| FAQ |
| Calendar |
|
#211
|
||||
|
||||
|
Akankah Data NFP AS Kembali Ke Jalur Penguatan? Adalah suatu hal yang wajar bila pasar forex bereaksi dengan volatilitas tinggi setelah rilis data Non-Farm Payroll (NFP) AS. Selama bertahun-tahun, efek domino dari laporan NFP, baik yang lebih kuat ataupun lebih rendah dari ekspektasi, hampir selalu membentuk arah pergerakan harga hingga beberapa sesi trading pasca rilisnya. Bulan lalu contohnya, pasar tenaga kerja AS mendingin secara signifikan, dengan angka NFP yang mencetak hasil jauh di bawah ekspektasi, yakni 20,000 versus ekspektasi di kisaran 180,000. Hasil tersebut merupakan yang terendah dalam lebih dari 18 bulan, dan walaupun angka NFP Januari direvisi naik dari 304,000 ke 311,000, Dolar AS tidak menunjukkan performa penguatan di hari itu. Angka NFP AS bulan Februari yang jauh lebih rendah dari ekspektasi, sebagian besar disebabkan oleh Government Shutdown selama akhir Januari, juga cuaca dingin ekstrim dalam beberapa pekan di bulan Februari. Lemahnya laporan NFP mendorong sebagian pelaku pasar untuk tidak hanya mengkaji ulang ekspektasi suku bunga The Fed, tapi juga memperhitungkan kemungkinan bahwa langkah The Fed selanjutnya bisa saja berupa pemangkasan target FFR dari level 2.50% saat ini. Outlook suku bunga yang dovish ini tercermin pada proyeksi Fed Fund Futures untuk Januari 2020 yang melemah ke 2.10%, 40 basis poin lebih rendah dari suku bunga saat ini. Penurunan itu terjadi tak lama setelah publikasi laporan NFP bulan lalu. Namun sekarang, proyeksi Fed Fund Futures sudah kembali naik meski hanya ke 2.20%, dan USD berhasil menunjukkan pemulihan versus mata uang mayor lain. Konsensus untuk data NFP Maret yang akan terbit Jumat besok (5/April) mengisyaratkan adanya rebound ke 175,000, sementara tingkat pengangguran diperkirakan stabil di 3.8%, dan indeks upah meningkat sebesar 0.2%. Bagaimana pasar forex bereaksi terhadap laporan NFP kali ini, dapat bergantung pada kombinasi dari rilis data-data tersebut, berikut revisi dari angka bulan lalu. Secara umum, ACY meyakini bahwa penurunan tajam pada proyeksi suku bunga AS hampir menutup kemungkinan penguatan USD pasca laporan NFP kali ini; bahkan jika NFP dirilis positif sekalipun. Mengeliminasi kemungkinan suku bunga The Fed mungkin masih bisa dimaklumi, tapi lain halnya jika pasar sudah memproyeksi bahwa bank sentral AS akan melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Sekalipun begitu, ACY masih lebih memilih untuk berbias Long pada USD di semua pair mayor, kecuali USD/JPY. USD/JPY sejauh ini diperdagangkan pada area atas dari range mingguan, tapi diperkirakan bakal berakhir di kisaran 111.50 pada perdagangan besok. Di chart Daily, terdapat resistance yang melingkupi area 111.55 hingga 111.65. ACY saat ini memilih sell USD/JPY dari level 111.35, dan menyarankan untuk mempertahankan posisi tersebut dengan target profit terdekat di level 109.10, sementara Stop Loss bisa diposisikan di 112.65. Sementara itu, AUD/USD sempat menguji level 0.7050 di hari Rabu (3/April), tapi berhasil menguat pasca publikasi Retail Sales yang lebih baik dari ekspektasi. Menurut analisa ACY, pair tersebut akan naik hingga ke 0.7160, sebelum akhirnya melemah lagi hingga kembali ke kisaran 0.7050. Jika harga menembus level itu dalam jangka pendek, maka peluang Sell dapat diambil. ACY saat ini mengincar entry Sell AUD/USD dari kisaran 0.7135, dengan target keuntungan di level 0.6930 dan Stop Loss di 0.7225. Dengan absennya data berdampak tinggi dari Zona Euro di pekan ini, EUR/USD hanya akan diperdagangkan secara terbatas di bawah 1.1250. Pergerakan harga di chart Daily pair menunjukkan potensi support kunci dekat level 1.1170. ACY memilih untuk merencanakan Sell EUR/USD dari level 1.1395, dengan target profit di 1.1115 dan Stop Loss pada kisaran 1.1365. Di Inggris, resolusi untuk negosiasi Brexit tampaknya akan berujung pada deadline 12 April mendatang. Dengan segala kemelut yang sudah terjadi, pada tahap ini, kemungkinan paling besar yang bisa terjadi adalah Soft Brexit dengan penundaan batas waktu yang lebih lama. Ini dapat memberikan dorongan bagi Sterling untuk menguji resistance 1.3200. Saat ini, proyeksi ACY untuk GBP/USD cenderung flat. Rekomendasi yang diberikan adalah Sell GBP/USD bagi trader jangka pendek di kisaran 1.3210, dengan target di 1.2920 dan Stop Loss di 1.3315. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#212
|
||||
|
||||
|
