Ceriwis  

Go Back   Ceriwis > DISKUSI > Forex

Forex Diskusi apapun tentang Forex disini.

Reply
 
Thread Tools
  #221  
Old 20th May 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

Euro Melemah Jelang Pemilu Parlemen Uni Eropa

Walaupun kalender ekonomi pekan ini tak terlalu dipadati dengan data berdampak tinggi, ada beberapa event penting yang dapat menggerakkan pair-pair mayor untuk menguji atau menembus level-level krusial.

Dalam beberapa hari terakhir, baik China maupun AS sama-sama melaporkan penurunan output manufaktur dan Retail Sales. Konsekuensinya, PBoC kemungkinan besar akan segera mengumumkan stimulus tambahan, sementara The Fed diperkirakan tetap mempertahankan kebijakannya saat ini.

Divergensi kebijakan moneter di atas dapat menambah dorongan pada USD/CNH, yang dalam 10 hari terakhir terlah menguat hampir 3% dan menyentuh level tertinggi 6 bulan di 6.9475 pada penutupan sesi perdagangan New York akhir pekan lalu.

Secara historis, Beijing pernah mempertahankan posisi CNH di level 7.00 saat volatilitas pasar sedang tinggi, tepatnya pada awal tahun 2017 dan akhir tahun lalu. Kemungkinan besar, PBoC akan kembali mencari cara untuk menahan kenaikan USD/CNH di 7.00. Namun apabila bank sentral tersebut gagal dan batas 7.00 ditembus, maka ACY memperkirakan jika pasar finansial global akan kembali ke mode Risk-Off.

Meskipun eskalasi tarif dagang terkini telah berimbas pada AUD, NZD, dan JPY dalam pola historis yang tipikal di 10 sesi perdagangan sebelumnya, investor belum benar-benar menghubungkan dampaknya terhadap Euro. Baru di minggu lalu, para pelaku pasar forex benar-benar memperhitungkan peningkatan risiko tensi dagang di Zona Euro.

Sementara itu, Pemilu Parlemen Uni Eropa akan dimulai pada Kamis mendatang (23/Mei), dan hasilnya akan diketahui pada 26 Mei. Hasil polling di berbagai negara anggota Uni Eropa sejauh ini memprediksikan bahwa partai-partai yang berhaluan Center-Left bakal mendapat suara mayoritas. Namun, partai-partai nasionalis dan populis yang cenderung bersayap kanan juga dapat menghadirkan perubahan arah kekuasaan di Brussels.



Jika dikombinasikan dengan racangan kesepakatan Brexit yang masih tak menentu, perselisihan dengan pemerintah Italia soal defisit anggaran, dan data manufaktur Jerman, maka minimnya suara dukungan bagi kelompok Center-Left di Pemilu Parlemen UE dapat mempercepat laju penurunan EUR/USD.

Dari perspektif teknikal, setelah EUR/USD gagal menembus 1.1270 pada 13 Mei, harga langsung tertutup di bawah level tersebut selama 5 hari berturut-turut dan membentuk pola reversal mingguan di chart Daily. Apabila harga selanjutnya bisa mematahkan level rendah April di 1.1100, maka EUR/USD dapat memperpanjang penurunannya ke area 1.1020/30.

Karena pengaruh volatilitas di pasar ekuitas global, USD/JPY merosot hingga ke area terendah 4 bulan di kisaran 109.00, sebelum kembali menguat ke 110.00 pada akhir minggu lalu. Indikator momentum untuk pair ini belum menunjukkan indikasi positif, dan USD/JPY juga masih bergerak di bawah level MA 30 (111.10).

Dolar Australia terjun bebas pada pekan lalu, melemah hingga lebih dari 2% ke area 0.6600. Spekulasi yang semakin menguat tentang pemotongan suku bunga RBA dari 1.50% ke 1.25% di awal Juni mendatang, serta lemahnya data permintaan dari China, akan menjadi 2 hal yang membebani pergerakan AUD/USD.

Di chart Daily, RSI bergerak ke bawah 30.00 untuk pertama kalinya dalam 2.5 tahun. Dengan Yield Obligasi pemerintah Australia yang hanya 14 basis poin lebih tinggi dari suku bunga saat ini, AUD/USD masih berpotensi naik menembus 0.6800 dalam jangka pendek.

Sejak menyentuh level tinggi di kisaran 1.3175 pada 3 Mei, GBP/USD jatuh hampir 500 poin dan ditutup di area 1.2710 pada sesi perdagangan Jumat lalu (17/Mei). Indikator momentum masih terlihat menurun, meskipun Daily RSI sudah mencapai level terendah 9 bulan di level 28.00. Walaupun kabar positif dari Brexit yang dapat mendukung reli Sterling masih jauh dari perkiraan, ACY melihat adanya peluang sell EUR/GBP di area 0.8800.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
  #222  
Old 23rd May 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

RBA Akhirnya Siap Longgarkan Kebijakan

Reserve Bank of Australia (RBA) terakhir kali menggelar rapat kebijakan pada 7 Mei silam. Dalam meeting tersebut, anggota dewan sepakat untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 1.50%, rekor yang tak berubah dalam 34 bulan terakhir.

Menyusul keputusan tersebut, AUD/USD menguat ke 0.7050 seiring dengan reaksi trader forex terhadap pergeseran arah ekspektasi kebijakan, juga harapan tercapainya solusi untuk konflik dagang AS-China. Kedua faktor ini tadinya diekspektasikan dapat menopang penguatan Dolar Australia.

