PDA

View Full Version : [Kisah Nyata] Kambing Mbah Sholeh Dapat Memakan Macan


Gusnan
9th May 2016, 12:27 PM
https://4.bp.blogspot.com/-SFIhzhsg2as/VsjyD3BCH5I/AAAAAAAAGS0/DpnId4u6DfQ/s640/macan.jpghttp://2.bp.blogspot.com/-lQW7QlMoz10/T8yL_5IPF6I/AAAAAAAAAQU/5R8ngq17xzw/s1600/transparent.pnghttp://2.bp.blogspot.com/-lQW7QlMoz10/T8yL_5IPF6I/AAAAAAAAAQU/5R8ngq17xzw/s1600/transparent.png (https://4.bp.blogspot.com/-SFIhzhsg2as/VsjyD3BCH5I/AAAAAAAAGS0/DpnId4u6DfQ/s1600/macan.jpg)Kisah ini saya dapatkan dari KH Mukri Rohman, imam Masjid Kyai Sholeh Darat kampung Melayu Darat, Semarang Utara yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) mengasuh pengajian kitab Majmu' Syariat al-Kafiyat lil Awam, salah satu karya KH Sholeh Darat yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) cukup populer.


Kiai Mukri mendengar cerita ini dari gurunya, KH Bisri Mustofa, sewaktu beliau mondok di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) Pondok Pesantren Leteh, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1970-an. Menurut cerita ayah KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) itu, pada suatu hari KH Sholeh Darat yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) sudah kembali dari Mekah dan tinggal di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) nDarat Semarang kedatangan tamu seorang tokoh yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) terkenal sakti asal Jawa Timur. Si tokoh sudah biasa di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)panggil kiai.

Tamu tersebut datang di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) malam hari. Karena Kiai Sholeh sedang mengajar ngaji, seorang santri mempersilakan sang tamu menunggu di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) serambi langgar seraya di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)suguhi minuman. Langgar yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)bangun oleh mertua Mbah Sholeh, Kiai Murtadho, itu berbentuk panggung dan terbuat dari kayu jati.

Usai mengaji, Mbah Sholeh menemui tamunya tersebut.

"Jenengan tindhak mriki nithih napa (Anda datang ke sini naik apa?)," tanya tuan rumah kepada si tamu.

"Numpak macan (naik harimau)," jawab si tamu dengan nuansa pamer. Maklum saat itu tunggangan yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) biasa di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)pakai orang umum adalah kuda.

"Lho, di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)cancang teng pundi (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) macane (di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)ikat di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) mana harimau itu?)"

"Saya ikat di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) luar pagar sana itu. Khawatir menakuti santri-santri jenengan."

Mbah Sholeh hanya tersenyum. Lantas menyuruh santrinya menuntun macan besar tunggangan tamunya itu. Santri nDarat ternyata sama sekali tidak takut pada macan.

"Masukkan kandang, Kang. Biar tidak kedi (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)nginan atau kehujanan," perintah Mbah Sholeh kepada santrinya.

Mengatahui bahwa yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)maksud adalah kandang kambing, si tamu jadi (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) khawatir.

"Jangan di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)masukkan kandang, Mbah. Nanti kambing jenengan di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)makan sama macan saya," ujarnya yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) hanya di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)timpali senyum sang tuan rumah.

"Tak apa-apa. Kambing saya akan aman kok," jawab Mbah Sholeh seraya menggamit tangan si tamu untuk menenangkannya. Lalu di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)persilakan menuju kamar untuk di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)persilakan istirahat.

Sebelum tidur malam itu, si tamu membayang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat)kan macannya pasti telah menerkam kambing-kambing milik Mbah Sholeh dan esoknya akan ada banyak bangkai. Namun karena kelelahan, matanya segera terpejam.

Pagi hari usai di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)ajak berbincang dan di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)jamu makanan oleh tuan rumah, di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)a bergegas menengok ke kandang. Betapa terperanjatnya di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)a, bukan bangkai kambing yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)temukan, malah macannya yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) mati. Tergeletak kaku di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) samping barisan kambing yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) riuh mengembik.

"Mbeeek... Mbeeekkk...” suara kambing gaduh seperti meminta bangkai macan segera di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)singkirkan. Seekor kambing powel yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) jenggotnya panjang, mulutnya tampak merah. Di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)duga kuat, si kambing itulah yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) membunuh si macan.

Akhirnya si tamu meminta maaf dan menyesali kesombongannya. Di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)a menyadari betapa rendah ilmunya di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)bandi (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU)ng sang kiai yang (http://www.muslimoderat.com/search/label/Tokoh%20Moderat) pernah jadi (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) qadhi di (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) Mekah dan menjadi (http://www.muslimoderat.com/search/label/NU) mahaguru dari gurunya para ulama Nusantara ini.* (Ichwan/NU Online)