| FAQ |
| Calendar |
|
#531
|
||||
|
||||
![]() Pasar Asia kembali Ceria Ditopang Data Pabrik China Perlahan-lahan sedikit perbaikan terjadi pada indeks aktivitas pabrik Cina sehingga memberikan dorongan terhadap kepercayaan pasar pada sedsi perdagangan hari Kamis (1 Oktober), sehingga mempengarahui penguatan pada pasar ekuitas dan mata uang Asia untuk hari kedua berturut-turut. Namun, buruknya kepercayaan bisnis Jepang masih menyoroti akan perjuangan pemulihan pemimpin Negara di kawasan asia yang akan kembali berupaya memberi kekuatan ekonomi dalam menghadapi perlambatan pertumbuhan perekonomian di China dan juga kenaikan suku bunga AS. Penguatan ini muncul setelah pasar saham global mengalami kuartal terburuknya sejak 2011, dengan valuasi senilai triliunan hilang sejak Cina mendevaluasi mata uang yuan-nya pada bulan Agustus, sehingga memicu kekhawatiran akan dampak perjuangan China di seluruh dunia. Cina pada pagi hari merilis data yang menunjukkan Indeks aktivitas Pembelian Manajer manufaktur pada bulan September sedikit lebih baik dari bulan sebelumnya, meskipun itu masih mendekati level terendah tiga tahun. Sementara sektor penting masih menunjukkan kontraksi, para pelaku pasar sedikit bergembira dengan fakta sector tersebut telah stabil. Dalam satu sisi kekhawatiran terhadap kondisi buruk China menyusul serangkaian data yang lemah - dari manufaktur dan investasi hingga penjualan dan perdagangan ritel - meskipun lima pemotongan suku bunga sejak November lalu, masih terjadi. Devaluasi Agustus juga memicu kekhawatiran kemampuan Beijing untuk mengendalikan krisis. Pemain regional diberi petunjuk positif dari New York, di mana tiga indeks utama kembali mencatat penguatan dari penurunan besar baru-baru ini. Di pasar Asia indeks Tokyo ditutup menguat 1,92 persen, Sydney naik 1,80 persen, Seoul menguat 0,84 persen namun masih lebih tinggi Singapura dengan kenaikan 0,39 persen. Hong Kong dan Shanghai masih tutup libur nasional. |
|
#532
|
||||
|
||||
![]() Pinjaman individu bersih Inggris Terus Membaik di September Pinjaman bersih terhadap individu dan rumah tangga di Inggris naik melampaui perkiaan pada bulan September, hal ini mencerminkan bahwa semakin kuatnya kebutuhan akan kredit di negera Ratu Elizabeth tersebut. Data resmi Kamis menunjukkan. Dalam Bank of England total kredit bersih kepada individu meningkat sebesar ₤4,9 miliar bulan lalu, di atas perkiraan ₤4,4 miliar dan naik dari ₤4,7 miliar pada bulan Agustus. Pinjaman bersih dengan jamin naik ₤3,6 miliar pada bulan September, lampaui ekspektasi untuk peningkatan ₤3,5 miliar, setelah naik ₤3,4 miliar di bulan sebelumnya. Kredit bersih konsumen, termasuk pinjaman pribadi, hingga pinjaman kartu kredit, meningkat sebesar ₤1,261 miliar, dibandingkan dengan perkiraan ₤1,1 miliar dan dibandingkan dengan ₤1,263 miliar pada bulan Agustus. Sementara itu, Money Supply M4 menurun berdasarkan perhitungan secara musiman 1,0% pada bulan September, lebih buruk dari ekspektasi untuk penurunan 0,2% menyusul penurunan 0,5% pada bulan Agustus. Laporan ini juga menunjukkan bahwa jumlah persetujuan akhir hipotek turun menjadi 68.870 bulan lalu dari 70.660 di bulan Agustus. Para ekonom memperkirakan persetujuan hipotek naik menjadi 72.450 pada bulan September. |
|
#533
|
||||
|
||||
