitu ninik Parapatiah Nan Sabatang membuat rumah dibawah kayu bodi nago taram, kemudian dibuatnya pula sebuah balai di dusun tua itu yang berparit dan berpagar batu.

Sebab itu balai tadi dinamakan balai batu, lalu dibuat pula sebuah kubu dibaruh dusun tua tadi, yang dinamai kubu raja.

Lama kelamaan berkembang pula orang yang lima pasang tadi. Karena orang sudah ramai dibuat pula lima buah kampung seedaran dusun tadi, yang bernama kampung Balai Batu, Kampung Kubu Rajo, Kampung Belah Labuh, Kampung Dusun Tua(Kota Gadis) dan Kampung Kampai (Piliang). Kelima kampung ini akhirnya dinamakan Kampung Lima Kaum.

Kemudian menyusul pula dua belas pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang dipimpin oleh seorang Penghulu yang bergelar Datuk Tan Tejo Maharaja Nan Gadang. Penghulung badanya besar dan panjang kira kira sepuluh hasta panjangnya.

Sampai sekarang masih ada kubur beliau di kampung Pariangan, yang dikenal juga dengan kubur Datuk Tan Tejo Gurahana.

Mereka sampai di nagari yang bernama Jambu sekarang ini dan tidak dapat melanjutkan perjalanannya ke nagari Limo Kaum karena tidak ada jalan kesana. Lalu berkata Datuk Tan Tejo kepada orang yang dibawanya itu, katanya : "Kaniaklah (Kemarilah) kita berbalik" lalu surutlah mereka kembali sampai kesebuah dusun yang mereka beri nama Keniak.
Rupanya yang dimaksud dengan "ka niak" oleh datuk Tan Tejo tadi adalah kampung tabek sekarang ini. Disitu mereka berladang dan membuat taratak. Datuk Tan Tejo membuat sebuat tebat besar, lalu dibuat orang pula setumpak sawah dekat tebatnya itu dan di mudik sawah itu dibuat pula sebuah taratak, lama kelamaan taratak menjadi dusun dan dusun menjadi kampung pula, yang bernama kampung sawah tanah. Akhirnya kedua belas pasang itu terbagi dua. Sebagian tinggal bersama beliau dikampung Tebat dan sebagian lagi menetao dikampung Sawah Tangah.

Lama kelamaan berkembang pula orang dikampung Tabek dan kampungSawah Tangah itu. Datuk Tan Tejo mendirikan sebuah balai dikampung Tabek yang tonggaknya dari teras jilatang dan parannya dari akar lundang, sedang tabudnya dibuat dari batang pulut pulut, yang digetang dengan jangat tuma dan gendangnya dari padang seliguri.

Itulah keganjilan yang dibuat oleh Datuk Tan Tejo Maharaja Nan Gadang. Sampai kini tonggak jilatang dan gendang saliguri masih ada dikampung Tabek dan kampung Sawah Tangah. Selanjutnya karena telah berkembang kampung Tabek dan kampung Sawah Tangah dijadikan orang menjadi sebuah nagari yang bernama Nagari Tabek Sawah Tangah.

Oleh karena Nagari Tabek Sawah Tangah itu menjadi ramai dan sesak pula, mamak pecahan orang orang yang dua belas tadi pergi berladang merambah rimba kecil di kepala dusun tua tempat ninik Parapatiah Nan Sabatang tadi, tempat itu dinamai orang Parambahan.

Dari parambahan itu dibuat sebuah labuh arah ke kubu raja, tetapi mereka tidak berhasil karena karena terlalu susah, jalan mendaki dan menurun serta berbelok belok. Dan labuh itu diberi nama Taratak labuh.

Karena telah menjadi ramai pulang orang di taratak labuh, Parambahan dan Tabek Sawah Tangah merekapun semakin berkembang dantelah menbuat 12 koto disekitar nagari limo kaum. Kedua belas koto itu menurut penitahan ninik Parapatiah Nan Sabatang, yaitu :
1. Labuah
2. Parambahan
3. Silebuk
4. Ampalu
5. cubadak
6. Sianyang
7. Rambatan
8. Padang Magek
9. Ngungun
10. Panti
11. Pabaluran
12. Sawah jauh

Lama kelamaan koto nan duabelas ini ramai pula. Oleh ninik Parapatiah nan Sabatang ke dua belas koto ini sampai ke Tabek Tangah sawah dijadikan satu dengan orang yang berada di Limo Kaum dengan nama Limo Kaum dua Belas Koto. Kemudian dipecah lagi menjadi Limo Kaum Dua Belas Koto dan Sembilam Koto Didalam.

Adapun koto yang sembilan itu ialah dua-dua satu bilang : Tabek Bata dan Sela Goanda; Beringin dan Koto baranjak; Lantai Batu dan Bukit Gombak; Sungai Tanjung dan Barulak serta Raja Dani.

Oleh Ninik Parapatiah Nan Sabatang masyarakat nagari Lima Kaum yang Dua Belas Koto itu sampai ke Tabek Sawah Tangah diberi pula satu pucuk pimpinan yaitu Penghulu dengan gelar Datuk Bendahara Kuning, berkedudukan di kubu raja Lima Kaum.

Setelah teratur nagari Limo Kaum Dua Belas Koto itu, maka senanglah Hati Ninik Parapatiah nan Sabatang dan beliau kembali ke Pariangan Padang Panjang.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:34 PM

Alam Minangkabau (VI)

Spoiler for Isi:
VIII. NAGARI SUNGAYANG
Kata orang yang menceritakan, tidak berapa lama kemudian ninik Parapatiah nan Sabatang berlayar pula membawa tujuh pasang suami istri. Mereka sampai pada suatu tanah menanjung kedalam sungai. Karena tanah itu baik dan subur, mereka menetap disana dan berladang membuat taratak. Tempat itu beliau beri nama Pangkal Bumi.

