View Single Post
  #3  
Old 24th February 2012
vals's Avatar
valsVIP vals is offline
Super Moderator
 
Join Date: Apr 2011
Posts: 3,914
Rep Power: 51
vals has disabled reputation
Default

IX. Penyelenggaraan Ilahi

1. Tuhan peduli pada ciptaan-Nya

Walau ciptaan diciptakan baik adanya, namun pada saat yang sama seluruh ciptaan diciptakan dalam keadaan �dalam perjalanan� menuju kesempurnaan akhir sebagaimana dikehendaki Tuhan (lih. KGK 302). Tuhan memelihara semua ciptaan-Nya. Yesus mengajarkan tentang penyelenggaraan Tuhan, demikian, �Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? �.Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.� (Mat 6:31-33; lih. 10:29-31)

2. Tuhan menghendaki ciptaan-Nya bekerja sama dengan Dia


Tuhan tidak saja menciptakan, tetapi memberikan kesempatan untuk bekerjasama dengan-Nya mewujudkan rencana-Nya (lih. KGK 306). Kepada manusia diberikan kuasa untuk memenuhi dan menaklukkan bumi (lih Kej 1:26-28); mengambil bagian dalam karya penciptaan, dan mengusahakan keseimbangannya demi kebaikannya dan kebaikan sesama. Manusia diundang untuk mengambil bagian dalam rencana Allah, melalui perbuatannya, doa- doanya maupun penderitaannya, dan dengan demikian menjadi �kawan sekerja Allah� (1 Kor 3:9, 1 Tes 3:2; Kol 4:11).

Tuhan berkarya di dalam diri ciptaan-Nya, Ia menjadi Penyebab utama yang bekerja melalui manusia, �Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.� (lih. Flp 2:13, 1Kor 12:6). Namun demikian, tanpa bantuan rahmat Allah, manusia tidak dapat sampai kepada tujuan akhirnya (lih. KGK 308)

3. Penyelenggaraan Tuhan tidak menghapus skandal kejahatan


Tidak ada jawaban yang cepat yang memuaskan atas pertanyaan, mengapa jika Tuhan Maha Besar, peduli dan memelihara ciptaan-Nya, tetapi ada kejahatan di dunia? Sebab segala hal pesan iman Kristiani (ajaran tentang penciptaan dan kejatuhan manusia ke dalam dosa, kasih Allah, penjelmaan Kristus, pengutusan Roh Kudus, Gereja, kuasa sakramen, panggilan untuk hidup kudus) adalah sebagian dari jawaban untuk pertanyaan ini (lih.KGK 309).

Tuhan mengizinkan adanya kejahatan, sebab dalam kebijaksanaan-Nya, Tuhan menjadikan keseluruhan ciptaan di dalam tahap perjalanan menuju kesempurnaan akhir (lih. KGK 310).

Malaikat dan manusia harus menempuh perjalanan menuju tujuan akhir mereka melalui pilihan mereka sendiri, sehingga karena kebebasan ini, mereka dapat menyimpang. Maka, kejahatan moral lebih parah dari kejahatan fisik. Tetapi Tuhan tidak pernah baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi penyebab kejahatan moral (KHK 311). Sebaliknya, dalam kemahakuasaan-Nya Allah dapat mendatangkan kebaikan dari sesuatu yang buruk (lih. Rom 8:28), seperti dalam kasus Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya (lih. KGK 312,313).

Akhirnya kita percaya akan Tuhan yang mengatasi dunia dan sejarah. Walau penyelenggaraan-Nya sering tak dapat kita pahami, tetapi pada akhirnya ketika kita memandang Tuhan muka dengan muka, kita akan mengetahui dengan sempurna bagaimana bahkan jalan- jalan kejahatan dan dosa, telah mengarahkan ciptaan-Nya kepada perhentian terakhir, seperti rencana-Nya.

X. Tuhan menciptakan langit dan bumi


1. Langit dan bumi

Tuhan adalah Pencipta langit dan bumi, segala yang kelihatan dan tak kelihatan (lih. KGK 325). Langit dan bumi di sini adalah segala ciptaan secara keseluruhan. Bumi adalah dunia manusia, sedangkan langit mengacu kepada cakrawala dan surga tempat Tuhan sendiri. Langit juga mengacu kepada para orang kudus, tempat bagi para mahluk rohani, para malaikat yang mengelilingi Tuhan (lih. KGK 326).

