| FAQ |
| Calendar |
|
#231
|
||||
|
||||
|
Trump-Xi Berdamai Di G20, Bagaimana Selanjutnya? Pada 6 Mei, Presiden Trump mengumumkan berakhirnya gencatan senjata dengan China yang diumumkan Desember lalu, dan menginstruksikan Departemen Keuangan AS untuk mulai merumuskan tarif tambahan bagi barang-barang impor dari China senilai 300 miliar Dolar AS, yang belum ter-cover pada penetapan tarif sebelumnya. Saat itu, pasar finansial mulai memusatkan perhatian pada pertemuan G20, serta menganggapnya sebagai titik penting dalam hubungan dagang bilateral antara Beijing dan Washington. Tujuh hari sebelum KTT antar para pemimpin negara G20 itu dimulai, para investor baru mendapat konfirmasi jika pertemuan sampingan antara Xi dan Trump benar-benar akan terlaksana. Sayangnya, acara yang digadang-gadang bakal menjadi pertemuan luar biasa antara 2 pemimpin negara dengan ekonomi terbesar dunia itu hanya berlangsung 60 menit, dan hasilnya lumayan bisa ditebak. Meskipun kedua belah pihak telah memperhitungkan hasil meeting tersebut sebagai hal positif, pada dasarnya keadaan tarif impor kembali ke kondisi bulan Mei. China setuju membeli lebih banyak kedelai dari petani AS, sementara Trump mengizinkan perusahaan-perusahaan teknologi AS untuk melanjutkan penjualan komponen-komponen ke raksasa telekomunikasi Huawei. Namun setelah euforia mereda dan para pemimpin pulang ke negara masing-masing, peluang eskalasi konflik dagang sebenarnya tidak banyak mengalami perubahan. Dari perspektif trading, negosiasi dagang AS-China tampaknya telah menjadi pola rutin yang akan terus berputar pada pasang surut kerjasama dan ketidakpastian. Dari pandangan ini, ACY pun mengestimasikan level-level teknikal yang kemungkinan bakal tampak pada beragam pair forex mayor minggu ini. ![]() Outlook Teknikal Pair Forex Mayor Setelah menyentuh 1.1415 pada hari Senin (24/Juni), EUR/USD gagal menguat kembali ke area 1.1400 di sepanjang pekan lalu. Daily RSI menunjukkan angka 63.00, yang belum mengindikasikan Overbought dan bisa mendukung harga untuk naik kembali ke area 1.1425/30 awal pekan ini. Support jangka pendek ada di 1.1330 yang juga bersinggungan dengan MA 200. Dilihat secara garis besar, trend jangka panjang EUR/USD masih cenderung ke bawah, dengan probabilitas tinggi untuk turun kembali ke 1.1100 sebelum bisa menyentuh 1.1500. Sementara itu, USD/JPY sempat menyentuh level terendah 5 bulan di 106.70 pada hari Selasa lalu (25/Juni), sebelum berbalik menguat dan menutup pergerakan mingguan di dekat 108.00. Dengan Daily RSI dan MACD yang sama-sama mengarah ke atas, ACY memprediksikan jika USD/JPY berpeluang menanjak ke area 108.80/90 di minggu ini. Namun dalam pandangan yang lebih luas, setup harga masih cenderung bearish, dengan peluang besar untuk menembus level 107.00 dalam waktu dekat. Meskipun proyeksi pemangkasan suku bunga RBA pada Selasa esok (2/Juli) tetap di kisaran 70%, AUD/USD konsisten menguat dalam 5 dari 6 minggu terakhir. Bahkan, gain pekan lalu yang sebesar 1.2% merupakan performa terkuat sejat Januari, dengan harga yang kini mendekati resistance kunci di sekitar 0.7040. Mengingat indikator-indikator momentum telah memberikan sinyal Overbought, tampaknya tidak banyak ruang kenaikan yang tersisa bagi AUD/USD. GBP/USD telah bergerak di kedua sisi MA 30 dalam 7 sesi perdagangan terakhir. Kondisi ini biasanya menandakan pola Bottom dan dimulainya pergerakan upside. Level resistance kunci selanjutnya ada di 1.2750. Penembusan dari level itu dapat memicu pergerakan cepat menuju 1.2875, dengan support terdekat di area 1.2630. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#232
|
||||
|
||||
|
Mampukah Rilis NFP Pekan Ini Mengubah Outlook Suku Bunga AS? Sejalan dengan melambatnya pergerakan harga karena hari libur di pasar AS, tampak jelas bahwa hasil pertemuan G20 akhir pekan lalu tidak menghasilkan kebijakan berdampak ataupun menjadi katalis yang bisa mengubah trend perekonomian global.Situasi itu kemungkinan tak akan terulang pada rilis data NFP AS periode Juni 2019, yang dijadwalkan meluncur Jumat besok (05/Juli). Merunut hasil NFP sebelumnya yang diluncurkan pada 7 Juni silam, pertumbuhan tipis di angka 75,000 telah membuat USD bergerak defensif, begitu pula dengan saham-saham AS. Sementara itu, proyeksi pemotongan suku bunga The Fed di paruh kedua 2019 terus meningkat. Mengingat banyak trader forex biasanya mencari