PDA

View Full Version : [Ya Bunayya] MENGENALKAN ISLAM KEPADA ANAK (Insya Allah Update)


putra1st
2nd April 2011, 04:56 PM
http://jalansemut.files.wordpress.com/2008/10/assalamualaikum.jpg


Segala Puji Bagi Allah Azza wa Jalla yang senantiasa memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kita senantiasa mau dan menyediakan waktu sedikit ataupun banyak untuk mengisi Ruh kita dari hal-hal yang sebenarnya merupakan kebutuhan primer kita yang secara sedar kita jadikan kebutuhan sekunder, Naudzubillah.

Islam hadir di dunia atas Rahmat Allah bagi Hamba-hamba-Nya, karena tanpa tuntunan, tanpa pegangan, Manusia akan terombang-ambing dalam kebimbangan dan kegelisahan... Untuk itu hadirlah Al-Qur'an sebagai Pegangan, Kitab yang menuntun kita senantiasa ke Jalan yang Lurus (Sirotal Mustaqim)... Namun terkadang bahkan sering kita mengambil kitab lain sebagai Tuhan yang kita puja, dan membuat kita Lalai..

Ibadah adalah kebutuhan, tatkala itu dijadikan kebiasaan,, namun jika enggan dibiasakan, maka menjadi biasa saja..

Belajar hukumnya wajib,, tanpanya kita takkan pernah tahu, jalan yang kita tempuh Salah ataukah Benar... Semakin cepat kita menuntut Ilmu, semakin besar peluang kita menjadi Khalifah di muka bumi sebagai manusia yang ber-Akhlak dan mampu mempertanggungjawabkan Jazadnya kelak di alam barsyah...

Apakah kita bisa memberi tanpa memiliki... tentu tidak mungkin..
Maka Perdalamlah Ilmu sebelum kita mengajarkan adik-adik ataupun anak-anak kita kelak Ilmu Islam sejak Dini...

Kenapa sejak Dini?
Anak-anak seperti besi yang lunak, yang masih mudah dibentuk sebagaimana lingkungan membentuknya,, semakin dewasa ia, akan semakin keras dan semakin sulit untuk diarahkan..
Namun adapun Ilmu yang diberikan dan cara penyajiannya tentu berbeda ketika orang dewasa yang sedang belajar.

Semoga thread ini dapat membantu, mendidik anak atau adik kecil kita mengenai ISLAM.
Baraqallah






I N D E X


ADAB ISLAMI

- Saat Si kecil Marah (http://ceriwis.us/showpost.php?p=922318&postcount=2)
- Adab Duduk dalam Masjid (http://ceriwis.us/showpost.php?p=922320&postcount=3)
- Tidur Sesuai Sunnah Nabi (http://ceriwis.us/showpost.php?p=922324&postcount=4)
- Etika Terhadap Hewan (http://ceriwis.us/showpost.php?p=922341&postcount=6)
- Adab di Hari Jum'at (http://ceriwis.us/showpost.php?p=922332&postcount=5)


IBADAH ANAK

- Mengenalkan Dara Haidh (http://ceriwis.us/showpost.php?p=922341&postcount=6)
- Mengusap Sepatu dan perban (http://ceriwis.us/showpost.php?p=922342&postcount=7)
- Biasakan Anak Membaca Al-Qur'an (http://ceriwis.us/showpost.php?p=925928&postcount=11)
- Mengenal Ibadah Haji (http://ceriwis.us/showpost.php?p=932230&postcount=12)
- Sujud Tilawah (http://ceriwis.us/showpost.php?p=932248&postcount=13)


KIAT ASUH

- Melatih si kecil berpakaian Sendiri (http://ceriwis.us/showpost.php?p=932264&postcount=14)
- Model Pengasuhan Ayah (http://ceriwis.us/showpost.php?p=941916&postcount=15)
- Agar Anak Mau mendengar (http://ceriwis.us/showpost.php?p=941932&postcount=16)
- Penyebab si Kecil Mengumpat (http://ceriwis.us/showpost.php?p=941944&postcount=17)
- Hukuman atau Pukulan? (http://ceriwis.us/showpost.php?p=969399&postcount=18)
- Agar Anak tak ingin menang Sendiri (http://ceriwis.us/showpost.php?p=969413&postcount=19)
- Cegah Perilaku Korupsi Sejak Dini (http://ceriwis.us/showpost.php?p=969423&postcount=20)