Kemudian menyusul pula duapuluh tiga pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang ingin mencari penghidupan disana karena di Pariangan sudah penuh sesak.

Mereka menetap di daerah antara Pangkalan Bumi dan Sungai Tarap. Mereka bersama sama dengan yang tujuh pasang suami istri berladang dan membuat taratak.

Tempat mereka menambatkan perahu atau (jung) nya, dinamakan "Tembatan Ajung", lalu disingkat menjadi tabek Ajung. Sedangkan Pangkal bumi berubah nama jadi Ujung Tanah.

Lama kelamanaan berkembang pula orang orang yang di Taratak dan di lading padi tadi, taratak itu menjadi dusun yang ramai, lalu dibuat orang dua buah koto dipinggir taratak itu, yang bernama Tanjung dan Sungai Mangiang, sebab mata air yang mengalir disana kerapkali jadi mangiang (pelangi) dan dari kedua koto itulah orang pulang pergi ke taratak dan ladangnya masing masing. Hingga kini disitu masih adatempat yang bernama taratak dan lading.

Kemudian sesuai dengan perkembangan manusia, koto itu dijadikan orang nagari, oleh ninik Parapatiah Nan Sabatang nagari itu diberi namaTanjung Sungayang Nan Batujuah., karena yang menetap di Nagari itu adalah orang yang dua puluh tiga pasang ditambah tujuh pasang tadi.

Keturunan mereka sampai kini masih ada di nagari itu. Itulah orang yang berhutan tinggi dan berhutan rendah dan mereka ada berpangkat sepanjang adat di dalam Nagari itu.

Kata ahli adat, sesudah sumur digali nagari nagaridicecak dalam nagari Sungai Tarab, Lima Kaum dan Tanjung Sungayang, dan di setiap nagari itu orang sudah begitu ramai, maka bermupakatlah Datuk Katumanggugan, Datuk Parapatiah Nan Sabatang, Datuk Ssri Maharaja nan banaga naga hendak mencari tanah yang baik untuk memindahkan orang nagari tersebut. Setelah putus mupakat, beliau bertiga berlayar bertiga menjalani teluk dan rantau.

Setelah tampak tanah tanah yang dianggap baik ketiganya kembali lagi. Lalu dengan tiga buah perahu, setiap perahu memuat lima puluh orang laki laki dan perempuan, mereka menuju ketempat tempat yang sudah dilihat tadi. Disetiap tempat itu beliau tempatkan sepasang, lima pasang, ada yang enam dan delapan pasang tergantung dengan besar kecilnya tanah yang akan didiami itu.

Lama kelamaan orang orang itupun berkembang pula dan tempat orang orang itu dari taratak menjadi dusun, dusun menjadi koto, dan kemudian menjadi nagari. Demikianlah caranya ninik moyang kita dalam memperluas daerahnya di pulau perca ini.

Oleh karena asal orang orang itu dari nagari Sungai Tarab, Lima Kaum, Tanjung Sungayang dalam Tambo Alam Minangkabau nagari yang tiga ini disebut nagari tertua di alam Minangkabau ini.
Setelah selesai menempatkan orang orang didaerah yang baru itu, maka kembalilah ketiga ninik tadi ke Pariangan Padang Panjang. Mereka mulai bekerja membuat ketetapan hukum yang akan dipakai disetiap nagari yang baru tadi.

Setelah itu mereka memohon kepada bapak beliau yang bernama Indra Jati bergelar Cateri Bilang Pandai untuk pergi memeriksa keadaan orang orang di nagari yang baru itu dan sekaligus menetapkan penghulunya masing masing.

Permintaan anak anaknya dipenuhi oleh Cateri Bilang Pandai. Berangkatlah beliau ke nagari nagari yang baru itu dan disetiap nagari diangkat seorang penghulu untuk setiap kaumnya.

Penghulu inilah "kusut yang akan menyelesaikan, keruh yang akan menjernihkan" serta memelihara orang orang itu dari hal hal yang buruk dan baik dengan mendirikan pusaka Alam Minangkabau.

Barangsiapa yang diangkat menjadi penghulu diwajibkan terlebih dahulu mengisi adat menuai lembaga kepada segala orang yang ada didalam nagari itulah yang mengendangkan jadi penghulu.

Begitu juga barang siapa yang akan menjadi raja, wajib pula mengisi adat menuang lembaga kepada isi alam takluk jajahannya, memberi makan-minuman orang orang yang datang diwaktu raja dinobatkan serta memotong kerbau dan sapi seberapa cukupnya. Selain itu raja itu wajib mengeluarkan emas nan sesukat seulang aling, nan sekundi kundi, sepating setali bajak namanya sebagai pengisi adat kepada penghulu dan orang orang yang patut. Sebab orang orang itulah yang merajakannya.

Karena banyaknya penghulu yang diangkat, banyak pula gelar penghulu ditiap tiap suku atau nagari, namun gelar itu tidak boleh sama. Kalau ada yang sama itu namanya sudah dibelah (dipecah)

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:35 PM

Alam Minangkabau (VII)

Spoiler for Isi:
IX. Luhak nan Tigo, Laras Nan Duo
Pada suatu ketika ninik yang bertiga ini naik pula ke puncak gunung merapi. Disana beliau menemukan tiga buah akar yang berjurai jurai. Sejurai menghadap kearah timur, Sejurai jatuh kebarat dan sejurai lagi jatuh ke utara. Maka memandanglah beliau kearah timur nampak rimba berkampung kampung.