![]() Bursa Asia melemah, yen jadi favorit Bursa Asia diperdagangkan melemah hari ini setelah data survei sektor pabrikan China memicu kecemasan akan ekonomi global. Sementara itu dolar tergelincir terhadap yen karena sentimen ambil resiko menurun. Indeks acuan Asia Pacific diluar Jepang melemah 0,6%. Saham China drop 0,7% dan Hang Seng melemah 1%. Berita pasar juga dihiasi oleh penangkapan dua orang eksekutif lembaga investasi Hong Kong dimana mereka diduga mengambil keuntungan dengan cara yang tidak jujur. Indeks PMI menurut Caixin di Oktober menunjukkan aktiviutas sektor pabrikan China turun delapan bulan berturut-turut memicu kecemasan ekonomi masih kehilangan momentum dikwartal keempat meski serangkaian kebijakan stimulus sudah digelontorkan. Saham Australia melemah 1,4% dan Nikkei melemah 1,7%. Dolar melemah 0,2% menjadi 120,435 yen kaena anjloknya saham Tokyo menyebabkan menurunnya selera ambil resiko dan investor memilih beralih ke Yen. Perhatian pasar untuk minggu ini beralih ke data-data AS termasuk non-farm payroll dimana data ini sangat berpengaruh kepada keputusan suku bunga the Fed. Euro menguat 0,3% menjadi $1,1028. Aussie menguat pada $0,7140. Dari sektor komoditas, minyak mentah AS turun 0,5% pada $46,36 per barrel. Emas sentuh level terendahnya pada $1.134,60 per ounce dipengaruhi oleh kecemasan the Fed akan menaikkan suku bunga. |
|
#534
|
||||
|
||||
![]() Pernyataan Fed Topang Dollar di Level Atas 3 Bulan Dollar masih berada di dekat level atas 3 bulan terhadap mata uang utama pasca pernyataan pejabat Federal Reserve indikasikan bahwa suku bunga kemungkina akan naik bulan depan. Indeks AS saat ini terpantau di sekitar level 98.00, tidak jauh dari level puncak tadi malam 98.24. Sebelumnya dollar mencatat penguatan di sesi Rabu setelah ketua Fed Janet Yellen nyatakan performa ekonomi AS cukup bagus, dan menyatakan jika data ekonomi AS mendatang cukup menopang, bukan tidak mungkin suku bunga akan dinaikkan. Secara terpisah, Presiden Fed New York William Dudley menyatakan sejalan dengan pernyataan Yellen apa yang akan tewrjadi nanti di Desember. Penguatan dolar di sesi Rabyu tak lepas dari dorongan data yang menunjukkan tingkat serapan tenaga kerja sektor swasta bukukan petumbuhan yang snagat kuat di bulan Oktober. Sementara di laporan terpisah, defisit perdagangan AS turun ke level terendahnya di tujuh bulan pada September sementara ekspor berhasil rebound, dan aktifitas bisnis swasta tumbuh dengan laju melampaui ekspektasi di bulan lalu. Sebagai catatan, Laporan ADP menunjukkan serapan tenaga kerja swasta AS bertambah sebanyak 182.000 lapangan kerja di bulan lalu, meski relatif sedikit di atas ekspektasi dengan pertumbuhan 180.000 lapangan kerja di bulan lalu. |
|
#535
|
||||
|
||||
![]() Data Perdagangan dan Pabrik Pertegas Penurunan Ekonomi Inggris Buruknya data outpur industri dan perdagangan Inggris semakin mempertegas bagaimana perekonomian global mengalami penurunan dan telah memakan korban yakni perekonomian Inggris sekalipun beberapa ekonomi di Inggris tidaklah seburuk yang disangkakan. Sektor industri Inggris mencatat kenaikan, meski hanya 0,2% di September, berdasarkan laporan dari biro. Dan memang mengalami penurunan pertumbuhan jika dibanidngkan dengan hasil di Agustus dengan pertumbuhan 0,9%. Sementara defisit perdagangan Inggris menyempit menjadi GBP1,4 milyar atau setara dengan $2,1 miliar di bulan yang