peluang profit dari rilis data NFP, maka pertanyaannya sekarang adalah: seberapa kuat hasil rilis yang dibutuhkan untuk mengubah outlook suku bunga secara signifikan? Berdasarkan data dari Biro Statistik AS, pertumbuhan NFP perlu mencatatkan rerata 120,000 per bulan untuk mempertahankan tingkat pengangguran di bawah 4.0%. Sementara itu, tingkat pendapatan mingguan perlu bertahan di laju 0.3% agar bisa menjaga inflasi di level 2.0% yang merupakan target Fed. Forecast untuk laporan NFP yang dirilis Jumat mendatang berada di level 163,000, dengan Weekly Earnings yang diekspektasikan mencapai 0.3%, dan tingkat pengangguran tak berubah di 3.6%. Terlepas dari proyeksi tersebut, perlu diperhatikan pula bahwa pasar AS libur hari ini untuk memperingati hari kemerdekaan. Karena itu, aktivitas pasar di hari Jumat kemungkinan besar tidak akan sesibuk rilis NFP biasanya. Memperhitungkan kondisi-kondisi di atas, ACY melihat bahwa "puncak" pandangan bearish untuk USD telah berlalu dalam sebulan terakhir, sementara outlook NFP besok lebih cenderung pada rilis data yang lebih kuat dari ekspektasi, ditambah dengan revisi naik pada angka bulan sebelumnya. Karenanya, hasil data NFP yang mendekati konsensus pasar, berapapun itu, dapat memberikan alasan bagi para pejabat Fed untuk mempertahankan bias netral terhadap kebijakan suku bunga di pertemuan FOMC 31 Juli mendatang. Di samping itu, ACY juga memandang jika hal ini dapat menekan ekspektasi pasar terhadap suku bunga Fed. ![]() Outlook Teknikal Pair Forex Mayor EUR/USD sejauh ini cenderung diperdagangkan dalam range sempit, sekitar 40 poin di kisaran 1.1260 hingga 1.1300 selama beberapa sesi perdagangan terakhir. Banyaknya posisi Option dengan strike price di antara 1.1240 dan 1.1320 yang akan kedaluwarsa pada pembukaan sesi London besok, berpotensi memperpanjang kondisi perdagangan yang cenderung sepi hingga akhir pekan. Sementara itu, Sterling tak mampu bertahan di atas garis MA30 yang berlokasi di area 1.2660. Mata uang ini justru menguji support 1.2550 pada sesi perdagangan London kemarin. Dengan kedua kandidat Perdana Menteri dari Partai Konservatif yang sama-sama mengekspresikan keinginan untuk meninggalkan Uni Eropa tanpa Withdraw Agreement, GBP/USD bisa kembali menyambangi level 1.2500. Dolar Australia tetap bertahan versus mata uang mayor lain, sekalipun pemotongan suku bunga RBA lebih lanjut telah diproyeksikan untuk akhir tahun ini. Walaupun reversal AUD/USD Senin lalu (01/Juli) tidak berlanjut membentuk pergerakan downside, pair ini diproyeksi hanya akan menguat terbatas di area 0.7035/40. Setelah naik ke 108.50 pada awal sesi perdagangan Senin, USD/JPY justru melemah lagi hingga menyentuh 107.50 pada sesi Asia kemarin. Dengan pasar AS yang masih libur, pair ini berpotensi diperdagangkan di area 107.70 dan 108.25 sampai rilis laporan NFP. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#233
|
||||
|
||||
|
Kokohnya Data NFP Mengangkat Greenback Membuktikan sekali lagi bahwa mayoritas analis pasar salah prediksi, jumlah pekerjaan baru (NFP) di AS melesat sebanyak 224,000 pada Jumat lalu, mengungguli konsensus pasar yang hanya memperkirakan penambahan 160,000.Ini merupakan angka pertumbuhan terkuat sejak Januari, dan menjadi yang kesembilan kalinya secara berturut-turut bagi data aktual NFP untuk mencatatkan selisih lebih dari 50,000 dibanding forecast. Menurut ACY, hal ini menunjukkan bahwa sudah waktunya bagi Biro Statistik AS untuk mengupayakan cara penyampaian informasi yang lebih efektif, agar analis lebih mudah memprediksi dan mencegah proyeksi NFP menjadi semacam tebak-tebakan bagi investor setiap bulannya. Terlepas dari data NFP, laporan ketenagekerjaan AS lainnya cenderung berada dalam area ekspektasi. Average Hourly Earnings di level 0.2% secara bulanan dan mengukir pertumbuhan 3.1% dalam basis tahunan, sementara Unemployment Rate menguat ke 3.7%, diiringi dengan naiknya Participation Rate. Dolar AS bergerak meninggi terhadap mata uang mayor lainnya, karena data-data ketenagakerjaan di atas mengindikasikan bahwa meskipun ekonomi melambat di Q2, belum ada urgensi bagi FOMC untuk menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan akhir Juli mendatang. Faktanya, prospek pemangkasan suku bunga tersebut anjlok dari 25% ke 2% di akhir sesi perdagangan Jumat (05/Juli) pekan lalu. Minggu ini, Ketua Fed Jerome Powell akan berkunjung ke