Ditepi rimba itu sudah diisi oleh orang, begitu juga ketika beliau memandang kearah barat dan utara, banyak pula tanah yang sudah dihuni orang. Sedangkan disebelah selatan kelihatan puncak puncak gunung yang tersembur dari dalam laut.

Maka mupakatlah ketiga ninik itu untuk turun melihat tanah dan keadaan orang yang sudah didiami itu. Ninik Katumangguangan berjalan ke arah barat, Ninik Parapatiah Nan Sabatang berjalan kearah timur, dan Ninik Sri Maharaja berjalan kearah utara.

Sekembalinya dari nagari nagari itu beliau kembali lagi dan bertemu di Pariangan Padang Panjang lalu ninik bertiga menceritakan pengamatan yang sudah dilakukan di daerah itu.

Diceritakan oleh Ninik Parapatiah Nan Sabatang tanah berbukit bukit dan berlurah lurah, airnya jernih ikannya jinak dan buminya dingin.
Diceritakan pula oleh ninik Katumanggungan tanah yang disebelah barat gunung merapi airnya keruh ikannya liar, buminya hangat dan orangnya keras hati, suka bermusuh musuhan dan selalu berkelahi pada masing masing kaum.

Oleh ninik Sri Maharaja Nan Banaga Naga diceritakan bahwa bahwa tanah sebelah utara gunung airnya manis ikannya jinak, buminya tawar dan dulu orang yang ditempatkan sebanyak lima puluh orang telah berkurang lima pasang, hilang dipadang ribu ribu tampa tahu kemana perginyaorang itu.

Kemudian bermupakatlah ninik yang bertiga menceritakan itu kepada mamaknya datuk Suri diraja. Oleh datuk Suri diraja diberi nama :
-Luhak Tanah Datar untuk tanah yang sebelah timur gunung merapi yaitu tanah yang dijalani ninik Parapatiah nan Sabatang.
-Luhak Agam untuk daerah yang dijalani oleh ninik Katamanggungan.
-Luhak Limapuluh untuk daerah yang dijalani oleh ninik Sri Maharaja nan Banaga Naga.

Itulah asalnya maka alam Minangkabau ini terbagi atas tiga luhak. Masing masing luhak ini diperintah oleh ninik yang bertiga tadi. Selanjutnya oleh datuk Datuk Katamanggungan dan Datuk Parapatiah Nan Sabatang ketiga luhak dibagi jadi dua kelarasan, yaitu:
-Laras Koto Piliang, Pemerintahan Datuk Katumanggungan
-Laras Bodi Caniago, Pemerintahan Datuk Parapatiah nan Sabatang.

Nagari nagari yang masuk kedalam laras koto Piliang adalah : Tanjung Gadang Mudik sampai Laut nan Sedidih, gunung merapi hilir, keliling gunung semuanya, sedangkan yang masuk bodi caniago adalah daerah Mudik hingga Padang Tarab Hilir.

Meskipun sudah dibagi, disetiap nagari itu selalu menyela orang yang dua kelarasan itu tetapi yang paling banyak adalah kelarasan koto piliang.
Perbedaan jumlah pengikut ini mengakibatkan terjadinya perselisihan antara datu Katumanggungan dan datuk Parapatiah nan Sabatang. Perselisihan kedua orang besar itu tidak dapat didamaikan oleh isi Alam Minangkabau karena keduanya sama sama keras.

Selanjutnya terjadilah peperangan yang akhirnya dimenangkan oleh laras koto piliang karena jumlah mereka lebih banyak dibandingkan pengikut kelarasan bodi caniago.

Pada masa itu berdirilah pusaka perang, siapa yang kalah harus mengisi penampun abu, bila tidak ada yang menang atau seri hanya berjabat tangan.
Dengan kalahnya laras Bodi Chaniago, maka ia mengisi penampun abu kepada laras Koto Piliang dibayar dengan enam ekor kuda oleh datuk datuk lima kaum dua belas koto dan tiga ekor kuda putih dari datuk nagari nan tiga, yaitu oleh datuk Nagari Tanjung Sungayang dan Tanjung Gadang, semua kuda diberi bertali cindai, dibawa kedelapan batur yakni nagari Sungai Tarab.

Menurut cerita orang tua, kekalahan laras Bodi Chaniago membuat datuk Parapatiah Nan Sabatang merasa sakit hati. Beliau berniat hendak membunuh datuk Katumangguangan.

Pada suatu malam beliau menjarah ke dalam nagari Sungai Tarab mencari Datuk Katumangguangan namum tidak bertemu. Dengan perasaan marah dan kecewa itu maka ditikamnya lah satu batu besar dikampung Kurimbang Batu Halang dengan kerisnya yang bernama Ganja Erak sehingga batu itu tembus.

Lalu dihentakkan lagi dengan tongkat besinya sehingga tembus pula. Batu yang ditikam itu sampai kini masih terdapat di tepi sawah di Ulak Kampung Budi yang tidak seberapa jauh dari Kampung Kurimbang Batu Halang. Begitu juga dengan batu yang ditikam di Lima Kaum sampai sekarang masih ada dikampung Balai Batu. Kedua batu dinamakan orang Batu Batikam.

Nagari Pariangan Padang Panjang tidak termasuk kepada nagari yang dibagi menjadi dua kelarasan. Sebab nagari itu adalah nagari tertua dalam Alam Minangkabau. Sehingga masyarakat disana mempunyai satu kelarasan yang diberi nama oleh ninik yang berdua Laras Nan Panjang.