Akankah ECB Kembali Memicu Reli Bearish Euro? Jumat lalu (5/April), angka Non-Farm Payroll (NFP) AS tidaklah terlalu spektakuler jika dilihat dari perbandingan data secara historis. Meskipun demikian, hasil tersebut merefleksikan pasar tenaga kerja AS yang solid, dengan pertumbuhan gaji yang cenderung mengarah ke atas. Pencapaian NFP yang sebesar 196,000 jauh mengungguli hasil Februari yang direvisi naik menjadi 33,000. Sementara itu, Unemployment Rate stabil di level 3.8%, dan Jobless Claims mingguan masih bergerak di kisaran terendah 45 tahun, tepatnya di sekitar angka 200,000. Indeks Dolar AS memang berhasil mengakhiri pekan lalu dengan sedikit penguatan. Namun, efek terpenting dari rilis NFP bukanlah hal itu, melainkan indikasi bahwa kondisi ketenagakerjaan AS tak memuat tanda-tanda resesi dalam waktu dekat. Walaupun begitu, outlook pasar mengenai pemangkasan suku bunga FOMC di tahun ini masih jauh dari pandangan The Fed sendiri. Terkait hal ini, ACY mengekspektasikan jika para pejabat Fed akan mempertimbangkan kembali outlook mereka dalam beberapa minggu ke depan. Untuk rilis notulen FOMC Rabu besok (10/April), kemungkinan hanya akan ada penekanan ulang pada bias bank sentral yang cenderung netral. Di sisi Zona Euro, terdapat potensi perbedaan outlook dari ECB, yang kemungkinan akan disuarakan pada Statement kebijakan terbaru mereka, hanya beberapa jam sebelum rilis notulen FOMC. Pada pernyataan ECB terakhir dan konferensi pers yang menyertainya, bank sentral tersebut mengejutkan para trader forex. Draghi dan pejabat ECB lain mengungkit tinjauan risiko mereka, sembari mengumumkan TLTRO ketiga untuk menyokong likuiditas bank-bank Eropa. Sejak pertemuan kebijakan ECB kala itu, data-data ekonomi Zona Euro yang berdampak tinggi tak menunjukkan pemulihan berarti. Dalam dua minggu terakhir, Jerman, Prancis, dan Italia merevisi turun forecast GDP 2019. Artinya, ketiga negara tersebut kemungkinan besar akan melaporkan defisit yang lebih besar dalam persentase GDP mereka. ECB merespon data-data negatif tersebut dengan penawaran tiered interest rate, yang disusun secara khusus untuk meringankan tekanan pada bank-bank di negara anggota Uni Eropa. Dalam laporan terbaru IMF, lebih dari 90% reserve deposit ECB dikenai suku bunga negatif, yang menelan biaya antara 20 hingga 30 miliar Euro setiap tahunnya. Dari perspektif fundamental, pertimbangan ECB untuk menerapkan tiered interes rate membuktikan bahwa rencana normalisasi kebijakan yang diumumkan tahun lalu telah benar-benar dihapuskan, dan suku bunga acuan bank sentral tersebut akan tetap berada di bawah nol persen dalam beberapa waktu de depan. Di lain pihak, dengan mulai masuknya data-data kuartal kedua 2019 dalam perhitungan para pelaku pasar forex, ACY masih yakin jika divergensi pertumbuhan antara AS dan Zona Euro akan terus melebar; hal ini akan terlihat pada data-data AS yang lebih positif dalam beberapa minggu berikutnya. Karena itu, ACY lebih memilih untuk Short EUR/USD. Sementara itu, meski jadwal rilis data berdampak pada Dolar Australia tidak cukup padat di minggu ini, ACY masih melihat potensi pergerakan di sekitar rilis data Home Loan dan Consumer Confidence pada Rabu mendatang. Level 0.7050 akan tetap menjadi support kunci, sementara 0.7135 adalah resistance terdekat. Dari 4 pair mayor yang diulas ACY dalam analisa mingguannya, hanya USD/JPY yang terlihat sedang mendekati level teknikal ekstrim. Pair ini telah menguat selama 3 minggu berturut-turut, dan tampaknya sudah mencapai Overbought dengan pergerakan Daily RSI yang semakin dekat menuju area 70.00. Minggu ini juga akan menjadi momen penting dalam negosiasi Brexit. ACY masih mengekspektasikan jika GBP/USD berpotensi reli, apabila proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa kembali ditunda selama lebih dari satu bulan. Sekalipun demikian, prediksi tersebut belum bisa menjadi basis yang meyakinkan untuk memperdagangkan GBP/USD di pekan ini. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#213
|
||||
|
||||
|
Kebijakan ECB Dan FOMC Membuat Pair Mayor Defensif Kemunculan berita dari The Fed dan ECB di hari yang sama bukanlah suatu hal baru. Namun perpindahan jadwal pertemuan ECB dari Kamis ke Rabu, membuat peristiwa itu berdekatan dengan rilis notulen FOMC untuk rapat bulan lalu. Sayangnya, berbagai pengumuman dan forecast yang diperkirakan bisa mengguncang pasar justru absen, sehingga respon pasar forex pun cenderung sunyi. Namun jika kita menggali lebih dalam, terdapat detail-detail penting yang tersirat di sela komentar para pejabat bank sentral. Pernyataan tersebut disinyalir ACY dapat memberikan pengaruh pada arah pergerakan mata uang mayor berikutnya. EUR/USD telah menguat hingga hampir menyentuh batas 1.1300 jelang konferensi pers ECB kemarin (10/April). Walaupun mayoritas data berdampak tinggi dari Zona Euro cenderung lesu dalam beberapa minggu terakhir, pendukung bull Euro dan para buyer Dolar berharap jika Mario Draghi dapat mengumumkan pernyataan bernada positif. Nyatanya, Statement dari Presiden ECB tersebut justru mengindikasikan bahwa para anggota dewan tidak mendiskusikan detail lebih lanjut mengenai TLTRO 3, ataupun skema tiered interest rate yang beberapa waktu lalu diajukan. Pernyataan Draghi pada konferensi pers lebih menitikberatkan pada kelanjutan QE, dan bahwa bank sentral akan mempertahankan deposit rate di kisaran negatif hingga tahun 2020. ECB juga mengungkapkan bahwa mereka akan menggunakan semua perangkat kebijakan yang diperlukan untuk mendorong laju petumbuhan dan inflasi menuju level 2%; target yang berusaha dicapai dengan perangkat-perangkat kebijakan yang sama selama lebih dari 10 tahun terakhir. Di sisi lain, notulen FOMC memicu sedikit respon positif terhadap Dolar, karena melukiskan bahwa para anggota masih berpegang pada prinsip "data dependency" untuk menentukan kebijakan suku bunga di tahun 2019. Secara keseluruhan, ACY