| FAQ |
| Calendar |
|
#31
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 29
TAK HARAP KEMBALI Dalam dunia yang condong menjadi makin sekuler dan materialis ini, kita diajarkan dan terkondisi untuk hidup dengan nilai "take and give". Setiap tindakan memberi tak lepas dari motif perolehan, dalam satu dan lain bentuk. Secara material, mungkin ini relatif ada benarnya, namun tak jarang nilai ini diterapkan juga dalam penjalinan hubungan kasih di antara lawan jenis, antarkawan, bahkan dalam doa-doa sekalipun. Secara spiritual, penerapan nilai "take and give" bisa menjerumuskan kita ke dalam "materialisme spiritual", yang mana hal ini hanya akan menggembungkan keakuan saja, alih-alih mereduksinya�penderitaan pun terus membayang. Tindakan "memberi" atau "bermurah hati" merupakan salah satu pondasi spiritual, di samping moralitas. Untuk membangun pondasi spiritual yang kokoh, seyogianya kita memberi tanpa pamrih, tanpa pilih kasih, tanpa embel-embel atau imbal-imbal. Secara umum, ada dua motivasi yang benar dalam memberi: (1) untuk menolong pihak lain yang membutuhkan; (2) untuk melatih mengikis keakuan. Sama halnya dengan "proaktivitas", tindakan memberi yang benar adalah suatu proses "Inside-Out", bukan "Outside-In". Inside-Out saja, satu arah. Penggalan syair sebuah lagu anak-anak klasik di bawah ini merupakan sebuah inspirasi luar biasa dalam tindakan memberi (terima kasih kepada penggubahnya): Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa� hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia� Berikut adalah sebuah kisah nyata tentang dua kakak-beradik yang melukiskan keluhuran prinsip "hanya memberi, tak harap kembali". Seorang anak perempuan berusia 8 tahun menderita sakit karena kelangkaan jenis darah tertentu; keluarganya mencari donor di mana-mana, dan mendapati bahwa hanya adik laki-lakinya yang berusia 6 tahun yang bisa menyelamatkan hidup sang kakak. Dokter dan ibunya meminta kepada anak laki-laki itu apakah dia bersedia memberikan darahnya untuk menyelamatkan kakaknya. Anak laki-laki itu meminta waktu untuk memikirkannya. Dua hari kemudian, dia berkata kepada ibunya, "Mama, sekarang saya sudah siap." Mereka pun bersama-sama pergi ke rumah sakit. Dokter membaringkan anak laki-laki itu di sebelah kakaknya dan mengambil darah dari lengannya. Setelah diperoleh sebotol darah, dokter mengalirkan darah sang adik ke tubuh sang kakak yang terbaring lemah. Beberapa menit kemudian, sang kakak berangsur-angsur menjadi makin segar. Menyaksikan hal itu, sang adik memanggil dokter dan menanyakan sesuatu sambil berbisik agar tidak terdengar oleh kakaknya, "Dokter, apa sekarang saya akan langsung mati?" Anak itu rupanya tidak paham bahwa jika dia memberikan darah untuk menolong orang lain, itu hanya sebagian dari darahnya saja dan tidak akan membuatnya mati. Itulah sebabnya dia minta waktu untuk mempertimbangkan apakah dia bersedia mati demi menyelamatkan hidup kakaknya. Be happy! |
|
#32
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 30
MEMEGANG KEBENARAN Pada zaman dahulu, ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelita dan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anak laki-laki semata wayangnya. Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah. Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang pun tak luput dari sasaran. Mereka bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak. Betapa terperanjatnya sang pedagang ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang. Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar. Di tengah kepedihan dan keputusasaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu di sekitar rumahnya, di dekat tumpukan abu itu tergolek boneka kayu kesayangan anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung tangisnya� ia menggelepar-gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke wajahnya. Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut�. Semenjak itu, pria tersebut selalu membawa-bawa abu anaknya dalam sebuah tas. Sampai setahun setelah itu ia suka mengucilkan diri, tenggelam dalam tangis sampai berjam-jam lamanya; kadang orang melihat ia tertawa sendiri, mungkin kala itu ia teringat masa-masa bahagia bersama keluarganya. Ia terus larut dalam kesedihan tak terperikan�. Musim berlalu� sang anak akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia bergegas pulang ke kampung halamannya. Sesampai di kediaman ayahnya, ia mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, "Ayah, ini aku pulang!" Sang ayah yang waktu itu lagi tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu. Ia berpikir, "Ini pasti ulah anak-anak nakal yang suka meledekku itu!" "Pergi! Jangan main-main!" Mendengar sahutan itu, sang anak kembali berteriak, "Ayah! Ini aku, anakmu! Dari dalam rumah terdengar lagi, "Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!" Sang anak menggedor pintu dan berteriak lebih lantang, "Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!" Mereka saling bersahutan� sang ayah terus bersikeras tidak membuka pintu. Sang anak pun akhirnya putus asa dan berlalu dari rumah itu�. Sang Guru menutup cerita itu dan menyampaikan, "Sebagian orang begitu erat memegang apa yang mereka 'ANGGAP' sebagai kebenaran. Ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka." Be happy! |
|
#33
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 31
KOPOR ORANG LAIN Anda menemukan sebuah kopor di teras stasiun kereta. Mungkinkah kopor itu sengaja dibuang? Mungkin kopor itu begitu berharga bagi pemiliknya? Mungkin pemiliknya ada di dalam kereta yang barusan berangkat? Anda memeriksa isi kopor itu, ternyata banyak dokumen berharga dan bahkan sejumlah uang yang cukup besar. Karena Anda sendiri tidak membawa banyak bawaan, Anda dapat membawa kopor itu dan menyerahkannya di kantor kereta di stasiun berikutnya. Anda putuskan untuk membawa kopor itu, karena Anda tidak yakin dengan kejujuran orang lain yang menemukannya. Anda memilih untuk menanggung beban menemukan pemilik kopor tersebut. Anda merasa bersalah jika tidak melakukannya. Kala Anda menarik kopor itu ke dalam kereta yang penuh sesak, ternyata kopor yang cukup besar dan berat itu menyita banyak tempat. Bagaimanapun juga, Anda merasa kopor itu begitu penting, karena itu barang orang lain yang ada pada Anda. Ketika Anda pergi ke toilet pun, Anda merasa perlu membawanya serta. Lama-kelamaan, karena makin merepotkan, kopor itu jadi terasa semakin berat. Mulai timbul pemikiran untuk menyerah saja, meninggalkan saja kopor itu, masa bodoh dengan "nasib" kopor itu, toh sebenarnya itu bukan tanggung jawab Anda. Namun, jika bukan Anda, lalu siapa? Bukankah tindakan kebajikan ini sudah separuh jalan? Ketika Anda kembali berjuang membawa kopor itu, terbersit pemikiran bahwa jangan-jangan kopor itu memang sengaja dibuang oleh pemiliknya. Akankah sang pemilik menghargai dan memberi hadiah? Pikiran jadi makin tidak keruan. Tiba-tiba, Anda terhenyak, seperti halnya dengan apa pun yang Anda pilih untuk lakukan, Anda tidak akan pernah bisa yakin 100% akan hasilnya. Kenyataannya, hidup Anda pada hari ini sama sekali berbeda dengan apa yang Anda bayangkan tahun lalu. Anda hanya bisa yakin dengan satu hal, yaitu niat Anda, apa yang mendasari Anda untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dalam kasus kopor itu, semata-mata welas asihlah yang mendorong Anda untuk mengambil alih beban orang lain. Anda sadar bahwa tindakan Anda tidak sepenuhnya tanpa syarat, karena Anda berharap setidaknya mendapat ucapan terima kasih atau ungkapan penghargaan lainnya. Hasrat yang bercampur dengan ketidakpastian ini membuat kopor itu terasa makin berat saja. Sikap "pembedaan", bahwa Anda membawa barang "orang lain", membuat Anda gerah dan tidak rela penuh, sekalipun Anda merasa wajib membawanya. Jika Anda sanggup mengikhlasinya, kopor itu jadi terasa ringan. Anda hanya perlu berdiri di sepatu sang pemilik dan membayangkan keresahannya. Apakah Anda tega untuk tidak melakukan suatu pertolongan yang Anda sanggup lakukan? Anda menyadari bahwa karena Anda telah memilih untuk membawanya, Anda harus membawanya dengan bahagia. Hasil akhirnya bagaimana