Akan tetapi, sejak negosiasi dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia menemui jalan buntu di minggu lalu, AUD/USD praktis hanya bisa meluncur ke satu arah, yakni jalur penurunan. Pair tersebut bahkan mencapai level terendah 4 bulan di 0.6840 pada hari Selasa lalu (21/Mei). Pelemahan signifikan pada hari itu juga dipicu oleh komentar Gubernur RBA, Philip Lowe, dalam sebuah konferensi pers di Brisbane. Ia mengungkapkan bahwa bank sentral "terbuka untuk menetapkan pemangkasan suku bunga di bulan Juni".


Dari perspektif pasar, meeting RBA 4 Juni mendatang diproyeksikan memiliki peluang pemotongan suku bunga 25 bps sebesar 90%. Sementara untuk rapat di bulan Agustus, pasar memperkirakan jika ada 60% kemungkinan bagi RBA untuk menurunkan suku bunga lagi hingga ke level rendah historis di 1.00%.

Dari perspektif yang lebih luas, satu-satunya argumen yang tak mendukung pelonggaran kebijakan RBA pada bulan Juni mendatang adalah: anggota dewan bisa saja memilih untuk menyimak laporan ketenagakerjaan lebih lanjut sebelum memulai siklus pelonggaran. Namun melihat retorika dovish yang cukup jelas dari pernyataan Lowe, ACY menilai jika RBA akan lebih memilih untuk memotong suku bunga ketimbang mempertahankannya lagi.

Dengan pertemuan kebijakan yang sudah tinggal 2 minggu lagi dari sekarang, AUD tampaknya akan tetap melemah versus mata uang negara-negara G7. Namun karena pair AUD/USD sudah 4.5% lebih rendah dari level tinggi April di 0.7210, kelanjutan Downtrend dalam jangka pendek kemungkinan besar akan lebih disebabkan oleh sentimen dari Dolar AS.

Sementara itu, EUR/USD relatif bergerak dalam range sempit, yakni sekitar 40 poin di minggu ini. Sebagai informasi, pemilu parlemen Uni Eropa akan mulai digelar hari ini (23/Mei). Tak heran, terdapat beberapa posisi Option berukuran besar yang ditempatkan di antara 1.1112 dan 1.1150, dengan expiry time di sesi London hari ini.

Mengingat mata uang tunggal Euro masih kesulitan menembus batas 1.1200 dalam 7 sesi perdagangan terakhir, ACY memprediksi jika momentum jangka pendek untuk EUR/USD masih cenderung melemah di chart Daily. Level rendah April di 1.1110 bisa menjadi poin teknikal krusial, dengan support terdekat berikutnya di area 1.1020/30.

Sejak menyentuh level terendah 4 bulan di 109.05 pada 13 Mei silam, pair USD/JPY terus menanjak dalam 5 dari 6 sesi perdagangan terakhir. Harga bahkan sempat menyentuh level tinggi 110.60 di sesi Asia kemarin (22/Mei). Meskipun begitu, USD/JPY belum diperdagangkan di atas MA 30 sejak 2 Mei, sehingga indikator-indikator momentumnya cenderung memperlihatkan penurunan. Jika harga tertutup di bawah 109.90, MACD akan bertransisi ke area negatif dan mengindikasikan retest harga ke support 109.00.

GBP/USD konsisten melemah hingga ke level 1.2600, sejalan dengan kegagalan PM Theresa May untuk menggalang dukungan Parlemen terkait masalah draft kesepakatan Brexit yang masih berlarut-larut. Di lain pihak, Partai Brexit yang baru berdiri justru sukses meraih banyak dukungan. Perubahan dinamika politik ini dianggap pasar sebagai meningkatnya kemungkinan Hard Brexit; inilah mengapa GBP/USD terus diperdagangkan turun.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
  #223  
Old 30th May 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

Saham Global Terkoreksi, Risk-Off Mendominasi
Setelah berbagai indeks saham AS mencatatkan level tinggi baru di akhir April, eskalasi konflik dagang AS-China mendorong pasar ekuitas global ke zona merah di sepanjang bulan Mei. Meskipun saham-saham negara G7 relatif pulih setelah AS menetapkan kenaikan tarif impor baru, masuknya perusahaan teknologi raksasa Huawei di blacklist perdagangan AS membuat potensi sell-off kembali meningkat.

Maka dari itu, ACY menilai cukup penting untuk meninjau respon pasar forex secara umum terhadap ketidakpastian di pasar saham, atau yang sering juga disebut sebagai Risk-Off. Selama ini, selalu ada korelasi kuat antara pasar ekuitas dan pergerakan harga di pasar forex. Ketika saham berada di bawah tekanan sell, USD dan JPY cenderung menguat karena investor mengakui dua mata uang tersebut sebagai safe haven di kala pasar bergejolak.


Dalam kondisi pasar saat ini, Dolar AS juga tengah kebanjiran arus permintaan akibat selisih suku bunga AS versus negara mayor lain. Jadi meski tanpa disebabkan oleh perburuan safe haven sekalipun, USD tetap bisa unggul karena investor telah mencerna bahwa bank sentral New Zealand, Australia, dan Zona Euro mensinyalkan jika stimulus lanjutan dan pemangkasan suku bunga adalah kebijakan yang sudah mereka persiapkan.