Nagari yang termasuk kedalam laras Nan Panjang adalah sehiliran batang Bengkawas sampai ke Guguk sikaladi Hilir, terus ke bukit tembesi bertupang mudik. Oleh orang orang tua laras Nan Panjang itu disebutkan :
Pisang sikelat-kelat hutan
Pisang tembatu bergetah
Koto piliang dia bukan
Bodi Chaniago dia entah

Setelah Datuk Katumangguangan memenangkan peperangan itu, beliau memberi nama nagari Lima Kaum dua belas koto itu dengan nama Gadjah Gadang Patah Gadingnya, dan nagari Tanjuang Sungayang beliau namakan Tanjung Sungayang nan bertujuh.

Nagari tempat beliau menetap diberi nama Sungai Tarab Darussalam. Pemberian nama nama baru itu sangat menyakitkan hati Datuk Parapatiah Nan Sabatang. Begitulah yang dicceritakan oleh orang orang tua, benar tidaknya wallahu'alam.

Permupakatan antara Datuk Katumangguangan, datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuk Sri Maharaja nan Banaga naga tentang menetapkan hukum setta cupak gantang yang akan dipakai dalam luhak nan tiga laras nan dua adalah sebagai berikut :
Cupak yang dipakai gantang yang dipicahan kepada setiap luhak di dalam laras nan dua adalah cupak yang dua belas tail isisnya, dan gantang yang kurang dua puluh lima tail genap isinya, serta emas yang enam belas emas berat timbangannya, yang se emas empat kupang, sekupang enam kundi merah, hitam bagian tampuknya. Setali tiga uang, yang seuang satu kundi, yang seteang setenganh kundi, itulah yang dipalut kata mupakat ninik yang bertiga tadi.

Meskipun sudah ada kesepakatan selalu ada perbedaan pendapat diantara ninik yang bertiga itu. Misalanya menurut pendapat datuak Katumangguangan setias orang yang terpidana wajib bersumpah baginya.
Namum oleh datuk Parapatiah nan sabatang sumpah itu tidaklah perlu, karena semua itu adalah anak cucu kita juga. Oleh datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga perbedaan itu tidak satupun disetujui maka pada waktu itu tidak tercapai kata sepakat.

Dengan takdir Allah, maka keluarlah seekor ular dari laut. Ular itu menangkap salah seorang anak datuk Katumangguangan dan dibawanya ke banir kayu jati. Maka gemparlah orang pada masa itu, ninik yang bertiga kehilangan akal karena anak telah di lilit ular.

Bertanya Datuk Katumangguangan kepada ninik yang berdua "apa akal kita untuk mengambil anak itu ?"
Menyahut Datuk Parapatiah Nan Sabatang"Habis budi hamba melihat anak kita itu, jika dibunuh ular itu maka niscaya matilah anak kita. Berkatalah datu Sri Maharaja nan Banaga Naga: "Menurut pendapat hamba, kita ambil ranting jawi-jawi, kita lontarkan kepada banir kayu itu, supaya ular itu lari."
Maka dibuat orang lah sebagaimana yang dikatakan Datuk Sri Maharaja nan Banaga naga itu, lalu ranting jawi jawi itu dilontarkan orang sekuat kuatnya kepada banir kayu tempat ular tadi. Ular itu terkejut lalu lari meninggalkan anak Datuk Katumangguangan dengan tiada kurang satu apapun.

Dengan kejadian itu Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang bertambah segan kepada datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga karena ketajaman akalnya.
Ular yang dipalut tidak mati
Pamalu tiada patah
Tanah yang dipalu tiada lembang.

Datuk yang berdua menyadari akibat yang timbul apabila mereka terus berbantah bantahan, karena selalu berbeda pendapat dalam menetapkan suatu hukum yang akan dipakai dalam masyarakat.

Mereka sepakat bahwa hukum itu harus di uji dan dibanding, setiap tandingannya dipakai pada tempatnya masing masing.
Adapun hukum yang akan dipakai di luhak nan tiga, laras nan dua terus ke Batang Rantau, ada tiga perkara :
1. Hukum kitabullah
2. Hukum ijtihat
3. hukum serta saksi

Setelah putus mupakat itu, maka menghadaplah ninik yang bertiga itu kepada Daulat yang dipertuan Agung ninik Sri Maharaja diraja untuk menyatakan hukum itu. Sebelum hukum itu diberlakukan ketiga ninik diminta untuk bersumpah bahwa hukum itu akan dipakai terus turun temurun dan tidak boleh diubah ubah selamanya.

Setelah itu berjalanlah Daulat yang dipertuan Agung keluhak dan laras, kesetiap nagari untuk memasyarakatkan hukum yang sudah ditetapkan itu. Ditanam kayu nan sabatang disetiap nagari untuk tempat mempertaruhkan hukum yang adil, syarak yang dilazimkan dan adat yang kawi.
Yang dimaksud kayu nan sabatang itu adalah orang orang sebagai penghulu atau kadhi atau orang orang besar yang akan menghukum didalam tiap tiap nagari, sebagai wakil raja bila raja berhalangan, atau sebagai raja apabila dinagari itu tidak ada raja.

