Murid jang berbakti
MULAI hari itu pamor Ban Teng naik. Tjiobee mendjadi gempar dan lawan2nja tiada jang berani mengganggunja lagi. Ban Teng berlatih semakin giat dan sungguh2. Tetapi sajang, sebelum peladjarannja sempurna benar dan ketika ia berumur 27 tahun, gurunja meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas jang penghabisan, Yoe berkata kepada muridnja itu: "Peladjaranmu sudah tjukup baik. Rasanja sukar kau mendapatkan tandingan. Tetapi masih banjak jang belum dapat kau peladjari." Ia mengambil sebuah ban pinggang dari kulit dan dua djilid buku dan menerimakannja kepada Ban Teng."Aku tidak dapat meninggalkan apa2 bagimu. Melainkan ban-pinggang ini, jang selalu menjertai aku dalam perantauanku. Lebih djauh sedjilid buku ini jang berisikan resep2 obat untuk menjembuhkan berbagai penjakit, dan sedjilid buku ini jang memuat tjatatan2 tentang ilmusilat Ho Yang Pay. Beladjarlah dengan radjin dan giat dengan berpedoman kepada bukutjatatanku itu."
Sehabis berkata2, Yoe menghembuskan napas penghabisan diatas pangkuan Ban Teng. Tak dapat dilukiskan betapa sedih dan hantjur luluh hati simurid, jang menangis tersedu2 sekali. Djenazah gurunja diurus sebagaimana mestinja dan dikebumikan dengan upatjara jang
lajak. Bahkan ia sendiri berlaku sebagai "hauwlam", berkabung sebagai putera almarhum. Begitu besar dirasakannja budi jang dilimpahkan gurunja kepadanja, sehingga dihadapan arwah guru itu ia berdjandji bahwa kalau kelak ia memperoleh seorang anak laki2, anak itu akan diakui sebagai anak gurunja dan diberi she (nama keturunan) Yoe.
Seluruh Tjiobee gempar membitjarakan peristiwa ini, lebih2 kebaktian Ban Teng kepada gurunja dan perbuatannja itu, jang mengundjukkan bahwa ia seorang jang djudjur-tulus serta mendjundjung tinggi budi-kebaikan jang pernah dilimpahkan atas dirinja. (Banpinggang peninggalan gurunja itu sampai sekarang masih disimpan para ahliwaris Ban Teng).
Pada waktu itu toko araknja sudah tidak ada, karena tidak terurus benar. Tetapi Ban Teng tidak menghiraukannja. Jang dipentingkannja ialah ilmusilat. Saudara2 seperguruan Yoe, jakni Goei In Lam jang sudah disebutkan diatas, lebih djauh Liem Kioe Djie dan Ong Tjian pwee merasa terharu mendengar bakti Ban Teng terhadap gurunja. Mereka sering mengundjungi Ban Teng di Tjiobee, sebaliknja Ban Teng pun sering menjambangi mereka - kesempatan mana dipergunakan paman2 -guru itu untuk memberi pimpinan lebih djauh pada pemuda itu dalam ilmusilat. Dengan demikian, Ban Teng tidak sadja dapat memahirkan apa jang telah diadjarkan mendiang gurunja, tetapi djuga keahlian chusus daripada ketiga paman guru itu, jang memang masing2 mempunjai keahlian sendiri2 dan menurunkannja kepada Ban Teng. Misalnja Liem Kioe Djie paling ahli antara mereka dalam gerakan tangan, mengirim pukulan2 keras dan tjepat disertai kibasan (menggebarkan) tubuh jang dapat menjalurkan sebanjak tenaga kearah lengan dan tindju. Iapun ahli obat2an untuk menjembuhkan luka2 didalam tubuh karena terpukul hebat ('siang'), menjambung tulang patah atau sambungan2 anggota2 tubuh jang telah lepas. Ong Tjian Pwee, jang djuga dinamakan Ong Tiauw Gan, paling ahli dalam gerakan kaki. Tulang keringnja paling keras dan tendangannja paling hebat. Ia terpandai dalam geraksilat "Tjeng Hong Kui Tie" (Angin Sedjuk Menjapu Tanah), pula paham benar ilmu bongmeh (memeriksa penjakit orang dengan merasakan denjutan nadi), dapat menjembuhkan berbagai penjakit luar dan dalam, penjakit anak2, penjakit orang perempuan dan orang tua. Goei In Lam terpandai dalam gerakan "mengatjip" atau "menggunting" dengan gerakan kaki dan tangan serentak. "Timing"nja paling tepat. Diantara saudara2-seperguruannja dialah paling paham "laykang", ilmu mengerahkan napas dan tenaga-dalam. Keahlian2 chusus itu semua dimahirkan Ban Teng dibawah pimpinan paman2-gurunja.
Putera Liem Kioe Djie, jang bernama Liem Thian In, seorang pemuda bertubuh tinggi-besar, bertenaga besar pula dan suaranja seperti guntur, jang djuga pandai ilmusilat, belum pernah dapat mendjatuhkan Ban Teng djika mereka berlatih bersama. Djuga Ban Teng belum pernah dapat mengalahkannja. Thian In pada suatu waktu rupanja mendongkol djuga dan berkata kepada ajahnja supaja djangan mengadjar Ban Teng habis2, karena ia pemarah, suka tjari setori dan mungkin kelak menjusahkan mereka. Djawab ajahnja: "Kalau kepandaianku tidak kuwariskan kepada Ban Teng, tiada orang lain lagi......"
|