tidak terlalu penting. Anda bisa memilih untuk menikmati kebajikan tindakan Anda dalam proses, saat ini juga, alih-alih memusatkan pikiran akan hasil. Itulah sebabnya, tindakan baik atau jasa diukur dengan niat luhur kita, bukan hasilnya. Berhubung satu-satunya hal yang bisa kita yakini adalah niat baik kita, kebajikan welas asih membawa sukacita tersendiri dan berbuah seketika. Jika kita bisa memetik buahnya saat ini juga, kenapa menunda kebahagiaan kita? Semakin kita mendalami hal ini, semakin siaplah kita untuk mengambil tugas menolong orang lain. Tindakan menolong tanpa syarat tidak akan menjadi beban, malahan jadi sumber kebahagiaan. Dalam melatih kemurahan hati, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima. Pengorbanan sejati adalah pengorbanan yang tidak terasa seperti pengorbanan. Jika kita memilih untuk menempuh jalan menolong pihak lain, sesungguhnya kita memilih jalan yang membawa pada kepuasaan dan kebahagiaan yang lebih besar. Seperti diujarkan oleh Sang Guru: Segala kebahagiaan di dunia ini, berasal dari keinginan untuk membahagiakan pihak lain. Segala penderitaan di dunia ini, berasal dari keinginan untuk membahagiakan diri sendiri saja. Jika kita hanya peduli pada bawaan sendiri saja, yang melambangkan kepemilikan duniawi kita, tidak saja kebahagiaan kita tidak bertumbuh, namun justru akan surut karena kebahagiaan itu jadi terbatas. Namun, dalam tindakan membahagiakan pihak lain, kita menjadi berbahagia dengan ikut berbahagia atas kebahagiaan pihak lain dan menuai buah kemurahan hati kita. Bermurah hati kepada pihak lain, dengan demikian juga berarti bermurah hati kepada diri sendiri. Mana yang Anda inginkan? Sebuah dunia di mana orang-orang tidak peduli terhadap bawaan yang tertinggal atau sebuah dunia di mana orang-orangnya peduli terhadap kebahagiaan orang lain? Dunia macam apa yang tengah Anda ciptakan dengan niat dan tindakan Anda saat ini? Be happy! |
|
#34
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 32
KAN SEKARANG SUDAH BISA Di sebuah kampung nelayan, pada suatu pagi, seorang profesor bisnis yang sedang berlibur bertemu dengan seorang nelayan yang tengah membereskan hasil tangkapannya. Sang profesor tidak tahan untuk tidak menyapanya, "Hai, kenapa kamu selesai bekerja sepagi ini?" "Saya sudah menangkap cukup banyak ikan Pak," jawab nelayan itu, "cukup untuk dimakan sekeluarga dan masih ada sisa untuk dijual." "Lalu, setelah ini kamu mau apa?" tanya profesor itu lagi. Jawab sang nelayan, "Habis ini saya mau makan siang dengan istri dan anak-anak saya, setelah itu tidur siang sebentar, lalu saya akan bermain dengan anak-anak. Setelah makan malam, saya akan ke warung, bersenda gurau sambil bermain gitar bersama teman-teman." "Dengarkan kawan," ujar sang profesor, "jika kamu tetap melaut sampai sore, kamu bisa mendapat dua kali lipat hasil tangkapan. Kamu bisa menjual ikan lebih banyak, menyimpan uangnya, dan setelah sembilan bulan kamu akan mampu membeli perahu baru yang lebih besar. Lalu, kamu akan bisa menangkap ikan empat kali lebih banyak. Coba pikir, berapa banyak uang yang bakal kamu dapat!" Lanjut profesor, "Dalam satu dua tahun kamu akan bisa membeli satu kapal lagi, dan kamu bisa menggaji banyak orang. Jika kamu mengikuti konsep bisnis ini, dalam lima tahun kamu akan menjadi juragan armada nelayan yang besar. Coba bayangkan!" "Kalau sudah sebesar itu, sebaiknya kamu memindah kantormu ke ibu kota. Beberapa tahun kemudian perusahaanmu bisa 'go public', kamu bisa jadi investor mayoritas. Dijamin, kamu akan jadi jutawan besar! Percayalah! Aku ini guru besar di sekolah bisnis terkenal, aku ini ahlinya hal-hal beginian!" Dengan takjub, nelayan itu mendengarkan penuturan profesor yang penuh semangat itu. Ketika profesor selesai menjelaskan, sang nelayan bertanya, "Tapi Pak Profesor, apa yang bisa saya perbuat dengan uang sebanyak itu?" Ups! Anehnya sang profesor belum memikirkan konsep bisnisnya sejauh itu. Cepat-cepat dia mereka-reka apa yang seseorang bisa lakukan dengan uang sebanyak itu. "Kawan! Kalau kamu jadi jutawan, kamu bisa