| FAQ |
| Calendar |
|
|||||||
| Lounge Berita atau artikel yang unik, aneh, dan menambah wawasan semuanya ada disini dan bisa dishare disini. |
![]() |
|
|
Thread Tools |
|
#41
|
||||
|
||||
|
BERMANFAATLAH
Semestinya kita ini bermanfaat dari pucuk rambut hingga ke ujung kaki. Seperti pohon kelapa yang seluruh tubuhnya bisa kita gunakan: daun, batang, buah, akar, hingga sabut dan tempurungnya, tak ada yang terbuang percuma. Demikian juga pohon pisang yang tak satu pun bagiannya yang tak bisa dipakai untuk sesuatu. Juga berbagai tumbuh-tumbuhan lain, mulai dari pohon tinggi menjulang yang tumbuh di hutan-hutan hingga semak dan ilalang yang bertebaran di lereng gunung dan padang rumput. Semuanya memberikan manfaat. Semuanya berguna. Tak ada yang sia-sia. Lalu mengapa banyak orang merasa hidupnya yang hanya sekelebat ini tersia-sia? Anugerah yang ada dalam diri manusia sudah begitu berharga: panca indera, anggota tubuh, akal pikiran, hingga sebongkah hati nurani. Semuanya tentu bukan untuk hal percuma. Itulah sebabnya, seorang bijak pernah berkata, "Bila manusia yang tak memberikan manfaat bagi sesama, maka apa lagi yang diharapkan darinya?"
|
|
#42
|
||||
|
||||
|
ALAM YANG HUMORIS
Pernahkah kita alami hal-hal ini: Ketika hujan deras mengguyur, kita lupa membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. Namun, ketika kita siapkan jas hujan, justru panas terik datang membakar hari. Sebalkah anda? Atau mungkin kita pernah begitu terburu-buru mengejar waktu, tetapi lalu lintas tersendat-sendat seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita ingin melaju tenang, pengendara belakang malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah anda? Uh! Mengapa keadaan seringkali tak bersahabat? Mereka seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan "ketidakmujuran"? Sadari saja, itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri sendiri, dan bergurau secara nyata. Kejengkelan itu muncul dari karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Kita hanya mementingkan diri sendiri. Kita lupa bahwa jika toh keinginan tak tercapai, tak ada salahnya kita sambut dengan senyum - meski kecut, tak apa.
|
|
#43
|
||||
|
||||
|
HAL-HAL KECIL SEBELUM PULANG KANTOR
Sebelum anda meninggalkan kantor seusai jam kerja yang melelahkan, mari sempatkan memeriksa hal-hal kecil berikut. Apakah air minum anda masih tersisa? Bila ya, teguklah habis, atau anda bisa menyiramkannya pada tanaman ruangan yang juga butuh kesegaran. Setiap tetes air tentulah berguna. Jadi jangan sia-siakan. Periksa pula, apakah lampu, pendingin ruangan dan komputer anda masih menyala? Bila ya, segera matikan. Meski energi tak pernah lenyap, namun bukan alasan untuk boros. Luangkan juga waktu anda untuk menengok, apakah masih ada rekan-rekan anda yang bekerja hingga larut? Bila ya, alangkah manisnya bila anda sapa sejenak. Meski anda tak membantu menyelesaikan pekerjaannya, namun kehangatan selalu meringankan beban dan mengobati kelelahan. Di balik hal-hal kecil seringkali terselip butir-butir mutiara makna yang tak ternilai. Terlebih lagi, bila itu kita lakukan atas dasar kepedulian dan kehangatan pribadi. Berikan perhatian tulus dan penuh kasih pada apa-apa yang ada di sekitar kita. Kerasnya persaingan usaha tak boleh mengikis kelembutan jiwa.
|
|
#44
|
||||
|
||||
|
Kebebasan Harus Berarti Peduli
Bila anda anggap anda tak punya beban, bolehlah anda bicara apa saja. Mengkritik siapa saja. Atau, berpendapat dimana saja. Anda mungkin mengira diri anda bebas dan tak perlu takut pada apa pun. Namun, pertanyaannya ialah: benarkan anda tidak memiliki beban meski hanya secuil? Setiap orang dianugerahi bahu. Itu berarti, setiap orang sedang memikul beban, tak peduli apakah beban itu kasat mata atau terawang saja. Bahu adalah tempat tugas, tanggung jawab dan kepedulian bertengger. Jadi bila anda merasa tanpa beban lalu bebas begitu saja, maka jangan-jangan anda sedang merasa tidak bertanggung jawab. Atau bahkan sedang tidak peduli! Kebebasan berbicara bukan alasan untuk tidak bertanggung jawab. Kebebasan bertindak bukan alasan untuk tidak peduli. Mari, sebelum berbicara, sebelum bertindak, kita tanyakan apakah kita benar-benar telah paham tanggungjawab kita. Dan, Apakah kita telah benar-benar peduli.
