| FAQ |
| Calendar |
|
|||||||
| Misteri, Horror, Supranatural Yuk baca cerita horor, lihat dan share penampakan mahluk gaib disini. Boleh juga membuka konsultasi ramalan,tarot dan sejenisnya |
![]() |
|
|
Thread Tools |
|
#21
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 19
BESOK KAN BISA Hiduplah seorang anak dalam keluarga yang harmonis. Seperti umumnya anak-anak yang lain, dia menganggap kebersamaan dengan keluarganya adalah sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengusili adik-kakaknya, membuat masalah bagi orang lain. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berpikir, "Tidak apa-apa. Besok kan bisa." Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat gembira. Semua begitu saja dijalaninya, dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi dia tidak mengambil inisiatif untuk berbaikan dengan temannya, "Biar saja. Besok kan bisa." Ketika dia menginjak dewasa, dia masih sering melihat teman lamanya, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Itu bukan masalah karena dia masih punya banyak teman lain. Dia dan teman-teman barunya melakukan segala sesuatu bersama-sama, bermain, mengerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua adalah teman-temannya yang paling baik. Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia begitu sibuk mengejar karier agar dipromosikan dalam waktu sesingkat mungkin. Tentu, dia rindu juga untuk bertemu teman-temannya, namun dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Ini tidak terlalu mengganggunya karena dia punya banyak teman sekerja yang selalu mau diajak keluar. Dia selalu berkata, "Ah, belum sempat. Besok kan bisa." Waktu berlalu. Dia bertemu seorang cewek yang jelita dan baik hati. Cewek ini kemudian bersedia dipinangnya. Setelah menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Karena kesibukannya, dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, ataupun mengingat hari ulang tahun istrinya dan hari pernikahan mereka. Itu tidak jadi masalah karena istrinya penuh pengertian dan tidak pernah menyalahkannya. Kadang-kadang dia merasa bersalah juga dan ingin mengatakan kepada istrinya, "Aku sayang kamu," tapi dia tidak pernah melakukannya. Pikirnya, "Nggak buru-buru kok. Besok kan bisa." Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tetapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya dan tidak pernah benar-benar melewatkan waktu dengan ayahnya. Suatu hari, kemalangan datang, istrinya tewas dalam kecelakaan. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum ia sempat berkata, "Aku sayang kamu," istrinya keburu meninggal. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya sepeninggal sang istri. Dia baru sadar bahwa anak-anaknya enggan berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarga masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang pada masa lalunya jarang meluangkan waktunya untuk mereka. Saat mulai renta, dia pindah ke rumah jompo yang terbaik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan emasnya. Sejak itu hanya ada orang-orang jompo lain dan perawat di sekitarnya. Kini dia merasa sangat kesepian, suatu perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya! Duuuh... Saat dia akan meninggal, dia memanggil seorang perawat dan mengatakan, "Andai saja aku menyadari semua ini dari dulu...." Perlahan ia menghembuskan napas terakhirnya, dia meninggal dengan linangan air mata di pipinya. Ehm..., waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus berlari dan berlari, sebelum benar-benar menyadari bahwa Anda ternyata telah berlari terlalu jauh. Jika Anda pernah bertengkar, segeralah berbaikan. Jika Anda kangen dengan suara teman, angkat telepon segera. Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika Anda merasa ingin bilang kepada seseorang bahwa Anda menyayanginya, jangan tunda sampai besok. Jika Anda selalu berpikir bahwa "besok kan bisa", besok itu tak akan pernah tiba! Sampai suatu hari Anda sadari bahwa mungkin segala sesuatunya sudah terlambat. Be Happy! |
|
#22
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 20
