View Single Post
  #3  
Old 22nd July 2011
meR's Avatar
meR meR is offline
Moderator
 
Join Date: Apr 2010
Location: home sweet home
Posts: 2,520
Rep Power: 29
meR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important person
Default

Pada taraf inilah, kita menemukan tradisi yang lebih akrab: perjanjian lama, yang menggambarkan pelacur sebagai:
Lantang dan keras keras kepala perempuan ini; kakinya melarangnya tinggal di rumah; sebentar-sebentar ia keluar, sebentar-sebentar ia pergi ke jalan, dan setiap sudut ia menghadang (Amsal 7:11-12).
Itu ditulis oleh para pendeta Lewi yang gemar perang, para pemimpin suku-suku Hebrew (Yahudi), yang pada sekitar 1300-1250 SM menyerang dan menjajah negeri. Kan’an yang subur, yang masyarakatnya memuja sang dewi. Dalam pandangan kepala suku yanh merampak sebagai pemimpin militer dan agama ini, yang memuja Tuhan-Bapak yang keras bernama Yah-weh atau yekovah, pelacuran yang khususnya berhubungan dengan agama adalah sesuatu yang terkutuk. Tak ada lagi kompromi bagi bagi pemujaan dewi, tak akan ada pernikahan suci antara para penguasa mereka dengan para pendeta pelacur, karensa para pendeta-pelacur itu adalah penganut patriarkat yang fanatik, yang menganggap wanita tidak mempunyai otoritas apapun.
Taktik yang mereka gunakan untuk menindas agama-dewi itu bersifat mutlak dan hanya punya satu arti; pemberantasan besar-besaran diiringi dengan cecaran propaganda yang terus menerus dilakukan. Namun, bukan berarti bahwapekerjaan itu dapat mereka lakukan dengan mudah, karena rakyat mereka sendiri memuja sang dewi dan memamerkan kecendrungan yang memalukan untuk mengerjakan kembali kebiasaan lama yang tercela itu, karena berorientasi pada kesenangan. Para pendeta dewi itu harus melancarkan perang tanpa henti untuk menanamkan keyakinan akan Tuhan-Bapak yang keras dan tak kenal toleransi dalam jiwa rakyat mereka.
Panjangnya proses yang harus ditempuh para rasul Perjanjian Lama untuk menghindarkan pelacur, menjadi saksi betapa sulitnya mereka mengendalikan kehidupan seksual rakyat. Pelacuran, baik yang religius maupun sekuler, tumbuh subuar di Kanaan purba. Pelacur nyaris bisa ditemukan di segala pelosok, berkeliaran di jalan kota sambil nyanyi dan memetik harpa, duduk di setiap tikungan penting, menunggu di depan pintu rumah meraka, menggoda setiap orang yang lewat, atau bahkan berparade mengenakan busana aneka pakaian menyala ber keliling kota. Rumah rumah pelacuran merupaka bangunan penting dikota, yang menarik perhatian baik penonton maupun pelanggan, (Vern L. bullough dan Bonnie dalam history of Prostitution, New York 1968). Bahkan sejarahwan masa Victoria, Dr. William sanger melaporkan bahwa para pelacur berkembang biak sangat cepat, sehingga para rasul yang inga\in menasihati mereka harus menjajaki setiap bukit. Mereka ditemukan disetiap pohon dan bahkan mereka menyerbu kuil untuk melakukan ritus- ritus ter selubung (William sanger dalam A history of prostitution, New York 1859).
Para pendeta Hebrew itu selalu menyebut “ritus-ritus rahasia’ dalam rangka pemujaan dewi sebagai ‘pelacuran’ dengan nada merendahkan, seperti yang kita temukan dalam ‘pelacuran dari babilon’. Rosul bernama Ezekiel menegur dua bangsa Hebrew dan menyamakan mereka dengan dua wanita bersaudara yang telah mempelajari ‘ pelacuran’ –kebebasan- di Mesir, tempat wanita menduduki posisi yang relatif berpengaruh. Para yang merangkap pemimpin itu tidak bisa menggabungkan trdisi kebebasn wanita dengan rencana- rencana mereka untuk memenjarakan wanita dalam perkawinan, yang dengan sendirinya menempatkan posisi pria sebagai tuan.