Dengan demikian penghulu yang dijadikan pucuk atau kepala suku, kepala payung dan kadhi didalam suatu nangari, bukan saja sebagai kepala kaumnya masing masing, tetapi berfungsi juga sebagai raja yang akan memegang kata, memegang hukum yang sudah ditetapkan oleh kerapatan penghulu penghulu.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:37 PM

Alam Minangkabau (IX)

Spoiler for Isi:
XI. Adityawarman Datang ke Pulau Perca
Menurut kata ahli adat, pada masa itu datang orang berlayar dari laut menepat ke nagari Pariangan Padang Panjang, lalu ke galundi nan bersela sela dan bertemu dengan datuk yang bertiga yakni Datuk Katumangguangan, datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga. Orang yang datang itu dimuliakan oleh datuk yang bertiga itu dengan patutnya.

Mereka datang beramai ramai dalam satu kapal lengkap dengan hamba sahayanya (bangsa sekawak), yang menjadi orangsuruhan oleh kepala kapal itu, bernama Adityawarman bergelar Sri Paduka Berhala.

Disaat itu timbul perbantahan diantara ninik yang bertiga mengenai Adityawarman. Datuak Katumangguangan mengatakan bahwa dia adalah Raja, sedangkan menurut Datuk Parapatiah nan Sabatang orang itu bukan raja melainkan manti saja, dan menurut Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga orang itu hanya seorang utusan raja.

Akhirnya datuk yang berdua menurut kepada apa yang dikatakan Datuk Katumangguangan karena beliau berniat akan mengambil orang itu sebagai semendanya, akan suami dari adiknya yang bernama Tuan Putri Reno Mandi.

Rencana Datuk Katumangguangan itu diterima oleh Adityawarman, hingga bulatlah perundingan masa itu dikimpoikanlah Adityawarman dengan Tuan Putri Reno Mandi menurut sepanjang adat yang patut.

Semenjak itu Adityawarman yang bergelar Sri PadukaBerhala itu dianggap oleh orang Pariangan Padang Panjang seperti rajanya. Sungguhpun ia datang dari tanah jawa, tetapi asal usulnya ia datang dari hindustan, keturunan raja juga. Dia dan teman temannya itu berdiam di Pariangan Padang Panjang menurut adat lembaga orang dalam nagari itu, menetap selamanya sebagai bumi putera disana.

Kelak anak cucu Adityawarman yang menjawat waris Datuk Katumangguangan, Datuk Parapatiah nan Sabatang, Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga dan Datuk Suri Diraja.

Menurut Tambo adat alam Minangkabau, asal orang Minangkabau yang telah berkembang biak diseluruh pulau andalas (tanah Alam Minangkabau) itu ialah :
Pertama sekali yang datang adalah Ninik Sri Maharaja Diraja, dengan menbawa orang Kasta Cateri menepat diatas puncak gunung merapi, semasa alun baralun bumi akan bersentak turun. Langit akan bersentak naik. Pada masa baru laut semata mata tanah pulau andalas ini, yang ada baru puncak gunung merapi yang ada tanah daratannya. Keturunan bangsa Cateri ini yang terbilang cerdik pandai. Mereka suka berkelompok sesama kasta Cateri.

Selanjutnya datang bangsa Hindustan yang datang bersama Adityawarman. Kesukaannya berkumpul sehindu hindu atau sesama bangsa hindustan saja. Termasuk juga bangsa sekawak yang ikut dengan rombongan Adityawarman, yang menjadi orang hamba sahaya. Bangsa sekawak ini semenjak datang jadi hamba sahaya orang turun temurun yang disebut juga budak, atau istilah adatnya kemenakan bawah lutut dari tuannya.
Mereka dapat diperjual belikan, dijadikan hadiah dan persembahan kepada orang besar besar, untuk pembayar hutang.

Dikatakan bangsa kasta Cateri tadi adalah asal raja raja dan orang cerdik pandai, dan orang orang bangsa hindustan itu bangsa penghulu besar batuah di dalam tiap tiap nagari. Pada saat itu kedua keturunan itu tidak dapat lagi dibedakan karena sudah lama bercampur baur menjadi satu.
Kedua keturunan ini sudah tarik menarik, semenda menyemenda dan sama sama berpenghulu kedua belah pihak, yang adatnya tiada berkurang sedikit juga.
Kedua bangsa itulah yang dikatakan orang baik turun temurun diseluruh minagkabau ini, yang teratur adat lembaganya oleh ninik yang bertiga.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:40 PM

Alam Minangkabau (X)

Spoiler for Isi:
XII. Amanat Ninik Yang Bertiga

Amanat Datuk Suri Diraja
Berkata Datuk Suri Diraja kepada segenap pwnghulu dan orang orang patut di Pariangan Padang Panjang

Dengarlah ibarat kata hamba oleh segala penghulu dan orang yang mempunyai bicara:
Sutan Kayo di Koto alam
Kayu mati diperumahannya
Jika engkau kaya didalam alam
Akan mati juga kesudahannya

Berbuak kayu di Koto Alam
Buahnya tindih bertindih
Jika engkau bertuah didalam alam
Hanya tuah itu silih berganti

Kayu Pantai di Koto Alam
Pantainya sandi basandi
Jika engkau pandai didalam alam
Patah tumbuh hilang berganti.

Pikirkanlah sungguh sungguh oleh segala yang mempunyai bicara akan ibarat kata hamba itu.

Selanjutnya disaat Datuk Suri Diraja akan meninggal beliau berkata kepada segala raja raja dan segala penghulu dari laras koto piliang dan laras bodi chaniago :
"Adapun kita segala yang disungkup langit, yang ditanahi bumi lalu ke mekah dan medinah sekalian, sedikitpun tiada yang lebih dan kurangnya. Jika dikatakan lebih ada kekurangannya, dikatakan kurang ada kelebihannya, dikatakan tinggi ada rendahnya dikatakan rendah ada tingginya.