Di sisi lain, JPY selama ini akrab diperhitungkan sebagai funding currency. Suku bunga Jepang yang hampir mendekati nol selama beberapa dekade memang menyediakan keuntungan Swap positif dalam Carry Trade yang melibatkan JPY sebagai pembanding untuk membeli mata uang atau aset finansial lainnya. Namun ketika volatilitas pasar meningkat dan pasar ekuitas melemah, investor justru lebih memilih untuk melikuidasi perdagangan-perdagangan mereka dan mengalihkan dana kembali ke JPY. Hal ini pada akhirnya memicu lonjakan permintaan terhadap Yen.

Pada sesi perdagangan Asia kemarin (29/Maret), USD/JPY melemah ke level terendah dua minggu di 109.15, seiring dengan kemerosotan Nikkei 225 ke bawah 21,000.0 untuk ketiga kalinya dalam bulan ini. Level support USD/JPY berikutnya terpatok di level 110.865, yang menurut pengamatan ACY merupakan level expiry dari posisi Option senilai 1.5 miliar JPY. Jika pasar saham terus melanjutkan pelemahannya, maka support 110.85 akan diuji di akhir pekan.

Setelah bullish reversal menuju 0.6900 di pekan lalu, AUD/USD sudah 4 kali gagal menembus level resistance 0.6940. Laporan CAPEX hari ini adalah market mover yang menunjang pergerakan harga. Dengan hasil rilis yang di bawah proyeksi, AUD/USD kemungkinan akan menguji kembali level support di 0.6865.

Sementara itu, EUR/USD cukup banyak diperdagangkan setelah Unemployment Change Jerman kemarin dilaporkan meningkat di luar dugaan. Jumlah penduduk menganggur di negara itu bertambah 60,000, jauh lebih tinggi dari konsensus pasar di 8,000. Mata uang Euro pun tertekan hingga ke bawah 1.1150. Area 1.1100 akan menjadi level support selanjutnya, yang kemungkinan masih di luar jangkauan untuk hari ini.

GBP/USD sukses bertahan di atas Low pekan lalu di kisaran 1.2610, walaupun indikator momentum tidak menunjukkan sinyal-sinyal reversal naik yang berkelanjutan. Pergerakan naik ke atas 1.2725 akan meringankan sentimen bearish untuk Pound, paling tidak hingga muncul pemberitaan Brexit selanjutnya.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
  #224  
Old 3rd June 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

Outlook Pasar Jelang 3 Event Penting Pekan Ini

Dalam 5 minggu terakhir, USD telah membentuk pola kenaikan di awal hingga pertengahan pekan, sebelum akhirnya melemah pada penghujung pekan. Pola ini berulang lagi di minggu lalu, ketika mata uang-mata uang mayor berhasil pulih versus Greenback di sesi New York Jumat kemarin (31/Mei).

Perlu diketahui, akhir pekan lalu juga menandai hari trading terakhir di bulan Mei, sehingga wajar jika banyak investor melikuidasi posisi USD mereka, terutama pada perdagangan yang melibatkan Dolar AS dengan mata uang mayor lainnya. Situasi ini lebih masuk akal lagi jika kita melihat tingginya dampak rilis data dan event yang dijadwalkan meluncur pekan ini.


Menurut kalender ekonomi, 3 peristiwa terpenting bagi trader forex minggu ini adalah pengumuman suku bunga RBA pada hari Selasa, rapat kebijakan ECB pada hari Kamis, dan tentu saja, rilis data NFP pada hari Jumat. Masing-masing event tersebut telah terbukti bisa menggerakkan pasar.

Dengan pertemuan ECB dan RBA yang diperkirakan didominasi oleh kecenderungan terhadap stimulus moneter atau bahkan Rate Cut, maka trading range untuk AUD, EUR, dan USD bisa melebar secara signifikan.

Para pengamat pasar memproyeksi jika RBA bisa melakukan hingga 3 kali pemotongan suku bunga di tahun ini, dengan langkah Rate Cut pertama yang akan diputuskan pada rapat kebijakan besok. Kombinasi antara rendahnya pertumbuhan inflasi dan Yiel Obligasi 10-tahunan yang selip di bawah OCR 1.5% pada minggu lalu, telah membuat suku bunga RBA sudah tertinggal dari situasi terbaru.

Meski demikian, ekspektasi luas akan RBA Rate Cut tidak lantas menghalangi AUD/USD untuk diperdagangkan di atas level 0.6900 sepanjang pekan lalu. Menurut ACY, rebound dari area 0.6865 pada 17 Mei tampaknya telah melonggarkan kondisi Oversold AUD secara teknikal, juga mengungkit Daily RSI ke atas batas 45.00. Dengan perspektif ini, AUD/USD diprediksi bisa membentuk Retracement ke level yang lebih tinggi setelah pengumuman suku bunga RBA.

Risiko Dolar Australia sebenarnya bukan terletak pada Rate Cut, tapi lebih kepada Statement RBA yang mengiringi pengumuman suku bunga. Sinyal apapun yang mengindikasikan penundaan Rate Cut lebih lanjut akan mendorong AUD/USD ke atas 0.7000. Namun apabila dewan bank sentral justru mengakui jika siklus pelonggaran baru telah dimulai, maka tak akan butuh waktu lama bagi Dolar Australia untuk kembali terjun ke kisaran 0.6850.

Sementara itu, pelemahan pada angka-angka inflasi Zona Euro dan data manufaktur Jerman yang mengecewakan, menandakan bahwa ECB tidak akan memulai pertemuan minggu ini dengan kabar positif. Kemungkinan besar, Presiden ECB Mario Draghi akan mendiskusikan rincian TLTRO yang pertama kali diumumkan pasca rapat Maret lalu. Dengan suku bunga deposit yang dipatok pada level -40 basis poin selama lebih dari setahun, para analis pasar mengekspektasikan jika bunga pinjaman TLTRO akan ditetapkan di bawah 0 persen.