pensiun. Ya! Pensiun dini seumur hidup! Kamu bisa membeli villa mungil di desa pantai yang indah seperti ini, dan membeli sebuah perahu untuk berwisata laut pada pagi hari. Kamu bisa makan bersama keluargamu setiap hari, bersantai-santai tanpa khawatir apa pun. Kamu punya banyak waktu bersama anak-anakmu, dan setelah makan malam kamu bisa main gitar dengan teman-temanmu di warung. Yeaaa, dengan uang sebanyak itu, kamu bisa pensiun dan hidupmu jadi mudah! "Tapi, Pak Profesor, kan sekarang ini saya sudah bisa begitu�," lirih sang nelayan dengan lugunya. Kenapa kita percaya bahwa kita harus bekerja begitu keras dan menjadi kaya raya terlebih dahulu, baru kita bisa merasa berkecukupan? Apakah ada "tujuan yang lebih mulia" dari apa yang Anda lakoni saat ini? Apakah itu benar tujuan mulia atau sekadar dalih rasa takut untuk menjadi apa adanya? Untuk merasa berkecukupan, apa sekarang ini tidak bisa? Be happy! |
|
#35
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 33
JADILAH PELITA Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu. *** Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun�. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing. *** Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak� secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya�," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan. *** Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka." *** Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!). Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf. Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat. Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan. Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi. Be happy! |
|
#36
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 34
SUARA YANG PALING INDAH Seorang tua yang tak berpendidikan tengah mengunjungi suatu kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan yang terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern. Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar di dusunnya yang sunyi. Dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut. Dia mengikuti sumber suara sumbang itu, dan dia tiba di sebuah ruangan di belakang sebuah rumah, di mana seorang anak kecil sedang belajar bermain biola. "Ngiiik! Ngoook!" berasal dari nada sumbang biola tersebut. Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan "biola", dia memutuskan untuk tidak akan pernah mau lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut. Hari berikutnya, di bagian lain kota, orang tua ini mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi yang begitu indah di lembah gunungnya, dia pun mencoba mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah, di mana seorang wanita tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya. Seketika, si orang tua ini menyadari kekeliruannya. Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik. Dengan kebijaksanaan polosnya, orang tua itu berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun, apa pun kepercayaan mereka. Namun ini bukanlah akhir dari cerita. Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut Anda, suara apakah itu? Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada musim semi, melebihi indahnya suara angin musim gugur di sebuah hutan, melebihi merdunya suara burung-burung pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan hening pegunungan sunyi pada suatu malam musim salju. Suara apakah gerangan yang telah menggerakkan hati si orang tua melebihi apa pun itu? Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni. Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, pertama, setiap anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing; dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni. "Mungkin ini sama dengan agama," pikir si orang tua. "Marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan. Marilah kita semua menjadi maestro cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan penganut agama lain dalam sebuah harmoni!" Itulah suara yang paling indah. Be happy! |
|
#37