menilai jika ECB terang-terangan bersikap pesimis, sementara The FED cenderung berhati-hati dalam menyuarakan optimismenya. Ini bukanlah situasi baru yang dihadapi pasar forex, dan jika terus berlangsung, akan membebani reli USD. Meskipun begitu, ACY menganggap jika pelemahan Indeks Dolar akhir-akhir ini hanya bersifat sementara dan korektif secara teknikal. Kebijakan ECB dan The Fed Menurut laporan CoT (Commitment of Traders) dari CME, bias sell EUR/USD telah meningkat ke level 6 bulan tertinggi di akhir pekan lalu. Namun, kenaikan dari 1.1220 ke 1.1280 dalam minggu ini tampaknya sudah cukup untuk memproyeksikan penurunan posisi jual terhadap Euro, yang memberikan dampak pada rasio Short/Long mata uang tersebut terhadap Dolar AS. Dengan absennya data berdampak tinggi dari Zona Euro hari ini, ACY memprediksi jika EUR/USD akan menguji batas 1.1300. Sementara itu, AUD/USD telah menekan level 0.7180 sebanyak 2 kali dalam waktu 24 jam terakhir. Meskipun indikator momentum masih memperlihatkan posisi netral, ACY memperkirakan jika seller baru akan masuk setelah harga menyentuh 0.7200. USD/JPY menunjukkan sinyal-sinyal perubahan tren setelah harga gagal tertutup di atas level 112.00 minggu lalu. Pergerakan pair saat ini berada di kisaran 111.10, sedikit di bawah MA 30 yang terpatri di harga 111.25. Sementara itu, Daily RSI pair ini kembali turun ke bawah level 50.00. Berita hari ini mengenai perpanjangan deadline Brexit selama 6 bulan tidak mampu melesatkan GBP/USD di sepanjang sesi Asia. Kemungkinan besar, berita ini sudah diantisipasi dan para seller kini sedang bersiap untuk mendorong harga turun. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#214
|
||||
|
||||
|
Euro Kembali Ke Zona Sell Pergerakan USD yang diukur dari Indeks Dolar AS (DXY) mencatatkan penurunan signifikan ke level terendah sekitar 95.20 pada 20 Maret lalu, yang bertepatan dengan kali terakhir FOMC (Federal Open Market Committee) mengadakan pertemuan. Sejak saat itu, Greenback berhasil menguat dan mencapai High di 97.10 pada 2 April, lalu menutup pekan lalu dengan pergerakan sedikit di atas level MA 30 di 96.50.Pelemahan USD minggu lalu lebih disebabkan oleh perbedaan pandangan pada posisi spekulatif beli Dolar AS, juga penurunan volatilitas pada mata uang-mata uang mayor yang termasuk dalam pembobotan DXY. Meskipun dua komponen di atas bisa menjadi patokan bermanfaat dalam menentukan arah perdagangan, nuansa divergensi pada pertumbuhan ekonomi AS dan Outlook suku bunganya kemungkinan akan menjadi pendukung yang lebih dominan terhadap kenaikan Dolar, utamanya jika terdapat rilis positif pada serangkaian data berdampak dari AS pada pekan ini. Awal pekan lalu, laporan Commitment of Traders dari CBoT menunjukkan bahwa posisi jual untuk AUD dan EUR berada dalam level tertinggi 3 dan 6 bulan. Sebaliknya, posisi beli untuk JPY memuncaki level tertinggi 1 bulan, sementara posisi trading untuk GBP cenderung seimbang. Cukup beralasan untuk berekspektasi bahwa reli AUD/USD, EUR/USD, dan USD/JPY di minggu lalu akan memudarkan sebagian besar posisi yang lebih mendominasi, seiring dengan meningkatnya risiko Stop Out terhadap posisi-posisi serupa yang ditempatkan oleh trader ritel. Beberapa laporan ekonomi penting di sepanjang pekan ini antara lain: notulen RBA, data ZEW Zona Euro dan tingkat pemanfaatan kapasitas produksi AS pada hari Selasa (16/April), GDP, produksi industri, ketenagakerjaan, dan Retail Sales China di hari Rabu (17/April), serta data ketenagakerjaan Australia, PMI Flash Zona Euro, dan Retail Sales AS di hari Kamis (18/April). Mengingat USD telah merosot turun akibat aspek fundamental yang mempengaruhi position sizing pasar dan melemahnya outlook normalisasi kebijakan The Fed lebih lanjut di tahun ini, rilis data ekonomi AS kemungkinan bakal memiliki pengaruh asimetris terhadap pair-pair mayor. Konsensus forecast untuk tingkat pemanfaatan kapasitas produksi AS memproyeksi peningkatan, sementara Retail Sales diprediksi rebound dari pelemahan bulan sebelumnya. Dari perspektif teknikal, ACY memperkirakan jika USD akan sedikit melemah di awal pekan ini, tapi kemudian bisa menguat jelang liburan Paskah. Berdasarkan analisa yang dilakukan, EUR/USD berpotensi turun ke bawah 1.1100 sebelum akhir bulan ini. Data makro Zona Euro terus mengindikasikan kontraksi, terutama untuk sektor manufaktur Jerman, Prancis, dan Italia. Risiko perang dagang dengan AS semakin memperburuk outlook ekonomi kawasan ini. Secara teknikal, EUR/USD diperdagangkan di atas 1.1300 untuk pertama kalinya dalam 3 minggu terakhir pada penghujung pekan lalu. Meski demikian, volatilitas mingguan dari pair ini menyentuh level terendah tahunan di angka 3.65%. Apabila berlanjut bullish, harga dapat menyentuh level MA 100 di kisaran 1.1350. Namun jika beringsut melemah, EUR/USD bisa mengalami bearish reversal setelah harga break dari level 1.1260. Kabar stimulus PBoC sebesar 400 miliar Dolar AS pada perekonomian China di kuartal pertama, telah menopang kenaikan AUD/USD lebih dari 1% di pekan lalu. Untuk minggu ini, arus data domestik akan menjadi bagian integral dalam pergerakan Dolar Australia terhadap USD, begitu juga dengan