Besarnya program pinjaman baru ECB kemungkinan tak akan dipublikasikan. Meski demikian, bisa dicatat bahwa TLTRO edisi 2016/17 bernilai 740 miliar Euro, sementara edisi 2014 mencapai hampir 530 miliar Euro. Bagi para trader EUR, sebaiknya diperhatikan juga bahwa program-program TLTRO sebelumnya belum menerima dana pengembalian hingga saat ini.

Secara teknikal, EUR/USD telah menguji support 1.1100 sebanyak 3 kali sejak 26 April lalu. Outlook pair ini sekarang terlihat relatif netral, dengan MA 30 yang bergerak di kisaran 1.1190 dan Daily RSI pada area 46.00. Walaupun ECB kemungkinan besar tak akan menyiarkan kabar bullish bagi pasar Euro, harga tak akan melemah lebih lanjut apabila level 1.1100 tak terpatahkan.

Di sisi lain, aksi jual di pasar ekuitas negara-negara G7 telah menyebabkan USD/JPY merosot hingga 175 poin sepanjang minggu lalu, dan menyentuh level terendah 5 bulan di 108.27 pada penutupan sesi New York akhir pekan kemarin. Sekalipun indikator momentum terlihat mulai mendekati area Oversold, ACY belum mengeliminasi kemungkinan penurunan lebih lanjut apabila pasar ekuitas masih terus melemah.

Outlook bearish USD/JPY telah memberikan ruang bagi GBP/USD untuk menguat ke atas 1.2630 pada akhir minggu lalu. Penting dicatat, kenaikan harga ini merupakan yang keempat kalinya bagi Pound untuk mencatatkan keunggulan versus Dolar AS sejak 6 Mei lalu. Daily chart GBP/USD menampilkan proyeksi resistance terdekat di area 1.2720/30, dan batas atas berikutnya yang terlihat di 1.2760.

Dengan kosongnya jadwal rilis data berdampak tinggi dari Inggris pekan ini, ACY memperkirakan jika pasar akan lebih tertarik sell EUR/GBP di area 0.8840, ketimbang buy GBP/USD dengan Market Order.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
  #225  
Old 13th June 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

Apakah Ekspektasi Fed Rate Cut Terlalu Berlebihan?
Pekan ini, pasar mengawali aktivitas dengan sentimen bearish terhadap Dolar AS, dengan Greenback yang seakan-akan bakal kehilangan momentum terhadap mata uang mayor lainnya.

Euro masih menguat pasca pernyataan yang "tidak se-dovish dugaan" pada pertemuan ECB minggu lalu, Dolar Australia sukses menggaet kembali level 0.7000, dan momentum upside Sterling menyajikan prospek pencapaian GBP/USD di level 30 MA-nya untuk pertama kali dalam lebih dari sebulan.

Faktor di balik pelemahan Dolar AS sebenarnya sederhana saja: arus data berdampak tinggi yang mengecewakan ditambah dengan tendensi para pejabat The Fed untuk menurunkan bias kebijakan suku bunga mereka, yang berimbas pada penempatan proyeksi Rate Cut hingga 60 bps antara saat ini hingga Januari tahun depan. Bisa dikatakan, pembalikan trend USD pada minggu lalu banyak dipengaruhi oleh ekspektasi penurunan suku bunga Fed, yang menurut ACY sudah melampaui efek normalnya pada pergerakan harga secara riil.

Sebagai contoh, sekalipun para pejabat The Fed telah mengindikasikan bahwa suku bunga dapat diturunkan untuk menanggulangi risiko potensial dari perang dagang dengan China, tidak ada satu pun dari petinggi bank sentral AS tersebut yang menekankan adanya rencana untuk memutus kelanjutan penyusutan neraca The Fed dari kisaran saat ini ($20/30 miliar per bulan).

Faktanya, sejak pemerintah AS meningkatkan tensi konflik dagang dengan Beijing di bulan Maret, The Fed telah mengurangi neracanya sebesar $100 miliar. Jika ditotal, maka jumlah aset-aset QE yang sudah jatuh tempo dan terlepas dari neraca The Fed menjadi sebesar $620 miliar, terhitung sejak program pengurangan Balance Sheet dilancarkan pada Juli 2017.

Sesuai protokol kebijakan FOMC, ACY memperkirakan jika para pejabat The Fed yang memiliki hak suara saat ini akan menginisiasikan diskusi awal Rate Cut, tanpa memperhitungkan kemungkinan bentuk kebijakan longgar lain.



FOMC akan menggelar pertemuan rutinnya pada Rabu pekan depan (19/Juni). Apabila para pejabat The Fed memang berencana memulai siklus pelonggaran untuk menyesuaikan kebijakan dengan ekspektasi pasar saat ini, maka inilah saat yang tepat untuk mengumumkannya. Hingga saat itu tiba, para trader forex sebaiknya membiasakan diri dengan volatilitas Intraday yang lemah dan kompresi lebih lanjut pada range-range trading saat ini... kecuali pada pair USD/JPY.

Di luar dugaan, data makro Jepang minggu ini meningkat lebih tinggi dari ekspektasi, dengan GDP dan Core Machinery Orders yang sama-sama mengungguli forecast pasar. Rilis data tersebut menunjukkan terjadinya pertumbuhan Jepang dalam basis tahunan untuk yang pertama kalinya sejak akhir 2017.