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 35
APA YANG KITA SOMBONGKAN? Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya." Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita. Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas. Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan? Be happy! |
|
#38
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 36
MANUSIA KEPITING Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya kecil, namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu ditangkap pada malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom, tanpa diikat. Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus, lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang menarik, tentu saja kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat. Namun, seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri. Jurusnya hanya satu, si penangkap tahu betul sifat para kepiting itu. Jika ada seekor kepiting yang nyaris meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Bila ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun. Begitu seterusnya, sampai akhirnya tak seekor kepiting pun yang berhasil kabur dari baskom. Keesokan harinya, sang penangkap tinggal merebus mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu. Begitu pula dalam kehidupan ini, tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu. Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita meraih keberhasilan, kita malahan berprasangka buruk: jangan-jangan keberhasilan itu diraihnya dengan jalan yang tidak benar. Apalagi dalam bisnis atau bidang lain yang mengandung unsur kompetisi. Sifat iri, tak mau kalah, atau munafik, akan semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari, tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri. Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya. Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bahkan bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti: kita menang dalam kehidupan ini. Gelagat seseorang adalah "kepiting" antara lain: 1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi) dan menjadikannya sebagai acuan dalam bertindak. 2. Hobi membicarakan kelemahan orang lain, tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk merintangi orang lain yang akan sukses dan melupakan usaha mensukseskan dirinya dengan cara yang positif. Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom, namun yaah... dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya�. Coba renungkan, berapa waktu yang kita pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi "pemenang" dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama. Seandainya kita bisa menggunakan waktu tersebut untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri yang positif, niscaya kita akan berkembang menjadi pribadi yang lebih sehat dan dewasa. Be happy! |
|
#39
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 37
SATU-SATUNYA KESALAHAN IBU Dahulu kala di negeri Tirai Bambu, hiduplah seorang gadis bernama Lili. Ia baru menikah dan tinggal di pondok mertua indah. Dalam waktu singkat, Lili tahu bahwa ia sangat tidak cocok tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Perangai mereka sangat bertentangan; mereka tak pernah berhenti beradu mulut dan bertengkar. Sampai suatu hari, Lili benar-benar sudah tidak tahan lagi terhadap sifat dan perlakuan ibu mertuanya. Lili bertekad untuk melakukan sesuatu. Lili pergi menemui Sang Guru, yang lihai dalam obat-obatan. Ia menceritakan situasinya dan minta dibuatkan ramuan racun untuk mengakhiri hidup sang ibu mertua! Sang Guru berpikir keras sejenak. Ia melihat bahwa Lili sudah benar-benar gelap mata. Jika ia tidak "membantu" Lili, pasti Lili akan mencari-cari cara lain untuk mewujudkan niatnya. Akhirnya Sang Guru berkata, "Lili, saya akan membantumu untuk mengenyahkan ibu mertuamu. Saya akan memberimu ramuan yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun di dalam tubuh ibu mertuamu. Setiap hari, sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan ini ke