STONEHENGE DAN ORANG-ORANG DRUID
Tempat lain yang harus dipertimbangkan dalam hal pengaruh Veda adalah Stonehenge, sebuah tempat misterius yang ada di dataran Salisbury di Wiltshire. Nama Stonehenge datang dari kata Sanskrit Stavankunj, yang berarti pondok tempat untuk bermeditasi. Nama aslinya benar-benar tidak ada hubungan dengan batu-batu bulat besar yang berdiri disana. Beberapa mill dari sana ada sebuah tempat yang dikenal sebagai Woodhenge. Padanan dalam Sanskrit dari kata “wood” adalah vana, diucapkan sebagai “bon”. Jadi, nama Sanskrit untuk tempat itu tentunya adalah Vanakunj, berarti sebuah “forest bower”. Ini memberikan beberapa pemahaman kepada Sanskrit sebagai asal dari nama-nama yang berakhiran “henge”.
Orang-orang Druid, yang dihubungkan dengan Stonehenge, adalah pendeta-pendeta yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial pada jaman Eropa kuno. Istilah Druid adalah variasi dari orang-orang Eropa atas istilah Sanskrit Dravid. Salah satu hubungan yang dimiliki orang-orang Druid dengan peradaban Veda dijelaskan oleh P.N. Oak pada halaman 221 dari bukunya Some Missing Chapters in World History yang mana ia menyatakan: “Masyarakat Eropa menyebut orang-orang Druid sebagai orang-orang Hindu Dravida pada jaman dahulu. Kamus menjelaskannya sebagai sebuah kelompok religius kuno yang ada di Gaul, Britania, dan Irlandia pada jaman dahulu.
Dalam hikayat penduduk Irlandia dan Wales, dan kemudian dalam legenda agama Kristen, orang-orang Druid muncul sebagai penyihir dan bukan sebagai pendeta dan ahli filsafat. Ini merupakan indikasi jelas bahwa orang-orang Druid Eropa adalah sama dengan orang-orang Dravida di India. Mereka bukanlah kelompok ras tertentu. Mereka merupakan kelompok religius dari para pendeta dan ahli filsafat yang melakukan keajaiban-keajaiban melalui mantra dan upacara mereka. Secara kebetulan, harus dicatat disini bahwa adalah tidak benar untuk menandai orang-orang Arya dan orang-orang Dravida sebagai kelompok-kelompok ras yang saling bermusuhan. Mereka tidak bermusuhan. Mereka adalah komunitas-komunitas Hindu kuno [yang berbeda] yang kedua-duanya benar-benar mahir dalam pemujaan keagamaan Hindu, pengetahuan dan praktek-praktek Veda. Mereka menyebar ke Eropa ketika para Kshatriya India memerintah dunia. Sebagaimana komunitas di India begitu juga dengan komunitas di Eropa kita menjumpai istilah-istilah Arya dan Druid. Mereka tidak eksklusif satu dengan yang lain. Orang-orang Druid adalah sebuah kelompok yang menjalankan Arya Dharma yang adalah jalan hidup Arya. Karenanya ketika dunia mengatakan bahwa arang-orang Eropa adalah orang-orang Arya apa yang harus disadari adalah bahwa orang-orang Eropa tadinya adalah orang-orang Hindu. Druid, alias Dravida, membentuk sebuah kelompok keagamaan dalam komunitas orang-orang Arya yang percaya akan dan menjalankan Arya Dharma yang sama”.
Istilah Dravid berkaitan dengan para orang bijak paling awal pada saat mulainya Krita-yuga. Akar kata Dra menandakan Drashta, salah satu dari para orang mulia (seer), sementara suku kata yang belakangan vid secara langsung menunjuk kepada ilmu pengetahuan atau orang bijak itu sendiri. Jadi, mereka berasal dari India, seperti juga disebutkan pada halaman 483, Volume II dari Asiatic Researches oleh Reverend Thomas Maurice: “Asal-usul Asiatic dari orang-orang Druid telah lama diakui dalam dunia kepurbakalaan. Mr. Reuben Burrow, praktisi besar astronomi India, merupakan orang pertama yang, setelah melalui sebuah pengujian dan perbandingan yang ketat terhadap takhyul yang berhubungan dengan mytologi dan periodisasinya, secara langsung membenarkan mereka sebagai sekelompok imigran yang terdiri dari ahli-ahli filsafat India”.
Reverend Maurice melanjutkan alur pemikiran ini pada halaman 246, Bagian I, Volume I dari bukunya, Antiquities of India: “Para pendeta ini (orang-orang Druid), kaum Brahmana India, menyebarkan diri mereka secara meluas melalui wilayah Asia bagian utara, bahkan sampai ke Siberia sendiri, dan secara perlahan-lahan bercampur dengan suku-suku pribumi Celtic yang berpostur besar (penduduk Kalatoya sampai selatan Kashmir) terus melanjutkan perjalanannya sampai di Eropa dan akhirnya mendirikan kelompok orang-orang Druid yang adalah sistem Brahmin superstition di Britania purba. Ini saya pertahankan adalah koloni orang Oriental pertama yang menetap di kepulauan (British) ini”.