IKUTI SUARA HATIMU Betapa hancurnya hati seorang prajurit Perang Dunia I ketika dia mendengar berita bahwa sahabat karibnya gugur dalam medan pertempuran yang jauh dari markas. Dia meminta izin dari letnannya untuk diperbolehkan menjemput tubuh sahabatnya yang gugur itu. "Kamu boleh saja pergi," kata Sang Letnan, "tetapi usahamu itu tidak sepadan. Kawanmu sudah mati dan kamu malah bisa ikut mati di sana." Tanpa mempedulikan nasihat atasannya, prajurit muda itu tetap saja pergi. Dengan perjuangan yang luar biasa, akhirnya dia berhasil menemukan sahabatnya. Sembari memanggul mayat sang sahabat, ia pulang ke markas. Di tengah jalan, ternyata prajurit muda itu sendiri tertembak dan terluka parah. Di markas, Sang Letnan memeriksa keadaan prajurit yang terluka parah itu, dengan sendu Sang Letnan berkata, "Sudah kubilang, usahamu akan percuma saja. Sahabatmu sudah mati dan… kamu juga akan mati...." "Tidak percuma, Pak.…" lirih prajurit muda itu. "Apa maksudmu 'tidak percuma'?" tanya Sang Letnan. "Sahabatmu sudah mati!" "Tidak percuma, Pak," jawab prajurit muda itu. "Ketika saya menemukannya, dia masih hidup… dan dia sempat berkata, 'Bud, aku tahu... kamu pasti datang….'" Dalam hidup ini, suatu hal dianggap bernilai atau tidak bernilai sangatlah tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Pupuklah terus kebijaksanaan, himpunlah keberanian, dan ikuti suara hati Anda; dengan demikian, Anda tidak akan pernah menyesal kemudian. Be Happy! |
|
#23
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 21
PANTULAN BULAN BUKAN BULAN Hiduplah segerombolan monyet yang tinggal di sebuah hutan. Pada suatu hari, ketika mereka sedang bersenang-senang, mereka melihat pantulan bulan di dalam sumur, serta-merta pemimpin monyet berteriak panik: "Teman-teman, bulan jatuh ke dalam sumur! Sekarang kita tidak punya bulan lagi. Kita harus mengambil bulan itu!" Monyet-monyet lainnya mengiyakan: "Ayo kita ambil bulaaan!" Jadilah segerombolan monyet tersebut bersidang membahas cara mengambil bulan yang "jatuh". Akhirnya pemimpin monyet mencetuskan ide "cemerlang": "Kita semua harus membentuk rantai, dengan begitu kita bisa mengambil bulan itu dari sumur." Begitulah, mereka lalu membentuk rantai; monyet pertama bergelayut pada dahan pohon, monyet kedua berpegangan pada ekor monyet pertama, begitu seterusnya dengan monyet-monyet berikutnya. Ketika mereka sudah bergelayutan satu pada yang lainnya, tak dinyana-nyana dahan pohon itu patah, tak kuat menahan beban. Seluruh pasukan monyet itu pun jatuh ke dalam sumur, mati mengenaskan. Sang Guru yang kebetulan melihat kejadian itu berujar: "Jika para dungu memiliki pemimpin yang sama dungunya, mereka semua akan hancur seperti pasukan monyet yang ingin mengambil pantulan bulan dari dalam sumur." Bergaul dengan para dungu hanya membawa kehancuran, bergaul dengan para bijak akan membawa kebahagiaan. Lebih baik menjalani kehidupan ini sendiri alih-alih bergaul dengan para dungu yang membawa petaka. Banyak yang mengatakan bahwa monyet mirip dengan manusia (atau malah manusialah yang mirip dengan monyet?), tapi yang jelas manusia juga mudah terjebak dalam khayalan dan angan-angannya sendiri, sampai akhirnya manusia benar-benar kehilangan arah dan tujuan sebenarnya hidup ini; menganggap pantulan bulan sebagai bulan. Be Happy! |
|
#24
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 22
BARU BAHAGIA KALAU… Kita menganut kepercayaan bahwa hidup akan jadi lebih baik kalau kita menikah, kalau kita punya anak, kalau anak kita laki-laki atau perempuan. Kemudian kita tidak sabar ketika anak-anak tidak cepat besar dan kita merasa bahwa beban kita masih panjang. Setelah itu kita kesal karena anak-anak kita yang sudah remaja mulai membangkang terhadap kita. Kita merasa bahwa kita seharusnya bisa lebih berbahagia kalau mereka penurut atau mereka segera dewasa. Kita berkata kepada diri sendiri bahwa kebahagiaan kita baru akan lengkap kalau kita punya mobil yang lebih bagus, kalau kita punya rumah yang lebih lapang, kalau kita bisa berlibur ke mana-mana, kalau kita sudah pensiun, dan seterusnya. Padahal… pada kenyataannya, kebahagiaan tidak terletak di luar sana, setidaknya ketika kebutuhan dasar sudah tercukupi. Kebahagiaan ada di dalam batin kita sendiri. Tidak