2. Para malaikat


Para malaikat adalah para pelayan dan pembawa pesan Tuhan (KGK 329). Mereka adalah mahluk rohani murni (yang tidak mempunyai tubuh), yang ber- akal budi dan berkehendak bebas (lih KGK 330). Para malaikat �selalu memandang wajah Tuhan� (lih. Mat 18:10); mereka adalah �pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya� (Mzm 103:20).

3. Kristus dan para malaikat-Nya


Kristus adalah pusat dunia malaikat. Para malaikat itu adalah malaikat-malaikat-Nya (lih. Mat 25:31). Para malaikat itu adalah milik Kristus sebab mereka diciptakan melalui Dia dan untuk Dia (lih. Kol 1:16). Mereka adalah milik Kristus, sebab Ia telah menunjuk mereka sebagai pembawa kabar bagi rencana keselamatan-Nya: �Bukankah mereka [para malaikat] semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?�

Para malaikat telah ada sejak penciptaan dan terus ada sepanjang sejarah keselamatan (lih.KGK 332), sejak zaman para nabi menyampaikan rencana Allah, sampai saat malaikat Gabriel menyampaikan kabar gembira untuk kelahiran Yohanes Pembaptis dan Kristus sendiri. Sejak penjelmaan Kristus di dunia sampai kenaikan-Nya ke surga, kehidupan Yesus senantiasa dikelilingi oleh para malaikat. Para malaikat memuja-Nya saat kelahiran-Nya, melindungi-Nya, menguatkan-Nya di saat di Taman Getsemani. Merekalah yang mewartakan kabar gembira saat Inkarnasi dan Kebangkitan-Nya; dan akan menyertai Yesus pada saat kedatangan-Nya kembali di akhir zaman (lih. KGK 333, Kis 1:10-11; Mat 13:41;24:31; Luk 12:8-9).

4. Para malaikat di dalam hidup Gereja


Seluruh kehidupan Gereja juga, secara rahasia memperoleh bantuan dari para malaikat (lih. KGK 334). Dalam liturginya, Gereja menggabungkan diri dengan para malaikat untuk memuji dan menyembah Tuhan (KGK 335). Sejak awal kehidupan sampai wafatnya, setiap manusia berada di dalam perlindungan malaikat dan doa syafaatnya (lih.KGK 336).

XI. Tuhan yang menciptakan dunia yang kelihatan


a. Setiap ciptaan Tuhan mempunyai keindahan tersendiri

Tuhan menciptakan dunia dengan segala keanekaragaman di dalamnya. Segala yang ada memperoleh keberadaannya dari Allah. Setiap ciptaan mempunyai keindahan/ kebaikannya sendiri, karena itu manusia harus menghormati ciptaan yang lain dan menghindari penggunaan yang tidak teratur akan alam dan ciptaan yang lain tersebut (lih. KGK 337-339).

b. Setiap ciptaan saling tergantung, saling melengkapi dan melayani


Tuhan menghendaki saling ketergantungan antara ciptaan-Nya, agar saling melengkapi dan melayani satu sama lain (lih. KGK 340). Keindahan alam: Keteraturan dan keseimbangan alam tercapai dari keberagaman ciptaan dan dari hubungan di antara mereka (lih. KGK 341).

Penghormatan akan hukum kodrat yang diperoleh dari keadaan alami ciptaan merupakan dasar kebijaksanaan dan dasar hukum moral (lih.KGK 354).

Solidaritas antara mahluk ciptaan ada karena semuanya diciptakan oleh Tuhan dan semua ditentukan untuk memuliakan Tuhan (lih. KGK 344).

c. Manusia merupakan puncak dari karya Sang Pencipta.


Manusia merupakan �puncak karya Sang Pencipta� (KGK 343), sebab manusia menempati posisi yang unik dalam Penciptaan, yaitu: 1) diciptakan menurut gambaran Allah; 2) dalam kodratnya, manusia mempersatukan dunia rohani dan jasmani; 3) manusia diciptakan laki-laki dan perempuan; 4) Tuhan menentukan manusia di dalam persahabatan dengan-Nya (lih. KGK 355).

