Bank Dunia Downgrade Pertumbuhan Global
Meski negara berkembang meningkat dan momentum di AS cukup kuat, bank dunia tetap menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global mengutip lemahnya prospek di kawasan Eropa dan Jepang.
Dalam laporan ‘Prospek Ekonomi Global’ dua tahunannya yang dirilis Selasa, Bank Dunia mengatakan Produk Domestik Brutto global diperkirakan tumbuh 3 persen di 2015, lebih rendah dari 3,4 persen yang diperkirakan pada Juni. Untuk tahun 2016, perekonomian diproyeksikan meningkat 3,3 persen turun dari 3,5 persen. Bahkan pertumbuhan ekonomi di 2017 diperkirakan hanya tumbuh 3,2 persen.
Menurut Bank Dunia, resiko kemerosotan terhadap outlook ini melemahkan perdagangan global, kemungkinan gejolak di pasar keuangan, sejauh mana harga minyak mengetatkan neraca keuangan di negara penghasil minyak, dan resiko semakin panjangnya stagnansi perekonomia atau deflasi di wilayah euro atau Japan.
Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan mneingkat menjadi 3,2 persen tahun, sebelum meningkat 3 persen dan 2,4 persen di 2016 dan 2017. Perkiraa pertumbuhan di kawasan euro turun 1,1 persen di 2015, dengan pertumbuhan di wilayah tersebut meningkat menjadi 1,6 persen di 2016-17. Pertumbuhan ekonomi Jepang diperkirakan meningkat 1,2 persen di 2015 ini dan 1,6 persen di 2016.
"Yang mengkhawatirkan, terhentinya pemulihan di beberapa negara berpenghasilan tinggi dan bahkan beberapa negara berpendapatan menengah bisa jadi merupakan gejala dari kemerosotan struktural yang lebih dalam," kata Kaushik Basu, kepala ekonom Bank Dunia dan wakil presiden senior.
China is undergoing a carefully managed slowdown with growth easing to a still-robust 7.1 percent in 2015, 7 percent in 2016 and 6.9 percent in 2017, the World Bank said.
Pada saat yang sama, China mengalami perlambatan dengan pertumbuhan turun menjadi 7,1 persen pada tahun 2015, 7 persen pada 2016 dan 6,9 persen pada tahun 2017, kata Bank Dunia.
Negara berkembang meningkat 4,4 persen di 2014 dan pertumbuhan di wilayah diperkirakan naik 4,8 persen tahun ini, meningkat menjadi 5,3 persen dan 5,4 persen masing-masing di 2016 dan 2017. Di Juni, bank dunia memperkirakan pertumbuhan 5,4 persen untuk 2015 dan 5,5 persen untuk tahun ini.
Presiden Group Bank Dunia Jim Yong Kim mendesak negara berkembang untuk menggunakan sumber daya nya dengan bijaksana dan melakukan perubahan struktural yang berinvestasi pada orang.
Sementara penurunan harga minyak membantu membuat inflasi yang lebih rendah dan mengurangi defisit transaksi berjalan di Brazil, Indonesia, Afrika Selatan dan Turki, itu akan melemahkan aktivitas di negara-negara pengekspor. Ekonomi Rusia diproyeksikan mengalami kontraksi 2,9 persen pada tahun 2015, hampir mendapatkan kembali wilayah positif pada 2016 dengan pertumbuhan diperkirakan di 0,1 persen.