BERKEPEMIMPINAN PADA NURANI
Kepada siapakah kita mendapatkan kepemimpinan yang mengayomi semua orang?
Phew!, betapa sulitnya menjawab pertanyaan ini. Bila kita baca koran, dengar radio atau nonton tv, yang kita temukan adalah kebuntuan besar. Ketika orang merujuk si A, di saat sama ia mencela si B. Sedangkan, ketika orang lain menunjuk si C, ia juga menikam si D. Bahkan di kalangan mereka yang dianggap pemimpin pun tak bersepakat tentang banyak hal besar. Zaman apakah ini?
Bagaimana lokomotif bisa berjalan bila tak ada masinis yang menunjuk dengan telunjuk agungnya?
Mari kita coba runtuhkan semua perhitungan matematika politik. Kita lebih membutuhkan pelajaran perdamaian. Berhentilah sejenak menunjuk sana-sini.
Inilah zaman dimana kita semestinya belajar dan diajar menemukan kepemimpinan sejati di halaman rumah sendiri - ia bernama nurani. Memang pemimpin ini tak bersuara lantang karena ia tak terletak di bibir. Ia pun tak berlagak garang, karena ia tak mengandalkan kepalan. Ia berbisik lembut, sejuk, terang dan damai. Karena ia terletak di hati; ia bergelar hati nurani. Mari kita angkat suara hati nurani sebagai pemimpin agung kita di masa yang penuh kerancuan ini. Karena hanya ia yang pantas dijunjung di segala zaman.