Capitol Hill untuk menghadiri acara testimoni Humphrey-Hawkins yang digelar rutin dua kali setahun, dimana ia akan menghadap pada Senate Banking Committee. Jika angka-angka ketenagakerjaan pekan lalu dianggap cukup baik bagi The Fed untuk memupus ekspektasi Rate Cut pasar saat ini, maka testimoni Powell akan menjadi ajang yang tepat untuk "membujuk" pasar keluar dari sentimen dovish. Outlook Teknikal Pair Forex Mayor Reli Greenback pada akhir minggu sebelumnya telah menembus beberapa level teknikal penting. ACY menilai jika harga masih berpotensi untuk memperpanjang range pergerakan tersebut di sepanjang pekan ini. Setelah berupaya mendekati resistance 1.1400 pada Senin lalu (01/Juli), EUR/USD menguji area 1.1200 di sesi perdagangan New York Jumat kemarin. Indikator-indikator momentum seperti MACD dan RSI tengah menunjukkan pelemahan, dengan daerah key support terlihat berada di 1.1160/70. Sementara itu, pergerakan AUD/USD minggu lalu tertahan di bawah 0.7050. Ini merupakan kegagalan yang ketiga kalinya bagi Dolar Australia untuk mencapai level tersebut sejak pertengahan April. Support terdekat AUD/USD saat ini berada di 0.6960. Dengan titik key inflection yang terpatok di 0.6940, ACY memperkirakan jika Aussie bisa melemah ke level rendah 20 Juni (0.6880) apabila harga mematahkan area tersebut. Setelah mengawali minggu lalu dengan gap naik ke 108.40, USD/JPY justru melorot ke 107.50 dalam beberapa hari setelahnya. Namun, laporan ketenagakerjaan yang kokoh mendorong pair ini menyentuh level tertinggi 3 minggu di area 108.65 pada penutupan sesi New York akhir pekan. Walaupun gambaran teknikal pair ini masih terlihat bullish, risiko aksi jual dari nuansa "risk off" bisa mengancam kenaikan USD/JPY untuk tertahan di area 109.20/30. Walaupun sempat menunjukkan pola bullish reversal di awal pekan lalu, GBP/USD anjlok hingga 1.3 persen saat memasuki akhir pekan, dan mencatatkan level penutupan terendah di lebih dari dua tahun pada kisaran 1.2520. Chart Daily pair ini tidak menunjukkan sinyal bullish divergence, dan penembusan di bawah 1.2500 dapat memperpanjang penurunan lebih lanjut ke 1.2370. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#234
|
||||
|
||||
|
Siapkah ECB Meluncurkan QE Lanjutan? ECB Sudah Mensinyalkan Stimulus BaruSetelah serangkaian laporan ekonomi yang lebih rendah dari ekspektasi, beberapa pejabat ECB mulai merencanakan stimulus moneter tambahan untuk menarik Zona Euro keluar dari jalur penurunan saat ini. Beberapa rencana tersebut, seperti menurunkan suku bunga deposit, meluncurkan TLTRO, serta membeli obligasi secara langsung (QE), sudah pernah dicoba sebelumnya dan memicu kritikan dari anggota ECB lain yang lebih konservatif secara fiskal. Dengan suku bunga deposit yang saat ini sudah mencapai -40 basis poin, langkah penurunan lebih lanjut kemungkinan tidak akan membuat banyak perbedaan. Apalagi, bank-bank Eropa memiliki kewajiban untuk mendepositkan sejumlah Tier 1 Capital mereka di ECB. Jika dikondisikan dengan suku bunga yang -40 basis poin, maka return negatif dari deposit bank-bank tersebut diperkirakan mencapai 8 miliar Euro per tahun. Eks Ketua IMF Akan Gantikan Mario Draghi Meski mengetahui risiko-risiko yang dihadapi sektor perbankan Uni Eropa saat ini, baik Mario Draghi dan penggantinya, Christine Lagarde, cenderung mendukung rencana kebijakan longgar lebih lanjut, yang paling cepat dimumkan pada pertemuan ECB 25 Juli mendatang. Penting untuk dicermati juga bahwa Lagarde merupakan sosok yang mendorong bank-bank sentral dunia untuk menggunakan kebijakan suku bunga negatif selama menjabat sebagai Ketua IMF. Melihat situasi ini, ACY memprediksi jika ECB dapat menerapkan QE lanjutan secepat bulan September mendatang, tanpa mengkhawatirkan dampaknya terhadap kontinuitas kebijakan. EUR/USD Bergeser Ke Bawah 1.1200 EUR/USD menunjukkan respon beragam terhadap prospek pengumuman stimulus moneter tambahan. Untuk pertama kalinya sejak 20 Juni, pasangan mata uang ini turun hingga mematahkan level 1.1200, sebelum akhirnya pulih ke area 1.1250 pada sesi perdagangan New York kemarin (10/Juli). Secara teknikal, indikator-indikator momentum menunjukkan bahwa level MA 30 yang saat ini berada di 1.1270 akan menjadi resistance terdekat. Break di atas 1.1180 akan berpotensi memperpanjang kenaikan harga ke kisaran 1.1120/30, hingga menjelang ECB meeting 25 Juli mendatang. GBP/USD