KISAH ANAK

- Nabi Musa menikah
- Musa keluar dari Mesir
- Kisah Nabi Musa alaihissalam
- Kisah Nabi Syu'aib alaihissalam


TAUHID ANAK

- Allah Pemberi Rezeki
- Motivasi Anak dengan Akhirat
- Tauhid Kuat, benteng Maksiat
- Mengajarkan Tauhid dengan Puasa
- Memupuk keberanian dengan Tauhid
- Hasad merusak Tauhid
- Mengajarkan Ibadah Paling Utama
- Yang Ghaib jangan di Khayal


TERAMPIL

- Membuat Pelangi Buatan



Afwan..
Rencana Index di atas, Insya Allah akan dilengkapi perlahan lahan berhubung keterbatasan waktu yang TS miliki, harap kesabarannya. :tersipu:

putra1st
2nd April 2011, 05:04 PM
Adab Islami


Adab Duduk Dalam Masjid

Tak kalah penting adab dan etika yang hendaknya kita tanamkan kepada anak-anak adalah adab duduk dan bermajelis. Demikian itu merupakan adab dan etika umum yang sangat baik bila kita tanamkan kepada anak-anak semenjak usia kanak-kanak. Di antara etika dalam majelis adalah sebagai berikut:

Mengucapkan salam kepada para jamaah yang hadir dalam majelis
Hendaknya kita biasakan anak kita untuk selalu mengucapkan salam ketika masuk dalam sebuah majelis. Sebagaimana sabda Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam–,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ


“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Dan maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu bila kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (Riwayat Muslim)

Duduk di tempat yang diperuntukkan baginya
Ajarkan juga pada anak-anak, untuk duduk di tempat majelis yang masih kosong tanpa harus mengganggu orang dengan menyuruh berdiri dari majelisnya, lalu ia duduk di situ. Ini berdasarkan sabda Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam–,

“Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari majelisnya lalu ia duduk di tempat itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)



Dan dalam Shahihain, dari ibnu Umar z, Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda,



“Janganlah seorang di antara kalian menyuruh orang lain berdiri dari majelisnya kemudian ia duduk di tempat itu akan tetapi melebarlah dan meluaslah.”

لاَ يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ

Yang paling berhak dengan tempat duduknya

Abu dan Ummu, ajarkan kepada anak-anak, jika ada seorang dalam majelis yang minta izin keluar lalu ia kembali, maka ia yang paling berhak dengan tempatnya kembali. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah z, Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda,


اذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ


“Jika seorang di antara kalian berdiri dari tempat duduknya lalu ia kembali ke tempat itu, maka ia paling berhak dengannya.” (Riwayat Muslim)

Tidak boleh memisahkan dua orang yang sedang duduk, kecuali dengan seizinnya.
Demikian itu bertujuan untuk menjaga pembicaraan kedua orang tersebut agar tidak terputus dan terkadang membuat berat hati bagi keduanya, sehingga melahirkan kebencian, maka hal itu dilarang. Hal ini berdasarkan pada hadits dari Amru bin Syuaib, Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ اثْنَيْنِ إِلَّا بِإِذْنِهِمَا


“Tidak halal bagi seseorang memisahkan tempat duduk dua orang kecuali seizin keduanya.” (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi)

Tidak boleh duduk di antara orang tua dan anaknya dalam suatu majelis
Abu dan Ummu, di antara adab yang hendaknya kita ajarkan juga kepada anak kita adalah untuk tidak duduk di antara orang tua dan anaknya dalam suatu majelis. Hal ini disebabkan karena Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– melarangnya, “Janganlah di antara kalian duduk di antara orang tua dan anaknya dalam suatu majelis.” (Riwayat Thabrani)
Insya Allah, pembahasan ini masih akan bersambung pada edisi berikutnya.

putra1st
2nd April 2011, 05:26 PM
Ibadah Anak

Mengenalkan Darah Haidh

Haid atau menstruasi adalah suatu hal alamiah yang akan dialami oleh para perempuan yang menginjak dewasa. Bahkan ia sebagai petunjuk bahwa perempuan tersebut telah baligh, yang artinya bahwa perempuan tersebut sudah dikenai kewajiban syariat dalam Islam. Oleh karena masalah ini sangat penting, maka menjadi kewajiban Abu dan Ummu untuk mengajarkan masalah ini kepada anak perempuannya.