Ini sangat mirip dengan apa yang dijelaskan oleh Navaratna S. Rajaram dalam bukunya, Vedic Aryanand the Origins of Civilization. Ia mengatakan bahwa orang-orang Druid tercatat dalam pustaka Veda sebagai orang-orang Druhyu. Mereka diusir keluar India dalam sejumlah kampanye oleh para penguasa dari milenium ke-empat B.C., bahkan oleh Mandhatr sejak 4500 B.C. Ini sesuai dengan tradisi orang-orang Druid yang menelusuri asal-usulnya dari Asia setidaknya sejak 3900 B.C. Orang-orang Druhyu ini, yang berasal dari wilayah India barat laut telah dipimpin kembali masuk ke tanah tumpah darahnya oleh raja mereka, Angara. Kemudia Mandhatr mengusirnya kembali keluar dari Punjab dan masuk ke Afghanistan. Setelah itu, berdasarkan catatan-catatan dalam Purana mengindikasikan bahwa mereka pergi lebih jauh lagi ke arah utara dan kemudian barat memasuki Eropa, dimana mereka menjadi orang-orang Druid.
Pada halaman 11 buku The Celtic Druids, Godfrey Higgins manyebut bahwa, “Caesar . . . mangatakan, berbicara menganai orang-orang Druid, bahwa mereka tidak berpikir itu sah menurut hukum untuk melakukan penulisan rahasia agama mereka”. Ini berarti bahwa cara mereka untuk mengajarkan pengatahuan mereka kepada yang lain mereka memelihara tradisi lisan Veda. Pelajaran Sanskrit selalu dilakukan berdasarkan ingatan (tradisi lisan) sebelum itu dituliskan. Dan untuk mengingatnya, mereka secara rutin biasanya melafalkan Vedas dan pustaka Veda lainnya.
Dari halaman 154 buku Matter, Myth and Spirit or Keltic Hindu Links, Dorothea Chaplin menjelaskan, “Orang-orang Dravida adalah para Kshatriya dan semua Kshatriya adalah orang Arya. . . . Manu dalam ayat 43-44 dari bab ke-sepuluh Samhita menyebutkan sepuluh suku Kshatriya sebagai kaum Vrishala, diantara mereka adalah orang-orang Dravida”.
Pada halaman 179 sampai 183 ia melanjutkan ulasannya bahwa orang-orang Druid tidak pernah ambil bagian dalam peperangan, juga tidak pernah membayar pajak dalam rangka itu. Mereka dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Dalam jumlah besar mereka bergabung dalam kependetaan yang mana mereka dikirim oleh orang tuanya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang diperlukan. Pada saat berumur 5 tahun para murid dikirim ke pasraman milik sang guru selama 12 sampai 20 tahun untuk mengikuti pendidikan dan mempelajari himne-himne suci Veda. Mereka akan mengingat sejumlah besar ayat-ayat. Inti dari pendidikan mereka adalah untuk memahami keabadian jiwa (soul) dan proses reinkarnasi. Pelajaran lainnya adalah astronomy, geography, berbagai cabang filsafat, dan masalah-masalah keagamaan. Jadi, sistem pendidikan Druid juga adalah sistem menurut Veda.
Kemiripan dengan sistem Veda menjadikannya yakin bahwa orang-orang Druid dalam kenyataannya adalah klan orang-orang Druhyu dari India, bagian dari peradaban Veda yang menuntun dan melakukan kendali pengawasan atas tata kemasyarakatan orang-orang Eropa kontemporer. Dama buku yang sama, Chaplin menjelaskan bahwa orang-orang Druid mendiami British Island dan membengun pusat-pusatnya di banyak tempat, yang terpenting diantaranya adalah Avebury, Stonehenge, Woodhenge, Malvern, Mona, Tara, dan Iona. Bahkan orang-orang Celtic ada di bawah kekuasaan orang-orang Druid. Tetapi, tidak hanya orang-orang Druid makmur di Britania, tetapi dalam Complete History of the Druids (hal.27) menjelaskan bahwa, “Agama orang-orang Druid bersemi sangat lama, baik di Britania dan Gaul (Perancis). Ia menyebar sampai ke Italia, seperti nampak melalui perintah pengadilan Augustus kepada orang-orang Roma, agar tidak merayakan misterinya”.
Sebagaimana tercatat pada halaman 182-183 dari Caesar’s Commentaries on the Gallic War, oleh T. Rice Holmes, Julius Caesar menjelaskan bahwa dewa untuk siapa orang-orang Druid melakukan banyak penghormatan adalah Mercury. Ia dianggap sebagai penemu semua kesenian dan pioner dan pemandu bagi para pejalan, dan penyelenggara perdagangan dan kepemilikan kekayaan. Mereka juga memberikan penghormatan untuk Apollo (penyembuh penyakit), Mars (Dewa perang), Jupiter (mahluk celestial tertinggi) dan Minerva (pelopor industri dan kerajinan tangan). Dalam tradisi Sanskrit deity-deity yang sama dikenal sebagai Surya, Mangal, Budha, Indra, dan Lakshmi.
Pada halaman 161 buku The Celtic Druids, oleh Godfrey Higgins, juga dijelaskan bahwa perayaan tanggal 25 Desember dirayakan dengan menyalakan api unggun besar di puncak bukit. Merayakannya dengan menggunakan pepohonan hijau dan terutama sekali mistletoe (sejenis tanaman warna hijau) pada perayaan ini mengkhianati tradisi Druid yang menjadi asal tradisi ini.
Orang-orang Druid tidak hanya merupakan orang-orang dari India, atau yang berorientasi Veda, yang ada di Britania. Dari halaman 113 buku Matter, Myth and Spirit or Keltic Hindu Links, Dorothea Chaplin menjelaskan, “Kerajaan Kent dibangun oleh Jat bersaudara. Baik orang-orang di kerajaan Kent dan juga di pulau Wight semuanya adalah keturunan dari Jat bersaudara”. Jat bersaudara adalah juga klan Kshatriya dari India dan membantu mengelola peradaban Veda di bagian lain dunia ini.
Sumber terjemahan dari buku “Proof of Vedic Culture’s Global Existence” oleh Stephen Knapp.