Jika dikatakan raja lebih tinggi dan orang besar besar itu ada kelebihannya, terlalu rendah pada bathinnya karena barang siapa yang hendak menjadi raja atau orang besar besar itu, hanya mengisi adat menuang lembaga kepada alam, kepada setiap luhak atau laras atau nagari, itulah rendahnya. Oleh sebab itu janganlah engkau berdengki dengkian, karena malu belum dibagi oleh ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang.

Meskipunsawah ladang, emas perak, segala ternak dan pakaian juga dibagi, demikian pula didalam laras Koto Piliang dan Bodi chaniago, jika tanah sudah berkabung, padi sudah bergantang, jarum sudah terbentuk seorang, hanya malu yang belum dibagi.

Oleh sebab itu janganlah engkau bercerai berai sepeninggal kami. Payung yang mempunyai kerajaan adalah Datuk Katumangguangan. Jika berang laras Bodi Caniago kepada larasnya, mengadunya ke laras Koto Piliang, begitu pula sebaliknya, itulah sumpah ninik moyang berdua, yang tiada lapuk oleh hujan tiada lekang oleh panas, digali dalam digantung tinggi, itulah mulanya jadi persemandanan laras Koto Piliang dan laras Bodi chaniago.

Bagi laras Bodi Chaniago, penghulunya oleh yang sekata, tuahnya karena mupakat, celakanya oleh bersilang, apabiladapat kerja semupakat, jadilah barang kerjanya, barang ke mana mana, maksudnyapun sampai.

Adapun laras Koto Piliang orang beraja: apabila hendak menyusun larasnya berkirim surat kepada Datuk Pamuncak Alam di Sungai Tarab, Datuk Indomo di Saruaso dan tuan Khadi di Padang Ganting diatas daulat yang dipertuan.
Maka barang apa apa kerjanya pun jadi berkat pekerjaannya.

Pamuncak alam di Sungai Tarab
Payung panji di Saruaso
Suluah bendang di Padang Ganting
Cermin cina di Singkarak Saningbakar
Harimau Campo di Batipuah
Tangkai alam di Pariangan Padang Panjang
Pasak kungkung di Sungai Jambu
Raja besar di Bukit Batu Patah

Jika berkata dengan orang yang tahu, lebih bak santan dengan tanguli, dan berkata dengan orang yang tidak tahu, lebih bak antan pencungkil duri. Oleh sebab itu baik baiklah engkau mencari salak silik, baik baiklah engkau mencari kata pusaka, supaya selamat kamu dialam ini.

Amanat datuak Katumangguangan
Disampaikan saat beliau akan meninggal dunia didepan segala penghulu dan orang orang besar dalam laras Koto Piliang:
1. Sekali kali hindarkan perceraian dengan orang laras bodi Chaniago, karena merekalah yang mengisi cukai adat lembaga kepada kita. Merekalah yang mendirikan kerajaan kita, dan kalau dihiasinya akan tempat kita duduk. Payung ubur ubur itu milik orang laras Bodi chaniago, maka dari itu janganlah kamu bercerai sepeninggal kami berdua.
2. baik baiklah engkau memelihara isi alam, isi nagari, segala anak kemenakan, pikir benar sungguh sungguh supaya kalian jangan kena sumpah ninik moyang.
3. berbuatlah seperti lauttiada penuh oleh air, seperti bumi tiada penuh oleh tumbuh tumbuhan. Apabila kalian jadi penghulu dalam laras Koto Piliang janganlah memakan menghabiskan, jangan menebang merebahkan, jangan mencencang memutuskan, karena bicara tiada sekali dapat.
4. Jadikan nabi Allah jadi suri teladan. Kasih kalian kepada isi alam sebagai kasih nabi kepada umatnya. Hati adalah palinggam Allah, teraju palinggam mata, sebab itu peliharalah lidahmu dengan baik, begitu pula kaki dan mulutmu. Jika tertarung panyambahan badan tanggungannya, mulut emas padahannya, tertarung kaki inai padahannya.
5. Memutih padi orangdi Kamang, melekang panas sehari, berbelok belok alang samat, ranting berbelok kepangkalnya.
6. berdentung gegar dilaut, merentang rupanya kilat, kalang kambut rupanya langit, berputar rupanya angin timur.
7. pikir jualah sungguh sungguh, lemak liuk kayu akar kelimpang, itulah patut bicara."

Datuk Katumangguangan meninggal di koto Ranah yakni di Kampung Minangkabau sampai sekarang kuburan beliau masih ada disana dikenal dengan kubur yang dipertuan yang bersusu empat.

Amanat Datuak Parapatiah Nan Sabatang
Pesan ini disampaikan kepada penghulu yang berempat dan yang berlima sekota, serta orang orang cerdik pandai dan orang orang bertuah dalam laras Bodi Caniago, beliau berkata:
"Rasanya umurnya hamba tidak akan lama lagi, hamba hendak pergi ke Solok Selayo, entah kembali entah tidak, oleh sebab itu hendaklah pegang pitaruh hamba oleh segala penghulu dan orang cerdik pandai :
Pertama hendaklah kalian kasih kepada nagari, kepada isi nagari, kepada orang orang kaya, kepada orang orang bertuan, kepada tukang, kepadan segala penghulu, kepada orang yang mempunyai bicara meskipun ia kanak kanak sekalipun.

Apabila dia mempunyai bicara, ikuti olehmu karena ia itulah tangkai nagari dan tangkai alam janganlah kalian ubahi sepeninggal hamba supaya selamat apa apa yang kalian kerjakan.