Menurut sejarawn feminis, Merlin Stone, ‘ Para rasul dan Pendeta Hebrew menulis penghinaan secara terang terangan terhadap wanita yang masih gadis maupun yang sudah menikah. Mereka menegaskan bahwa semua wanita harus diumumkan sebagai harta milik seorang pria, baik ayahnya maupun suaminya. Dengan demikian, mereka mengembangkan dan melembagakan konsep moralitas seksual- bagi wanita’(Merlin Stone: The Paradise Papers,London 1976). Dengan kata lain, agar penyarahan diri pada seorang pria menjadi suatu yang menarik, para pendeta itu menciptakan suatu kebebasan behwa kebebasan seksual wanita adalah biang segala keburukan, dan mereka menyabut para pelacur sebagai cotoh hidup dari keburukan itu.
Ritus-ritus seksual untuk memuja sang dewi dianggap sebagai ‘dosa’ paling berbahaya, sedangkan para pendeta yang menyelenggarakannya adalah para’pendosa’ yang terkutuk. Doktrin baru ini yang telah menjadi bagian dari iman agama Yahudi, muncul untuk meliputi semua kekuatan ‘ buruk’ wanita, yang oleh para pendeta itu diberi lebel’ pelacuran. Semua wanita mendapati dirinya dihinakan , sebagai korban kekuasan yang menteror moral, bila ia berani memiliki pacar, mengenakan pakaian yang disukainya, memuja sang dewi, atau mendapatkan penghasilan sendiri tanpa bantuan pria atau gagasan ‘moralitas’ mereka.
Sepanjang sejarahnya tdak diragukan, para pelacur selalu dihina karena profesi mereka. Mereka terus berpegang teguh pada tradisi pemujaan dewi, dan dengan sengit terus memperjuangkan keinginan mereka untuk bebas dari’pria’ dengan memilih pelacuran sebagai karir memreka. Dan mereka tidak pernah mengalami kekurangan pelanggan, karena pria tidak –selamanya- tidak mempunyai keinginan mengikat diri dengan perkawinan, sebagai mana nasehat para pendeta. Para pelacur memang keras kepaladan pemberontak seperti yang diungkapkan parRasul Perjanjian Lama, sebagai kebalikan istri yahudi yang patuh.
TRAGEDI YUNANI
Yunani kuno adalah suatu masyarakat patriarkat, kelas yang di dominasi pria. Yunani dalam era klasik, inilah bangsa barat memandang dengan kekaguman dan memandangnya sebagai nenek moyang mereka, bukan Sumeria atau kekuasaan Akkaida maupun Assyria. Tradis barat dari generasi ke generasi yang oleh para intelektualnya menggambarkan Athena (ibu kota Yunani) sebagai suatu yang istimewa. Dan bila wanita barat melihat periode tersebut dengan sudut pandang mereka (pria), maka mudah untuk melihat mengapa para akademisi bisa segairah anak sekolah dalam menulis hal tersebut. Soalnya Athena bukan hanya mengembangkan dua lembaga yang menarik pemikiran barat-demokrasi dan filsafat rasionalistisnya, tapi Athena juga sebagai surga sensual, suatu pemandangan yang oleh sejarawan di gambarkan sebagi ‘perkembangan seksualitas manusia yang luar biasa, yang tidak pernah di jumpai di Eropa, juga tidak pernah di temukan di tempat lain’.