mata uang lainnya. ACY memproyeksi jika harga akan mendekat ke area resistance 0.7225-0.7255. Sejauh ini, RBA senantiasa memusatkan perhatian pada kuatnya pasar tenaga kerja sebagai leverage atas pertumbuhan upah. Jika terdapat laporan di bawah ekspektasi, maka hal itu akan membatasi penguatan AUD dan mengangkat volatilitas mingguan mata uang tersebut, seiring dengan meningkatnya keyakinan pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga RBA di tahun ini. Di sisi lain, volatilitas mingguan USD/JPY terbenam ke level terendah 2 tahun pada level 3.45%, tepat sebelum terjadi reli sebesar 100 poin pada hari Kamis dan Jumat pekan lalu. Harga saat ini diperdagangkan di atas 112.00 untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, dan berpotensi membentuk pola Double Top di area tersebut. Dengan meningkatnya harga-harga di pasar ekuitas, kecil kemungkinan bagi pair ini untuk melemah karena adanya Risk Off. Sejak awal bulan, pergerakan GBP/USD berada dalam kisaran 200 poin, tepatnya antara 1.300 dan 1.3200. Chart Daily pair ini menunjukkan pergerakan harga menuju puncak formasi Pennant yang membentuk batas atas di 1.3380 dan batas bawah di 1.2940. Dengan kalemnya drama Brexit setidaknya dalam beberapa minggu ke depan, GBP/USD kemungkinan besar akan tetap diperdagangkan dalam pola Pennant untuk jangka short. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#215
|
||||
|
||||
|
Akankah Masalah Turki Memicu Krisis Euro Berikutnya? Dalam waktu 3 bulan terakhir, EUR/USD cenderung diperdagangkan dalam range harga sebesar 200 poin, yakni antara 1.1200 dan 1.1400. Ada saat-saat ketika range tersebut ditembus, tapi break harga selalu singkat dan tak pernah berlanjut membentuk ekstensi breakout. Namun, kondisi itu berubah di minggu lalu, ketika mata uang berjuluk Single Currency ini mematahkan batas bawah range di level 1.1200 dan menyentuh level terendah 2 tahun di 1.1110 pada Jumat kemarin (26/April). Pada akhir pekan, Euro kemudian sedikit pulih ke kisaran 1.1145/50. Katalis penurunan harga yang paling banyak disorot adalah melemahnya indeks sentimen Ifo Jerman yang mencapai level 99.2. Hasil tersebut membalikkan optimisme pasar yang sebelum ini meyakini, bahwa kontraksi sektor manufaktur Jerman di kuartal pertama akan membaik di awal kuartal kedua. Dengan masalah Brexit yang masih berlarut-larut, protes "rompi kuning" di Prancis yang sudah memasuki minggu ke-24, dan pemilu parlemen Uni Eropa di akhir Mei, European Central bank (ECB) kemungkinan besar tengah menghadapi rintangan kuat dalam upaya meningkatkan suku bunga di tahun 2019. Lebih lanjut, masalah-masalah di atas juga berpotensi diperberat oleh isu yang kian berkembang di Turki. Hal ini pun semakin membebani pergerakan Euro. Outlook negatif dari Turki berasal dari berbagai perkara, mulai dari kekacauan politik, kurangnya stabilitas sosial, hingga penyelesaian masalah finansial yang layak dipertanyakan. Awal bulan ini, Bank Sentral Turki (CBT) merilis laporan mengenai kepemilikan cadangan devisa sebesar 25 miliar USD dari pendapatan internal. Namun perlu diperhatikan juga bahwa Turki memiliki utang senilai 180 miliar USD yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan. Dengan demikian, CBT tidak dalam posisi kuat untuk mengatur utang eksternal ataupun melindungi nilai tukar mata uangnya, Lira (TRY). Parahnya lagi, data statistik dari bank-bank Uni Eropa pekan lalu mengkonfirmasi bahwa dari Balance Sheet CBT yang sebesar 25 miliar USD itu, lebih dari 12 miliar di antaranya berasal dari transaksi swap jangka pendek, yang pada gilirannya nanti perlu dibayarkan kembali dalam waktu 2 bulan ke depan. Bisa disimpulkan, CBT telah keliru mengenai kesehatan keuangan negaranya, dalam upaya menstabilkan nilai TRY dan mencegah penurunan peringkat kredit atas utang eksternal bruto yang sebesar 400 miliar USD. Diperkirakan, Turki memiliki utang luar negeri terhadap ECB dan bank-bank negara anggota Uni Eropa sebesar 250 miliar USD. Lantas, mengapa masalah Turki perlu diperhatikan bagi para trader Euro? Terakhir kali Turki mengalami goncangan adalah Agustus 2018 lalu. Antara 1 Agustus hingga 13 Agustus, USD/TRY menguat dari 5.10 ke 7.10. Dengan kata lain, Lira Turki telah kehilangan 40% dari nilai tukarnya tehadap USD. Pada periode waktu yang sama, EUR/USD anjlok 3.2% dari 1.1680 ke 1.1310. Selama 10 hari terakhir, TRY telah melemah 10% seiring dengan terungkapnya fakta di balik klaim CBT. Saat ini, USD/TRY sudah mendekati area 5.95. Meski masih cukup sulit untuk memperhitungkan di level mana pair ini akan bergerak, adanya breakout di atas 6.00 akan menimbulkan risiko downside bagi Euro. Secara teknikal, rebound EUR/USD dari level rendah Jumat lalu bisa mencapai 1.1180, tapi pergerakan harga masih dibayangi oleh indikator Daily Momentum yang menunjukkan pelemahan. Sementara itu, pasar finansial Jepang akan ditutup minggu ini dalam rangka kenaikan takhta Kaisar yang baru. Walaupun arus perdagangan dari Tokyo bakal menipis, ACY memaklumi jika jika Yen Jepang nantinya bisa menguat di berbagai pair cross. Garis MA 30 pada chart USD/JPY saat ini tengah berada di kisaran 111.30 dan menjadi support kunci. Jika harga