Vamana Avatara

Tersebutlah seorang raja bijaksana yang telah menguasai tiga dunia bernama Maharaja Bali. Maharaja Bali memiliki sumpah akan memenuhi segala permintaan seorang brahmana. Suatu ketika Maharaja Bali ingin melakukan upacara yajna yang megah. Para dewa resah akan yajna yang dilakukan oleh Maharaja Bali mengingat kekuasaan dari raja itu. Oleh karenanya para dewa memohon kepada Sri Visnu agar berkenan turun untuk membatalkan upacara yajna besar-besaran itu. Akhirnya, Sri Visnu turun ke upacara itu dalam wujud brahmana cebol. Dengan penuh hormat Beliau mendatangi Maharaja Bali, dan dengan penuh hormat pula raja bijak itu bertanya kepada Vamana akan maksud kehadiran-Nya. Akhirnya, Vamana meminta sepetak tanah sepanjang tiga langkah Beliau kepada sang raja untuk membangun asram. Sang raja begitu heran, “jangankan tiga langkah tanah, aku sanggup memberikan lebih dari itu wahai brahmana yang mulia.” Namun Sri Visnu dalam wujud Vamana tetap meminta tanah sepanjang tiga langkah. Tetapi, sebelum sang raja memenuhi permintaan itu, seorang bawahannya berkata, “Oh raja, jangan penuhi permintaan itu, tampaknya Ia bukan brahmana biasa, Ia pasti Narayana yang menjelma”. Sang raja berkata, “Jika Ia adalah benar Narayana, betapa terasa sempurna upacara ini karena Beliau berkenan turun langsung.” Dan akhirnya sang raja memenuhi permintaan itu. Pada saat itu, Vamana menunjukkan wujud aslinya sebagai Narayana atau Sri Visnu berlengan empat dengan ukuran raksasa dan menuntut janji sang raja. Hanya dengan dua langkah Beliau, tiga dunia telah terlewati. Narayana berkata, “wahai sang raja, Aku telah berjalan dua langkah dan seluruh wilayah kekuasaanmu telah terlewati, di manakah Aku dapat meletakkan langkah ke tiga agar kau dapat memenuhi janjimu?” Dengan sangat terkejut, sang raja berkata, “oh Tuhan, letakkanlah kaki padma-Mu di kepala hamba sebagai langkah ke tiga agar hamba dapat memenuhi janji hamba” dan akhirnya Sri Visnu meletakkan langkah ke tiga-Nya di kepala Maharaja Bali. Sang raja tenggelam dalam tangis haru penuh kebahagiaan karena Tuhan berkenan turun langsung dalam upacaranya, itulah yang merupakan kebahagiaan sesungguhnya bagi Maharaja Bali.