IMF: beberapa negara Eropa masih lemah
Badan Moneter Internasional mendesak negara-negara dikawasan Eropa Tengah, Timur dan Tenggara agar menerapkan kebijakan yang bertujuan menopang permintaan dalam negeri sehingga dapat menurunkan utang sektor swasta yang berlebihan demi membantu negara pulih dari efek krisis keuangan 2008.
Menurut keterangan Jorg Decressin, deputi direktur IMF departemen Eropa, wilayah-wilayah tersebut diatas mengalami tantangan yang hampir sama diantaranya: investasi lemah, pertumbuhan kredit rendah dan tidak seimbangnya neraca sektor swasta.
IMF mengatakan tercatat hanya beberapa negara saja yang mampu keluar dari kondisi pra-krisis ketika dihitung menurut PDB dan fundamental ekonominya.
Didalam laporannya, IMF juga menyebutkan bahwa utang sektor swasta negara-negara seperti Turki, Rusia dan Ukraina pada 2013 masih menjadi yang tertinggi berbanding kekuatan ekonominya. Serbia memiliki resiko likuiditias sektor korporat sementara Latvia, Rusia dan Turki memiliki resiko tidak mampu membayar utang korporatnya dan Slovenia, Kroasia, Ukraina memiliki resiko kedua-duanya.
Namun IMF juga mengingatkan konsolidasi tidak boleh terlalu ketat diwilayah-wilayah itu agar tidak menyeret pemulihan ekonomi. Kebijakan moneter haruslah tetap akomodatif dinegara-negara yang menghadapi resiko deflasi. Negara-negara tersebut harus membuat pasar ketenagakerjaanya lebih fleksibel, menerapkan resolusi hutang yang efisien dan memperbaiki lingkungan bisnis.
Disamping itu semua, kondisi diwilayah tersebut diatas juga dipengaruhi oleh harga minyak, pemulihan ekonomi zona euro dan konflik militer antara Rusia dan Ukraina.