tembus ke bawah level tersebut, maka Dolar AS bisa tenggelam lebih dalam ke level 110.70. Setelah jatuh 100 poin pada hari Rabu lalu (24/April), AUD/USD akhirnya memulai pemulihan dari bawah level 0.7000 di akhir pekan. Namun, rebound pair ini hanya akan terbatas sampai ke 0.7050, untuk memenuhi kondisi Oversold jangka pendek yang telah tampak. Level terendah hari Kamis di 0.6988 tidak memiliki signifikansi teknikal di chart Daily, sehingga harga lebih berpeluang merosot ke 0.6980 daripada menanjak ke sekitar 0.7125. Di sisi lain, BoE sudah diproyeksi untuk tidak mengumumkan perubahan kebijakan apapun pada hari Kamis mendatang (2/Mei). MPC telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dengan hasil voting 9-0 dalam 12 pertemuan terakhir, dan ACY memperkirakan jika perubahan pada hasil pemungutan suara itu akan menjadi kejutan yang bisa menjadi market mover. Secara teknikal, GBP/USD terlihat sedikit Oversold. Pair ini kemungkinan akan mengalami retracement ke 1.3000 dalam beberapa hari berikutnya. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#216
|
||||
|
||||
|
Dolar AS Kokoh Pasca Pengumuman Kebijakan Fed Dengan pasar finansial Jepang dan China yang tutup di sisa minggu ini, dan liburnya pasar Eropa dalam rangka May Day, pergerakan harga di pasar forex cenderung kalem dalam merespon pertemuan FOMC. Sekalipun pusat keuangan di berbagai belahan dunia kemarin aktif, tak ada ekspektasi terhadap pandangan Fed untuk kebijakan moneter mereka. Tinjauan bank sentral AS untuk perekonomian disesuaikan untuk mengakomodasi naiknya pertumbuhan yang tercermin pada laporan GDP Q1 lalu. Hal ini sudah sesuai ekspektasi pasar. Namun, para pejabat The Fed juga mengakui adanya hambatan sementara yang berasal dari Partial Government Shutdown, juga musim dingin ekstrim yang berlangsung hingga Maret. Beberapa jam sebelum FOMC meeting bulan ini, laporan ketenagakerjaan ADP untuk Maret 2019 berhasil melampaui ekspektasi penambahan 180,000, dan mencatatkan hasil 275,000 yang merupakan angka tertinggi 9 bulan. Dalam pernyataannya, Ketua The Fed Jerome Powell sempat merujuk pada kuatnya pasar tenaga kerja. Namun pertumbuhan upah yang moderat belum berkontribusi pada kenaikan inflasi menuju target bank sentral. Kondisi tersebut jelas terlihat pada laporan GDP minggu lalu, yang menunjukkan bahwa price deflator melemah dari 1.6% ke 0.9% sejak akhir Q4. Sisi positifnya, inflasi PCE yang lebih diperhatikan The Fed hanya melemah dari 1.4% ke 1.3%. Jerome Powell juga mencermati bahwa kurva yield obligasi AS bertenor 2 tahunan dan 10 tahunan telah menurun lebih dari 12 basis poin sejak pertemuan The Fed bulan Maret lalu. Dalam pandangan ACY, kurva yield obligasi tersebut lebih bisa digunakan sebagai acuan market pricing ketimbang pernyataan kebijakan moneter The Fed. Seiring The Fed yang telah nyaman dengan sikap "data dependency", rilis data Non-Farm Payroll (NFP) AS yang diterbitkan pada Jumat besok (3/Mei) akan menambah signifikansi pada pergerakan pair-pair mayor. Mengingat laporan ADP tidak selalu bisa diandalkan untuk memperkirakan NFP, maka konsensus pasar memiliki forecast tersendiri untuk data ketenagakerjaan kali ini, yaitu sebesar 180,000. Sementara itu, tingkat pengangguran diprediksi tetap di 3.8%, dan kenaikan upah per jam diekspektasikan menguat dari 0.1% ke 0.3%. Dengan sedikitnya rilis data ekonomi berdampak tinggi yang muncul hingga NFP AS besok, ACY menilai jika pair-pair forex mayor hanya akan diperdagangkan dalam batas range pekan lalu. Rebound EUR/USD sudah melambat sedikit di atas MA 30 pada kisaran 1.1250. Daily RSI untuk pair tersebut turun di bawah batas 50.00, sementara indikator-indikator momentum juga menunjukkan pelemahan. Meskipun pasar Jepang masih tutup hingga 5 hari perdagangan ke depan, USD/JPY masih membuat pergerakan turun hingga ke level terendah 2 minggu, tepatnya pada level 111.05. Sementara itu, pasar saham AS cenderung melemah di sesi perdagangan hari ini. Level support kunci berikutnya untuk USD/JPY ada di kisaran 110.80. AUD/USD masih terus tertahan di area resistance 0.7070 dan 0.7090. Daily RSI masih di bawah 40.00 dan terlihat turun, yang mengindikasikan bahwa harga masih berpeluang menguji area 0.7000 dalam jangka pendek. Serupa dengan FOMC, Bank of England juga tidak diekspektasikan untuk membuat perubahan apapun dalam pertemuan kebijakannya hari ini. Semalam, GBP/USD menyentuh level tertinggi 3 minggu pada kisaran 1.3105, tapi saat ini terlihat akan kembali ke zona sell di chart Daily. |
|
#217
|
||||
|
||||
|
