Ceriwis  

Go Back   Ceriwis > DISKUSI > Religion > Islam

Reply
 
Thread Tools
  #11  
Old 9th April 2011
putra1st's Avatar
putra1st putra1st is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Sep 2010
Location: -ceriwis-
Posts: 4,958
Rep Power: 51
putra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guru
Default

KIAT ASUH

Quote:
Model pengasuhan Ayah

Sama halnya seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda, sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan. Untuk itu, mari kita lebih jauh mengenal tipe – tipe pengasuhan seorang ayah, karena akan berpengaruh pada pola pengasuhan anak.
Orangtua membawa serta pengalaman masa lalunya terdahulu saat diasuh orangtuanya semasa ia kecil, dan sejumlah nilai budaya yang membentuk apa yang mereka lakukan saat ini. Selain itu, orangtua juga memiliki pola-pola kehidupan sosial, seperti hubungan bersama pasangan, keluarga besar, dan dunia kerja. Pola kehidupan sosial itulah yang secara otomatis dibawa dalam pengasuhan anak.

Secara umum, ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam pengasuhan anak-anaknya. Namun, ada sedikit perbedaan sentuhan dari apa yang ditampilkan ayah dan ibu. Anak-anak biasanya memang dekat dengan sosok ibu, karena waktu yang dimiliki seorang ibu lebih banyak daripada seorang ayah, tapi hal itu tidak berarti ayah tidak berperan penting dalam perkembangan anak.

Ada pendapat yang menyatakan, melalui kehidupan dalam keluarga, seorang ayah bukan saja memengaruhi individualitas anaknya, tetapi juga memengaruhi kemampuannya bergaul dan bersikap dalam masyarakat.
Dari pendapat itu, secara garis besar dikategorikan tipe pengasuhan ayah yang dapat memberi dampak utama pada anak-anaknya:


1. Tipe ayah bom waktu
Tipe ayah seperti ini adalah ayah yang cenderung mempunyai sifat temperamental, bersikap perfeksionis yang selalu menginginkan kesempurnaan anak-anaknya. Jadi jangan heran, jika sang anak melakukan kesalahan, maka si ayah tak segan untuk memarahi atau bahkan menghukumnya. Biasanya, segala sesuatu yang menyangkut si anak selalu dikaitkan dengan prestasi, karena hal ini pula obrolan si ayah dan si anak tak jauh-jauh dari urusan prestasi di sekolah.
Dampak bagi si anak, ketika dewasa si anak cenderung merasa kurang nyaman dan tak mudah percaya pada orang lain, terutama dalam pergaulan dan di tempat kerja.



2. Tipe ayah acuh tak acuh
Namanya saja acuh tak acuh, ayah seperti ini cenderung cuek dengan kebutuhan anak-anaknya. Ayah tipe ini kebanyakan bersikap acuh tak acuh terhadap segala hal permasalahan anak-anak mereka, terutama pada kebutuhan psikis. Ayah tipe ini merasa tanggung jawab utamanya adalah menjalankan peran sebagai tulang punggung alias pencari nafkah. Oleh sebab itu, sang ayah cuek dan enggan memantau perkembangan fisik, mental, dan emosi anak-anaknya, karena menganggap sang ibunya lah yang bertanggung jawab dan memegang peranan penting dalam tugas ini.
Dampaknya adalah ayah tipe ini akan memengaruhi perkembangan anak, dalam arti sang ayah kurang mengenalkan anaknya pada kesulitan dan tantangan yang mungkin banyak ditemui di luar rumah.



3. Tipe ayah pembimbing
Ini merupakan tipe ayah ideal. Ayah yang selalu bersikap penuh kehangatan dalam mendidik anaknya. Ia memiliki metode pendekatan dengan cara membimbing anak-anaknya agar mau belajar dan meningkatkan kualitas. Ayah pembimbing selalu perhatian kepada anaknya. Ayah tipe ini juga senang meningkatkan pergaulannya agar bisa lebih terlibat dalam kegiatan anak-anaknya. Ayah tipe ini juga selalu “melek” teknologi supaya dapat mengikuti zaman, yang pada akhirnya dapat mendekatkan dirinya dengan anak-anak.