USD/JPY sempat menyentuh level tertinggi mingguan di 108.80, tapi kemudian gagal (lagi) memperpanjang kenaikannya. Pasangan mata uang ini belum pernah diperdagangkan di atas level 30 MA sejak 3 Mei, dan tampaknya sudah kehabisan momentum upside. Menurut ACY, level terendah minggu lalu di dekat 107.85 bukanlah support yang signifikan, sehingga USD/JPY diekspektasikan bisa merosot lagi hingga ke area 107.00.

Sementara itu, laporan ketenagakerjaan Australia hari ini menjadi penggerak AUD/USD. ACY sebelumnya memprediksikan bahwa AUD/USD dapat menembus support 0.6920 jika ternyata Employment Change hanya menunjukkan penambahan 5,000 pekerjaan untuk full-time jobs. Saat analisa ini ditulis, AUD/USD sudah turun hingga menembus 0.6920 karena penambahan pekerja pada pekerjaan full-time hanya sebesar 2,400.

Sepanjang minggu ini, EUR/USD sebagian besar bergerak dalam range harga sebesar 40 poin, yakni antara 1.1300 dan 1.1340. Dengan sepinya jadwal rilis data penting dari Zona Euro, cukup sulit untuk memperkirakan pemicu breakout jangka pendek dari range harga saat ini.

Setali tiga uang dengan Euro, sinyal indikator momentum yang cenderung netral dan Daily RSI yang bergerak sedikit di bawah level 50.00 membuat Sterling tak memiliki katalis teknikal dalam waktu dekat. ACY mengekspektasikan jika pergerakan GBP/USD akan terbatas di area 1.2760, dengan area support di kisaran 1.2675 dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
  #226  
Old 17th June 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

Akankah Dolar Australia Mencapai 0.6700?

Terdapat sebuah prinsip yang secara luas beredar di pasar forex: sebuah pergerakan mata uang akan lebih dipengaruhi oleh ekspektasi perubahan suku bunga bank sentral, daripada perubahan itu sendiri. Sepanjang 3 minggu terakhir, "aturan" ini tercermin sempurna dalam Price Action AUD/USD.

Reserve Bank of Australia (RBA) secara resmi mengumumkan pergeseran kebijakan suku bunga, dari yang semula netral menjadi longgar pada pertengahan Mei lalu. Ketua RBA, Philip Lowe, dengan jelas mengakui dampak stagnasi upah dan tingginya level utang konsumen pada tingkat konsumsi, sehingga tak heran jika ia dan anggota dewan RBA lainnya mulai mempersiapkan market untuk menyambut pemotongan suku bunga pertama di lebih dari 3 tahun terakhir.

Alhasil, AUD/USD pun merosot dari 0.7050 ke 0.6865 hanya dalam waktu seminggu, dan menguji level support tersebut sebanyak 4 kali sebelum kembali ke area 0.7000 pada 4 Juni; hari ketika suku bunga acuan benar-benar diturunkan sebesar 25 bps ke 1.25%.



Meski demikian, reli Dolar Australia pasca keputusan RBA terhenti di minggu lalu, ketika harga melemah lebih dari 1.5% dan sampai ke kevel rendah 0.6860 di akhir pekan, seiring dengan spekulasi pasar yang kembali mempertimbangkan penurunan suku bunga lebih lanjut.

Laporan ketenagakerjaan yang kurang meyakinkan, ditambah dengan data impor China yang lemah, turut mendorong AUD/USD turun menembus beberapa garis support. Hal ini sejalan dengan Yield Obligasi pemerintah Australia yang diperdagangkan di bahwa 1.0% untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Dengan rilis notulen pertemuan RBA yang dijadwalkan rilis Selasa besok (18/Juni), pasar akan mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai pandangan-pandangan fundamental dari anggota dewan bank sentral. Kemungkinan besar, mereka saat ini memiliki spektrum kekhawatiran yang lebih luas, sehingga dapat semakin meningkatkan ekspektasi Rate Cut lebih lanjut.

Dari sudut pandang teknikal, AUD/USD telah kembali mematahkan MA 30 dan saat ini tengah menunjukkan kondisi bearish divergence dengan Daily RSI. Jika ditelisik lebih lanjut, ACY mencermati bahwa Daily RSI berada di level 25.25 ketika harga terakhir kali diperdagangkan di 0.6865 pada tanggal 17 Mei. Namun ketika sekarang AUD/USD kembali bergerak di area yang sama, Daily RSI masih berada di kisaran 35.15. Divergensi tersebut menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak potensi downside kali ini, sebelum AUD/USD mencapai kondisi Oversold.

Setelah diperdagangkan melemah ke 108.15 selama sesi Asia akhir pekan lalu, USD/JPY mencatatkan reversal kuat berkat laporan Retail Sales AS yang lebih baik dari ekspektasi. Pair ini menutup sesi New York hari Jumat (14/Juni) di atas 108.50, "memperbaiki" pelemahan yang berlangsung selama 3 minggu berturut-turut, dan mengubah sinyal indikator momentum ke mode netral.

Dengan pertemuuan Bank of Japan yang dijadwalkan berlangsung Kamis besok (20/Juni), USD/JPY kemungkinan akan kembali diperdagangkan dalam range sempit, tepatnya di kisaran 108.90 dan 108.20 dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Sementara itu, Sterling kehilangan momentum baik terhadap Dolar maupun Euro, seiring dengan terus meningkatnya prospek Hard Brexit. GBP/USD menunjukkan level Close mingguan di bawah 1.2600 untuk pertama kalinya dalam tahun ini. Menurut ACY, pair ini bahkan berpotensi untuk melanjutkan pelemahan ke level 1.2520.