Malu orang kepada kalian yang mempunyai bicara ada enam perkara :
1. Kuat melawan kepada yang benar.
2. Kuat membelanjakan kepada segala yang baik.
3. Memperbaiki parit pagar keliling nagari
4. Kuat mengusahakan pekerjaan
5. Tahu kepada yang benar
6. Kuat menyelesaikan yang kusut dalam nagari dantahu dengan basa basi.

Apabila terpakai niscaya jadilah kalian panglimabesar dalam nagari, menjadi ikutan segala isi alam dan luhak, dan kalian lah penghulu pilihan dalam alam ini.

Kata empat yang dipakai :
1. Janganlah berdengki dengkian
2. Jangan hina menghinakan
3. Jangan bertolong tolongan kepada maksiat
4. Jangan menghasut orang dalam nagari untuk berkelahi.

Jagalah dua belas perkara yang akan dipakai :
1. Kuat memberi makan isi nagari
2. Benci kepada segala kejahatan
3. Banyak harta
4. Banyak ilmu pengetahuan yang baik
5. Berhati baik kepada orang banyak
6. Giat berusaha
7. menerima umpat puji dengan lapang dada
8. Kasih sayang kepada orang teraniaya
9. Pandai berbicara
10. Pasihat lidah
11. Tahu kepada yang benar
12. Ingat ingat pada kata kias

Setelah beramanat itu Datruak Parapatiah Nan Sabatang berjalan ke negeri Malaka, berdiam dinegeri Sembilan dan beliau meninggal di Negeri Sembilan itu. Sepanjang cerita orang kuburan beliau masih ada disana yang oleh orang Negeri Sembilan dinamakan Kuburan Patih.
Masyarakat di negeri sembilan itu beradat seperti kita orang alam Minangkabau juga, berpusaka kepada kemenangan menurut aturan Ninik Parapatiah nan Sabatang.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

dex 1st May 2010 01:41 PM

Tanah Adat di Minangkabau

Spoiler for Isi:
Tanah adat di Minangkabau seperti diketahui mempunyai kedudukan tersendiri. Tanah adat yang dimiliki oleh suatu kaum, misal kaum a, kaum A ini sebagian kecil dari suatu suku misal lagi suku caniago (kebetulan awak sukunyo caniago). Suku adalah kelompok yang mempunyai hubungan darah sangat dekat menurut garis keturunan keibuan, matrilinial . Susunan organisasi kekeluargaan ini dipimpin oleh seorang laki laki atau beberapa orang laki laki yang disebut dengan mamak. yaitu saudara laki laki dari ibu. Saudara dari laki laki dari nenek disebut angku atau datuk. Kumpulan dari mamak dan datuk inilah yang disebut ninik mamak. Jangan salah sebut nenek mamak, tapi ninik mamak. Jadi ninik disini adalah datuk, artinya laki laki, saudara laki laki dari nenek. Sedangkan nenek adalah perempuan, sebutannya disana adalah anduang. Demikianlah sedikit gambaran mengenai sistem keluarga itu.

Siapa Yang Berkuasa atas Tanah ?

Katanya, yang memiliki tanah itu adalah kaum atau keluarga tadi. Yang berkuasa atas tanah adalah mamak yang tertua. Tetapi dalam kenyataan sehari-hari tanah itu dibawah kekuasaan atau kelihatannya seperti dalam kepemilikan ibu, atau nenek dalam keluarga itu. Jadi pihak perempuanlah sebenarnya yang memiliki tanah atau sawah itu. Tidak ada orang menyebut sawah angku datuak Bandaro, misalnya. Yang ada disebut orang adalah sawah ibu reni.

Jadi inilah yang terlihat dalam masyarakat. Yang dianggap masyarakat pemiliknya adalah si ibu atau si nenek tadi, yang menguasainya mamak atau ninik itu. Tetapi dibaliak itu, yang mengasainya keluar kalau ada urusan apa apa terhadap tanah itu misal urusan dengan kantor kantor pemerintahan, maka ninik atau mamak yang terkemuka dalam kaum tadilah yang berhadapan, dialah yang bertugas menghadapi hal itu. Demikian gambaran struktur organisasi pemilikan dan penguasaan atas tanah pusaka tinggi dalam satu keluarga.

Berdasarkan diatas struktur kepemilikan dan penguasaan atas tanah, menurut hukum adat Minangkabau sebagai berikut:

Tanah ulayat nagari
Adalah hutan ataupun tanah yang berada dalam pengelolaan Nagari. Biasanya tanah ulayat nagari dipergunakan untuk kepentingan yang bersifat umum; seperti untuk Masjid dan sebagainya.

Tanah ulayat suku;
Adalah tanah tanah yang dikelola dan hanya anggota suku inilah yang dapat memperoleh dan menggunakan tanah tersebut.

Tanah pusaka tinggi:
Tanah yang dimiliki oleh kaum, yang merupakan milik bersama dari seluruh anggota kaum dan diperoleh secara turun temurun, yang pengawasannya berada di tangan mamak Kepala Waris Kaum.

Tanah pusaka rendah:
Adalah harta yang diperoleh seseorang atau suatu/sebuah paruik berdasarkan pemberian atau hibah maupun pencariannya, pembelian, "Taruko" dan sebagainya

Paralu juo disampaikan bahwa pada saat kini tanah ulayat Nagari maupun tanah tanah suku di beberapa Nagari sudah tidak ditemui lagi, hal ini disebabkab karena "pudar" dilanda perkembangan penduduk dan perkembangan Sosial Ekonomi

"Kato dahulu, batapeki,
Kato kamudian, kato baurai
Ikrar ba muliakan,
Janji batapeki
Kurang labiah minta maaf.


