View Single Post
  #7  
Old 29th April 2011
ashurarudy's Avatar
ashurarudy ashurarudy is offline
Newbie
 
Join Date: Jun 2010
Posts: 23
Rep Power: 0
ashurarudy mempunyai hidup yang Normal
Default

"Dengan kerbau tidak mungkin merundingkan sadjak".....
PADA suatu hari Ban Teng datang terlambat ditempat latihan. Murid2 lain sudah berkumpul dan empek Yoe menjuruh mereka mulai berlatih. Beberapa orang murid jang bertubuh besar2, jang selalu menerima peladjaran dari Ban Teng dan belum pernah melihat guru mereka sendiri turuntangan, sudah lama me-ragu2kan kepandaian guru itu. Benarkah empek itu pandai ilmu silat, seperti dikatakan Ban Teng?bertanja hati ketjil mereka. Untuk mendapat kepastian, mereka bermufakatan untuk mengadjak empek Yoe tjoba2 mengadu tangan, jakni berlatih saling membenturkan lengan.

"Tunggu sadja sampai Ban Teng datang", jawab empek Yoe. Djawaban ini semakin meragu2kan murid2 itu. Mereka mendesak. Siguru segara merasa, bahwa mereka hendak mengudjinja. Bangunlah ia dari tempat-duduknja. Lalu ia memilih empat orang murid jang bertubuh paling besar dan paling kuat nampaknja. Mereka disuruhnja berdiri berbaris sendangkan jang lain2 mengawasi dengan penuh perhatian. "Marilah kita mulai." kata empek Yoe. Mereka mulai mengadu tangan. Tiada seorang pun antara murid2 itu sanggup berbenturan lengan sampai dua kali dengan siguru. Serasa seolah2 lengan mereka dihantam dengan sebatang balok jang luar biasa keras, lagi tadjam!Mereka ter-heran2, bagaimana empek Yoe dapat mengerahkan tenaga sebesar itu. Mulai detik itu semua murid tunduk benar2 kepada guru mereka dan nama Yoe Tjoen Gan mulai banjak yang disebut orang.

Salah seorang pegawai toko arak Ban Teng paham akan ilmu silat. Pegawai ini tinggi-besar dan bertubuh kokoh-kekar. Pada suatu hari Ban Teng men-tjoba2 kepandainnja dengan pegawai itu. Akibatnja diluar dugaanja. Dengan sekali gedor sipegawai berhasil membikin Ban Teng djatuh terlentang diatas sebuah tong arak. Ban Teng merasa ketjewa sekali. Kata sipegawai : "Untuk apa tuan mengangkat seorang jang tubuhnja seperti lidih mendjadi guru silat tuan?Ia begitu kurus-kering, sehingga kalau saja ketok sekali sadja dengan sumpit, tentunja dia mati!"

Ban Teng sangat mendongkol, akan tetapi tidak dapat mengatakan apa2. Ketika masuk ke dalam kamar gurunja, ia melihat empek Yoe ada disitu. Karena pembitjaraannja dengan pegawai tadi terdjadi diruangan sebelah kamar itu, tentunja empek Yoe dapat mendengarnja dengan tegas. Bertanja Ban Teng, apakah si guru dapat dengar apa jang dikatakan sipegawainja?Ketika gurunja mengatakan, bahwa ia telah mendengar semuanja, Ban Teng bertanya, mengapakah guru itu tinggal diam sadja dan tidak mendjadi marah? Djawab Yoe Tjoen Gan dengan singkat: " Ka gu gim si (Dengan seekor kerbau tidak mungkin orang berunding tentang sadjak). Kini, sebaiknja kau beladjar sadja dengan giat." Sehabis ber-kata2 si guru berlalu dari kamar itu.

Djuga istrinja mengedjek Ban Teng ketika mendengar peristiwa itu. "Untuk apa kau beladjar silat pada orang begitu?" bertanja njonja Lo. "Biasanja tjuma makan tidur sadja. Pertjuma membuang uang, tempo dan tenaga dengan tidak ada hasilnja. Terus menerus kau dipermainkan sadja!" Kata2 isterinja menimbulkan amarah Ban Teng. Mereka djadi bertjidera hebat sekali.

Empek Yoe mendapat dengar tentang kedjadian ini. Kepada Ban Teng dikatakannja dengan ketus " Kee bo ee ti to tjam tao (kalau ajam betina dapat berkokok, sebaiknja ditabas aja batang lehernja)!"

Sudah barang tentu, isterinja tidak dapat menerima kata2 itu. Antara Ban Teng dan isterinja lalu terbit pertjekjokan hebat sekali, sampai2 mereka mau bertjerai. Tapi sjukur, sebelum terdjadi demikian, seorang paman dan bibi keenam Ban Teng (laktjek dan laktjim), datang sama tengah dan mendamaikan suami-isteri itu. Mereka berpendapat, isteri Ban Teng bersalah karena terlampau mau menjampuri urusan suaminja dan menjuruh njonja itu menghaturkan maaf kepada empek Yoe. Demikianlah urusan dapat diselesaikan setjara damai.

