View Single Post
  #2  
Old 12th March 2012
arienyan arienyan is offline
Newbie
 
Join Date: Aug 2011
Posts: 45
Rep Power: 0
arienyan mempunyai hidup yang Normal
Default

dewa ruci

Quote:
cerita ini terjadi saat pandhawa bersama saudara-saudara sepupunya, kurawa sedang bersama-sama menimba ilmu pada guru yang sama resi durna atau kumbayana. Kurawa yang amat menyadari bahwa tahta kerajaan astina yang saat itu diduduki ayah mereka, destarastra, adalah sekadar titipan dari ayah pandhawa, pandu dewanata yang mati muda. Dan jika nanti pandhawa telah dewasa, tahta itu harus dikembalikan kepada mereka. Para saudara kurawa yang berjumlah seratus itu, mulai cemas dan berusaha keras untuk melenyapkan pandawa.



Sebenarnya para kurawa tidak memiliki kemampuan untuk menyusun strategi bagaimana harus melenyapkan para pandhawa. Tetapi mereka memiliki bantuan pemikir yaitu harya sangkuni, atau arya suman, adik ibunya gendari, yang diangkat jadi patih kerajaan astina . Sengkuni berhasil membujuk resi durna untuk membantu rencana kurawa tersebut. Sasaran utamanya adalah pandhawa si nomer 2, raden werkudara alias arya bimasena dan si nomer 3 raden janaka alias harjuna, 2 orang pandhawa yang kesaktiannya luar biasa. Dan sasaran utamanya adalah bimasena.



Setelah menyelesaikan sesi latihan ragawinya, bima diutus sang guru resi durna untuk mencari �tirta prawitasari�, air kehidupan, guna menyucikan batinnya demi kesempurnaan hidupnya. Benda itu, harus dicari di hutan tibaksara di gunung reksamuka. Ketika menghadap ibunya, dewi kunthi, saudara-saudaranya yang lain mengingatkan bahwa mungkin ini hanya jebakan sangkuni karena hutan itu sudah terkenal sebagai �alas gung liwang liwung, sato mara, sato mati� .


Tapi bima tetap kukuh melaksanakan perintah gurunya meskipun dia harus menyerahkan jiwanya. Melihat keteguhan hati anaknya, sang ibu akhirnya memberi restu kepada bima. Bima pun akhirnya berangkat menjalankan tugas gurunya.


Seluruh hutan sudah dijelajahinya, tapi yang dicari tidak ada ada. Bima justru membangunkan dua raksasa penunggu hutan yaitu rukmuka dan rukmakala yang sedang tidur.perkelahian pun tidak dapat dihindarkan, namun kedua raksasa tersebut terbunuh oleh bima.



Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, sang bima kembali dan menghadap gurunya. Resi durna kaget melihat bima selamat dan bisa keluar dari hutan tibaksara. Resi durna kemudian memintanya untuk mencari tirta prawitasari ke dalam lautan. Bima pun langsung berangkat untuk melaksanakan perintah gurunya.



Seisi lautan diaduknya, seekor naga yang menghalangi jalannya disingkirkannya, tapi yang dicarinya tidak juga ketemu. Ditengah kebingungannya, dia justru menemukan mahluk yang serupa dirinya dalam ukuran yang lebih kecil, yang meniti ombak lautan, mendekati dirinya. Mahluk itu memperkenalkan dirinya sebagai sang dewa ruci, sang sukma sejatinya, dirinya yang sebenarnya. Akhirnya sang bimasena masuk ke dalam wadag sang dewa ruci melalui kuping kirinya, dan mendapat penjelasan tentang hidup sejatinya.


petuah dan esensi cerita
untuk mendapatkan �inti pengetahuan sejati� (tirta prawitasari) sang bima harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, (hutan tibaksara �tajamnya cipta�; gunung reksamuka, �pemahaman mendalam�). Sang bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa rukmaka �kamukten, kekayaan� dan rukmakala �kemuliaan� . Tanpa mengendalikan nafsu dunianya dalam batas maksimum.


Perjalanannya menyelam ke dasar laut diartikan dengan �samodra pangaksami� pengampunan. Membunuh naga yang mengganggu jalannya simbol dari melenyapkan kejahatan dan keburukan diri.


Pertemuannya dengan sang dewa ruci melambangkan bertemunya sang wadag dengan sang suksma sejati. Masuknya wadag bima kedalam dewa ruci dan menerima wahyu sejati bisa diartikan dengan �manunggaling kawula-gusti�, bersatunya jati diri manusia yang terdalam dengan penciptanya. Kemanunggalan ini mampu menjadikan manusia untuk melihat hidupnya yang sejati. Dalam istilah kejawen �mati sajroning urip, urip sajroning mati�. (mati di dalam hidup, dan hidup di dalam mati).



Sumber: Wayangprabu

wahyu makutharama


Quote:
prabu suyudana (doryudana) mengutus adipati karna, patih sengkuni dan para kurawa pergi ke gunung kutharungu atau pertapaan swelagiri. Ia mendapat wangsit dalam mimpinya bahwa barang siapa yang bisa memiliki makuta sri batararama, maka ia akan menjadi sakti, dan akan menurunkan raja-raja tanah jawa.

adipati karna kemudian pergi menjalankan tugasnya ke kutharungu. Disana ia bertemu dengan anoman yang memang ditugaskan oleh panembahan kesawasidi untuk menjaga keamanan selama ia bersemedi. Karna kemudian mengungkapkan maksud kedatangannya kepada anoman, namun anoman menolaknya. Terjadilah kesalahpahaman antara keduanya sehingga pertarungan antara keduanya tidak bisa dihindarkan. Karna yang merasa terdesak, langsung melepaskan senjata saktinya, panah kuntawijayandanu. Anoman yang mengetahui bahwa senjata itu bukanlah pusaka biasa, ia lalu terbang setinggi-tingginya dan menukik menangkap panah yang telah dilepaskan oleh karna. Karna yang kehilangan pusaka andalannya kemudian kembali pulang ke awangga, ia tidak kembali ke hastina karena malu tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.