|
|
#45
|
||||
|
||||
|
TUGAS KITA BERUPAYA, BUKAN MENJAMIN HASIL
Dua orang pengayuh becak mencari penumpang di depan sebuah mall. Kemarin, yang seorang rajin menawarkan becak pada pengunjung yang lalu lalang dan mendapat banyak pemasukan. Sedangkan yang lain, seharian hanya berteduh dari terik, harus puas dengan uang tak seberapa. Tetapi, esok hari, situasi berbalik. Ia yang rajin menjajakan becaknya nyaris tak membawa uang pulang. Malah yang duduk-duduk di bangku becaknya dihampiri penumpang. Mengapa ada kenyataan seperti ini? Ada orang rajin bekerja lalu menerima imbalan yang menyenangkan. Kita sebut itu "usaha". Ada orang seolah tak melakukan apa, malah mendapat hasil tiada kepalang. Kita bilang itu "keberuntungan". Bagi yang tak menemukan jawaban, hanya bergumam, "Yah, itulah bola nasib." Sesungguhnya hampir-hampir kita tak berkuasa atas diri kita sendiri. Kita tak mampu memerintahkan segores luka untuk sembuh semau kita. Apalagi kuasa penuh atas roda kehidupan ini. Karenanya, orang bijak tak henti bertutur agar kita tetap bekerja sekuat tenaga, jangan terlepas dari doa dan harapan, namun setelah itu serahkan semuanya pada kehendak Penguasa Semesta; berserah diri sepenuhnya.
|
|
#46
|
||||
|
||||
|
BERKEPEMIMPINAN PADA NURANI
Kepada siapakah kita mendapatkan kepemimpinan yang mengayomi semua orang? Phew!, betapa sulitnya menjawab pertanyaan ini. Bila kita baca koran, dengar radio atau nonton tv, yang kita temukan adalah kebuntuan besar. Ketika orang merujuk si A, di saat sama ia mencela si B. Sedangkan, ketika orang lain menunjuk si C, ia juga menikam si D. Bahkan di kalangan mereka yang dianggap pemimpin pun tak bersepakat tentang banyak hal besar. Zaman apakah ini? Bagaimana lokomotif bisa berjalan bila tak ada masinis yang menunjuk dengan telunjuk agungnya? Mari kita coba runtuhkan semua perhitungan matematika politik. Kita lebih membutuhkan pelajaran perdamaian. Berhentilah sejenak menunjuk sana-sini. Inilah zaman dimana kita semestinya belajar dan diajar menemukan kepemimpinan sejati di halaman rumah sendiri - ia bernama nurani. Memang pemimpin ini tak bersuara lantang karena ia tak terletak di bibir. Ia pun tak berlagak garang, karena ia tak mengandalkan kepalan. Ia berbisik lembut, sejuk, terang dan damai. Karena ia terletak di hati; ia bergelar hati nurani. Mari kita angkat suara hati nurani sebagai pemimpin agung kita di masa yang penuh kerancuan ini. Karena hanya ia yang pantas dijunjung di segala zaman.
|
|
#47
|
||||
|
||||
|
MEMANG TAK MUDAH MENJADI PEMIMPIN
Amati sekeliling anda. Mungkin akan anda jumpai seseorang atau beberapa rang yang menyandang beban di pundak mereka. Bukan hanya beban mereka sendiri, melainkan juga beban orang lain. Bahkan beban anda juga. Beban itu teramat berat. Namun seringkali mereka seolah berdiri tanpa teman dan menanggung tanggung jawab itu sendiri. Beban itu semakin berat karena banyak orang menganggap bahwa mereka sepantasnya melakukan itu sendiri. Tahukah anda siapakah mereka? Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang anda angkat. Anda meletakkan harapan pada mereka. Anda meminta mereka bekerja dan menunjukkan jalan. Sementara anda mengekor di belakang. Semestinya anda turut mengangkat cangkul, menggemburkan bumi dan menebar benih kemakmuran. Orang-orang yang tak tahu diri hanya bisa berteriak bahwa jalan itu salah, tanpa mau menyingsingkan lengan baju membantu membersihkan semak belukar. Memang tak mudah menjadi pemimpin, apalagi seorang yang sejati. Karena itu hanya segelintir saja yang bersedia berdiri di depan. Sedangkan para pecundang bersembunyi di barisan terbelakang. Namun berlari paling kencang ketika masa panen tiba. Dimana pun pecundang tak memiliki setetespun rasa malu.