PADA suatu waktu, untuk urusan perusahaan, Ban Teng menudju Amoy (Emoei). Sebelum bertolak. gurunja mengatakan bahwa di Amoy ada seorang saudara--seperguruannja (suheng) Jang bernama Goei In Lam Ian bergelar Hoan Thian Pa (Matjan Tutul Jang Membalikkan Langit). Setibanja di Amoy, Ban Teng menjambangi susiok (paman-guru) itu dan memperkenalkan diri sebagai murid Yoe. Goei minta ia memperiihatkan apa jang sampai sebegitu djauh dapat dima-hirkannj'a dibawah pimpinan guru itu. Setelah menjaksikan permainan Ban Teng, Goei tidak berkata apa2, melainkan menggelengkan kepala. Kemudian baru dikatakannja: "Apabila nanti sudah kembali di Tjiobee, katakan kepada gurumu, bahwa aku minta ia datang disini. Ada sesuatu jang ingin kubitjarakan dengannja."

Kembali ditempat tinggalnja, Ban Teng menjampaikan pesan itu. Serta-merta wadjah Yoe berubah, se-olah2 suatu firasat tidak enak timbul padanja. Namun ia memenuhi permintaan Goei dan menudju Amoy.

Ketika kedua saudara-seperguruan itu berhadapan muka dengan muka, Goei jang bertabiat djudjur dan selalu berterus-terang berkata kepada Yoe: "Sungguh engkau seorang jang susah diurus. Berulangkali kau berdagang, berulangkali kami membantu engkau dengan modal, tetapi berulangkali pula kaugagal. Perusahaanmu jang paling belakang, jakni perusahaan batu nisan, sampai2 sirna tampakrana, sehingga terpaksa kautinggal dirumah muridmu Ban Teng jang begitu setia kepadamu dan mendjundjung kau sebagai ajah sendiri. Kini kau mendapatkan seorang murid jang begitu baik, tetapi kau mempermainkannja. Tiada kau mengadjarnja dengan sungguh2. Memang benar, tidak sembarang dapat kita menerima murid, akan tetapi djika mendapatkan murid jang benar2 baik, seharusnjalah kita menurunkan kepandaian kita dgn. setulus hati. Tetapi tjaramu mengadjar Ban Teng sangat memalukan. Adakah engkau bermaksud merusak nama baik Ho Yang Pay?Kalau terus begini sepakterdjangmu, kelak kalau kau mati, djenazahmu tiada jang urus!"

Teguran pedas ini serentak membuka mata Yoe. Ia sadar akan kekeliruannja. Memang benar, sampai sebegitu djauh ia mengadjar Ban Teng? dengan setengah hati. Teguran saudara seperguruannja itu kini menjebabkan ia merasa menjesal akan perbuatannja sendiri. Ketika kembali di Tjiobee, pada suatu malam tg. 15 bulan Tionghoa ia memanggil Ban Teng. Untuk pertama kalinja itu ia memetjahkan segala rahasia teknik kunthao tjabang Ho Yang Pay sampai habis2. Bagaimana tjara memberi pukulan, tjara bagaimana menggerakkan/mengibaskan tubuh supaja tenaga sebesar2nja dapat disalurkan pada pukulan jang tengah diberikan kepada lawan, seperti seekor ajam mengibaskan tubuh untuk membersihkan bulu2nja daripada debu, bagaimana harus menampung pukulan pihak lawan, bagaimana harus meng-gerakkan tangan dan kaki dengan serentak dalam gerakan "mengatjip", dll. BanTeng merasa seolah2 seorang buta jang baru melek. Mengertilah dia betapa tinggi mutu intisari ilmu silat jang dipeladjarinja. Maka mulai waktu itu ia berlatih semakin giat dan radjin.

Tiga bulan kemudian gurunja berkata kepadanja: "Sekarang boleh kautjoba main2 lagi dengan pegawaimu jang sombong itu. Kalau kali ini ia dapat mendjatuhkan kau, djangan kau akui aku sebagai gurumu lagi." Apa jang dikatakan Yoe itu terbukti. Dalam pertjobaan dengan pegawai itu, dengan dua kali gerakan Ban Teng berhasil membikin pegawainja itu terpental djatuh keatas sebuah tong berisikan kotoran manusia disudut kamar. Tjoba tong itu tiada tutupnja, pasti sipegawai tertjemplung didalamnja! Sipegawai ter-heran2 sehingga tidak dapat berkata apa2.

Ban Teng mendapat hati. Serentak kepertjajaan kepada diri sendiri pulih. Ia menantang musuhnja jang lama untuk berkelahi. "Seorang lawan seorang boleh," katanja.
"Tetapi kalau kamu mau main kerojok, djuga boleh!" Sudah tentu lawan2nja lebih suka main kerojok. Tetapi kali ini mereka ketjele. Tiada seorang lawan dapat datang dekat pada Ban Teng. Barangsiapa jang madju menjerang, tanpa mengetahui apa jang terdjadi dengan diri mereka, tiba2 mendapatkan dirinja sendiri bergelimpangan ditanah. Begitu tjepat gerak-gerik dan "katjipan2" Ban Teng, sehingga musuh2nja tidak dapat melihatnja.
Reply With Quote