EUR/USD juga diperdagangkan melemah dalam 3 hari terakhir, dengan kemerosotan mencapai lebih dari 1% secara mingguan. Penembusan support 1.1200 akan memicu momentum downside lebih lanjut, yang bisa membawa harga kembali memasuki area 1.1125.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
  #227  
Old 18th June 2019
whiteking's Avatar
whiteking whiteking is offline
Ceriwiser
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 774
Rep Power: 11
whiteking mempunyai hidup yang Normal
Default

Pada pergerakan harga GBPJPY masih menunjukkan kecenderungan bearish, pada pekan ini nampak trend ini cukup kuat dan dengan sedikit retracement masih melanjutkan trend bearish dalam jangka panjang , pada kerangka waktu weekly menunjukkan kecenderungan bearish ini dalam jangka panjang

Untuk belajar trading bisa dengan akun mikro Firewoodfx, mereka menawarkan fixed rate 1$ sama dengan Rp 10.000 untuk klien Indonesia
Reply With Quote
  #228  
Old 20th June 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

Soal Kebijakan Longgar, Draghi Akan Selalu Mendahului The Fed

Saat menghadiri forum perbankan di Portugal pada Selasa lalu (18/Juni), Ketua ECB Mario Draghi mengumumkan hal yang sudah diekspektasikan oleh sebagian besar analis pasar pasca pertemuan kebijakan ECB dua minggu lalu: bank sentral siap meluncurkan stimulus dalam bentuk QE dan menurunkan suku bunga, jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi Uni Eropa (UE) tidak meningkat dalam waktu dekat.


Walaupun pernyataan tersebut tidak terlalu mengejutkan pasar, konfirmasi Draghi yang diumumkan sehari sebelum rapat penting FOMC memberikan pengaruh yang signifikan di pasar. EUR/USD merosot di bawah 1.1200 untuk pertama kalinya dalam sebulan pasca berita tersebut, sebelum menemukan support di area 1.1180. Sementara itu, bunga obligasi pemerintah Jerman bertenor 10-tahunan jatuh ke level terendah sepanjang masa, dan menduduki area -31 basis poin. Titik rendah baru ini hanya berselisih 9 basis poin dari suku bunga deposit ECB yang berada di -40 basis poin.

Penting dicatat bahwa rendahnya bunga di atas membuat total negatively yielding debt di Uni Eropa menjadi 12 triliun Euro; situasi yang tak bisa dianggap sebagai penunjang sentimen bullish bagi EUR.

Dari perspektif ACY yang lebih luas, langkah ECB yang kembali pada mode pelonggaran setelah 6 bulan mengakhiri operasi QE-nya, berkaitan dengan keputusan The Fed untuk mempertahankan Fed Funds Rate di 2.50%.

Tidak seperti data-data Zona Euro yang berdampak tinggi, rilis laporan ekonomi AS akhir-akhir ini memang tidak memberikan sinyal yang cukup jelas bagi The Fed untuk melakukan penyesuaian suku bunga.

Faktanya, sejak FOMC Meeting 1 Mei lalu, harga-harga saham di Wall Street cenderung naik, tingkat pengangguran jatuh ke level terendah 45 tahun, konsensus untuk pertumbuhan ekonomi relatif tidak berubah, dan rencana tarif dagang untuk Meksiko yang sebelumnya memicu spekulasi Rate Cut, telah ditunda. Menurut tool GDP Tracker dari Atlanta Fed, ekonomi AS di kuartal kedua tahun ini diproyeksi mencapai 2.1%, dengan angka-angka final untuk tingkat pemintaan dan konsumsi di kisaran 3.0%.

Bisa dikatakan, sekalipun The Fed benar-benar memotong suku bunga seperti yang digadang-gadang selama ini untuk mengantisipasi efek perang dagang dengan China, AS akan tetap mempertahankan jarak divergensi suku bunga dengan Zona Euro.

Maka dari itu, meski EUR/USD berpeluang terkoreksi ke area 1.1290/1.1310, ACY memperkirakan jika pair ini secara garis besar masih bergerak dalam Downtrend jangka panjang, yang menargetkan level di bawah 1.1000.

Notulen dari pertemuan RBA 4 Juni lalu mengandung pernyataan yang menggarisbawahi potensi penurunan suku bunga lebih lanjut. Akibatnya, AUD/USD pun kembali selip ke bawah 0.6850 sebelum menemukan pijakan di area 0.6830.

Dalam dinamika pergerakan serupa EUR/USD, cukup logis untuk memandang bahwa RBA akan selalu beberapa langkah di depan The Fed dalam hal penurunan suku bunga; terlepas dari bias pelonggaran macam apa yang akan diadopsi The Fed di sisa tahun 2019. Secara teknikal, chart AUD/USD kini menunjukkan support kunci di sekitar 0.6780, dengan resistance di area 0.6975.

Rapat BoJ hari ini tidak terlalu berpengaruh karena minimnya ekspektasi perubahan kebijakan. USD/JPY sendiri sudah membentuk pola rounding top di chart Daily, dengan support di 107.70 dan resistance pada area 108.60/70. Pola harga seperti ini biasanya mengarah pada pergerakan downside. Untuk itu, ACY menilai jika ekstensi range USD/JPY dalam jangka pendek akan menyentuh 107.00 atau bahkan lebih rendah lagi.

