
27th November 2010
|
 |
Moderator
|
|
Join Date: Oct 2010
Location: Reg. DKI Jakart
Posts: 1,927
Rep Power: 62
|
|
[Ziarah] Pangeran Jayakarta - Achmad Djaketra
Spoiler for Sejarah:
Quote:
Pada medio 22 Juni 1527 silam, Fatahillah mensyahkan nama Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi Jayakerta atau Jayakarta usai merebutnya dari Kerajaan Pajajaran pada pertengahan Februari 1527 dan berhasil mengusir pasukan Portugis yang berambisi menguasai bandar samudra nan ramai kala itu.
Setelah itu Fatahillah memutuskan pulang ke Banten dan mewariskan kekuasaanya kepada sang menantu Ratu Bagus Angke atau Pangeran Hasanuddin yang kemudian mewarisi kekuasaan Jayekarta kepada anaknya Pangeran Achmad Djaketra atau lebih dikenal Pengeran Jayakarta.
Sejarah mencatat dibawah kepemimpinan Pangeran Jayakarta kota bandar maju pesat dalam hal perdagangan hasil bumi. Hingga akhirnya Pemerintah Belanda lewat perusahaan dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), secara licik berhasil merebut Jayekarta dan menggantinya menjadi Batavia.
Usai di kudeta, Pangeran Jayakarta dan para pengikutnya pun bersembunyi di Tenggara Jayekarta yang saat ini dikenal dengan nama Jatinegara Kaum hingga ia meregang nyawa pada tahun 1640.
Itulah sekelumit kisah sejarah Pangeran Jayakarta yang makamnya kini menjadi cagar budaya. Ya, dikomplek pemakaman dan tergabung dengan masjid Assalafiyah yang terletak di Jalan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur inilah terbaring pahlawan bangsa yang pernah bertarung mempertahankan harga diri bangsa dari rakusnya tangan-tangan penjajah.
Di kompleks pemakaman bersejarah yang sempat dirahasiakan selama tiga abad ini, tak hanya ditemui makam Pangeran Jayakarta. Tapi juga terdapat makam Pangeran Lahut yang merupakan putra dari Pangeran Jayakarta.
Pangeran Soeria Bin Pangeran Padmanegara, makam yang dipindahkan dari Kramat pada tahun 1978. Juga makam Pangeran Sageri, Ratu Rapiah putri Pangeran Sanghiyang istri Pangeran Sageri.
Yah, meski Pangeran Jayakerta hidup tiga abad sebelum masa sekarang, namun tak salah bila kita mengenang kisah heroiknya dengan menghargai setiap jejak sejarah yang ditinggalkan. Dan seperti ucapan Bung Karno dalam salah satu pidatonya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.
|
Last edited by zedleppelin; 27th November 2010 at 12:32 PM.
|