NagaRayanet
15th April 2016, 09:53 AM
http://s.kaskus.id/images/2016/02/01/7578147_201602010554280402.png
Sebelum kita membahas lebih dalam, ane mau sedikit mengupas beberapa komen yang sempat masuk, di antaranya:
"Sampai kapanpun Indonesia nggak akan berubah. Ini bukan soal asing yang ngejajah, tapi kita dijajah oleh bangsa sendiri!"
Apa sih sebenernya dasar dari pernyataan dijajah oleh bangsa sendiri?
Apakah karena banyak oknum pemangku jabatan yang melakukan tindakan korupsi lantas kita merasa dijajah bangsa sendiri? Pernah nggak sih agan mikir kalau sebenarnya kitalah yang menjajah diri kita sendiri?
Loh? Ngapa jadi nyalahin orang nih si TS?!
Coba deh agan inget-inget kelakuan masyarakat Indonesia. Dikasih fasilitas umum, belum sebulan udah rusak. Dikasih teknologi, dicolongin.
Berapa banyak berita rel yang amblas karena masyarakat mencuri besi-besi rel? Belum lagi alat pendeteksi longsor yang menurut Kemenhub juga banyak yang raib karena dicuri.
Pasca KAA di Bandung, seorang ceriwisser juga sempat komen kalau tong sampah dan bendera habis dijarah massa.</span></span></span></span></span>
Quote:Butuh Waktu
http://s.kaskus.id/images/2016/02/01/7578147_201602010555050849.png
Supaya ini nggak dianggap sebagai keluhan, ane mau kasih ide nih buat ngubah cara berpikir masyarakat Indonesia. Semoga ajah ide ini bisa terealisasi suatu saat nanti.
Cara yang ane maksud adalah dengan membuat pulau karantina untuk mendidik masyarakat Indonesia.
Dalam hal ini, pemerintah harus membuat miniatur Indonesia di beberapa pulau, misal 10 pulau kosong. Di pulau tersebut, pemerintah membangun infrastruktur jalan dan bangunan yang sama seperti lingkungan masyarakat sehari-hari. Bedanya, di pulau tersebut ada penjara dan aturan yang diberlakukan dengan sangat ketat.
Setahun sekali, pemerintah mengirim 500-1000 orang dari berbagai latar belakang. Bagi yang sudah berkeluarga, maka semua keluarganya harus pindah ke pulau tersebut. Dalam kurun waktu setahun tersebut, mereka menjalani aktivitas sehari-harinya di pulau tersebut tanpa ada perubahan. Jika di kota asal ia seorang pegawai bank, maka di pulau tersebut ia juga menjadi pegawai bank.
Jika mereka melakukan pelanggaran misal melanggar lalu lintas, maka langsung dipenjarakan selama kurun waktu tertentu. Dan setelah 1 tahun karantina usai, mereka yang lulus diberi sertifikat khusus dan kebiasaan baru itu harus diterapkan di kota asalnya. Jika ia kedapatan melakukan pelanggaran lagi, maka berlaku hukuman yang telah ia rasakan di pulau karantina.
Lama-lama, seluruh penduduk Indonesia bisa punya kesadaran setelah semua penduduk dikarantina. Memang butuh waktu yang lama sih. Tapi nggak ada salahnya mencoba, gan.
Quote:Sekian dulu tret dari ane. Gimana menurut agan? Mungkin nggak tuh kalau masyarakat Indonesia bisa dilatih disiplin dengan sistem karantina?
:kabur2::kabur2::kabur2:
Ane minta maaf kalau ada kata yang kurang berkenan di hati agan. Ane nggak bosen-bosennya bilang kalo ane cuma manusia biasa, bukan Tuhan yang Maha Sempurna.