Ternyata pengasuhan seorang ayah juga berperan penting dalam membentuk pribadi anak-anaknya. Semoga kita menjadi sadar dan tak enggan untuk memperbaiki pola asuh kita, demi kebaikan anak-anak.
Reply With Quote
  #12  
Old 9th April 2011
putra1st's Avatar
putra1st putra1st is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Sep 2010
Location: -ceriwis-
Posts: 4,958
Rep Power: 51
putra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guru
Default

KIAT ASUH

Quote:
Agar Anak Mau mendengar

Terkadang Anda mungkin dibuat jengkel karena anak-anak seringkali tak mau mendengarkan perkataan anda pada mereka. Meski begitu, kita tak perlu marah atau kesal lalu menggunakan kekerasan untuk mengatasinya, karena ada 6 cara agar si kecil mau mendengar.
Biasanya, sebagian besar anak tidak mau mendengarkan orangtua karena ingin mendapatkan perhatian lebih. Tetapi hal ini tentu saja tak bisa dibiarkan, karena menjadi pendengar yang baik bisa membantu anak belajar lebih efektif, mengetahui adanya sinyal bahaya, bersosialisasi dengan baik serta bisa menghargai orang lain.
Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar si kecil mau mendengarkan orang lain, yaitu:


1. Dekati anak
Terkadang orangtua berteriak dari tempat yang jauh untuk memberitahu anak, hal ini tidak akan memberikan dampak yang efektif. Usahakan untuk berada setara dengan anak, misalnya berjongkok atau agak merunduk sehingga bisa melihat mata anak untuk mendapatkan perhatiannya. Kondisi ini akan membantu anak untuk mau mendengarkan orangtuanya.



2. Berikan pesan yang jelas dan sederhana
Anak-anak akan sulit menemukan pesan yang diinginkan orangtuanya jika kata-kata yang diucapkan bertele-tele atau terlalu panjang. Jika memang tidak ada pilihan bagi anak, maka sebaiknya tidak menggunakan kalimat pertanyaan. Misalnya “Sudah waktunya untuk masuk ke mobil,” akan berdampak lebih besar dibandingkan, “Ayo naik ke kursi mobil, sayang?”.



3. Jangan bosan untuk mengulang
Pesan yang ingin disampaikan ke anak mungkin tak akan cukup dengan hanya mengucapkannya sekali. Karena itu tak ada salahnya untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan berulang-ulang dengan mengucapkannya, lalu memberi isyarat visual (seperti menjentikkan jari), isyarat fisik (meletakkan tangan di bahu anak dengan lembut) dan mendemonstrasikannya.
Semua dimulai dari hal yang kecil
Reply With Quote
  #13  
Old 9th April 2011
putra1st's Avatar
putra1st putra1st is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Sep 2010
Location: -ceriwis-
Posts: 4,958
Rep Power: 51
putra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guru
Default

KIAT ASUH

Quote:
Penyebab Si kecil megumpat

Mungkin Anda pernah dibuat terkejut saat si kecil tiba-tiba sering mengeluarkan kata-kata kasar/mengumpat? Apakah Anda dibuat bingung bagaimana cara menghadapinya?
Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, salah satunya adalah lingkungan. Mungkin Anda tidak menyadari bahwa perilakunya yang kasar diadaptasi dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.

Beberapa Penyebab

1. Orang tua dan pola asuh
Pola asuh sangat berpengaruh pada tingkat emosi seorang anak dan cara bagaimana ia bersikap. Anda sebagai orang tua merupakan panutan baginya. Dari orang tua, si kecil untuk pertama kali mempelajari dan mencontoh perilaku. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bersikap dan bertindak kepada siapapun, baik kepada anggota keluarga ataupun orang lain. Jangan sampai si kecil melihat dan meniru berperilaku Anda yang mungkin tanpa Anda sadari kasar terhadap orang lain.



