SEBAGAIMANA telah dikatakan. diantara anak2 mendiang Lo Ban Teng, jang dapat mewarisi keahlian silat dan pengetahuan tentang obat2an daripada ajahnja adalah Lo Siauw Gok. Ia kini melandjutkan usaha mendiang ajabnja dalam ilmu pengobatan Tionghoa. Mengenai kemahirannja dalam ilmusilat golongan Ho Jang Pay, jang tadinja mendjadi keahlianja mendiang sinshe Lo. bolehlah dikatakan bahwa ia ahliwaris Ho Jang Pay di Indonesia.
Namun Siauw Gok hampir2 sadja gagal. Semendjak masih kanak2 ajahnja sudah mulai melatihnja, akan tetapi pada waktu itu ia berlatih setjara atjuh-tak-atjuh. Minat untuk memahirkan ilmusilat tidak ada padanja. la lebih suka bermain2 bersama kawan2 diluar rumah, bahkan mengadu kelapa dan ......mengadu ajam tempo2, seperti lazim anak laki2 jang agak nakal dan binal. Disekolah iapun sering berkelahi, tetapi kebanjakan ia menderita labrakan, sehingga kawan2nja mengedjeknja. "Anak guru silat tidak punja kemampuan apa2" demikian edjekan tersebut. Lama2 ia mendjadi sakit hati dan mau djuga ia memperhatikan peladjaran ilmu silat. Dalam umur 17 tahun barulah ia berlatih dengan sungguh2. Sinshe Lo mendjadi girang sekali dan menggembleng puteranja itu dengan saksama. Akan tetapi karena pada waktu itu beliau sudah berumur 60 tahun dan hatiketjilnja bergelisah, karena diantara putera2nja belum ada jang kelihatan akan dapat mewarisi keahlianja kelak. maka ia ingin Siauw Gok lekas2 pandai sehingga ia mendidik Siauw Gok dengan tangan besi. Bengis sekali pendidikan sanj ajah, sampai2 Siauw Gok sering diumpat djika berbuat kesalahan2 dalam latihan.
Tjara pendidikan itu membawa effek sebaliknja daripada jang diinginkan sinshe Lo. Siauw Gok bukan mendjadi tjepat pintar. sebaliknja mendjadi semakin bebal dalam peladjaran silatnja,karena belum2 ia sudah ketakutan dimaki2. Tiap pagi. djika ajahnja sudah menantikannja diloteng untuk berlatihan dengan kaki dirasakannja berat sekali Siauw Gok mendaki tangga menudju ketempat latihan ditingkat kedua itu. Sinshe Lo semakin lama semakin tidak sabar mengadjarnja dan semakin pedas memakinja. sehingga kian lama semakin berkuranglah napsu beladjar Siauw Gok. Bahkan suatu waktu ia sudah mendapat pikiran untuk berhenti beladjar pada ajahnja dan mentjari seorang guru lain sadja. Ibu Siauw Gok mendjadi kasihan kepada puteranja Istrinja seringkali menasehati suaminja supaja djangan bersikap terlampau keras. "Bagaimana mungkin anak itu lekas pandai "ilmu silat." kata njonja Lo kepada suaminja, "kalau engkau selalu memarahinja dan menghardik2nja dengan bengis. Lagipula, seorang jang baru beladjar. tidak mungkin dapat melaksanakan segala gerak-gerik jang diadjarkan tanpa sesuatu kesalahan. Hendaknja sabar2 sadja. lama2pun tentu ia mahir."
Dalam pada itu, Siauw Gok sendiri mendapat edjekan2 daripada beberapa orang keluarganja. Kata salah seorang antaranja kepada Siauw Gok: "Engkau tidak mau beladiar silat dengan giat. Semakin dimaki ajahmu, semakin kau mendjadi malas. Engkau seorang anak jang tidak punja guna. Hanja pandai berkelujuran sadja. Nanti kalau ajahmu meninggal dunia, pastilah kaumendjadi djembel."
Nasihat pedas ini se-olah2 membuka pikiran Siauw Gok. Ia bertekad bulat untuk mempeladjari ilmu silat dengan sungguh2, begitupun ilmu obat2an Tionghoa. tidak perduli bagaimana bengispun ajahnja mendidik dan memperlakukannja. Selama dua tahun pertama Siauw Gok tidak menerima banjak matjam peladjaran. melainkan beberapa djenis sadja jang merupakan pokok2 dasar ilmu silat Ho Jang Pay. Jang lebih diutamakan pada masa peladjarannja itu ialah memperkembangkan pernapasannja (laykang) dengan latihan jang dinamakan Tjing Tjo Tao Kie, lebih djauh latihan Kao-ta dan Tjen-tjeng dgn. kaki-tangan kiri dan kanan;memperkembangkan kerasnja pukulan dan dajatahan terhadap pukulan lawan; ketadjaman perasaan; ketjepatan; timing; menggerakkan kaki dan tangan dengan berbareng; melempar tjioso dan memperkeras lengan2 tangan dengan djalan, "go kie" mengadu lengan dengan seorang partner.
Pada tahun 1952 Siauw Gok jang peladjaran silatnja sudah dapat diandalkan, pula sudah paham ihmi obat2an Tionghoa dan dapat menjembuhkan penjakit2, pindah ke Bandung. Disitu ia mengusahakan sebuah toko obat. akan tetapi kurang beruntung; dalam tahun 1954 ia pindah lagi 'ke Djakarta disebabkan ia mendapat luka2 terbakar lantaran kompor meledak. Mulai waktu itu ia membantu toko obat2an ajahnja di Djelakeng.
|