View Single Post
  #6  
Old 29th April 2011
ashurarudy's Avatar
ashurarudy ashurarudy is offline
Newbie
 
Join Date: Jun 2010
Posts: 23
Rep Power: 0
ashurarudy mempunyai hidup yang Normal
Default

Salah seorang murid terbaik dari Ho Jang Pay
SAMPAI pulang dirumah, tiada habis2nja Ban Teng memikirkan hal pembuat bongpay jang tua itu. Kepada semua kenalannja ia bertanja, siapakah gerangan dia itu?Salah seorang kenalannja mentjeriterakan kepadanja, bahwa empek sipembuat bongpay bernama Yoe Tjoen Gan, seorang antara lima murid terbaik dari ahlisilat Tjoa Giok Beng dari Tjoantjiu, pemimpin tjabang silat Siauw Lim Ho Jang Pay.

Semakin bulat tekad Ban Teng untuk berladjar silat pada si-empek itu. Belum2 sudah dibanjang2kannja, bagaimana kelak ia dapat membalas dendam kepada para pengatjau2 kehidupannja djika ia sudah mahir mempeladjari silat dibawah pimpinan empek Yoe. Besoknja ia mengundjungi lagi empek itu. Sekali lagi ia minta diterima sebagai murid. Tetapi si-empek menolak.

Ban Teng tidak putus-asa. Berkali2 ia mendatangi si-empek dan berkali2 ia mengulangi permintaannja. Hasilnja selalu nihil : empek Yoe tetap menolak. Begitu dengan begitu, setahun telah lalu. Perusahaan batu-nisan empek Yoe semakin lama semakin mundur, sehingga achirnja terpaksa gulung tikar. Lain daripada itu, uang sewa rumahpun tidak dapat dibajarnja, sehingga jang empunja rumah menjuruhnja pindah sadja.

Melihat kesukaran2 empek Yoe, Ban Teng mengadjaknja tinggal bersama dirumahnja. Tetapi orang tua itu njata berwatak aneh dan keras kepala pula. Ia menolak tawaran tawaran pemuda itu terus menerus. Ban Teng tidak mendjadi putus harapan dan mendesak terus. Achirnja, melihat, kesungguhan hati Ban Teng, empek Yoe tergerak hati. "Baiklah", katanja, "akan kuturuti tinggal bersama kau. Dan untuk membalas kebaikanmu itu, nanti kuadjarkan kau beberapa matjam ilmu pukulan."

Bukan main girangnja Ban Teng. Serta-merta ia mendjatuhkan diri, berlutut dihadapan orangtua itu dan memberi hormat (paykoei). Mulai hari itu si empek tinggal dirumah Ban Teng. Pemuda kita ini menjediakan sebuah kamar jang paling baik untuknja, menjediakan pula seorang pelajan chusus untuk mengurus keperluannja dan memperlakukan seolah2 ajah sendiri. Mulai waktu itu saban hari ia berlatih silat atau melewati waktu dengan mengobrol dengan gurunja tentang ilmu silat. Toko araknja tidak diperhatikannja lagi:segala urusan perusahaan dipertjajakannja kepada salah seorang pegawainja jang dipertjajanja. Bahkan anak-istrinjapun sampai2 diabaikannja, sehingga isterinja bermula heran, kemudian mendjadi mendongkol dan gusar. Njonja Lo tidak habis mengerti sikap suaminja jang lebih mementingkan silat daripada perusahaannja dan begitu menghargai si-empek jang kurus kering itu. Bagaimana mungkin begitu pikir Njonja Lo - seorang2 jang kurus itu dan selemah itu nampaknja, dapat mengajarkan ilmu silat? "Kalau kudorong, tentu ia djatuh terpelanting!" kata hati ketjilnja.

Nasihat2 isterinja tidak dihiraukan Ban Teng. Sebaliknja, ia menjadi gusar sehingga seringkali suami-isteri itu mendjadi berdjidera oleh karenanja. Kegemaran Ban Teng akan ilmu silat semakin mendjadi2. Untuk mengambil hati gurunja, ia mengumpulkan teman2 dan kenalan2 untuk beladjar silat pada guru itu. Peladjaran diberikan didalam suatu rumah chusus untuk itu, sebuah 'bu-kwan'. Uang peladjaran jang dapat dikumpul Ban Teng dari murid2 baru itu sama sekali berdjumlah 12 kouw (dollar) sebulan. Pada djumlah ini ia tambahkan uangnja sendiri, sehingga dapat ia memberikan gurunja dua dollar seharinja. Jang memberikan peladjaran silat itu boleh dikatakan Ban Teng sendiri. Gurunja hanja duduk mengawasi sadja.
Reply With Quote