Seiring dengan menyusutnya pilihan kandidat PM Inggris, peluang Boris Johnson untuk "berkantor" di Downing Street No. 10 semakin terlihat nyata. Selama ini, Johnson merupakan figur yang giat mendukung rencana "No-Deal Brexit", dan dikenal bisa "mangkir" dari kebijakan-kebijakan penting.

Akan tetapi, peluang terpilihnya Boris Johnson sebagai PM Inggris tak mampu menahan rebound GBP/USD dari level rendah 1.2510 yang tercapai di hari Selasa kemarin. Jika harga menembus resistance 1.2680 ke arah atas, maka Pound kemungkinan akan melemah dalam jangka menengah.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
  #229  
Old 24th June 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

Mungkinkah Mini-BOT Italia Memicu Krisis Baru Bagi Euro?

Sejak mencatatkan level terendah intraday pada hari Selasa lalu (18/Juni) di area 1.1180, EUR/USD reli hingga lebih dari 180 poin ke 1.1365, dan mengakhiri pekan kemarin dengan posisi di atas garis MA 200 untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun.

Dengan interpretasi pasar yang dovish terhadap FOMC dan tumbuhnya harapan terhadap pembicaraan dagang AS-China dalam pertemuan G-20 minggu ini, maka cukup beralasan untuk memandang bahwa reli counter-trend EUR/USD lebih disebabkan oleh berita-berita fundamental dari luar Zona Euro.

Sekalipun outlook teknikal menunjukkan peluang pergerakan EUR/USD kembali ke batas 1.1400 dalam pekan ini, perlu diperhatikan juga bahwa potensi ancaman yang masih mengintai di Italia bisa merusak seluruh struktur EMU (European Monetary Union).





Dalam update forex yang telah lalu, ACY pernah menyebutkan peliknya negosiasi anggaran yang tengah berlangsung antara Brussel dan Pemerintah Italia. Para pemangku kepentingan di negeri tersebut ingin menstimulus perekonomian dengan meluncurkan program fiskal baru, sementara Dewan Eropa meresponnya dengan ancaman denda yang fatal bila Italia membiarkan rasio utangnya terhadap PDB naik di atas 2.4%.

Didorong oleh dukungan kuat terhadap partai 5-Star Movement di pemilu parlemen Eropa baru-baru ini, Wakil PM Matteo Salvini dengan yakin memperkenalkan Undang-Undang yang memungkinkan Departemen Keuangan Italia untuk menerbitkan dan membelanjakan "Mini-BOT". Peluncuran Mini-BOT dimaksudkan agar pemerintah dapat membayar tagihan-tagihan infrastruktur yang sudah jatuh tempo, sembari menghindar dari parameter utang EMU.

Mini-BOT sendiri merupakan singkatan dari "Bills of Treasury" (Buoni Ordinari del Tesoro dalam Bahasa Italia), yang didasarkan pada Euro dan didenominasikan dalam nilai antara €10 and €500.... Pada dasarnya, Italia sama saja dengan sekonyong-konyong membuat uang baru dan membelajakannya sendiri.

Meskipun pekan lalu perdagangan Euro tampak disibukkan dengan negosiasi dagang dan pengambilan sikap bank sentral negara-negara G-7, masalah Mini-BOT dapat menjadi langkah pertama bagi Italia untuk menciptakan mata uang domestik yang bisa digunakan secara paralel dengan Euro, sebagai persiapan sebelum keluar secara formal dari Zona Euro dan EMU.

Italia merupakan negara dengan perekonomian terbesar keempat di Uni Eropa. Maka dari itu, ACY memandang jika eskalasi masalah Mini-BOT dapat memperluas kekhawatiran terhadap ketidakstabilan EMU secara sistematis, dan menjadi ancaman krisis baru bagi bank-bank Uni Eropa.

Barangkali, masih terlalu awal untuk mengantisipasi dampak Mini-BOT terhadap Euro di minggu ini. Dengan proses Brexit yang belum terselesaikan, cukup sulit untuk menemukan katalis yang dapat mempengaruhi reli EUR/USD atau EUR/GBP saat ini.



Outlook Pair Mayor Lainnya
Didukung oleh Treasury Yield domestik yang melandai, peluang pemotongan suku bunga RBA lebih lanjut pada 2 Juli mendatang telah meningkat dari 60% ke 80% di pekan lalu. Pergerakan harga AUD/USD pada chart Daily mengindikasikan zona resistance kuat di area 0.6040 dan 0.6960, sementara sinyal indikator momentum cenderung netral.

USD/JPY menemukan support di sekitar 107.00 pada Jumat lalu (21/Juni), tapi gambaran teknikalnya tidak mengindikasikan Low jangka pendek. Dengan Daily RSI yang beradai di 26.25, pair tersebut bisa terangkat kembali ke area 108.00 di awal pekan ini. ACY sendiri lebih memilih Long untuk posisi perdagangan yang taktis, begitu kondisi Oversold terkonfirmasi.