Merosot Ke Level Terendah Baru Sterling telah membentuk beberapa pola reversal bullish dalam 6 pekan terakhir, tapi tidak ada satupun yang mengumpulkan cukup kekuatan untuk mendorong harga lebih lanjut dan menampilkan sinyal buy profitable. Level terendah kemarin yang berada di 1.2430 merupakan rekor baru dalam tahun ini, dan telah menekan Daily RSI ke area Oversold, tepatnya di titik 30.25. Kecuali harga dapat pulih hingga ke atas resistance 1.2540, GBP/USD berisiko merosot ke area terendah baru pada kisaran 1.2400. AUD/USD Bearish, Target Jangka Menengah Di 0.6840 Setelah jatuh dalam 5 sesi perdagangan terakhir, AUD/USD berhasil menemukan support di dekat level 0.6900. Meskipun rebound dari 0.6950 dapat meringankan kondisi Oversold Dolar Australia di chart H4, trend mayor di chart Daily masih cenderung lemah, dengan target jangka menengah yang terlihat di area 0.6840/50. Pasca Sentuh Titik Tertinggi 5 Minggu, Kenaikan USD/JPY Akan Tertahan Pasangan mata uang USD/JPY mencatatkan level tertinggi 5 minggu di dekat 109.00 pada sesi perdagangan Asia kemarin. Walaupun Daily MACD dan RSI masih terlihat menanjak, risiko fundamental dari ekspor Jepang berpeluang membatasi penguatan pair ini di area 109.30/40. Menurut ACY, sell USD/JPY dari reli jangka pendek telah menjadi strategi yang cukup menjanjikan dalam 6 bulan terakhir, dan tampaknya, tidak ada perubahan fundamental yang cukup besar untuk mengubah pola tersebut. Target medium USD/JPY kini berada di area 107.10/20. Info selanjutnya klik link ini. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#235
|
||||
|
||||
|
AUD/USD Kembali Ke Zona Sell RBA Potong Suku Bunga Menjadi 1%Philip Lowe menjabat sebagai Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) sejak 18 September 2016. Sebagian besar masa jabatannya dalam 2 tahun pertama ia gunakan untuk mempertahankan pandangan bahwa kebijakan selanjutnya adalah pengetatan dari level suku bunga 1.5% yang sudah rendah secara historis. Sayangnya, seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik dagang AS-China dan kontraksi belanja konsumen domestik, Statement publik Lowe bergeser menjadi netral, yang kemudian berubah lagi menjadi dovish. Hal ini terbukti dari pemangkasan suku bunga RBA sebesar 25 bps pada bulan Juni dan Juli 2019. Kini, dengan benchmark rate di 1%, Lowe justru menetapkan target yang ambisius untuk tingkat pengangguran pada level 4.5%. Menurut konsensus RBA, angka 4.5% mencerminkan kondisi "full employment" yang akan menyerap segala "ekses" di pasar tenaga kerja, mengangkat upah di "tingkat yang signifikan", dan mendorong inflasi kembali ke target bank sentral pada kisaran 2% hingga 3%. Terakhir kalinya tingkat pengangguran berada di level 4.5% adalah ketika investasi asing dan penambangan melesat di tahun 2008. Dengan latar perlambatan global di sektor manufaktur dan pertumbuhan GDP dalam negeri yang saat ini kurang dari 2.0%, maka akan sulit untuk mengupayakan peningkatan sektor tenaga kerja yang memenuhi target RBA. Laporan ketenagakerjaan bulan Juni dijadwalkan meluncur pada hari Kamis (18/Juli), dengan forecast awal yang memperkirakan penambahan 9,000 pekerjaan, dan tingkat pengangguran tetap di 5.2%. Perlambatan Di Pasar Tenaga Kerja Australia Menurut ACY, berkurangnya pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan Pemiihan Umum berpeluang menurunkan data Employment Change Australia. Sebelumnya, ketenagakerjaan pada periode Mei memang meningkat berkat Pemilihan Umum, dan hal ini sudah rutin terjadi dalam dua event Pemilu terakhir. Di samping itu, laporan terbaru dari Biro Statistik Australia menunjukkan bahwa lowongan dan iklan kerja sama-sama turun dalam 3 bulan terakhir. Reli Dolar Australia Masih Rentan AUD/USD merupakan salah satu pair yang paling diuntungkan dari pelemahan USD pekan lalu. Pasangan mata uang ini menguat 120 poin, ditunjang oleh proyeksi penurunan suku bunga The Fed dan keyakinan pasar jika RBA akan mempertahankan suku bunganya, setidaknya hingga Q4 tahun ini. Meskipun Aussie saat ini terlihat siap menguji area 0.7050, laporan ketenagakerjaan yang lemah di hari Kamis esok dapat menekan harga turun kembali ke area 0.6920/30. EUR/USD Sideways Dalam Dua Pekan Terakhir Dengan ECB yang dijadwalkan menggelar rapat kebijakannya pada 25 Juli mendatang, EUR/USD terlihat masih nyaman berkisar di area 1.1200 dan 1.1300. Range ini telah membatasi