Melalui eksploitasi para budak inilah, yang ukurannya tidak tertandingi kebudayaan manapun, Romawi menjadi kekasiaran yang terbesar dan terkaya dimasa purba, dan para budak itu pula yang menjamin kelangsungan hidup di kota roma selama berabad-abad. Para ahli hukum Romawilah yang pertama menggunakan konsep pemilikan mutlak, dan bila diterpakan pada para budak maka berarti mereka di nyatakan secara hukum sebagai barang. Kekuasaan pemilik budak sama dengan paterfamilias dimsa sebelumnya, dan bila penguasaan budak lebih efektif dari pada penguasaan istri, hal itu semata-mata karena kekaisaran Romawi tergantung padanya.
Di Romawi tidak ada demokrasi seperti di Yunani. Dengan demikian tidak ada pembagian kekuasaan berdasarkan tingkatan kelas. Para kaisar yang memaklumkan diri sebagai dewa, merupakan contoh sempurna dari ekspansi dan pemusatan kekuasan. Mereka menganggap diri sebagai tuhan bagi semua makhluk, dan kekuasaan merekapun digunakan tanpa belas kasihan terhadap para budak yang jumlahnya sangat banyak. Julius Caeser, ‘sang pezina sejati’, biasa di sebut sebagai ‘ sumi dari semua istri pria’. Agustus juga di kenal sebagai pezina. Sampai di usia tuapun teman-temannya di suruh mencarikan wanita-wanita muda, baik perawan maupun istri orang. Tiberiuspun tidak sulit di lukiskan kehebatan birahinya, sehingga bisa dikatakan tak ada wanita cantik yang bisa lolos dari nafsunya.
Pengganti Tiberius, Caligula, termasyur karena kesukaanya menyetubuhi saudara-saudaranya sendiri, bahkan salah seorang di antara mereka dikeluarkan isi perutnua dalam suatu upacara. Ia juga suka menghubur diri dengan memamerkan istrinya, Caesonia, dalam keadaan bugil didepan teman-temannya. Perselingkuhannya dengan aktor pelacur Mnester di ketahui masyarakat luas. Ia juga mendirikan rumah bordil di istsna kerajaan dan di pantai teluk Naples. Kaisar Nero termasyur karena menikahi pria kesayangannya, Sporus. Kaisar Domitian biasa mandi di temani serombongan pelacur, Commodus, yang merubah istananya menjadi rumah bordil, dilayani oleh 300 wanita tercantik di Roma, juga oleh ptia dengan jumlah yang sama. Sama seperti Nero, Commodus juga mencabuli saudara-saudara perempuannya dan mengawini salah seorang pria kesayangannya. Akhirnya, Elagabalus, yang oleh para sejarahwan digambarkan sebagai hewan liar, menurut Sanger dalam A History of Prostitution (New York 1859) membawa kekaisaran Romawi ke puncak ‘ sirkus’ seksualnya. Elagabalus hidup hanya untuk mengumbar nafsu seksnya. Ia adalah teman baik bagi para pelacur yang ada di Roma, wanita maupun pria.
Dalam suasana Romawi seperti itulah wanita pelacur diterima masyarakat secara wajar. Pelacur merupakan profesi yang tidak perlu membuat pelakunya merasa malu.
DARI MASA KE MASA
Kehancuran kekaisaran romawi pada pertengahan abad ke-5 M, sejarah baratmemasuki periode yang kemudian di sebut ‘abad kegelapan’. Jalinan sejarah hampir kenyap dari pandangan. Selama abad ke-5 tersebut, kekaisaran Romawi dilemahkan oleh baku hantam di dalam negeri, krisis ekonomi dan pemberontakan para petani serta budak. Suku-suku Jerman mulai menembusperbatasan Romawi. Ketika para penyarang itu melanda Eropa barat, memasuki Perancis, Inggris, spanyol, itali, bahkan sampai Afrika utara, kekaisaran Romawi guncang dan akhirnya jatuh kedalam kekuasaan jerman. Sitem pemerintahan berubah. Para petani dan budak berpancar membuat kelompok- \kelompok sendiri di desa-desa. Sementara para pelacur sudah mempunyai tradisi yang kuat untuk bertahan ditengah situasi-situasi yang kacau.
Namun, bila para pelacur itu sendiri tidak musnah seiring kehancuran Romawi, tradisi budaya mereka mengalami perubahan. Seni Cinta yang mendidik, memberikan kesenangan dan pengetahuan, mengalami gerhana diabad kegelapan dan lenyap untuk selamanya.