Mereka menyebut Athena sebagai tempat piknik dan bersenang-senang. para pria kaya Ynani bebas memasuki tempat-tempat pelayanan seksual yang fenomenal, dengan sangat terang-terang tanpa takut malu atau citra buruk dalam masyarakat. Di Athena banyak kuil-kuil pelacuran (pelacur kelas tinggi), para penari-pelacur, pelacur jalanan, rubah pelacuran para budak. Masa itu memang merupakan zaman keemasan seks. Sebaliknya bagi pera wanita Athena pada masa itu, ceritanya lain lagi. Mereka adalah para pelayan, penyedia, dan para pekerja di masa jaya (perkembangan seksualitas manusia) ini.
Sejarah seperti biasa, mengabaikan atau menganggap sepi peran wanita dalam masyarakat Yunani. Tapi bila kita melihat Yunani kuno dari sudut pandang wanita, muncullah suatu gambaran yang berbeda, mulai dari penindasan terhadap hak-hak wanita, yang telah dilakukan sejak munculnya masyarakat-masyarakat pertama.
Mitologi Yunani merekam perjuangan ini dalam dongeng-dongeng dan legenda-legenda yang mencerminkan bahwa seluruh masyarakat purba, penduduk awal yunani, adalah para pemuja dewi. Sejak sekitar 2000 tahun SM, gelombang penyerbu melanda negeri itu, sambil membawa para dewa mereka. Yang terjadi selanjutnya adalah, pengulangan dari pola-pola budaya terdahulu; dua kebudayaan melebur dalam suatu masa, akhirnya melahirkan cangkokan yang diwariskan kepada kita dalam bentuk mitologi dan agama Yunani. Seperti kisah tentang bapak para dewa, Zeus, yang menikahi Hera, seorang dewi berpengaruh yang masih tersisa dari “agama” (cult) terdahulu. Dalam mitologi gabungan itu, keduanya saling baku hantam. Namun, disamping perkawinan dwea dengan dewi yang tidak harmonis itu, zeus tidak mampu memerintah sendirian dengan kemampuannya sendiri, sama dengan raja Mesopotamia dan dewa-dewa sebelumnya, kekuasaannya bersumber dari suatu perkawinansuci dengan seorang dewi.
Namun, pada “zaman keemasan” Athena tersebut, kenyataan hidup tidak lagi mencerminkan konsep keagamaan, dan kaum pria yunani telah berkembang jauh dari kemelut pembagiam kekuasaan antara dewa dan dewi. Wanita benar-benar dalam genggaman kekuasaan pria, setidaknya di dalam rumah. Konsep demokrasi yang sering digembar-gemborkan tidak menjadi kenyataan. Hanya pemilik kekayaan yang punya hak untuk bersuara, dan hanya pria yang berhak memiliki kekayaan. Penyingkiran wanita dalam perannya dalam masyarakat ini terjadi karena usaha sederet para dictator, tapi hanya satu pria yang paling bertanggung jawab dalam hal ini, yaitu “sang bijak Solon”, yang menguasai Athena pada masa peralihan abad ke 6 SM, yaitu tepat menjelang Athena mencapai puncak kejayaan.
Solon meraih kejayaan dengan menunggangi petani kelas menengah dan para saudagar untuk mengatur siasat untuk berbagi kekuasaan dengan para bangsawan lama. Dengan demikian tidak ada jalan lain baginya untuk memperkuat posisinya selain dengan menjamin kelanggengan sukses bagi kelas masyarakat yang baru terbentuk itu. Strateginya yang terpenting adalah pengaturan struktur keluarga mereka. Dengan terbagi- bagi menjadi kelompok keluarga kecil, kaum pria dan kelas menengah tersebut lantas menjadi bersaing keras satu sama lain dalam perebutan kekayaan. Bila dikalangan bangsawan harta diwariskan kepada anak-anak dari para istri resmi maupun para gundik, dalm lingkungan kelas menengh yersebut hanya satu wanita –istri- yang berhak mengajukan satu ahli waris yang syah.
__________________


Reply With Quote