pergerakan Euro terhadap Dolar AS selama dua minggu terakhir. Tak pelak, gambaran teknikal EUR/USD relatif netral, dengan Daily RSI yang berada sedikit di bawah 50.00. ACY memperkirakan bila MA 200 yang terlihat di sekitar 1.1330 bisa menjadi pembatas reli kenaikan, sementara support terdekat terpantau berada di area 1.1225. Sterling Kembali Ke Area 1.2570 Setelah mencatatkan level terendah baru di area 1.2440 pada hari Selasa lalu (09/Juli), GBP/USD pulih ke kisaran 1.2570 pada akhir pekan. Meski demikian, indikator-indikator momentum menunjukkan bahwa sinyal kenaikan masih cukup terbebani. Area resistance berikutnya tampak di 1.2630/40. Jika harga break ke bawah 1.2490, maka akan mengkonfirmasi usainya bounce korektif pada pergerakan GBP/USD. Pasca Mundur Ke 108.00, USD/JPY Berpotensi Melemah Lagi USD/JPY menguat hingga ke 109.00 pada Rabu lalu (10/Juli), tapi kemudian merosot ke bawah batas 108.00 menjelang akhir pekan. Dengan sedikitnya data ekonomi berdampak tinggi dari Jepang minggu ini, indikator momentum jangka pendek USD/JPY mengindikasikan target pelemahan ke 107.00, dengan ekstensi lanjutan ke area 106.60/70. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#236
|
||||
|
||||
|
USD Rebound Setelah The Fed Perjelas Proyeksi Suku Bunga Proyeksi suku bunga bank sentral akhir-akhir ini semakin memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan mata uang mayor. Dalam waktu 2 minggu terakhir, bank-bank sentral dari Zona Euro, Jepang, dan AS akan menggelar rapat kebijakan masing-masing. Volatilitas 3-bulanan yang terimpilikasi pada pair-pair mayor berakhir di level tertinggi 5 pekan pada akhir minggu lalu. Hal ini tidaklah mengejutkan, terutama jika melihat swing harga Intraday dalam beberapa sesi trading terakhir. Katalis utama yang menyebabkan lonjakan aktivitas trading berasal dari komentar para pejabat The Fed yang kontradiktif dan membingungkan. Kamis lalu (18/Juli), Presiden Fed New York John Williams dan Wakil Ketua Fed Richard Clarida sama-sama menyampaikan pernyataan yang menekankan pentingnya penurunan suku bunga sebagai tindak pencegahan, sekalipun tanda-tanda resesi belum tampak pada data ekonomi terbaru. Williams bahkan menegaskan bahwa The Fed dapat menerapkan kebijakan moneter domestik dengan menurunkan suku bunga ke kisaran nol, untuk mencapai target Full Employment sekaligus stabilitas harga. Tak butuh waktu lama bagi pelaku pasar forex untuk mencerna komentar tersebut dengan penurunan sentimen. Akibatnya, proyeksi Rate Cut 50 basis poin pada pertemuan FOMC 31 Juli mendatang pun terangkat naik, sebagaimana tercermin pada kontrak Fed Fund Futures yang secara Intraday menguat dari 20% menjadi 70% dalam sehari. Hanya dua minggu sebelum pertemuan FOMC terlaksana, Dolar AS dilanda aksi jual berdasarkan prospek pemotongan suku bunga The Fed yang agresif tersebut. Akan tetapi, Fed secara mengejutkan merilis serangkaian Statement pada sesi perdagangan Jumat kemarin (19/Juli), untuk "menanggulangi" komentar-komentar mengenai suku bunga nol dan mengklarifikasi sikap Fed saat ini; bahwa penyesuaian apapun yang akan dilakukan terhadap suku bunga hanya berupa perubahan sebesar 25 basis poin. Oleh karenanya, Greenback mengakhiri pekan lalu dengan penguatan terhadap mata uang mayor lain. Event mayor pekan ini adalah pertemuan ECB di hari Kamis (25/Juli). Sampai saat itu tiba, ACY meyakini jika USD akan diperdagangkan menguat dalam range harga saat ini. Euro Gagal Mengamankan Posisi Di Atas MA 30 Meskipun komentar super dovish dari pejabat Fed pekan lalu menekan Dolar AS, EUR/USD nyatanya tak mampu memastikan kenaikan di atas MA 30 (1.1275). Sekalipun volatilitas Intraday telah meningkat, pair ini belum juga keluar dari area 1.1200 yang telah dihuni selama lebih dari 3 minggu terakhir. Pasca kemerosotan hingga 60 poin pada Jumat lalu, sinyal MACD dan Daily RSI EUR/USD sama-sama terlihat menurun. Key Support berikutnya terpantau di 1.1170, dengan peluang pelemahan lebih lanjut ke area 1.1110 jelang ECB Meeting. USD/JPY Berpotensi Retest 108.50 Di pekan lalu, pasangan mata uang ini seolah-olah siap break di bawah level support 107.00. Untungnya, klarifikasi The Fed pada hari Jumat berhasil menunjang pergerakan harga kembali ke 107.80. Namun, ketakutan fundamental dari pasar ekuitas global terhadap potensi "risk off" kemungkinan bakal membatasi pergerakan USD/JPY di bawah area 