
1st May 2010
|
 |
Ceriwiser
|
|
Join Date: Apr 2010
Location: Alam Takambang Jadi Guru, Dima Bumi Dipijak, Disinan Langik Dijunjuang......
Posts: 808
Rep Power: 20
|
|
Latar Belakang Munculnya Adat Dan Nagari Bag.2
Spoiler for Isi:
3. Fase Koto
Karena anak kemenakan berkembang, wilayah semakin lebar maka aturan dan norma hidup semakin diperluas skopnya, membutuhkan adanya pemimpin diwilayah tersebut. Pemimpin yang akan :
Manantukan lantak pasupadan,
Manantukan inggo jo biteh,
Kok kusuik ka manyalasaikan
Karuah nan kamanjaniahkan
Nan mamacik naraco keadilan
Dalam bahasa Indonesia
Menentukan tanda pembatas
Menentukan wilayah dan batas
Jika ada masalah yang akan menyelesaikan
Jika keruh yang akan menjernihkan
Yang memegang neraca keadilan
Maka dipilihlah seorang pangkatuo/pangatuo/tuo kampung dan didirikanlah rumah gadang secara bergotong royong sebagai pelambang kebesaran pemimpin.
Diharapkan dengan adanya pemimpin dengan segala hak dan kewajiban dan atributnya akan tercipta masyarakat harmonis, elok susunnya bak siriah rancak liriknyo bak ma atua (bagai sirih yang bagus susunnya setelah dijalin)
Daerah/dusun tersebut menjadi makmur, aman dan damai yang dalam bahasa sangsekerta disebut kerto, sebagai akibat adaptasi berdasarkan struktur morfologis, kerto berobah jadi koto.
Karena begitu subur dan makmurnya makin banyak pendatang (dagang lalu) yang menetap disana. Bagi pendatang baru didusun tersebut harus mengikuti aturan :
dima bumi dipijak disitu langit dijunjuang.
bajalan mairiang,
Bakato baiyo
Baiyua maisi
Dalam bahasa Indonesia
Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung
Berjalan mengiringi
Berkata sepakat
Ikut beriur.
Ada juga yang mengatakan koto berasal kata kuta, artinya suatu wilayah yang dipagar untuk menahan serangan dari luar yang akan merugikan penghuninya, itulah yang disebut rumah berpagar adat, kampung bapaga buek, nagari bapaga undang, Tagak suku pado suku, tagak kampuang pado kampuang, taga banagari pada nagari.
4. Fase Nagari
Dalam fase ini ada beberapa kelompok yang memisah dari inti, coba merantau ke daerah yang relatif dekat, kemudian didaerah baru tersebut mengalami fase yang sama dengan daerah asal. Dari taratak manjadi dusun, dari dusun manjadi koto, tetapi mereka tetap menjalin hubungan yang erat dan memakai aturan dan norma yang sama dengan daerah asal,
Dibubuik indak layua
Diasak indak mati
Anak ciek kamanakan satu,
Dalam bahasa Indonesia
Dicabut tidak layu
Dipindah tidak mati
Anak satu kemenakan Satu
Agar hubungan kekerabatan tidak putus karena telah berdiri beberapa koto, maka berdasarkan kesepakatan beberapa Tuo kampung yang memiliki kaitan norma dan kekeluargaan maka didirikanlah nagari. Dan daerah asal/jolong disebut dengan jorong.
Dari sini muncullah,
Tuah kato samufakat
Nan bana kato baiyo
Bulek aia ka pambuluah
Bulek kato ka mufakat
Dalam bahasa Indonesia
Tuah kata karena mufakat
Yang benar kata bersama
Bulat air ke pembuluh
Bulat kata ke mufakat
Baragiah-ragiah
Babagi indak bacarai
Sarumpun bak sarai
Sakalupak bak tabu
Basimpang babalahan
Bakarek bapanggabuangan
Basasok bajarami
Nagari bapaga undang
Kampuang bapaga jo pusako
Dalam bahasa Indonesia
Saling memberi
Berbagi tapi tidak bercerai
Serumpun seperti serai
Sekelupak seperti tebu
Bersimpang berbelahan
Berpotong bersambungan
Bersosok berjerami
Nagari berpagar undang
Kampung berpagar pusaka.
Seluruh aspek kehidupan baik secara individual maupun kolektif, saparuik, sapasukuan, sakoto sanagari, hak dan kewajiban serta seluruh aturan dan norma yang telah disepakati sifat gotong royong tenggang rasa dan lain-lain, semua saling menjalin satu sama lain, dan sebagai pengikut jalinan itu yang disebut adat. Tali pengikat inilah yang disebut adat:
Indak lapuak dek hujan
Indak lakang dek paneh
Dirandam indak basah
Dibaka indak anguih
Dalam bahasa Indonesia
Tidak lapuk karena hujan
Tidak lekang karena panas
Direndam tidak basah
Dibakar tidak hangus
Dapat disimpulkan adat adalah merupakan pandangan hidup yang menata keharmonisan kehidupan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta yang berpedoman kepada keserasian alam sekelilingnya. Itulah sebabnya adat memposisikan alam terkembang jadi guru.
Panakiak pisau sirauik
Ambiak galah batang lintabuang
Salodong jadikan niru
Satitiak jadikan lauik
Sakapa jadikan gunuang
Alam takambang jadikan guru.
Sumber : Surek kaba Anak Nagari Sungai Pua " Apa Basi" edisi I Desember 2002
|