Potensi Rate Cut RBA Dan RBNZ Pekan Ini Walaupun angka NFP AS Jumat pekan lalu (06/Mei) menunjukkan kenaikan, Dolar AS justru kehilangan gain mingguan versus sebagian besar mata uang mayor lainnya. Perlu diketahui, jumlah pekerjaan baru yang tercatat dalam laporan NFP April 2019 adalah sebesar 263,000, lebih tinggi dari forecast 181,000. Sementara itu, tingkat pengangguran jatuh ke level terendah 40 tahun di 3.6%, lebih baik dari ekspektasi pasar di 3.8%. Sayangnya, data upah pekerja per jam yang mengecewakan membuat pergerakan Greenback menjadi lesu. Laporan tersebut diketahui hanya tumbuh 0.2%, lebih rendah dari proyeksi kenaikan ke 0.3%. Tak dapat dipungkiri, komponen upah dalam ketenagakerjaan AS merupakan indikator penting yang diawasi para pejabat The Fed dalam beberapa bulan terakhir. Dalam prinsip "sebab-akibat", pertumbuhan upah biasanya sejalan dengan kenaikan inflasi yang termasuk dalam pengukuran utama The Fed di sektor konsumsi. Respon pesimis yang ditunjukkan USD pasca kenaikan GDP Q1 ke 3.2%, ditambah dengan penurunan harga yang terjadi pasca rilis data upah, membuat para pengamat pasar mencermati bahwa divergensi pertumbuhan yang telah mendukung USD selama ini telah mencapai puncaknya. Jika hal itu benar terjadi, maka rilis data dan event pekan ini akan menjadi faktor penentu, yang membuktikan apakah puncak divergensi pada pertumbuhan USD hanya berlangsung sementara atau tidak. Di sisi lain, bank sentral Australia (RBA) dan New Zealand (RBNZ) akan melangsungkan pertemuan kebijakan, masing-masing di hari Selasa (07/10) dan Rabu (08/10). Proyeksi pasar memperkirakan jika dibanding RBA, RBNZ lebih mungkin memangkas suku bunganya minggu ini. Dengan NZD/USD yang melemah lebih dari 5% sejak 27 Maret, prospek Rate Cut RBNZ kini telah mencapai 50%. Dilihat dari segi teknikal, reli 50 poin dari Low hari Jumat (0.6605) mengindikasikan bahwa para trader forex sebaiknya jangan terlalu yakin jika pemotongan suku bunga dalam waktu dekat akan menjadi "kebijakan sekali waktu". Sebaliknya, langkah ini bisa menjadi awal mula dari siklus penurunan suku bunga bagi RBNZ. Di lain pihak, kemungkinan Rate Cut RBA pekan ini hanya mencapai 30%. Namun, forecast penurunan suku bunga untuk sepanjang tahun ini adalah sebanyak 2 kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, dan kemungkinannya sudah mencapai 40%. Karena itu, ACY memperingatkan para trader forex untuk mengantisipasi Statement RBA pada Selasa besok. AUD/USD sendiri telah merosot lebih dari 3% sejak 18 April, ketika pair tersebut melewati batas 0.7200. Harga kemudian menyentuh level rendah baru pada akhir pekan lalu di level 0.6985, sebelum akhirnya pulih ke 0.7220 pada sesi penutupan. Menurut ACY, Dolar Australia berpotensi turun ke area 0.7060 jelang pengumuman suku bunga RBA, dan berpotensi melesat hingga ke 0.7100 jika bank sentral tersebut mempertahankan suku bunganya. Sementara itu, EUR/USD sukses rebound hingga 60 poin dari level rendah Intraday di 1.1135 yang tercapai Jumat kemarin. PMI Jasa Zona Euro yang akan dirilis sore nanti akan menjadi katalis pertama untuk menguji penguatan mata uang Euro di pekan ini. Titik High minggu lalu di 1.1265 bisa dipatok sebagai resistance terdekat, apabila laporan PMI lebih baik dari ekspektasi. Pasar finansial Jepang masih tutup hingga Rabu besok, membuat pasangan mata uang USD/JPY perlahan turun. Pair tersebut belum pernah diperdagangkan di atas 112.00 dalam lebih dari sepekan terakhir, dan cenderung melemah pada akhir minggu lalu. Key support berikutnya masih bertahan di area 110.60/70. Sterling diperdagangan di level tertinggi 6 minggu pada 1.3170, setelah hasil pemilu lokal Inggris menunjukkan bahwa partai PM May kehilangan hampir 1000 kursi di dewan perwakilan daerah. Tampaknya, ini akan menjadi persoalan baru dalam negosiasi Brexit dan bisa mengarah pada nuansa Brexit yang lebih soft karena berkurangnya pengaruh pihak Konservatif. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 Last edited by djamirun_aje; 6th May 2019 at 01:01 PM. |
|
#218
|
||||
|
||||
|
USD/JPY Melemah Di Tengah Memanasnya Tensi Dagang Pada hari yang sama di minggu lalu, delegasi AS dan China dalam proses negosiasi dagang sama-sama mengutarakan Statement yang menggembirakan pasar finansial global, dengan memproyeksikan bahwa persetujuan yang komprehensif antara kedua negara akan tercapai pada 10 Mei. Outlook ini membuat trader forex terlalu "nyaman", sehingga mereka sama sekali tidak siap ketika Presiden Trump mengindikasikan usainya gencatan senjata perang dagang yang sudah berlaku sejak Desember tahun lalu. Melalu cuitannya di Twitter, Trump menyatakan bahwa tarif saat ini yang sebesar 10% dan diberlakukan pada 200 miliar USD barang-barang China, akan dinaikkan menjadi 25% pada hari Jumat mendatang. Kemudian, 325 miliar USD produk-produk China yang lain juga akan dibebani tarif 25% dalam beberapa minggu ke depan. Spekulasi awal mengenai imbas kenaikan-kenaikan tarif di atas mengestimasi bahwa kebijakan terbaru Trump bisa mencukur sekitar 2.0% dari GDP China, dan dapat mengempaskan 10% dari GDP AS di sepanjang tahun 2019. Jika memperhatikan laporan neraca perdagangan China terbaru, maka terlihat bahwa perubahan tarif impor AS telah begitu mempengaruhi dinamika ekspor impor China. Surplus perdagangan China secara mengejutkan merosot di bulan April, hanya mencapai 95 miliar USD, lebih rendah dari forecast pasar yang memperkirakan surplus hingga 265 miliar USD. Penurunan surplus tersebut berkontribusi pada penurunan ekspor secara year-on-year ke level 2.7%, begitu juga dengan kenaikan 4% pada data impor. Padahal, impor China sempat turun 10% di bulan Maret. Ironisnya, surplus perdagangan China terhadap AS secara khusus justru meningkat 10% sejak tarif impor Trump pertama kali diterapkan. ![]() Seperti