NagaRayanet
13th April 2016, 11:07 AM
nih gan tetep memberikan yg terbaik pada kondisi minyak yg sepertini ini. Intip yuk gan pendapat menurut Bapak Elan Biantoro, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas.
Quote:Optimisme di Tengah Tekanan Harga
http://s.kaskus.id/images/2016/03/14/8509744_20160314020005.jpg
Turunnya harga minyak mentah dunia memberi dampak pada industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Perlu usaha keras agar dampak tersebut bisa diminimalisasi melalui sejumlah langkah efisiensi dan optimasi pada kegiatan operasi.
Harga minyak mentah dunia terus merosot. Pada 19 Januari 2016 contohnya, harga minyak mentah jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) turun hingga ke angka US$28 per barel atau terendah dalam 12 tahun terakhir. Padahal 8 hari sebelumnya harga minyak masih berada di angka US$32,57 per barelnya.
Kondisi tergerusnya harga minyak mentah dunia itu juga berdampak besar bagi industri migas Indonesia. Salah satunya adalah penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Turunnya harga minyak ini akibat berlimpahnya suplai minyak di awal 2014. “Setelah relatif stabil di level US$100 per barel selama kurang lebih 3,5 tahun, awal 2014 harga minyak terus mengalami tren penurunan. Posisi awal tahun 2016 ini, harga minyak malah menyentuh di level US$37,3 per barel,” kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, saat memberikan keterangan pers di Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, 5 Januari 2016.
Menurut Amien, anjloknya harga minyak global itu tentu sesuatu yang tidak mengenakkan bagi industri hulu migas. Data dari Wood Mackenzie (2016), sebuah perusahan riset dan konsultan energi Internasional, menyebut bahwa secara global terjadi penurunan biaya eksplorasi dan produksi sebesar 20,3 persen pada 20014-2015. Hampir semua perusahaan minyak dunia mengalami penurunan investasi dan pengurangan biaya produksi.
Dengan kondisi harga yang relatif given karena dibentuk oleh pasar bebas, upaya meminimalisasi dampak penurunan harga adalah langkah paling bijak. SKK Migas telah melakukan sejumlah strategi seperti melakukan efisiensi pengeluaran kapital/capital expenditure (capex) dan pengeluaran operasional/operational expenditure (opex), optimasi kegiatan pengeboran, serta peningkatan kegiatan kerja ulang dan perawatan sumur. Selain itu, industri hulu migas melakukan negosiasi harga dengan penyedia barang dan jasa serta mengevaluasi ulang proyek-proyek yang keekonomiannya terpengaruh harga minyak. “Kalau saat harga minyak turun lalu ada proyek yang keekonomiannya tidak masuk, harus kita tinjau lagi,” ujar Amien. Meski ada sejumlah langkah efisiensi, SKK Migas tetap akan mempertahankan kegiatan-kegiatan eksplorasi dalam bentuk studi, survei, dan pengeboran. Saat harga minyak turun seperti saat ini, harga-harga jasa pendukung kegiatan eksplorasi juga turun. Sebagian investor malah memandang saat ini adalah saat yang tepat melakukan eksplorasi dengan harapan saat berproduksi nanti harga minyak dunia membaik.
Sumber: www.humasskkmigas.wordpress.com (https://humasskkmigas.wordpress.com/)
</div></div></div>
Quote:Optimisme di Tengah Tekanan Harga
http://s.kaskus.id/images/2016/03/14/8509744_20160314020005.jpg
Turunnya harga minyak mentah dunia memberi dampak pada industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Perlu usaha keras agar dampak tersebut bisa diminimalisasi melalui sejumlah langkah efisiensi dan optimasi pada kegiatan operasi.
Harga minyak mentah dunia terus merosot. Pada 19 Januari 2016 contohnya, harga minyak mentah jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) turun hingga ke angka US$28 per barel atau terendah dalam 12 tahun terakhir. Padahal 8 hari sebelumnya harga minyak masih berada di angka US$32,57 per barelnya.
Kondisi tergerusnya harga minyak mentah dunia itu juga berdampak besar bagi industri migas Indonesia. Salah satunya adalah penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Turunnya harga minyak ini akibat berlimpahnya suplai minyak di awal 2014. “Setelah relatif stabil di level US$100 per barel selama kurang lebih 3,5 tahun, awal 2014 harga minyak terus mengalami tren penurunan. Posisi awal tahun 2016 ini, harga minyak malah menyentuh di level US$37,3 per barel,” kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, saat memberikan keterangan pers di Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, 5 Januari 2016.
Menurut Amien, anjloknya harga minyak global itu tentu sesuatu yang tidak mengenakkan bagi industri hulu migas. Data dari Wood Mackenzie (2016), sebuah perusahan riset dan konsultan energi Internasional, menyebut bahwa secara global terjadi penurunan biaya eksplorasi dan produksi sebesar 20,3 persen pada 20014-2015. Hampir semua perusahaan minyak dunia mengalami penurunan investasi dan pengurangan biaya produksi.
Dengan kondisi harga yang relatif given karena dibentuk oleh pasar bebas, upaya meminimalisasi dampak penurunan harga adalah langkah paling bijak. SKK Migas telah melakukan sejumlah strategi seperti melakukan efisiensi pengeluaran kapital/capital expenditure (capex) dan pengeluaran operasional/operational expenditure (opex), optimasi kegiatan pengeboran, serta peningkatan kegiatan kerja ulang dan perawatan sumur. Selain itu, industri hulu migas melakukan negosiasi harga dengan penyedia barang dan jasa serta mengevaluasi ulang proyek-proyek yang keekonomiannya terpengaruh harga minyak. “Kalau saat harga minyak turun lalu ada proyek yang keekonomiannya tidak masuk, harus kita tinjau lagi,” ujar Amien. Meski ada sejumlah langkah efisiensi, SKK Migas tetap akan mempertahankan kegiatan-kegiatan eksplorasi dalam bentuk studi, survei, dan pengeboran. Saat harga minyak turun seperti saat ini, harga-harga jasa pendukung kegiatan eksplorasi juga turun. Sebagian investor malah memandang saat ini adalah saat yang tepat melakukan eksplorasi dengan harapan saat berproduksi nanti harga minyak dunia membaik.
Sumber: www.humasskkmigas.wordpress.com (https://humasskkmigas.wordpress.com/)
</div></div></div>