2. Lingkungan luar
Lingkungan di sekitar rumah ataupun di sekolah juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak.



3. Media
Beberapa jenis media, terutama TV dan komputer ikut memengaruhi perkembangan si kecil. Bentuk kekerasan serta kata cacian dan makian yang muncul dalam berbagai tayangan TV dan media lainnya dapat menambah kosa kata dan perilaku buruk si kecil.



4. Makanan
Mungkin tidak banyak yang tahu, ternyata faktor makanan juga dapat memicu perkembangan emosi anak. Jenis makanan yang mengandung tambahan zat kimia, pengawet, dan zat berbahaya diyakini dapat membuat si kecil temperamental.
Jagalah diri dan keluargamu dari Api neraka
Reply With Quote
  #14  
Old 21st April 2011
putra1st's Avatar
putra1st putra1st is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Sep 2010
Location: -ceriwis-
Posts: 4,958
Rep Power: 51
putra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guru
Default

KIAT ASUH

Quote:
Hukuman atau Pukulan

Disadari atau tidak, masih banyak orang tua yang salah dalam menerapkan atau mengajarkan disiplin kepada anaknya. Sayangnya, para orang tua tidak pernah menyadarinya, dan bahkan tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya. Untuk itu, sudah seharusnya kita lebih peduli terhadap perkembangan adik/anak kita.

Memang, tidak mudah menjadi orang tua yang baik. Yang paling sulit, bagaimana sebagai orang tua bisa mengendalikan emosi dalam mengasuh anak. Mungkin secara teori, kita sudah banyak mendapatkannya, tetapi begitu menghadapi anak yang “nakal”, menguaplah semua teori itu dari kepala. Ketidakmampuan orang tua mengendalikan emosi ini, akhirnya muncul dalam bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak.

Semua buku/informasi tentang cara mengajar disiplin kepada anak, selalu menekankan untuk tidak boleh memukul atau memberikan hukuman fisik. Memang…, mudah dikatakan, tapi cukup sulit untuk diterapkan. Padahal, hukuman fisik justru bisa menjadi “permainan menarik” bagi anak, dan tidak akan mampu mendisiplinkan anak.



Hasil penelitian menunjukkan, anak balita belum bisa memahami hubungan antara tindakannya yang “nakal’ (menurut orang tua) dengan pukulan yang diterimanya. Anak hanya merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu kenapa dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan “nakal”-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas kesadarannya sendiri!


Jadi, jangan pernah memukul! Memukul tidak ada gunanya sama sekali bagi anak, kecuali hanya memuaskan emosi orang tua. Dalam menghadapi sikap anak yang ‘nakal’ dan tidak disiplin atau melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan untuk memberikan time-out kepada anak. Time-out di sini sebenarnya kata halus untuk sebuah hukuman, tetapi bukan hukuman fisik.
be wise, & everything will be nice
Reply With Quote
  #15  
Old 21st April 2011
putra1st's Avatar
putra1st putra1st is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Sep 2010
Location: -ceriwis-
Posts: 4,958
Rep Power: 51
putra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guru
Default

KIAT ASUH

Quote:

Agar Anak Tak ingin Menang Sendiri

Egois berasal dari kata ego, artinya “aku” dalam bahasa Yunani. Jadi, yang dimaksud egois adalah sikap mementingkan diri di atas kepentingan orang lain tanpa batas. Artinya tidak mengenal kondisi, dalam pengertian dengan siapakah kita bersama, pokoknya dirinya yang harus mendapatkan prioritas utama.