XII. Tuhan menciptakan Manusia


1. Manusia diciptakan untuk mengenal dan mengasihi Allah:

a. untuk mengambil bagian di dalam hidup Allah.

Dari segala ciptaan, hanya manusia yang diciptakan untuk dapat mengenal dan mengasihi Pencipta-Nya. Di bumi, hanya manusia-lah ciptaan yang dikehendaki Tuhan demi kebaikan manusia itu sendiri; dan hanya manusialah yang dipanggil untuk mengambil bagian -melalui pengetahuan dan kasih- di dalam kehidupan Allah sendiri (lih. KGK 356)

b. untuk melayani dan mengasihi Tuhan


Tuhan mencipta segalanya untuk manusia; dan sebaliknya manusia diciptakan untuk melayani dan mengasihi Tuhan dan mempersembahkan semua ciptaan kepada-Nya (lih. KGK 358)

2. Manusia dapat mengenal dirinya sendiri, dan memberikan dirinya kepada Tuhan dan sesama.


Dengan menjadi gambaran Allah, maka manusia tidak hanya �sesuatu� tetapi �seseorang�. Ia mempunyai pengetahuan akan dirinya sendiri, memiliki dirinya sendiri dan dapat memberikan dirinya dan masuk dalam persekutuan dengan orang-orang lain. Manusia dipanggil oleh rahmat Tuhan untuk memberikan tanggapan iman dan kasih kepada-Nya, yang tidak dapat diberikan oleh ciptaan yang lain (lih. KGK 357)

3. Hanya dalam misteri Inkarnasi, misteri manusia menjadi jelas


Rasul Paulus membandingkan Adam dengan Kristus: �Adam pertama menjadi jiwa yang hidup, Adam yang terakhir adalah Roh yang memberi hidup. Adam pertama diciptakan oleh Adam yang terakhir, yang dari-Nya Adam yang pertama memperoleh jiwa dan hidupnya� Adam yang kedua ini memeteraikan gambaran-Nya di dalam Adam yang pertama saat menciptakannya�. Adam yang pertama mempunyai awal, sedangkan Adam yang terakhir tidak berakhir. Adam yang terakhir merupakan awal segalanya, sebab Ia sendiri berkata, �Aku adalah yang pertama dan terakhir� � (lih. St. Petrus Krisologus, Sermo 117, KGK 359)

4. Karena berasal dari asal yang sama, maka seluruh umat manusia membentuk kesatuan dan merupakan satu saudara


�O penglihatan yang menakjubkan, yang membuat kita memandang umat manusia di dalam kesatuan asalnya di dalam Tuhan�. di dalam kesatuan kodratnya, yang terdiri dari tubuh material dan jiwa spiritual; di dalam kesatuan akhirnya dan misinya di dunia; di dalam kesatuan di dalam tempat kediamannya, yaitu di bumi yang mendatangkan kebaikan bagi manusia yang dapat mempergunakannya untuk mengembangkan kehidupan; di dalam kesatuan kepada tujuan akhirnya yang adikodrati: yaitu Tuhan sendiri, yang kepada-Nya semua mahluk harus menuju; di dalam kesatuan cara mencapai tujuan ini; �. di dalam kesatuan penebusan yang dikerjakan oleh Kristus bagi semua orang.� (Paus Pius XII, Summi Pontificatus, 3, KGK 360)

5. Tubuh dan jiwa manusia membentuk kesatuan


Manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah adalah sekaligus mahluk jasmani dan mahluk rohani. Tuhan membentuknya dari debu tanah, dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (lih Kej 2:7); maka manusia keseluruhannya, tubuh dan jiwa, dikehendaki oleh Tuhan (KGK 362).

a. Jiwa manusia


Jiwa manusia mengacu kepada �kehidupan manusia atau keseluruhan pribadi manusia� (lih. KGK 363), dan mengacu kepada hal terdalam dalam diri manusia. Oleh jiwa, manusia menjadi sangat istimewa sesuai dengan gambaran Allah: jiwa menandai prinsip rohani di dalam diri manusia. Jiwa menjadi �bentuk� bagi tubuh; karena adanya jiwa maka tubuh menjadi hidup. Di dalam manusia bukan dua kodrat yang menyatu, tetapi kesatuan antara jiwa dan tubuh itu yang membentuk satu kodrat (lih. KGK 365).

