View Single Post
  #2  
Old 6th August 2011
DodoLLipeT's Avatar
DodoLLipeT DodoLLipeT is offline
Prob. Moderator
 
Join Date: May 2011
Location: Jakarta,ID
Posts: 3,334
Rep Power: 37
DodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis GuruDodoLLipeT is Ceriwis Guru
Default

"Lanjutannya Komandan"
Quote:
Perkembangan pengenalan astronomi di Indonesia ternyata lebih banyak diberikan dalam pendidikan kepanduan atau Pramuka. Pengenalan rasi bintang dan navigasi langit menjadi point penting yang membawa siswa untuk mengenal lebih dekat langit dan isinya.
Di Indonesia, kelompok amatir yang menjadi wadah para pecinta astronomi memang belum ada sampai dengan era 80-an. Namun di era 1960-an, diyakini Santoso Nitisastro dari Observatorium Bosscha dan yang kemudian menjadi kepala Planetarium Jakarta pernah membuat kelompok untuk penyuka astronomi di Jakarta.
Tahun 1968 Planetarium Jakarta diresmikan dan menjadi mercusuar pengenalan astronomi kepada publik di ibukota negara Indonesia. Di tahun 2002 planetarium lainnya di Tenggarong dengan nama Planetarium Jagat Raya Tenggarong dibuka di Tenggarong Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.
Di tahun 1977, dibentuklah Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), tujuannya adalah untuk menampung keinginan astronomi di Indonesia termasuk di dalamnya astronom amatir sekaligus mendorong pengamatan astronomi oleh masyarakat. Dan untuk merealisasikan hal tersebut, sekretaris pertama HAI adalah seorang wartawan Pikiran Rakyat yang juga penyuka astronomi. Hal ini dimaksutkan agar informasi astronomi dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. Keberadaan HAI juga menjadi kunci penting diterimanya Indonesia di IAU.
Di tahun 1983 saat fenomena gerhana matahari total melewati Indonesia, terjadi peningkatan minat masyarakat terhadap astronomi. Kala itu, Planetarium Jakarta mengadakan pengamatan Gerhana Matahari Total (GMT) 1983 dan dalam persiapannya ada salah satu anggota Pramuka yang sering ikut serta bernama Kak Har. Dan ternyata setelah pengamatan GMT berakhir, Kak Har dkk masih sering berkumpul dengan Pak Darsa untuk membicarakan persiapan pengamatan komet Halley di tahun 1985 / 1986. Maka akhirnya dibentuklah Himpunan Astronomi Amatir Jakarta di tahun 1984. HAAJ kemudian berkiprah untuk menampung para pecinta astronomi di Jakarta dan sekitarnya, serta melakukan pengamatan publik di sekolah-sekolah. Di Tahun 1989 HAAJ sempat vakum dan setelah Widya Sawitar masuk ke Planetarium Jakarta di tahun 1992, pada tahun 1994 HAAJ memulai kembali kegiatannya. Di tahun 2010, HAAJ kehilangan salah seorang motor penggeraknya yang juga mantan ketua HAAJ yakni Tersia Marsiano yang meninggal tanggal 6 Desember 2010.
Sampai hari ini terhitung HAAJ adalah kelompok astronomi amatir paling aktif yang ada di Indonesia. HAAJ juga membina kelompok KIR di sekolah-sekolah seperti FOSCA (Forum Of SCientist teenAgers), Kastro Sirius (SMAN 89), Kastro Polaris (SMAN 38), Kastro Lunar (SMAN 3 Bogor), KIR Orbit (SMAN 1 Bogor), Forum Pelajar Astronomi (FPA). Kelompok pecinta astronomi juga berkembang secara mandiri di sekolah-sekolah seperti di Sekolah Madania Bogor ataupun di SMA Negeri 1 Subang dll.
Di era-90an, mahasiswa Astronomi ITB sempat membentuk beberapa kelompok pecinta astronomi untuk mewadahi penggemar langit ini di Bandung seperti misalnya HAAB dan Zenith yang kemudian non aktif sampai saat ini. Di luar astronomi ITB, kelompok mahasiswa Fisika UPI juga membentuk himpunan pecinta astronomi bernama Cakrawala.
Di Indonesia saat ini selain kelompok astronomi yang sudah disebutkan masih ada beberapa klub astronomi di daerah yang berbasiskan klub daerah ataupun dari sekolah. Seperti halnya JAC dan CASA di Jogjakarta dan Solo yang aktif melakukan pengamatan untuk keperluan hilal maupun populerisasi di masyarakat. Selain itu ada juga Atjeh Astro Club yang terbentuk setelah observatorium Hilal di Aceh dibangun untuk keperluan pengamatan hilal di ujung barat Indonesia. Di Jawa Timur, beberapa anggota HAAJ juga merintis terbentuknya Asosiasi Astronomi Surabaya sedangkan para guru pembina astronomi di Bandung membentuk Forum Pembina Astronomi (FPA) yang bertujuan untuk berbagi ilmu pengetahuan dalam hal astronomi sebagai bahan ajar di sekolah.
Di dunia maya, kegiatan memperkenalkan astronomi dimulai oleh mailing list Astronomi Indonesia di tahun 2001 yang sampai saat ini sudah memiliki 984 peserta. Di tahun 2005, alumni astronomi yang juga ingin berbagi ilmu astronomi kepada pecinta astronomi di Indonesia mencoba membuat majalah astronomi namun sayangnya tidak berhasil.
Di tahun 2007, para penggagas majalah astronomi ini kemudian membangun langitselatan sebagai media edukasi dan informasi astronomi pada masyarakat. Media tersebut kemudian berkembang sebagai komunitas dunia maya yang juga melakukan berbagai kegiatan publik dan terlibat aktif sebagai kontak bagi beberapa komunitas astronom amatir di dunia seperti Astronomer Without Border dan Sidewalk Astronomer.
Perkembangan astronom amatir dalam berkiprah di dunia astronomi tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun hanya sebagai hobi, para astronom amatir ini bisa juga memberi kontribusi dalam berbagai penemuan maupun kontribusi profesional layaknya profesional astronomi. Selain bagi pecinta astronomi yang membutuhkan wadah, kegiatan astronomi bagi siswa dan guru juga punya wadah tersendiri yakni di Global Hands on Universe dan Galileo Teacher Training Program yang bertujuan untuk memberika edukasi dasar bagi para guru mengenai astronomi dan alat-alat yang dipergunakan agar dapat diajarkan kepada siswa untuk kemudian dikembangkan sendiri maupun berkontribusi dalam penelitian sederhana.
Reply With Quote