108.60/70. Hanya penembusan di atas 109.00 yang mampu mengubah struktur bearish harga saat ini, dan mengindikasikan batas Low yang kuat serta berkelanjutan. AUD/USD Tertahan Di Bawah 0.7100 Pair AUD/USD jatuh hampir 0.5% di akhir minggu lalu. Sekalipun demikian, harga pasangan mata uang ini masih terhitung 0.3% lebih tinggi dibanding level penutupan pekan sebelumnya. Penolakan harga di sekitar 0.7080 secara alamiah menggarisbawahi proyeksi Downtrend yang terbentuk sejak awal tahun ini. Meskipun support terdekat harga sekarang terlihat di dekat 0.7000, indikator momentum ACY mensinyalkan kisaran 0.6960/70 sebagai target jangka pendek berikutnya. Kekhawatiran Hard Brexit Terus Membebani Sterling Minggu lalu, parlemen Inggris meloloskan Undang-Undang yang secara efektif dapat menghalau pemerintah saat ini untuk memberlakukan Hard Brexit. Kabar ini sayangnya gagal mengangkat GBP/USD dari bawah MA 30. Pair ini hanya rebound terbatas ke kisaran 1.2450 setelah terpuruk di level rendah baru pada area 1.2370. Daily Chart Sterling menunjukkan level resistance dari pola Triple Top yang belum terkonfirmasi di level 1.2570. Akan tetapi, resistance yang lebih kuat di 1.2600 perlu "diamankan" terlebih dulu untuk mematok proyeksi penurunan berikutnya. Di sisi lain, EUR/GBP mencatatkan reversal tajam dari level tinggi 7 bulan di area 0.9040, dan menutup pekan lalu di 0.8960. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#237
|
||||
|
||||
|
Pada pekan ini pergerakan USDCAD memberikan tekanan bullish pada pekan ini, pada tiga candle kebelakang telah terbentuk bullish candle dan sudah terjadi breakout pada area high daily sebelumnya, memungkinkan pergerakan bullish masih berlanjut pada pekan ini, ini dapat dilihat dari platform trading akun mikro Firewoodfx yang menawarkan fixed rate 1$ sama dengan Rp.10.000 untuk klien Indonesia
|
|
#238
|
||||
|
||||
|
Akankah ECB Mengumumkan Tambahan Stimulus? Dalam testimoninya di hadapan Kongres beberapa pekan lalu, Ketua The Fed Jerome Powell mengekspresikan kewaspadaanya terkait rintangan dalam pertumbuhan global. Ia pun menegaskan bahwa FOMC siap bertindak dengan mengusung langkah Rate Cut sebagai "pengaman" untuk menjaga ekspansi ekonomi AS. Menyusul pernyataan tersebut, beberapa anggota tetap FOMC menggaungkan kekhawatiran serupa dari Powell, terutama mengenai risiko-risiko dan ketidakpastian eksternal. Pasar pun terus meningkatkan ekspektasi mereka terhadap kebijakan Rate Cut yang akan diambil The Fed. Ironisnya, ketika sejumlah pejabat The Fed "mendorong" para trader untuk menjual USD versus mata uang mayor lain, mayoritas rilisan data ekonomi AS yang berdampak tinggi justru sanggup melebihi ekspektasi. Beberapa contohnya adalah Retail Sales, Inflasi, dan pertumbuhan di sektor manufaktur. Di lain pihak, European Central Bank (ECB) tidak didukung oleh data-data ekonomi yang meyakinkan jelang rapat dan pengumuman kebijakan moneternya. Di awal pekan ini, ekspektasi pasar untuk pemangkasan suku bunga ECB masih relatif merata, dengan peluang peningkatan stimulus berada di 25%. Dalam hal stimulus, ECB diproyeksi akan menaikkan pembelian assetnya, dari yang semula 20 miliar Euro menjadi 30 miliar Euro per bulan. Flash PMI Manufaktur Jerman kemarin merosot ke 43.2, lebih rendah dari ekspektasi kenaikan ke 45.00, seiring dengan terus melemahnya permintaan eksternal dalam 6 bulan terakhir. Biasanya, data aktual yang meleset sebesar itu, ditambah dengan rilis laporan senada dari negara-negara UE lainnya, dapat meningkatkan kemungkinan bagi ECB untuk mengumumkan lebih banyak stimulus dalam Statement kebijakan moneternya. Namun jika dilihat dari sisi lain, ECB hampir tidak pernah menetapkan kebijakan baru tanpa mengiringinya dengan update forecast ekonomi, yang dalam periode ini baru akan dirilis pada pertemuan September mendatang. Oleh karenanya, Statement kebijakan ECB malam ini kemungkinan besar hanya akan berfokus pada penyesuaian Forward Guidance, dan konfirmasi resmi mengenai rencana bank sentral untuk melonggarkan kebijakan di bulan September. Pada konferensi pers pasca pertemuan ECB, ACY meyakini jika Mario Draghi akan mengungkap kerangka paket stimulus, yang kemungkinan memuat berlanjutnya program pembelian asset, pemangkasan suku bunga deposit ke -50 basis poin, dan aturan pinjaman yang lebih longgar pada TLTRO baru. Euro Lengser Setelah Tembus 1.1160 Jika