dalamnya. Lalu, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, turuti saja semua kemauannya, dan perlakukan dia seperti ibumu sendiri." Lili menerima ramuan tersebut dan pulang untuk melancarkan aksinya. Setiap hari Lili menyuguhi mertuanya dengan makanan yang enak-enak, yang sudah "dibumbuinya". Ia menerapkan baik-baik petunjuk Sang Guru untuk mencegah kecurigaan, maka ia mulai belajar mengendalikan amarahnya, tidak menentang kemauan ibu mertuanya, dan memperlakukannya seperti ibu sendiri. Setelah beberapa bulan, suasana di rumah itu berubah sepenuhnya. Lili menjadi mampu mengendalikan amarahnya sedemikian rupa sehingga ia tidak pernah lagi kesal dalam meladeni ibu mertuanya. Sikap ibu mertua terhadap Lili pun berubah dan mulai mengasihi Lili seperti putrinya sendiri. Ia menceritakan kepada para kerabat bahwa Lili adalah menantu yang sangat baik. Lili dan ibu mertuanya memperlakukan satu sama lain seperti layaknya ibu dan anak yang sesungguhnya. Lili memutuskan pergi menjumpai Sang Guru dan memohon pertolongannya sekali lagi, "Guru, tolong saya untuk menangkal racun yang telah saya berikan kepada ibu mertua saya. Ia telah berubah menjadi mertua yang begitu baik. Saya mencintainya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia mati." Sang Guru tersenyum sembari berujar, "Lili, yang saya berikan itu hanyalah ramuan penguat badan untuk kesehatan beliau. Satu-satunya racun adalah apa yang terdapat di dalam pikiranmu sendiri, tetapi racun itu pun kini telah tertangkal habis oleh cinta kasihmu. Pulanglah." Ibu, adalah seorang yang mengagumkan. Orang lain bisa saja mencintaimu, namun hanya ibulah yang memahamimu. Ia melahirkanmu, ia merawatmu, ia bekerja untukmu, ia mengasihimu, ia memaklumimu, ia memaafkan segala yang kau perbuat. Satu-satunya "kesalahan" yang ia perbuat, adalah wafat meninggalkanmu. Seperti halnya seorang ibu akan melindungi anak tunggalnya, sekalipun dengan mengorbankan hidupnya sendiri, demikianlah, seyogianya kita mengembangkan cinta kasih nirbatas terhadap: segenap makhluk. |
|
#40
|
|||
|
|||
|
Learn and Earn
Chuan and Jing joined a wholesale company together just after graduation. Both worked very hard. After several years, the boss promoted Jing to sales executive but Chuan remained a sales rep. One day Chuan could not take it anymore, tender resignation to the boss and complained the boss did not value hard working staff, but only promoted those who flattered him. The boss knew that Chuan worked very hard for the years, but in order to help Chuan realise the difference between him and Jing, the boss asked Chuan to do the following. Go and find out anyone selling water melon in the market? Chuan returned and said yes. The boss asked how much per kg? Chuan went back to the market to ask and returned to inform boss the per kg. Boss told Chuan, I will ask Jing the same question? Jing went, returned and said, boss, only one person selling water melon. per kg, 0 for 10 kg, he has inventory of 340 melons. On the table 58 melons, every melon weighs about 15 kg, bought from the South two days ago, they are fresh and red, good quality. Chuan was very impressed and realised the difference between himself and Jing. He decided not to resign but to learn from Jing. --------------------- My dear friends, a more successful person is more observant, think more and understand in depth. For the same matter, a more successful person sees several years ahead, while you see only tomorrow. The difference between a year and a day is 365 times, how could you win? Think! how far have you seen ahead in your life? How thoughtful in depth are you? |
![]() |
|
|
Terkait
|
||||
| Thread | Forum | |||
| [ASK] Guru Spiritual di BSD Taman tekno | Misteri, Horror, Supranatural | |||
| [ask]Khodam guru spiritual | Misteri, Horror, Supranatural | |||
| Dukun aka paranormal = guru spiritual??? | Misteri, Horror, Supranatural | |||
| Jasa perjalanan spiritual,Supranatural&ESQ dari TIM KSP (KURSI SEUKEUT PANINGAL) | Misteri, Horror, Supranatural | |||
| Preache Moss: Perjalanan Spiritual Seorang Komedian Muslim AS | Islam | |||