b. Tubuh manusia


Tubuh manusia mengambil bagian di dalam martabat �gambaran Allah�. Disebut tubuh manusia sebab ia dihidupkan oleh jiwa yang rohani. Keseluruhan pribadi manusia di dalam Tubuh Kristus, dimaksudkan untuk menjadi bait Allah (lih. 1Kor 6:19-20; 15:44-45)

Gereja mengajarkan bahwa: 1) setiap jiwa manusia diciptakan langsung oleh Allah dan bukan dihasilkan oleh orang tua; dan bahwa 2) jiwa itu kekal. Jiwa tidak mati ketika terpisah dari tubuh pada saat kematian, dan akan kembali bersatu dengan tubuhnya pada saat kebangkitan badan (lih. KGK 366)

Kadangkala jiwa dibedakan dari roh, �roh, jiwa dan tubuh� (lih. 1 Tes 5:23); namun Gereja mengajarkan bahwa pembedaan ini tidak menunjukkan adanya dualitas di dalam jiwa. Roh menunjukkan bahwa sejak penciptaannya, manusia diarahkan kepada tujuan akhir yang adikodrati (rohani) dan bahwa jiwa tersebut dapat diangkat melampaui apa yang layak baginya kepada persekutuan dengan Tuhan (KGK 367).

6. �Laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka�


a. Laki-laki dan perempuan sama martabatnya

Manusia laki-laki dan perempuan diciptakan Allah, dengan kesamaan derajat sebagai pribadi manusia, namun di dalam perbedaannya sebagai laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki dan perempuan mempunyai martabat yang sama sebagai �gambaran Allah�. Di dalam kelaki-lakiannya dan keperempuanannya, mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Sang Pencipta (lih. KGK 369).

b. Tuhan bukan laki-laki atau perempuan


Namun perlu diketahui, bahwa rumusan �gambaran� ini tidak terjadi sebaliknya, sebab Tuhan tidak sama sekali menurut gambaran manusia: Ia bukan laki-laki ataupun perempuan. Tetapi kesempurnaan laki-laki dan perempuan mencerminkan kesempurnaan Allah yang tak terbatas: yaitu kesempurnaan sebagai ibu dan sebagai ayah dan suami (lih. KGK 370).

c. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan bersama, untuk saling menolong


Tuhan Allah berfirman: �Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.� (Kej 2:18). Tidak ada satupun binatang dapat menjadi pasangan bagi manusia. Perempuan diciptakan Allah untuk menjawab kerinduan laki-laki akan pasangan baginya (lih. Kej 2:23), yang sama-sama mempunyai kodrat manusia (lih. KGK 371).

Manusia diciptakan satu untuk yang lainnya, bukan artinya menjadikan mereka tidak lengkap tanpa yang lain, tetapi Allah menciptakan keduanya supaya membentuk persekutuan, di mana yang satu menolong yang lain. Di dalam perkawinan, Allah mempersatukan keduanya menjadi �satu daging� (Kej 2:24) dan mereka dapat meneruskan kehidupan manusia: �Beranak cuculah�.� (Kej 1:28). Dengan meneruskan kehidupan kepada keturunan mereka, laki-laki dan perempuan sebagai pasangan dan orang tua, bekerjasama dengan cara yang unik dalam karya Sang Pencipta.

d. Manusia dipanggil untuk menaklukkan bumi sebagai pengelola


Menjadi penakluk bumi bukan dengan merusak bumi, sebab Tuhan memanggil manusia laki- laki dan perempuan untuk menjadi gambaran Allah yang menyayangi semua yang ada dan mengambil bagian dalam penyelenggaraan bagi ciptaan yang lain dan manusia bertanggungjawab atas bumi kepada Tuhan yang telah mempercayakannya kepadanya (lih. KGK 373)
__________________
ﷲ ☯ ✡ ☨ ✞ ✝ ☮ ☥ ☦ ☧ ☩ ☪ ☫ ☬ ☭ ✌

Reply With Quote