Menjelang kematiannya pada tahun 337, Kaisar Constantine memeluk agama Kristen di pembaringan mautnya. Agama baru ini menjadi agama pejabat negara. Ketika Kekaisaran ambruk, gereja tetap utuh dan tumbuh mengembangkan kekuasaan sendiri. Para pejabat Gereja Kristen menciptakan dogma yang mungkin tak pernah di ucapkan atau ditulis kristus. Sebab, meski Kristus mengutuk perzinaan, nampeknya pelacur dianggab sebagai pendosa kecil (???), yang masih bisa masuk ‘kerajaan langit’. Dan harus diingat pula bahwa Maria Magdalenamemainkan peran penting dalam kehidupan Yesus. Mantan pelacur Gallilea ini menjadi salah satu pengikutnya yang taat. Dialah yang pertama kali menemukan kuburannya yang kosong dan menyaksikan kebangkitannya kembali. Maria Magdalena pula yang menjadi contoh pertama dari ‘pelacur ang bertobat’ dalam agama Kristen. Namun, dengan tidak mengindahkan kenyataan itu, para pejabat gereja di abad ke-8 itu bersikap sangat menindas kaum wanita, apalagi pelacur. Dari kebingungan abad kegelapan, orde baru muncul, yang kemudian dikenal dengan feodalism. Bermula dapi Perancis Utara pada abad ke-10, feodalism dengan cepat menyebar ke Eropa Barat, memasuki Inggris seiring dengan kejatuhan Normandia pada tahun 1066. dari perbenturan budaya Romawi dengan para panglima perang Bar-bar yang menyaebu, muncul suatu kelas penguasa baru, kelas elit yang memperoleh kekayaan melalui penguasaan tanah, dan para petani yang menggarap tanah mereka. Mereka adalah para prajurit professional, yang terus memperluas kekuasaan atas tanah di dalam maupun di luar negeri.
Para petani menjadi budak mereka, kendati secara tehnis tidak disebut demikian. Bila tibamusim perang, para petani itupun direkrut sebagaitentara, begitu perang usai, pengangguran merajalela. Diantara para pengangguran ini kebanyakan wanita: mulai dari para janda, para putri dan para istri. Bagi mereka, jadi pelacur adalah cara untuk mempertahankan diri.
Pada awal abad pertengahan, kalangan Gereja maupun pejabat negara tidak mempunyai niat ataupun kekuasaan untuk menindas pelacur. Kendati garaja menentang keras, orang Eropa bersikap toleran pada perukaku seksual.
Bahkan orang-orang gereja sendiri pada masa itu tidak mmperlihatkan yang baik, karena banyak diantara calon biarawan yang bergaul dengan palacur.
Dengan berakhirnya abad pertengahan, mnculah zaman Renaissance, yang ditandai bangkitnya secara besar-besaran nilai-nilai budaya Yunani dan Romawi. Masyarakat yang muncul adalah masyarakat yang didominasi pria, dan sikap mereka terhadap wanita mewakili orang-orang Yunani kuno. Para istri harus di kurung di rumah , kecuali pada hari-hari besar, mereka diperbolehkan pergi ke gereja bersama suami. Di tengah masyarakat Ranaissance inilah lahir lagi suatu lembaga klasik: pelacuran kelas tinggi.
Para pelacur kelas tinggi Venesia, Florence dan Milan, yang di sebut Cortegiane, adalah wnita berpendidikan, berpengaruh dan berbakat, selain tentu saja cantik. Mareka juga kaya dan merdeka. Dirumah mereka yang bagaikan istana, mereka menerima para tamu yang terdiri dari para seniman, fisuf dan pejabat nagara. Di Inggris pada pertengahan abad ke-17 , terbuka bagi suatu lokasi baru bagi pelacur. Gedung Teater. Charles II adalah raja Inggris yang melakukan ‘pembaruan’ pada seni teater Inggris, yaitu dengan memperbolehkan wanita memainkan peran pria. Revolusi teater ini mempunyai konsekuensi penting bagi wanita yang bekerja di teater-teater, bik didepan maupun dibelakang layar.
Seperti pada masa sebelum pemerintahan kaum puritan (muncul semasa Ratu Elizabeth, 1533-1603), para pelacur kota mulai berkerumun di teater merupakan tempat hiburan bagi para pejabat, para bangsawan dan sebagainya. Dua jenis pelacur teater muncul hampir bersamaan. Yang pertama adalah para orange-girl, yang berjejer disepanjang auditorium menjual buah-buahan, karcis dan diri mereka sendiri, atau menjadi perantara antara pelanggan dan pelacur. ‘Orange Betty’ Macckerell adalah contoh yang hampir menjadi legendaries dari pelacur yang menyamar sebagai penjual jeruk ini. Ia terkenal karena kekuatan fisik dan ketajaman lidahnya, juga kebingungannya.
Jenis kedua dari pelacur teater adalah pelacur yang benar-benar professional yang bekerja di dalam auditoriu itu sendiri. Mereka biasa dipanggil vizards, seperti topeng yang mereka kenakan. Pada abad ke VIII, di Perancis muncul suatu model rumah bordil. Pendiri pertamanya adalah Mme Gourdan, yang tinggal di deux ports, Paris. Salah satu inovasi yang dilakukannya adalah meletakan rumahnya ditengah seraglio, suatu salon besar tempat para pelacur memamerkan pelayanan mereka dengan memesang foto-foto berfose menantang. Sa nyonya ramah juda menyadiakan daftar pelayanan yang sangat lengkap, termasuk ‘menu, yang paling liar sekalipun.
Bagi mereka yang membutuhkan alat bantuan sebagai perangsang, disediakan gambar-gambar porno dan ‘para budak perangsang’ (stimulating slave). Bagi para veyoer (tukang intip) juga disediakan ruang untuk melihat kegiatan seksual yang dilakukan oleh orang lain. Bagi mereka yang cenderung sado-masochistic (baru merasakan kepuasan seksual bila disakiti), disediakan suatu ruangan yang disebut ‘ruang horor’. Ide Mme gourdon ini banyak ditiru oleh banyak orang.
sumber