Sementara di pihak pandawa, arjuna juga mencari makutharama yang ditemani oleh para punakawan. Dalam perjalanannya ke kutarungu, ia dihadang oleh raksasa-raksasa yang menganggunya. Namun akhirnya, arjuna bisa mengalahkan mereka. Beruntunglah arjuna, sesampainya di swelagiri, panembahan kesawasidi sudah selesai bersemedi dan baru saja memberikan nasihat kepada anoman yang dianggapnya sedikit lancang dalam menjalankan tugasnya. Anoman kemudian diperintahkan untuk ke kendhalisada untuk bertapa dan memohon ampun atas kesalahannya.

Arjuna kemudian bertemu dengan kesawasidi, dan menjelaskan maksud kedatangannya. begawan kesawasidi memberikan penjelasan bahwa sebenarnya makutharama itu bukanlah sebuah barang/benda, melainkan pengetahuan budi pekerti raja yang sempurna atau ajaran astabrata. Begawan kesawasidi kemudian menyampaikan ajaran astabrata kepada arjuna.

Setelah selesai menyampaikan ajaran rama, panembahan kesawasidi memberikan pusaka kuntawijayandanu kepada arjuna agar diserahkan kembali kepada karna sang pemilik. Arjuna kemudian mohon undur diri.

Setelah selesai memberikan wejangan astabrata kepada arjuna, tanpa sepengetahuan arjuna, kesawasidi kemudian berubah menjadi wujud aslinya yaitu prabu kresna dari dwarati dan mengikuti arjuna kembali ke amarta.

Sementara di amarta, semuanya gelisah karena arjuna yang sedang mencari wahyu makutharama tidak kunjung pulang dan prabu kresna juga lama tidak berkunjung ke amarta. yudhistira kemudian memerintahkan bima untuk mencari prabu kresna dan gatotkaca untuk mencari arjuna.

Begitu pula dengan dewi subadra dan dewi srikandi, mereka mengkhawatirkan suaminya, arjuna, yang tidak kunjung pulang. Kemudian mereka memohon petunjuk dewa. Datanglah batara narada yang mengubah wujud mereka menjadi seorang ksatriya. Dewi subadra diberi nama shintawaka dan dewi srikandi bernama madusubrata.keduanya kemudian diperintahkan untuk menuju ke pertapaan kutarungu.

Sepanjang perjalanannya, shintawaka dan madusubrata selalu meneriakkan tantangannya kepada raden arjuna. Suara mereka bahkan sampai terdengar gatutkaca yang sedang berada di angkasa dalam perjalanannya mencari arjuna. Gatutkaca tidak terima dengan tantangan shintawaka dan madusubrata, terjadilah perkelahian diantara mereka. Dalam pertempuran itu, gatotkaca kalah, dan diangkat oleh mereka dan diajak bersama-sama mencari arjuna.

Sementara adipati karna yang sedih karena kehilangan senjata pusakanya akhirnya bertemu dengan arjuna yang ingin mengembalikan kuntawijayandanu kepadanya. Keduanya pun saling melepas rindu karena lama tidak bertemu. Karna juga menanyakan kenapa senjatanya bisa berada di tangan arjuna. Arjuna berterus terang bahwa senjata itu diperolehnya dari panembahan kesawasidi saat ia bermaksud mencari wahyu makutarama.

Mendengar cerita raden arjuna, adipati karna memaksa ingin tahu tentang wahyu makutharama, tetapi arjuna menolaknya. Terjadilah pertempuran diantara keduanya, namun karna kalah dan melarikan diri.

Dalam pelariannya menghindari arjuna, karna bertemu dengan shintawaka dan madusubrata. Karna kemudian memberitahukan bahwa arjuna berada di belakang mengejarnya. Raden arjuna yang sedang mengejar adipati karna kemudian dihalang-halangi oleh shintawaka dan madusubrata hingga terjadilah pertempuran diantara mereka. Namun, arjuna kalah dan menghindari shintawaka dan madusubrata.

Raden arjuna kemudian bertemu dengan bimasena yang sedang mencari keberadaan prabu kresna. Arjuna meneritakan bahwa ia dikalahkan oleh dua satriya yang tidak dikenal, dan ia meminta bantuan kakaknya itu untuk menghadapi shintawaka dan madusubrata.

Shintawaka dan madusubrata yang dibantu gathotkaca juga berhasil mengalahkan bima, karena gathotkaca tahu kelemahan ayahnya itu.

Saat arjuna dan bima mundur menghindari pertempuran dengan shintawaka dan madusubrata, mereka bertemu dengan prabu kresna. Keduanya lalu menceritakan bahwa mereka baru saja dikalahkan oleh shintawaka dan madusubrata.

Prabu kresna tahu siapa jati diri kedua satriya itu sebenarnya. Ia kemudian meminta arjuna untuk menghadapi mereka kembali dengan menggunakan ilmu asmaratantra yang berupa syair/tembang asmara yang bisa meluluhkan hati shintawaka dan madusubrata. Berubahlah wujud dua satriya itu, shintawaka berubah ke wujud aslinya yaitu dewi subadra dan madusubrata kembali menjadi dewi srikandi.


http://www.hadisukirno.com/artikel-detail?id=51
Reply With Quote