halnya yang biasa terjadi ketika pasar finansial sedang dalam mode Risk Off, USD/JPY diperdagangkan melemah. Pair tersebut dibuka dengan gap turun pada pembukaan sesi Asia Senin lalu (06/Mei), dan memasuki level di bawah 110.00 untuk pertama kalinya dalam lebih dari 6 pekan terakhir. Level rendah Intraday 25 Maret terbentuk di kisaran 109.70. Dalam pandangan ACY, jika USD/JPY terus turun hingga menembus level tersebut, maka akan memicu pelepasan posisi Long lebih lanjut, dan mendorong trader untuk membuka posisi Short baru untuk mengikuti Downtrend. Walaupun indikator-indikator di Chart Daily tengah mendekati level Oversold, target support terdekat masih cukup jauh dari harga saat ini, yakni di area 108.60. Sementara itu, RBA memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya pada hari Selasa lalu (07/Mei). Ini menandai kebijakan suku bunga di kisaran rendah 1.50% selama 34 bulan berturut-turut. Menariknya, Yield Obligasi Australia kini sudah berada di bawah 1.50%, mengindikasikan bahwa suku bunga RBA sudah semakin tertinggal dari kondisi pasar yang sebenarnya. Secara teknikal, rebound AUD/USD pasca pengumuman RBA telah terhenti di dekat level 0.7050. Indikator-indikator momentum ACY untuk pair ini masih menunjukkan sinyal pelemahan. Setelah diperdagangkan melemah ke 1.1130 pada awal Senin lalu, EUR/USD cenderung bergerak dalam range 50 poin di kisaran 1.1170 dan 1.1220 selama dua sesi perdagangan terakhir. Serangkaian posisi Option di kisaran 1.1150 akan kadaluarsa besok, dan ini bisa semakin membuka jalan penurunan EUR/USD lebih lanjut menuju 1.1100. Reli Sterling minggu lalu tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kekhawatiran Brexit baru yang menekan GBP/USD hingga ke bawah level 1.3050. Angka preliminer GDP Inggris yang akan terbit Jumat depan diprediksi flat, dan menurut standar UE, hal ini sudah cukup baik. Secara teknikal, resistance terdekat GBP/USD berada di 1.3090, sementara support-nya ada di 1.2840. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#219
|
||||
|
||||
|
Data Ekonomi Vs Perang Dagang, Manakah Yang Jadi Katalis Minggu Ini? Dengan dimulainya minggu baru, persoalan dagang AS-China turut memasuki ketidakpastian baru: seberapa agresif Beijing akan membalas pemerintah AS yang baru saja meningkatkan tarif impor dari 10% menjadi 25%, dan seberapa cepat AS menerapkan tarif baru tersebut pada barang-barang China senilai 200 miliar USD. Para pakar teknikal yang berpendapat jika pola-pola harga di chart lebih berdampak dari berita fundamental, menganggap bahwa memanasnya tensi dagang AS-China hanyalah noise di tengah dinamika trend dan retracement harga. ACY tidak sependapat dengan pandangan tersebut, mengingat gesekan dagang antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tampak semakin menjauh dari penyelesaian yang komprehensif. Akan tetapi, belum adanya perkiraan waktu yang tepat bagi kebijakan balasan China, juga minimnya gambaran mengenai pernyataan-pernyataan berikutnya dari Washington, membuat ACY beralih pada data ekonomi berdampak tinggi untuk memperkirakan bagaimana dampaknya terhadap outlook teknikal berbagai pair mayor. Berdasarkan jadwal di kalender ekonomi, Zona Euro akan menjadi kawasan yang paling banyak merilis data penting pekan ini. Di antara beberapa laporan tersebut, angka Industrial Production Zona Euro dan survei ZEW Jerman di hari Selasa layak dicermati, begitu pula dengan Flash GDP di hari Rabu, dan pertemuan Menteri Keuangan Uni Eropa pada hari Jumat. Setelah menguji level 1.110 pada 26 April silam, EUR/USD rebound dan menutup perdagangan pekan lalu di level harga yang lebih tinggi dari 9 sesi sebelumnya. Area 1.1260 terpantau menjadi level pengujian di chart Daily yang selaras dengan level MA-50. Grafik RSI saat ini terpaut di 52.00, mengindikasikan potensi penguatan harga ke 1.1280/90 bila data-data ekonomi Zona Euro minggu ini sukses melewati ekspektasi. Support terdekat EUR/USD berada di 1.1180. Jika harga menembus level tersebut, maka ini akan menjadi sinyal bahwa koreksi kenaikan harga sudah berada di titik jenuh. Sementara itu, terdapat dua laporan ekonomi berdampak tinggi yang dapat mempengaruhi pair-pair AUD pekan ini, yakni indeks upah dan laporan ketenagakerjaan. Mengingat RBA telah menandai pertumbuhan tenaga kerja dan inflasi sebagai kunci bagi kebijakan moneter bank sentral, maka rilis Wage Price Index di hari Rabu dan laporan ketenagakerjaan pada Kamis mendatang akan diperhatikan pasar untuk menentukan timing penyesuaian suku bunga RBA. Selama 4 minggu terakhir, pasangan mata uang AUD/USD terus melemah. Walaupun momentum penurunan tampak melambat di akhir pekan lalu, harga bisa kembali merosot bila level 0.6960 terpatahkan. Resistance AUD/USD kini berada di area 0.7030 hingga 0.7060. Menurut outlook ACY, hanya penutupan harga di atas 0.7060 yang bisa membalikkan downtrend jangka menengah AUD/USD. USD/JPY membuka pekan lalu dengan gap turun dari 111.10, dan mencatatkan level terendah 3 bulan pada kisaran 109.55 di hari Kamis. Rilis data ekonomi terpenting dari Jepang untuk minggu ini adalah laporan PPI, yang diproyeksi bertahan di kisaran 1.3%. Meskipun angka tersebut