kita mengkombinasikan semua faktor di atas, maka jelas bahwa outlook EUR/USD sekarang sedang tidak bullish. Pasangan mata uang ini bahkan sudah menguji level 1.1130 setelah rilis data PMI Jerman. Dari perspektif jangka menengah, sinyal teknikal EUR/USD cenderung bearish. ACY pun memperkirakan jika break dari level 1.1100 bisa membuka ekstensi downside ke area 1.1040/50. Terlepas dari ekspektasi tersebut, EUR/GBP telah mengalami bearish reversal setelah memuncaki level 0.9070 pekan lalu. Reli 10 minggu terakhir dari pair ini tampaknya sudah benar-benar berballik dan menargetkan penurunan ke area 0.8825. Sterling Menguat Pasca Terpilihnya Boris Johnson Sebagai PM Inggris Baru Kini setelah Boris Johnson menjadi Perdana Menteri Inggris secara resmi, GBP/USD tampak bergerak dalam reli. Meski nuansa Downtrend GBP/USD masih mendominasi, penutupan harga di atas 1.2540 pada sesi New York dapat memulihkan outlook teknikal jangka pendek pair tersebut. Aussie Dibebani Data Domestik Semenjak gagal menguat di atas 0.7080 pada pekan lalu, AUD/USD meluncur turun hingga sebesar 100 poin, dan diperdagangkan melemah dalam 4 sesi perdagangan terakhir. Data PMI domestik, ditambah dengan outlook bank-bank setempat yang meyakini Rate Cut di bulan September, semakin membebani pergerakan Aussie. Menurut ACY, chart Daily pair ini mengindikasikan area 0.6930/40 sebagai support berikutnya, dengan resistance dekat di 0.7010. JPY Kokoh Jelang Rapat BoJ Pekan Depan Dengan Bank of Japan yang sudah dijadwalkan menggelar rapat kebijakannya minggu depan, USD/JPY kesulitan bertahan di atas 108.00. Chart Daily pair ini menunjukkan area resistance di 108.30/40. Sementara itu, support terdekat terlihat di kisaran 107.60, dengan potensi Double Bottom di area 107.20. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#239
|
||||
|
||||
|
Proyeksi Pair Forex Mayor Setelah Gejolak FOMC The Fed memang memangkas suku bunga sebesar 0.25% sesuai ekspektasi. Namun, penggerak utama yang lebih dominan adalah konferensi pers Jerome Powell. Dalam pidatonya, Powell mengindikasikan arahan kebijakan ke depan yang mengangkat USD. Pasalnya, ia menegaskan bahwa tidak ada jaminan bagi The Fed untuk memulai serangkaian Rate Cut lagi dalam beberapa waktu ke depan. Apa Yang Bisa Diartikan Dari Pernyataan Fed? Jawaban sederhananya adalah: arahan kebijakan The Fed mengarah pada mode data-dependent. Semisal terdapat penurunan dalam data-data ekonomi penting AS seperti pertumbuhan tenaga kerja, inflasi, dan tingkat upah, maka "pelatuk" Rate Cut akan kembali terpicu dan menyebabkan pemangkasan Federal Funds Rate sebesar 0.25% lagi. Intisari lain yang bisa dicerna dari nuansa pengumuman Fed terbaru adalah tidak ada komitmen untuk memulai siklus kebijakan Rate Cut, karena mereka "tidak terlalu khawatir dengan data-data (ekonomi)". Meski demikian, Fed juga mengutarakan jika mareka akan selalu siap bertindak apabila perang dagang global terus membebani ekonomi AS. Seperti Apa Peluang Di Pasar Forex Dan Komoditas Pasca Pengumuman Fed? Menurut ACY, EUR/USD dan GBP/USD menjadi 2 pair paling menjanjikan untuk di-short. Pertama-tama, ECB sadar jika Zona Euro kini sedang membutuhkan stimulus. Mereka hanya menunggu The Fed untuk bertindak lebih dulu. Jadi, walaupun proyeksi sebelumnya sudah menaksirkan penurunan EUR/USD, ekstensi pelemahan ke titik-titik harga yang lebih rendah dari area 1.10 saat ini masih mungkin terjadi. Sementara itu, GBP/USD juga bernuansa bearish karena tekanan Hard Brexit yang menurut ACY bisa mendorong harga turun ke 1.2000. Emas juga menjadi komoditas menarik untuk dijual, karena secara teknikal, asset ini sudah Overbought. Satu-satunya faktor yang dapat memutarbalikkan proyeksi di atas adalah rilis data ketenagakerjaan AS nanti malam (02/Agustus). ACY memperkirakan jika hasil data tersebut akan relatif sesuai ekspektasi. Aussie Dan Kiwi Akan "Penuh Derita" Pertengahan pekan ini, rilis data inflasi Australia menunjukkan pencapaian yang solid. AUD/USD yang sebelumnya menghadapi tekanan jual, menguat hingga 40 pips ke area 0.6900 pasca rilis laporan inflasi tersebut. Di lain pihak, NZD/USD sedang didominasi oleh outlook bearish karena kabar kesiapan RBNZ untuk memotong suku bunga lebih lanjut. Normalnya, baik AUD/USD maupun NZD/USD akan melemah setelah The Fed mengeluarkan pernyataan yang mendukung bullish Dolar AS. Karena itu, ACY menilai jika Lower Low AUD/USD di 0.6840 bisa berubah dengan cepat menuju 0.6750. NZD/USD pun diprediksi bakal segera merosot dari 0.6550 ke 0.6500. Dengan perkembangan konflik dagang yang bernada negatif di pekan ini, serta kecenderungan RBNZ untuk mengikuti bank sentral lain di jalur pelonggaran moneter, AUD/USD dan NZD/USD hanya akan bergerak di satu arah, yakni penurunan. Russell Sandiford Chief Market Analyst ACY Securities (Sydney) Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#240