|
|
#48
|
||||
|
||||
|
TIADA KEGAGALAN TANPA UPAYA
Seyogyanya anda tidak mudah kesal pada sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Terkadang orang telah berusaha sebaik mungkin, namun tetap saja ada kesalahan di sana-sini. Atau malah gagal. Kekesalan mudah melanda bila anda hanya melihat kesalahan yang terjadi, bukan upaya di balik itu. Sedangkan penghargaan diberikan karena anda mengerti kesulitan yang harus dilalui oleh mereka, meski akhirnya gagal juga. Bahkan kegagalan pun terujud karena upaya. Bila toh anda kesal, tentukan batas waktu kapan kekesalan itu harus berakhir. Kekesalan selama satu minggu semestinya ditamat-riwayatkan pada akhir pekan. Masa libur adalah masa untuk memutuskan rantai kejengahan anda. Kekesalan sepanjang hari seharusnya dipudarkan oleh istirahat semalam. Itulah cara menghargai anugerah tidur nyenyak anda. Bila anda membiarkan kesal kembali mendikte sesaat setelah anda bangun di pagi hari, maka percumalah tidur malam anda lalui. Sia-sialah anda menerima hangatnya mentari. Tak ada kerja yang menarik bila anda memulainya dengan kekesalan.
|
|
#49
|
||||
|
||||
|
PANDANGLAH DENGAN TATAPAN SEDERHANA
Benarkah kita sedang mengalami masa yang sungguh-sungguh buruk? Sedemikian buruknya sehingga hampir setiap saat kita dengar berita mencekam, riuh, seolah tak ada lagi rasa damai? Tidak! Hendaknya anda tidak mudah terjebak pada apa kata orang lain. Berusahalah lebih mempercayai pandangan anda sendiri. Pandanglah sekitar anda dengan pandangan yang sederhana; pandangan mata dan pandangan hati. Lihatlah, betapa di tengah suasana yang kata orang tiada menentu ini, anda masih temukan pancaran kebahagiaan dari mereka yang membangun keluarga baru, pertanda harapan hidup sejahtera tiada jua padam; tangan-tangan pengemis tak urung menengadah, pertanda harapan mereka pada masih adanya orang-orang yang memiliki belas kasih; pedagang kaki lima tetap ulet menggelar usahanya, pertanda roda kehidupan belumlah berhenti; anak-anak kecil dengan riang berlarian ke sekolah, pertanda cahaya kegembiraan tak memudar dari muka bumi. Terserah pada anda, apakah anda lebih suka melihat kemurungan atau harapan. Apakah anda terhenti pada keriuhan atau kedamaian. Jalin-jemalin ini memang tak mudah dimengerti. Namun, bila anda berkenan mengembalikan pandangan anda yang sederhana itu, anda masih temukan jutaan kebaikan.
|
|
#50
|
||||
|
||||
|
MULAILAH DARI TETANGGA TERDEKAT
Cukup banyak orang yang mampu bersikap sempurna dalam lingkungan kerjanya, namun seolah kehilangan kepribadian itu saat berada di lingkungan rumah mereka. Bukan hanya itu, mudah sekali bagi mereka mengundang decak kagum orang lain atas prestasi profesinya, tetapi gagal meraih simpati tetangga terdekatnya. Mengapa? Bukankah kebaikan tetaplah kebaikan dimana pun ia berada. Bila "sikap baik" tergantung pada tempat dan waktu, maka "kebaikan" itu hanyalah topeng penutup keburukan yang lain. Ajaran moral para bijak tua itu sederhana saja, bersikaplah paripurna. Kapan pun. Di mana pun. Bahkan meski anda hanya seorang diri. Pepatah mengatakan, jangan tebarkan aroma masakanmu ke tetangga sebelah bila kau tak berkenan membaginya pada mereka. Jangan anda banggakan kehebatanmu di seberang pulau sana, bila tetangga sebelah rumah tak sekali pun merasakan kehebatan itu. Mulailah dari yang dekat. Mulailah dari tetangga kita sendiri.
|
![]() |
|
|
Terkait
|
||||
| Thread | Forum | |||
| Kumpulan Motivasi Pak Mario | Jokes | |||
| [LOUNGE] Kumpulan Cerita MOTIVASI, UPDATE TERUS ++ | Lounge | |||
| Kumpulan motivasi mario teguh | Lounge | |||
| Kumpulan CERITA & MOTIVASI | Curhat | |||
| Kumpulan Motivasi Untuk Semua | Business | |||