Sekali lagi ane ngucapin makasih buat yang sudah mampir. Ane juga nggak bosen-bosennya bilang kalo tret ini dibuat bukan untuk memuaskan segala kalangan. Jadi, kalau ada kekurangan karena tidak sesuai dengan minat agan, berilah maaf si TS karena hakikatnya, sebuah tret tidak akan mampu memuaskan seluruh ceriwisser.</div></div></div>
Sebelum kita membahas lebih dalam, ane mau sedikit mengupas beberapa komen yang sempat masuk, di antaranya:
"Sampai kapanpun Indonesia nggak akan berubah. Ini bukan soal asing yang ngejajah, tapi kita dijajah oleh bangsa sendiri!"
Apa sih sebenernya dasar dari pernyataan dijajah oleh bangsa sendiri?
Apakah karena banyak oknum pemangku jabatan yang melakukan tindakan korupsi lantas kita merasa dijajah bangsa sendiri? Pernah nggak sih agan mikir kalau sebenarnya kitalah yang menjajah diri kita sendiri?
Loh? Ngapa jadi nyalahin orang nih si TS?!
Coba deh agan inget-inget kelakuan masyarakat Indonesia. Dikasih fasilitas umum, belum sebulan udah rusak. Dikasih teknologi, dicolongin.
Berapa banyak berita rel yang amblas karena masyarakat mencuri besi-besi rel? Belum lagi alat pendeteksi longsor yang menurut Kemenhub juga banyak yang raib karena dicuri.
Pasca KAA di Bandung, seorang ceriwisser juga sempat komen kalau tong sampah dan bendera habis dijarah massa.</span></span></span></span></span>
Quote:Butuh Waktu
http://s.kaskus.id/images/2016/02/01/7578147_201602010555050849.png
Supaya ini nggak dianggap sebagai keluhan, ane mau kasih ide nih buat ngubah cara berpikir masyarakat Indonesia. Semoga ajah ide ini bisa terealisasi suatu saat nanti.
Cara yang ane maksud adalah dengan membuat pulau karantina untuk mendidik masyarakat Indonesia.
Dalam hal ini, pemerintah harus membuat miniatur Indonesia di beberapa pulau, misal 10 pulau kosong. Di pulau tersebut, pemerintah membangun infrastruktur jalan dan bangunan yang sama seperti lingkungan masyarakat sehari-hari. Bedanya, di pulau tersebut ada penjara dan aturan yang diberlakukan dengan sangat ketat.
Setahun sekali, pemerintah mengirim 500-1000 orang dari berbagai latar belakang. Bagi yang sudah berkeluarga, maka semua keluarganya harus pindah ke pulau tersebut. Dalam kurun waktu setahun tersebut, mereka menjalani aktivitas sehari-harinya di pulau tersebut tanpa ada perubahan. Jika di kota asal ia seorang pegawai bank, maka di pulau tersebut ia juga menjadi pegawai bank.
Jika mereka melakukan pelanggaran misal melanggar lalu lintas, maka langsung dipenjarakan selama kurun waktu tertentu. Dan setelah 1 tahun karantina usai, mereka yang lulus diberi sertifikat khusus dan kebiasaan baru itu harus diterapkan di kota asalnya. Jika ia kedapatan melakukan pelanggaran lagi, maka berlaku hukuman yang telah ia rasakan di pulau karantina.
Lama-lama, seluruh penduduk Indonesia bisa punya kesadaran setelah semua penduduk dikarantina. Memang butuh waktu yang lama sih. Tapi nggak ada salahnya mencoba, gan.
Quote:Sekian dulu tret dari ane. Gimana menurut agan? Mungkin nggak tuh kalau masyarakat Indonesia bisa dilatih disiplin dengan sistem karantina?
:kabur2::kabur2::kabur2:
Ane minta maaf kalau ada kata yang kurang berkenan di hati agan. Ane nggak bosen-bosennya bilang kalo ane cuma manusia biasa, bukan Tuhan yang Maha Sempurna.
Sekali lagi ane ngucapin makasih buat yang sudah mampir. Ane juga nggak bosen-bosennya bilang kalo tret ini dibuat bukan untuk memuaskan segala kalangan. Jadi, kalau ada kekurangan karena tidak sesuai dengan minat agan, berilah maaf si TS karena hakikatnya, sebuah tret tidak akan mampu memuaskan seluruh ceriwisser.</div></div></div>