|
||||
|
||||
|
Data Ketenagakerjaan AS Stabil, Emas Bergerak Solid Selain laporan ekonomi mengenai pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam, memanasnya tensi perang dagang AS-China di minggu lalu masih mempengaruhi sentimen pasar global. Perlu diperhatikan juga bahwa isu tersebut bisa memojokkan The Fed untuk melakukan pemotongan suku bunga lebih lanjut. Apa Arti Data Ketenagakerjaan AS Bagi Pasar Forex? Rilis laporan yang beragam memicu pergerakan signifikan bagi Dolar AS, dengan USD/JPY yang terdorong turun ke area 106.35, sementara emas menguat ke kisaran $1,448 sebelum akhirnya berkonsolidasi. Tingkat upah pekerja di AS hanya naik sedikit, pengangguran gagal menunjukkan perbaikan, dan NFP dirilis sesuai ekspektasi. Sinyal dari ketiga indikator tersebut dianggap sebagai pemicu untuk melepas posisi Long USD di hari Jumat kemarin (02/Agustus). Harga pembukaan hari ini menguntungkan aksi pelaku pasar forex di atas, karena USD dibuka melemah versus mata uang mayor lainnya. Namun Chart di bawah ini menunjukkan bahwa pada sisi downside, NZD/USD semakin dekat dengan support kunci di area 0.6480. Di lain pihak, GBP/USD naik tipis di kisaran 1.2175, yang memberikan peluang entry menguntungkan bagi para trader untuk Short di pasangan mata uang yang masih digelayuti oleh masalah Brexit ini. Pasar Ekuitas Global Menjauh Dari Level Tinggi Kejutan dari rencana kenaikan tarif impor AS pada barang-barang China masih dirasakan oleh pasar saham di seluruh dunia. Indeks Dow (DJ30) turun dari level tingginya minggu lalu. Menurut pandangan ACY, harga akan segera membentuk Lower Low-nya. Imbas dari kembali panasnya tensi dagang AS-China akan paling dirasakan oleh pasar saham, termasuk pasar saham Asia yang masih memerah pasca tweet Presiden Trump Jumat lalu. Sama sekali tidak ada peluang menjanjikan jika Anda berencana melakukan buy di level-level harga ekuitas saat ini. Probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed di bulan September yang kini sudah mencapai 100%, disorot ACY sebagai katalis yang akan menekan harga saham secara global. Setelah perubahan fundamental mayor yang datang dari rencana kenaikan tarif impor AS per 1 September mendatang, pasar meyakini bahwa The Fed perlu lebih agresif dalam memberlakukan serangkaian penurunan suku bunga. Prospek inilah yang akan senantiasa membebani ekuitas. Event Kunci Minggu Ini Pekan ini akan diramaikan dengan pengumuman suku bunga RBA dan RBNZ. Pasar mengekspektasikan jika kedua bank sentral tersebut akan mengikuti trend Rate Cut baru-baru ini. Secara keseluruhan, berikut adalah rilis data dan peristiwa berdampak tinggi di sepanjang pekan ini: PMI Non-manufaktur AS (Senin malam). Data Ketenagakerjaan New Zealand (Selasa). Pengumuman suku bunga RBA (Selasa). Pengumuman suku bunga RBNZ (Rabu). Pernyataan Kebijakan Moneter RBA (Jumat). Data Manufaktur Inggris (Jumat). Data Ketenagakerjaan Kanada (Jumat). Untuk saat ini, USD/CAD masih menjadi pair yang masuk dalam radar buy ACY di area 1.3200; khususnya karena situasi fundamental saat ini cenderung membebani CAD, sementara nuansa risk-off terlihat akan bertahan untuk sementara waktu. GBP masih diproyeksi sangat bearish, sehingga ACY memilih Short GBP/USD dari area 1.2200-1.2000 (atau bahkan 1.1800). Sementara itu, AUD/USD masih tertekan oleh isu-isu perang dagang yang saat ini masih negatif, sehingga waspadai penurunan harga ke area 0.6750 dalam waktu dekat. Russell Sandiford Chief Market Analyst ACY Securities (Sydney) Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
![]() |
|
|
Terkait
|
||||
| Thread | Forum | |||
| Analisa Harian Market Forex oleh Tim FBS | Forex | |||
| Analisa Market Teknikal dan Fundamental | Forex | |||
| cara analisa pergerakan market ala silumankupukupu | Forex | |||
| Analisa Market by reyvalentino19 | Forex | |||
| Free Signal dan Analisa - for Derivative Market | Forex | |||