sama, GBP1.6 miliar di bawah gap yang tercatat pada Agustus, dan masih cukup lebar untuk memperkecil pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga, ONS menyebutkan. Meski demikian, data defisit yang masih lebih baik dari perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Wall Street Journal itu, justru semakin menguatkan perekonomian Inggris melambat menjelang akhir tahun bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi Cina yang cukup lesu yang juga terpengaruh aktifitas global. Ekonomi Inggris hanya tumbuh 0,5% antara Juli dan September, lebih rendah dari laju pertumbuhan di kuartal kedua yakni sebesar 0,7%. Bank of England masih berharap banyak pertumbuhan ekonomi akan terjadi revisi pemulihan hingga 0,6%, namun harapan itu terhantam data di Jumat yang relative membuyarkan harapan. |
|
#536
|
||||
|
||||
![]() Ekonomi Jerman Tergerus Penurunan Ekspor Impor Kementrian perekonomian Jerman melaporkan terjadi penurunan perekonomian di negara tersebut pada kuartal ketiga yang ditengarai oleh merosotnya sektor ‘Eksim’ dan aktifitas industri, sementara baik sector belanja privat maupun sector jasa sedikit mengalami pertumbuhan yang ditopang oleh sektor lapangan kerja yang cukup baik. Dalam laporan bulanan kementrian Ekonomi Jerman mengatakan pertumbuhan masih cukup solid. "Sektor industri saat ini hanya sedang mengalami ketidakpastian," ungkap kementrian menjelang rilisan data PDB Jerman hari Jumat pekan ini. Ditambahkan "pelemahan aktifitas sektor industri ini berlangsung sepanjang kuartal ketiga." Perlambatan ekonomi Cina dan resesi Brazil dan Russia turut berperan dalam penurunan ekspor. Sektor ekspor turun 0.6% dari kuartal kedua, secara nominal, sementara impor mencatat pertumbuhan sebesar 1%. "Kondisi ini menyebabkan harga impor merosot lebih tajam dari harga ekspor di kuartal ketiga, ini lebih disebabkan oleh penurunan harga komoditas, sehingga ini dapat diperkirakan nilai bersih perdagangan mmeperlambat pertumbuhan ekonomi," ungkap kemetrian Ekonomian. Tapi konsumen Jerman tetap optimis dalam membaiknya pasar tenaga kerja dan penurunan biaya energi dan bahan bakar rumah tangga. Jika migran juga akan membantu merangsang permintaan domestik, tetapi hanya untuk " perpanjangan yang terbatas," kata kementerian itu. Kantor Statistik Federal akan mempublikasikan kilasan perkiraan PDB untuk kuartal ketiga pada pukul 0700 pagi waktu GMT Jumat. Ekonom melalui analis The Wall Street Journal mengharapkan sedikit penurunan tingkat pertumbuhan kuartalan Jerman menjadi 0,3% dari 0,4% pada kuartal kedua. Untuk zona euro secara keseluruhan, ekonom memperkirakan pertumbuhan kuartalan 0,4%, tingkat yang sama seperti pada kuartal kedua. |
|
#537
|
||||
|
||||
![]() Perdagangan Komoditi Seret Bursa Asia Bursa asia akhiri perdagangan akhir pekan dengan penurunan tajam setelah harga komoditi anjlok ke level terendah multi tahun karena kekhawatiran yang muncul akibat semakin memburuknya pertumbuhan global akan mempengaruhi persediaan komoditi, sementara pejabat the Federal terus menggaungkan kemungkinan kenaikan suku bunga bulan. Indeks bursa Asia-Pasifik MSCI, tidak termasuk Jepang, merosot 1,5 persen, akibat turunnya saham di sektor komoditas. Dan indeks ini mencatat penurunan mingguan sebesar 3,2 persen. Indeks saham Jepang, Nikkei, ditutup melemah 0,5 persen, menutup