Sumber: www.cimbuak.net
Penulis: Sajuti Thalib, S.H

dex 1st May 2010 01:45 PM

Latar Belakang Munculnya Adat Dan Nagari Bag.1

Spoiler for Isi:
Saat ini masyarakat baik yang dikampung apalagi yang dirantau memahami adat sebagai sesuatu yang memberatkan. Bila ditanya apa itu adat, memang sulit untuk dijelaskan secara gamblang. Dalam pikirannya, seolah olah apa yang terjadi dan dilihat dalam setiap acara beradat itulah yang disebut adat. Sehingga dengan latar belakang berbeda-beda, masing masing mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda pula.

Hal ini mengakibatkan akan terjadinya bias, terlihat membingungkan dan tidak logis. Kita tidak bisa menyesalkan terjadinya kondisi tersebut. Mereka tidak salah karena pengertian adat itu bisa sempit dan bisa luas.

Kok dibalun sabalun kuku
Kok dikambang saleba alam
Dalam kulik manganduang isi,
Dalam isi ado bapanguba,
Dalam panguba batareh pulo


Dalam Bahasa Indonesia :
Kalo dikecilkan sekecil kuku
Kalo bibesarkan selebar alam
Dalam kulit mengandung isi
Dalam isi ada plasma
Dalam plasma ada nucleus/intisari.

Jadi jawaban apa adat itu tergantung pengertian dan pengetahuannya pada lapisan mana. Sehingga diperlukan sekali bertanya kepada yang tahu, berguru kepada yang pandai.

Latar belakang munculnya adat tidak terlepas dari munculnya nagari, ada empat fase munculnya adat/nagari yaitu :
1. Taratak
2. Dusun
3. Koto
4. Nagari

1. Fase Taratak
Pada saat nenek moyang kita dahulu mulai berpikir untuk menetap pada suatu daerah, saat itulah mulai dicari wilayah yang sesuai dan menjanjikan untuk didiami, semak belukar dibabat, kayu ditebangi, lurah ditimbun, bukit diratakan, air dialirkan kesawah ladang.

Lalu ditanamlah ke dalam tanah tiang-tiang pembatas tanah yang disebut dengan batu lantak dengan syarat dan upacara tertentu. Batu-batu lantak itulah menandakan hak bamiliak harato bapunyo (hak milik harta yang berpunya) yang tidak boleh diganggu gugat. Pekerjaan membersihkan lahan itulah yang disebut dengan malaco.

Sedang kegiatan menetapkan batas-batas pendirian pondok/rumah sekarang masih dipertahankan dengan menyebut maantak tanah. Dengan memanggil dan disaksikan oleh seluruh karib kerabat, pihak yang berbatasan tanah dan yang dituakan di kampung diadakan acara syukuran.

Semakin hari anak kemenakan berkembang biak, daerah wilayah makin diperluas, lalu dibuatlah umpuak/pembagian yang jelas terutama untuk kemenakan perempuan yang disebut dengan ganggam dan baumpuak. Agar tidak terjadi pergeseran sesama mereka, silang jo salisiah, bantah jo kalah, dandam jo kesumat, maka dibuatlah aturan secukupmya.

Yang akan mengatur hak dan kewajiban masing masing, hubungan sesama mereka dengan alam dan Sang Pencipta sehingga tercipta keharmonisan.

Barek samo dipikua ringan samo dijinjiang
tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo dapek angin
nan hiduik samo dipaliharo nan mati samo disalamaikkan
.

Dalam bahasa Indonesia
Berat sama dipikul ringan sama dijinjing
Tertelungkup sama makan tanah terlentang sama dapat angin
Yang hidup dipelihara yang mati sama diselamatkan.

Proses hingga terlahirnya masyarakat aman dan damai itulah yang disebut dengan taratak, sehingga wilayahnya disebut dengan taratak. Taratak taratua, tertata dengan rapi.

2. Fase Dusun
Sudah menjadi kebiasaan nenek moyang kita untuk berpindah-pindah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin produktif dan prospektif wilayah yang dihuni semakin lama mereka menetap. Tentu saja semakin lama anggota keluarga semakin bertambah.

Dalam perkembangannya, kadang-kadang terjadi perjumpaan dan kesesuaian untuk juga bisa melaco didekat atau diluar wilayah yang telah menjadi taratak. Dengan semakin bertambahnya warga atau kaum wilayah tersebut, maka disusunlah aturan atau norma yang menjelaskan hak dan kewajiban masing-masing kaum yang menghuni wilayah tersebut.

batanggang samo lapa
Takuruang samo mati
Batenggang bakeh nan sampik
Duduak surang basampik sampik
Duduak basamo balapang lapang
Kok lai samo dimakan
Kok indak samo dicari
Lamak diawak katuju diurang
Awak dapek urang buliah
Sairiang samo sajalan saayun salangkah
Sakik samo diubek
Sanang samo dirasokan.


Dalam bahasa Indonesia
Begadang sama lapar
Terkurung sama mati
Bertenggang kepada yang sempit
Duduk sendiri bersempit sempit
Duduk bersama berlapang lapang
Jika ada sama dimakan
Jika tidak ada sama dicari
Enak sama kita enak juga bagi orang lain
Kita dapat orangpun dapat.
Seiring sama sejalan seayun selangkah
Sakit sama diobati
Senang sama dirasakan.

Proses penyunsunan kesatuan wilayah, masyarakat/beberapa kaum dengan segala aturan dan norma yang disepakati itulah yang disebut dengan dusun.


All times are GMT +7. The time now is 09:45 AM.