ada saat yang lebih baik daripada saat ini juga untuk berbahagia. Kalau tidak sekarang, lalu kapan? Kebahagiaan adalah suatu cara kita merespon berbagai stimulus eksternal. Kabar baiknya: kita BISA MEMILIH respon kita sendiri, tak pandang apa pun jenis stimulusnya. Inilah kekuatan pikiran yang paling dahsyat. Kita bisa menentukan dan memilih sendiri untuk berbahagia atau untuk tidak berbahagia. Stephen R. Covey, pakar konsep "7 Habits", mengatakan: "The most proactive thing we can do is to BE HAPPY." Para bijak mengatakan: "There is NO WAY to happiness, since happiness is THE WAY itself." Tidak ada jalan menuju kebahagiaan, karena kebahagiaan adalah sang jalan itu sendiri. Jadi, kebahagiaan adalah suatu cara kita menyikapi perjalanan hidup, suatu proses, bukan tujuan akhir, bukan kalau ini dan itu sudah tercapai… Jadi, tunggu apa lagi, barukah kita akan berbahagia: kalau cicilan sudah lunas? kalau sudah punya mobil? kalau turun 10 kg? kalau naik 10 kg? kalau sudah menikah? kalau sudah cerai? kalau sudah punya anak? kalau anak sudah besar? kalau sudah pensiun? kalau hujan? kalau panas? kalau panjang umur? kalau sudah mati? Pepatah lain mengatakan: "Happiness is not about TO HAVE, but about TO BE." Ya, banyak benarnya juga. Amankan kebutuhan dasar, dan selebihnya… just be happy! Be Happy! |
|
#25
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 23
SIAPA YANG TAK MATI? Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya. Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar: "Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada." "Itu saja syaratnya?" tanya wanita itu dengan keheranan. "Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati." Dengan "semangat 45", wanita itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat entusias, "Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!" Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: "Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?" "Oh, boleh saja," jawab tuan rumah. "Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?" "Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu." Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya. Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati bersedia memberikan biji lada untuknya, tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya. "Ayah kami barusan wafat…," "Kakek kami sudah meninggal…," "Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu…," dan sebagainya. Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas dari penderitaan. Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia mengucap lirih, "Guru, saya akan menguburkan anak saya." Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut. Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya? Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati? Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas. Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan dua hal: (1) kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan (2) bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang bersumber dari dalam diri kita sendiri. Be Happy! |
|
#26
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 24
TIDAK BISA MENYENANGKAN SEMUA Suatu hari, seorang ayah dan anaknya membawa seekor keledai ke pasar. Dalam perjalanan, beberapa orang melihat mereka dan berkata, "Lihat orang-orang tolol itu, kenapa mereka tidak menunggangi saja keledai mereka?" Sang ayah mendengar cemooh ini dan menyuruh anaknya menunggang keledainya, sedangkan dia sendiri berjalan di samping. Seorang wanita tua yang melihat pemandangan ini berkata, "Apa jadinya dunia ini? Anak itu enak-enakan menaiki keledai sementara ayahnya yang sudah tua disuruh berjalan kaki!" Mendengar itu, si anak langsung turun dan meminta ayahnya saja yang menunggang keledainya. Selanjutnya mereka berpapasan dengan seorang wanita muda yang mengatakan, "Kenapa kalian berdua tidak naiki saja keledainya?" Mereka mengikuti nasihat wanita muda itu dan bersama-sama mereka menunggangi keledai mereka. Tak berapa lama, sekelompok orang mengecam mereka, "Oh, betapa malangnya keledai itu! Dia harus mengangkut kedua orang itu sekaligus. Betapa kejamnya