Pada dasarnya, orang yang egois punya sifat serakah, meskipun tidak selalu nampak serakah. Orang egois sebetulnya menyimpan ketakutan dan kekhawatiran. Apa yang dikhawatirkan, dia takut kehilangan apa yang menjadi miliknya atau haknya, sehingga dia tidak rela kehilangan sedikit pun yang sudah menjadi miliknya. Dia takut sekali, maka bisa dikatakan orang egois sebetulnya punya kebutuhan besar akan ketenteraman atau keamanan.



Anak menjadi bersikap egois biasanya timbul karena kelanjutan dari apa yang telah diterimanya selama ini. Misalnya sejak kecil ia dijunjung dan diutamakan, ia tidak pernah disalahkan dan senantiasa dibenarkan. Nah, sewaktu dia dewasa, dia menuntut perlakuan yang sama dari semua orang. Dan dia akan gagal mengembangkan satu keterampilan yang sangat penting, yakni berempati yang artinya adalah menempatkan diri pada posisi orang lain, melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, atau merasakan sesuatu dari perasaan orang lain. Dalam hal ini anak tunggal cenderung juga untuk egois, karena anak tunggal tidak harus mengalah.
Metode Membimbing yg paling baik adalah dengan action/perbuatan
Reply With Quote
  #16  
Old 21st April 2011
putra1st's Avatar
putra1st putra1st is offline
Ceriwis Addicted
 
Join Date: Sep 2010
Location: -ceriwis-
Posts: 4,958
Rep Power: 51
putra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guruputra1st is Ceriwis Guru
Default

kiat asuh

Quote:

cegah perilaku korupsi sejak dini

korupsi muncul akibat need of achievement (motivasi berprestasi) dari manusia yang terlalu berlebihan. Keinginan untuk melebihi orang lain, berdasarkan budaya yang berlaku di lingkungannya. Hal itulah yang menjadikan korupsi dapat bermacam-macam bentuknya. Selain uang dan kekuasaan, bentuk lain bisa berupa korupsi ayat suci, korupsi dalil, korupsi nilai rapor, dan banyak lagi bentuk korupsi lainnya. Dan semua itu, dilakukan atas dasar kebutuhan melebihi manusia lain yang terlalu berlebih.

seharusnya, seseorang harus punya pribadi sportif yang mau menerima batasan diri untuk “kalah” dengan orang lain. Ini adalah wujud motivasi berprestasi yang ideal.

anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa diharapkan punya pribadi ideal. Ada hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman jiwa anti korupsi dan mencegah perilaku korupsi pada anak.
  1. teknik ego vincerio, sebuah teknik modifikasi perilaku bagi anak yang “motivasinya” terlalu tinggi. Intinya, diarahkan bahwa untuk mencapai keinginannya, akan lebih efektif dan lebih efisien bila bekerja sama dengan orang lain.
  2. pikiran bawah sadar (subconcius) pada usia dini sedang membentuk polanya, semuanya tergantung pada pengaruh lingkungan. Sebaiknya, tidak menuntut anak terlalu tinggi untuk berprestasi. Tekanan pada usia dini, efeknya 1000 kali lebih besar dalam membentuk kepribadian, daripada saat dewasa. Gantilah tuntutan anda dengan tawaran.
.........

Last edited by putra1st; 21st April 2011 at 08:55 AM.
Reply With Quote
Reply


Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off


Terkait
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
"PROXY AJAIB" (insya allah update) LinuxManiax Shareware & Freeware 0 24th October 2012 09:58 PM
JUAL Buku-Buku Agama Islam ,Insya Allah menarik ( masup gan ) bookwithme Buku 0 18th July 2012 01:23 PM
JUAL Antarlah Anak-Anak kepada Allah tokobukuku Buku 0 18th July 2012 10:57 AM
berimanlah kepada Allah dan minta tolonglah hanya kepada Allah saja peramal123 Misteri, Horror, Supranatural 0 22nd April 2012 08:51 PM
JUAL Lapak Amigos Gans(y) Insya Allah Update HappyFrog Barang Antik 0 14th March 2012 01:25 AM

 


All times are GMT +7. The time now is 01:22 AM.