tren perdagangan dengan catatan positif dalam tujuh sesi berturut-turut, namun masih mencatat kenaikan mingguan di pekan ini sebesar 1,7 persen. Sementara indeks Komposit Shanghai tergelincir 1,1 persen, dan akan mengakhir pekan ini dengan datar saja. Tembaga merosot ke harga terendahnya dalam enam tahun $4,795.50 per ton, di bawah harga yang diperdagangkan sepanjang Agustus. Dan diperkirakan akan mengalami penurunan 3,8 persen di pekan ini, dan merupakan penurunan mingguan ke-empatnya. Harga minyak turun hampir di level terendahnya dalam enam setengah tahun yang di sentuh pada Agustus lalu, akibat ketakuan pasar keuangan terhadap perekonomian Cina. Minyak mentah AS diperdagangkan tidak jauh dari level terendahnya dalam dua setengah bulan di $41,54 per barel karena terus meningkatnya persediaan minyak mentah AS, dan diperkirakan akan mengalami penurunan 6,3 persen untuk pekan ini. Sementara minyak Brent turun 3,9 persen pada sesi Kamis di harga $44,04 per barel, dan diperdagangkan mendekati level terendah di 6 setengah tahun $42,23. Dan terpantau saat ini diperdagangkan di harga $44,05, dan menuju ke penurunan mingguan 7,1 persen. Hanya emaslah yang mampu menguat ke $1.082,06 dri level terendhanya di enam tahun $1.074,30 per ons, meneruskan penutunannya sepanjang bulan ini menjadi 5,3 persen. |
|
#538
|
||||
|
||||
![]() Bayang-Bayang Dolar Redupkan Kilau Emas Emas mencatat penurunan pada sesi Senin, dibayangi oleh tekanan dari dolar sehingga juga mempengaruhi perdagangan logam lainnya. Emas kontrak Desember (GCZ5) turun $6,50, atau 0,6%, to $1.069,60 per ons. Penurunan ini terjadi ditengah ekspektasi jika Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuannya di Desember, yang terus mendongkrak greenback. Sementara indeks AS mencatat kenaikan 0,19%, terus menuju ke level 100 untuk pertyama kali sejak Maret. Petunjuk stimulus tambahan zona euro dari Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi akhir pekan lalu berperan dalam meningkatkan dolar dan mata uang lainnya terhadap euro. Penguatan dolar ini berakibat timbulnya tekanan pada perdagangan logam lainnya. Perak kontrak Desember turun 16 sen, atau 1,1%, di harga $13,94 pada hari Senin di ounce. Perdagangan Comex lainnya, tembaga kontrak Desember turun 4 sen, atau 1,8%, di harga $2,02 per pon, menyentuh level terendah baru enam tahun. |
|
#539
|
||||
|
||||
![]() Kemelut harga komoditas akan berakhir? Merosotnya harga komoditas beberapa tahun terakhir berdampak serius terhadap perekonomian global, beberapa perusahaan yang bergerak disektor tersebut terpaksa menurunkan bahkan menghentikan operasinya yang berkontribusi kepada efek domino, perlahan namun pasti. Banyak yang berharap kondisi ini akan selesai dengan cepat tapi sepertinya badai belum akan reda. Sekedar informasi, anjloknya harga komoditas pertama kali terjadi di 2011 dan jika mengacu kepada rata-rata kemerosotan yang terjadi lima dekade lalu maka pelemahan masih akan terjadi setidaknya dua tahun kedepan. Meski begitu seperti dikutip dari marketwatch, pendapat berbeda diajukan oleh ekonom Julian Jessop di Capital Economics bahwa harga-harga komoditas sudah jatuh terlalu jauh dan jika pelemahan ekonomi China sudah selesai maka akhir dari pelemahan akan segera berakhir. Dalam analisisnya Jessop menggunakan data IMF pada tahun 1960 tentang harga berbagai