Di sisi lain, GBP/USD menguat hingga lebih dari 1.0% sepanjang pekan lalu, dan mencatatkan posisi penutupan harga di atas MA 30 untuk pertama kalinya sejak 6 Mei. Area resistance berikutnya diprediksi berada di 1.2810, dengan support terdekat terletak sedikit di bawah 1.2650. ACY memilih untuk memperdagangkan Sterling versus Euro dari pola Rounding Top yang terbentuk di kisaran 0.8935, dengan target downside di dekat 0.8730.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
  #230  
Old 27th June 2019
djamirunaje's Avatar
djamirunaje djamirunaje is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 3,095
Rep Power: 14
djamirunaje mempunyai hidup yang Normal
Default

Investor Bersiap Menghadapi KTT G20

Mengingat pembicaraan dagang antara Xi Jin-ping dan Donald Trump diiproyeksikan bakal mendominasi nuansa pasar akhir pekan ini, barangkali akan lebih akurat untuk mendeskripsikan pertemuan yang akan digelar di Osaka itu sebagai G20 Summit.

Ini akan menjadi tatap muka pertama antara Xi dan Trump semenjak negosiasi AS-China terputus di bulan Mei. Sejak saat itu pula, kedua belah pihak saling berkontribusi terhadap memburuknya hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Kebuntuan dalam pembicaraan Washington dan Beijing telah mengguncang pasar finansial global, serta memicu keresahan mengenai potensi gangguan pada jalur-jalur perdagangan internasional yang dapat menimbulkan implikasi krusial bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

Di tengah antisipasi pasar terhadap pertemuan G20, Trump justru mengeluarkan jurus ancamannya untuk menerapkan tarif tambahan terhadap barang-barang China senilai 300 miliar Dolar AS, mendaftarhitamkan beberapa perusahaan teknologi yang membantu pengembangan industri Supercomputer China, juga menyetujui penjualan 60 jet tempur F-16 ke Taiwan.

Di lain pihak, Xi tak tinggal diam. Sejauh ini, ia telah membangkitkan semangat nasionalisme di dalam negerinya, dan menegaskan bahwa China telah siap menghadapi konflik jangka panjang jika hal ini pada akhirnya bisa berujung pada lebih banyak kebebasan (secara ekonomi) bagi masyarakat China.

Singkat kata, pada titik ini tidak ada pihak yang menunjukkan sinyal kompromi ataupun kesediaan mengalah dari tuntutan-tuntutan sebelumnya, yang bisa mengarah pada resolusi jangka pendek dari perselisihan dagang kedua negara.



ACY pun mengekspektasikan jika pertemuan AS-China pada Sabtu (20/Juni) mendatang hanya akan berakhir dengan penundaan tarif impor dari AS, dan kesepakatan untuk mengadakan negosiasi-negosiasi resmi lebih lanjut di masa mendatang. Melihat tingginya level konflik dan luasnya spektrum isu yang dipermasalahkan, cukup wajar untuk tak mengharapkan apapun dari KTT G20 Osaka.

Outlook Teknikal Pair Mayor
Sesuai dugaan, pair-pair mayor diperdagangkan dalam range harga yang relatif sempit, dengan volatilitas Intraday yang cenderung kalem.

EUR/USD mencapai level tertinggi 3 minggu di 1.1410 pada sesi perdagangan Asia kemarin (26/Juni). Namun, pasangan mata uang ini kemudian melemah ke 1.1350. Indikator-indikator momentum masih menunjukkan sinyal yang cukup kuat untuk mendukung harga menguji kisaran 1.1400. Sekalipun begitu, apabila EUR/USD mematahkan 1.1335, maka hal ini akan menandakan tercapainya High jangka menengah.

RBNZ memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, yang berefek positif pada pergerakan AUD dan NZD terhadap USD. Akan tetapi, pergerakan AUD/USD melambat tepat di dekat area 0.7000 pada sesi perdagangan New York yang kemarin cenderung sepi. Dengan proyesi market yang sudah sebesar 80% untuk pemotongan suku bunga RBA pada pertemuan di Selasa (2/Juli) mendatang, Aussie kemungkinan akan sulit memperpanjang kenaikannya di atas area 0.7020.

Menurut pengamatan ACY, titik balik momentum jangka pendek di time frame H4 terletak pada 0.6969. Karenanya, break dari level tersebut dapat mendorong AUD/USD untuk kembali turun ke 0.6915.

Setelah melemah ke level terendah 6 bulan di 106.75 pada hari Selasa lalu, USD/JPY kini sudah pulih ke level 107.70. Pemulihan ini terlihat menjanjikan, dengan potensi perbaikan outlook teknikal di chart Daily jika harga berhasil menembus 108.10. Namun karena pair ini sangatlah sensitif terhadap perkembangan konflik dagang, maka hasil yang mengecewakan dari KTT G20 bisa mendorong harga kembali merosot hingga ke bawah 106.00.

Sementara itu, Sterling sempat menyentuh level tinggi 1.2785 pada sesi perdagangan London kemarin. Namun, harga kembali terpukul oleh masalah baru dalam isu Brexit. Secara teknikal, GBP/USD sudah melakukan "key reversal" dan kini mengarah ke level support 1.2660, yang juga bertepatan dengan level MA 30.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Reply With Quote
Reply


Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off


Terkait
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Analisa Harian Market Forex oleh Tim FBS MetaFX Forex 890 7th August 2020 12:04 PM
Analisa Market Teknikal dan Fundamental PlayFXnow Forex 0 25th April 2016 12:34 PM
cara analisa pergerakan market ala silumankupukupu FXOptimaks Forex 0 25th April 2016 12:14 PM
Analisa Market by reyvalentino19 AnalisaFX Forex 0 25th April 2016 11:46 AM
Free Signal dan Analisa - for Derivative Market ElementForex Forex 0 25th April 2016 11:39 AM

 


All times are GMT +7. The time now is 04:01 AM.