masih di bawah target 2.0% BoJ, tercapainya level 1.3% akan menjadi kabar positif karena menunjukkan kenaikan 0.6% dari periode sebelumnya. Daily RSI di chart USD/JPY turun ke level 27.00 pada Rabu silam, yang mengindikasikan peluang konsolidasi di bawah 110.50 untuk awal pekan ini. Walaupun gap harga seringkali memicu aksi harga, tampaknya perlu terbentuk reli tajam di pasar ekuitas global untuk memicu pengujian USD/JPY di kisaran 111.00 minggu ini. Di samping perkembangan-perkembangan dalam berbagai negosiasi terkait Brexit, laporan ketenagakerjaan Inggris pada Selasa besok dapat menggerakkan Sterling versus mata uang mayor lain. Tingkat pengangguran diekspektasikan tetap di 3.9%, sementara Claimant Count Change diperkirakan turun tipis menjadi 24k. ACY menilai GBP/USD berpotensi pulih dari penurunan 1.3% di minggu lalu, yang sempat membawa harga menyentuh level rendah 2 minggu di 1.2965. Di chart Daily, support kunci GBP/USD terletak tidak jauh dari kisaran terendah April di antara 1.2860 dan 1.2800. Dengan pembicaraan Brexit yang masih sulit diprediksi hasil akhirnya, nyaris tak ada katalis untuk mengubah arah tren jangka menengah GBP/USD pekan ini. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
|
#220
|
||||
|
||||
|
Pasar Masih Terjebak Dalam Tensi Dagang AS-China Tak butuh waktu lama bagi Beijing untuk merespon keputusan AS yang menaikkan tarif dagang dari 10% menjadi 25%. Selasa lalu (14/Mei), Pemerintah China balas mengumumkan tarif 25% pada 90% barang-barang yang diimpor dari AS, dengan pengecualian yang cukup menonjol terhadap minyak mentah. Walaupun eskalasi konflik dagang ini dinilai sangat memprovokasi pasar global, baik AS maupun China sebenarnya masih membuka pintu untuk kembali ke meja negosiasi. Terlebih lagi, kenaikan tarif dari China baru akan berlaku pada 1 Juni mendatang, dan perubahan bea impor dari AS tidak akan diterapkan pada pengiriman barang-barang China yang sudah transit. Selain itu, implementasi kenaikan tarif AS terhadap barang-barang China lain senilai 250 miliar USD kemungkinan butuh waktu sekitar sebulan untuk dimatangkan. Padahal, baik Presiden Trump maupun Xi telah mengutarakan niat mereka untuk kembali bernegosiasi dalam pertemuan G20 bulan depan di Osaka, Jepang. Antara saat ini hingga 28 Juni, ACY memperkirakan jika kedua pihak yang berkonflik akan saling menyalahkan satu sama lain perihal runtuhnya progres kesepakatan dagang yang sebelumnya sudah mulai terbangun. Selain itu, meski AS dan China sama-sama terlihat masih ingin membuat kesepakatan, pemimpin kedua negara itu tampak mulai mengubah fokus kepentingan mereka, dari yang semula tertuju pada dampak ekonomi, kini menjadi pertimbangan politis. Untuk saat ini, para trader forex sebaiknya tetap mengawasi perkembangan terbaru seputar isu dagang AS-China sembari memonitor pergerakan harga di chart. Hal ini bisa memberikan kejelasan lebih lanjut seputar arus pergerakan mata uang dalam jangka pendek. Secara umum, satu hal yang paling jelas hingga bulan depan adalah Xi dan Trump dipastikan bertemu di Jepang, dan masing-masing akan mengusung ancaman tarif sebagai senjata yang siap ditodongkan. USD/JPY terus merasakan imbas negatif dari naiknya tensi dagang AS-China. Pair ini sama sekali belum diperdagangkan di atas 110.00 dalam 5 sesi perdagangan terakhir, dan malah terlihat akan turun hingga ke batas 108.00. Saat ini, volume Option "No Touch" dengan strike price di harga 108.60 sudah mencapai 2 miliar USD. Sementara itu, EUR/USD masih bertahan di atas support pekan lalu pada kisaran 111.70. Akan tetapi, indikator momentum mengindikasikan downside sebagai pergerakan yang lebih memungkinkan ketimbang sebaliknya. Persoalan anggaran Italia yang berpadu dengan angka-angka GDP Uni Eropa, tampaknya dapat membatasi rebound Euro di bawah 1.1225 jelang akhir pekan ini. Jika skenario itu terbentuk, maka support kunci berikutnya untuk EUR/USD berada di dekat 1.1110. Pasangan mata uang AUD/USD terus merosot hingga menyentuh 0.6920, yang merupakan level terendah sejak flash crash pada 3 Januari lalu. Data ketenagakerjaan yang rilis hari ini umumnya memegang peranan penting dalam pergerakan jangka pendek Dolar Australia, tapi menurut ACY, laporan ekonomi tersebut tak akan berhasil membalik Downtrend yang mendominasi AUD/USD saat ini. Satu-satunya perkembangan riil terkait masalah Brexit sejauh ini adalah lonjakan pesat pada polling dukungan untuk Partai Brexit yang baru terbentuk. Organisasi politik yang digawangi oleh Nigel Farge (mantan pimpinan UKIP) ini diperkirakan sanggup memanen 30% suara dalam popular vote selama beberapa minggu ke depan. Pengaruh kabar ini bagi Sterling cenderung negatif, dengan GBP/USD yang menguji level terendah 3 bulan di 1.2830 dalam sesi perdagangan sebelumnya. Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229 |
![]() |
|
|
Terkait
|
||||
| Thread | Forum | |||
| Analisa Harian Market Forex oleh Tim FBS | Forex | |||
| Analisa Market Teknikal dan Fundamental | Forex | |||
| cara analisa pergerakan market ala silumankupukupu | Forex | |||
| Analisa Market by reyvalentino19 | Forex | |||
| Free Signal dan Analisa - for Derivative Market | Forex | |||