komoditas. Data itu menunjukkan rata-rata penurunan berlangsung selama tujuh tahun. Selama masa penurunan, haga komoditas drop 40%. Dalam rangka meng'counter" laporan IMF tersebut, Jessop memberi catatan bahwa asumsi pelemahan akan berlangsung setidaknya dua tahun kedepan bisa jadi salah, utamanya jika mengukur harga minyak mentah dan tembaga. Disamping itu dia mengatakan bahwa harga komoditas sudah jatuh terlalu jauh. Kurun 12 bulan terakhir adalah masa paling parah bagi tembaga dan minyak mentah dimana masing-masing produk tersebut anjlok lebih dari 55% dibawah level puncaknya di 2011, sementara minyak sudah jatuh hampir dua pertiga dari level tertingginya. Penurunan tersebut dianggap cukup untuk memicu kembalinya proses supply and demand untuk mempertahankan pemulihan. Yang menjadi titik tolak argumentasi Jessop adalah sangat tidak masuk akal jika memperkirakan harga komoditas dengan harga rata-ratanya dimasa lalu. Kunci dari pulihnya harga komoditas adalah China. Satu-satunya alasan kenapa negara ini berperan penting adalah mereka merupakan konsumen terbesar hampir semua komoditas yang sempat memicu "supercycle" yang mendorong harga komoditas meroket dalam kurun 2004-2011 dan akhirnya menemui titik jenuh, dimana suplai berlebih dan permintaan menurun. Meskipun beredar kecemasan ekonomi China akan terjun bebas dan devaluasi yuan mulai menampakkan efeknya, Jessop cukup yakin ekonomi terbesar kedua dunia itu mulai berbelok menurut data survei sektor manufaktur dan harapan akan dukungan penuh pemerintah yang bisa memicu rebound ditahun depan. Jika prediksi tersebut benar maka harga tembaga khususnya, perlahan akan mulai pulih. |
|
#540
|
||||
|
||||
![]() Pemerintah Jepang: Titik Lemah Perekonomian Masih Terlihat Pemerintah Jepang mengakui ada beberapa titik-titik yang lemah dalam perekonomian, tapi meski demikian, pemerintah Jepang masih mempertahankan penilaian secara keseluruhan, seraya mengatakan perekonomian pulih moderat. Dalam laporan ekonomi bulanan untuk November, yang diterbitkan Rabu, pemerintah menurunkan sudut pandangnya atas investasi bisnis dan mengatakan melihat titik pelemahan di beberapa sektor ekonomi seperti produksi dan ekspor. Namun, pemerintah meningkatkan pandangannya di sektor impor bulan ini. Penilaian November menyusul penurunan peringkat efektif perekonomian secara keseluruhan selama dua bulan berturut-turut. Data menunjukkan awal bulan ini ekonomi Jepang menyusut 0,8% pada tingkat tahunan pada periode Juli-September dari kuartal sebelumnya, menyusul kontraksi 0,7% pada kuartal kedua. Pemerintah Jepang dalam laporan tersebut menyebutkan telah merincikan rencana untuk mengintegrasikan perjanjian perdagangan pan-Pasifik menjadi upaya revitalisasi ekonomi dan akan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi tantangan struktural seperti menurunnya tingkat kelahiran dan penuaan populasi. |
![]() |
|
|
Terkait
|
||||
| Thread | Forum | |||
| Aussie Petik Keuntungan Pasca Positifnya Data Ekonomi Tiongkok | Forex | |||
| [MasterForex] Data ekonomi dan Fundamental oleh MasterForex | Forex | |||
| [ForexStars] Data Ekonomi dan Fundamental | Forex | |||
| JUAL (update) Tiket Ekonomi Semarang Jakarta tanggal 26 Agustus 2012 | Tour & Travel | |||
| JUAL WTB Fundamental of Thermodynamic, Fundamental of Heat and Mass Transfer Text Book | Buku Pelajaran | |||