mereka!" Ketika mendengar hal itu, ayah-anak itu sudah sangat jemu mendengar kritikan demi kritikan. Mereka memutuskan untuk turun dan menggendong keledai mereka saja untuk membungkam omongan orang-orang. Kejadian ini membuat orang-orang menertawakan mereka, "Lihat, manusia keledai menggendong keledai�" Ketika Anda berusaha menyenangkan semua orang, pada akhirnya Anda tidak akan menyenangkan siapa pun, malahan bisa-bisa Anda hanya menyusahkan diri Anda sendiri. Sepanjang apa yang Anda perbuat tidak merugikan pihak lain dan didasarkan pada etika moral, tidak ada yang salah dengan Anda. Tentu boleh-boleh saja Anda mendengarkan berbagai pendapat dan masukan, tetapi pada akhirnya, Anda harus mendengarkan suara hati Anda sendiri dan mengambil keputusan yang terbaik bagi diri Anda sendiri. Tak seorang pun yang mengetahui diri Anda lebih daripada diri Anda sendiri. Be Happy! |
|
#27
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 25
IBLIS BELAS KASIH Sang Guru ditanya, "Bagaimana caranya menumbuhkan belas kasih yang tak terbatas kepada semua makhluk?" Jawabnya, "Kembangkan ketidak-berpihakan." Ini artinya, menyadari kesamaan hakiki semua makhluk hidup�saya tidak lebih hebat dari orang lain, demikian pula orang lain tidak lebih hebat dari yang lain. Kita semua adalah satu. Hal ini mengingatkan kita pada perumpamaan sederhana tentang burung berkepala dua. Seekor burung memiliki dua kepala dan satu tubuh. Suatu hari, karena dengki, kepala yang satu menipu kepala yang lain untuk menenggak racun; alhasil "seluruh" burung itu mati. Demikian juga halnya, "orang lain" dan "saya" berbagi tubuh yang sama. Siapa kita dan kehidupan kita tergantung kepada orang lain�tidak ada makanan, teman, orang tua, pekerjaan... yang tanpa "orang lain"�kita semua saling bergantung. Kekonyolan satu orang dapat mengakibatkan kejatuhan seluruh masyarakat. Sang Guru berkata, "Hati-hati, jangan sampai menjadi Iblis Belas Kasih." Iblis Belas Kasih adalah orang yang berpikir bahwa dirinya betul-betul penuh belas kasih karena melihat dirinya terpisah dari orang lain�bahwa "mereka" tidak disangkal lagi membutuhkan bantuannya. Waspadalah, hal ini bisa menyebabkan ego muncul dan menjadi gemuk lho! Orang yang benar-benar penuh belas kasih tidak pernah merasa ia penuh belas kasih. Ia sekadar melakukan apa yang dianggapnya paling alamiah di dunia ini. Sekalipun kita sudah selayaknya memuji kebajikan, tidak ada yang perlu dibesar-besarkan karena telah berbuat baik. Be Happy! |
|
#28
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 26
BERKAH RASA SAKIT Menurut suatu laporan medis: satu dari 400.000 bayi yang lahir setiap tahun akan menjalani kehidupan yang kurang menguntungkan; mereka akan sering melukai diri sendiri, kadang bisa sangat parah dan tanpa menyadarinya. Anak-anak semacam itu mengidap penyakit keturunan yang disebut familial dysautonomia: mereka tidak mampu merasakan sakit/nyeri. Anak-anak semacam ini bisa bermain-main mengiris tubuhnya sendiri, memegang setrika panas, jatuh dan patah tulang, tanpa pernah menyadari bahwa itu semua tidak semestinya mereka lakukan. Mereka tidak akan mengeluh sakit tenggorokan atau sakit perut sehingga orang tua mereka tidak akan tahu bahwa mereka sedang terkena penyakit, sampai segalanya terlambat. Adakah di antara kita yang mau hidup seperti itu, tanpa rasa sakit? Memang, rasa sakit itu tidak mengenakkan, tetapi itu adalah bagian penting jika kita hidup. Suatu kali, Sang Guru bertanya kepada murid-muridnya: "Siapa yang mau hidup tanpa masalah?" Semua murid tanpa ragu-ragu mengangkat tangan. Sang Guru melanjutkan bahwa setiap hari dalam perjalanan ke tempat kerja dia melewati sebuah tempat di mana orang-orang yang tinggal di sana tidak punya masalah sama sekali. Sang Guru kembali bertanya: "Apakah ada di antara kalian yang mau bergabung dengan orang-orang bebas masalah ini?" Para murid berpikir bahwa guru mereka sedang bergurau, namun Sang Guru meyakinkan mereka lagi: "Orang-orang ini tidak pernah bermasalah dengan berita di koran, tidak ada masalah pekerjaan, pernikahan, makanan, dan jelas sudah bebas finansial lho!" Ketika para murid menjadi makin penasaran, Sang Guru menyelentuk: "Tempat itu adalah pekuburan dan orang-orang di sana sudah almarhum semua...." Masalah adalah indikator kehidupan. Selama kita hidup, masalah akan senantiasa membayangi. Jika kita mampu "mengenali" bahwa suatu masalah adalah masalah, itu sudah merupakan berkah tersendiri. Kalau kita kaji lebih dalam, masalah menawarkan "kesempatan" bagi kita untuk memecahkannya. Orang yang berada di puncak adalah orang yang mampu memecahkan masalah. Apa yang selama ini terjadi jika kita mampu mengatasi masalah yang tidak dapat diatasi oleh orang lain? Ada kalanya, suatu masalah mungkin saja betul-betul getir; memang... tidak semua "obat yang manjur" manis bukan? Be Happy! |
|
#29
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 27
KEBAHAGIAAN ADALAH SEBUAH PILIHAN Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki "Sang Jenderal Penakluk" oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak. Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja. Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh pasukan, menang-kalah sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang." Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!" seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuk tos� Ternyata sisi gambar yang muncul! Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang Jenderal, "Hahaha� dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya. Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, "Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita." Sang Jenderal menukas, "Apa iya sih?" sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya adalah gambar� Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: untuk menjadi bahagia atau menjadi tidak berbahagia. Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri. Ujung-ujungnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan proaktif. "The most proactive thing we can do is to 'be happy'," begitu kata Stephen R. Covey dalam buku 7 Habits-nya. Be Happy! |
|
#30
|
|||
|
|||
|
ILLUMINATA 28
APA HARUS SAMPAI KEPEPET? Seekor katak tercebur ke dalam sebuah lubang di tengah jalan raya. Selama seharian penuh dia berusaha melompat keluar dari lubang itu, tapi usahanya tak kunjung berhasil juga. Seekor anjing datang dan mengulurkan bantuan untuk mengeluarkan katak yang terjebak itu. Upaya sang anjing belum berbuah jua. Sekawanan hewan lainnya ikut turun tangan untuk menolong katak malang tersebut, namun akhirnya mereka menyerah. "Kami akan membawakan makanan untukmu," kata kawan-kawannya. "Mungkin kamu masih akan cukup lama di sana." Mereka pun beranjak pergi untuk mencarikan makanan. Tak lama kemudian mereka kembali; mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat: katak itu sudah di luar lubang! "Kami pikir kamu tidak akan bisa keluar!" seru mereka. "Habis gimana," jawab si katak, "ada traktor datang ke arahku, nggak ada pilihan dong!" Pencerahan satu: tekanan tertentu ada kalanya diperlukan agar kita berjuang lebih keras. "Don�t krack under pressure," kata Tag Heuer. Eh, ada cerita katak lagi. Katak yang direbus perlahan-lahan dalam wajan tidak akan menyadari bahwa dirinya akan mati. Air yang hangat bisa membuainya untuk tetap bersantai di wajan maut itu. Sampai ketika ia merasa kepanasan, ia sudah kehabisan tenaga untuk melompat keluar; terlambat sudah�. Coba kita lemparkan seekor katak ke dalam wajan berisi air panas; kontan saja dia akan melompat sekuat-kuatnya, mungkin lumayan babak belur, tapi dia selamat! Pencerahan dua: jangan terjebak dalam kenyamanan semu; ketika kondisi berubah dan kita membutuhkan perbaikan, mungkin saat itu kita sudah terlambat. Apa harus sampai kepepet? "Sedia payung sebelum hujan", kata Nenek. Be Happy! |
![]() |
|
|
Terkait
|
||||
| Thread | Forum | |||
| [ASK] Guru Spiritual di BSD Taman tekno | Misteri, Horror, Supranatural | |||
| [ask]Khodam guru spiritual | Misteri, Horror, Supranatural | |||
| Dukun aka paranormal = guru spiritual??? | Misteri, Horror, Supranatural | |||
| Jasa perjalanan spiritual,Supranatural&ESQ dari TIM KSP (KURSI SEUKEUT PANINGAL) | Misteri, Horror, Supranatural | |||
| Preache Moss: Perjalanan Spiritual Seorang Komedian Muslim AS | Islam | |||