Berikan pengertian kepada anak perempuan kita ketika terjadi haid pertama kali, bahwa hal itu wajar dan biasa akan dialami oleh semua perempuan. Oleh karena itu tidak usah bingung dan takut ketika mendapati yang demikian itu. Sampaikan juga bahwa lamanya waktu haid itu berbeda-beda antara perempuan satu dengan yang lainnya. Sedikitnya sehari semalam dan paling lama lima belas hari, atau sampai enam hingga tujuh hari. Berikan pengertian juga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia telah baligh dan siap untuk dikenai beban kewajiban syariat Islam.


Macam-macam Haid

Sampaikan juga kepada anak perempuan kita bahwa perempuan ketika mengalami haid ada tiga macam, yaitu haid permulaan, haid yang biasa, serta haid darah penyakit.

Masing-masing memiliki hukum tersendiri.
Adapun yang disebut haid permulaan, yaitu perempuan yang melihat darahnya untuk pertama kali.

Hukumnya, bila ia melihat darah hendaklah mening
galkan shalat dan puasa, dan menunggu hingga suci.

Bila ia melihat darah itu berhenti setelah sehari semalam atau sampai lima belas hari, hendaklah ia mandi dan mengerjakan shalat.

Apabila darah itu keluar lebih dari lima belas hari, harus dianggap darah penyakit dan sesudah itu hukumnya menjadi istihadah (perempuan haid karena penyakit).
Bila darah perempuan itu berhenti di pertengahan lima belas hari, lalu keluar lagi satu atau dua hari, dan berhenti lagi seperti itu, maka hendaklah ia mandi dan shalat selama bersih dan bila datang lagi, maka hentikan shalatnya.

Perempuan yang sudah biasa haid pada waktu tertentu dalam sebulan, maka hukumnya yaitu tinggalkan shalat, puasa selama haid seperti biasanya. Bila dia masih kuning atau keruh sesudah kebiasaannya, maka jangan hiraukan, hal ini berdasar pada kata-kata Ummu ‘Atiyyah, ia berkata, “Kami tidak menganggap apa-apa jika ada seperti darah kuning atau keruh setelah suci.” (riwayat Bukhari)
Adapun bila melihat pada kebiasaannya ada kuning atau keruh, maka itu masih dalam keadaan haid dan janganlah mandi, shalat dan puasa.


Yang dimaksud perempuan mustahadah (haid karena penyakit) adalah perempuan yang darahnya tidak berhenti. Hukumnya ialah jika darah istihadah itu biasa dan diketahui kebiasaannya, maka ia berhenti shalat pada hari-hari kebiasaannya pada setiap bulan. Dan sesudah darah berhenti ia pun mandi, shalat, dan puasa.
Bila tidak biasanya atau biasa tapi lupa waktunya atau bilangan harinya, hendaklah ia membedakan darahnya. Apabila sekali hitam dan sekali merah, maka ia tidak shalat waktu keluar darah hitam. Kemudian hendaknya dirinya mandi dan shalat sesudah terhenti berdarah, selagi tidak melebihi masa lima belas hari.

putra1st
2nd April 2011, 05:27 PM
Ibadah Anak


Mengusap Sepatu dan Perban

Termasuk sunnah yang tidak banyak diketahui oleh kaum muslimin dalam masalah bersuci adalah mengusap khuff (sepatu). Sehingga banyak sebagian kaum muslimin yang tidak memerhatikan dan menganggap perkara ini adalah perkara yang aneh, padahal mengusap sepatu ini telah disyariatkan dalam Al-Qur’an maupun sunnah.

http://farm3.static.flickr.com/2748/4331493672_6059483235.jpg

Abu dan Ummu, hendaknya diajarkan kepada anak kita, disyariatkan mengusap sepatu dan yang sama pengertiannya dengan itu seperti sepasang kaos kaki. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah.


Di dalam Al-Qur’an, terdapat dalam firman Allah “wa arjulikum” (QS. al-Maidah: 6) bisa dibaca jar (kasrah) karena dimaksudkan kepada “wamsahu bi ru’usikum”. Hal ini menunjukkan kebolehan mengusap.


Adapun dalam sunnah, nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda,
“Apabila seseorang dari kamu berwudhu ketika bersepatu, maka usaplah di bagian atasnya (dengan air) kemudian shalatlah dan janganlah membukanya bila menghendaki, kecuali karena mandi janabah.” (riwayat Daruqutni dan Hakim)

Y451R
3rd April 2011, 01:18 AM
trid bagus nih...:tersipu:

putra1st
3rd April 2011, 11:36 AM
trid bagus nih...:tersipu:
eh ada ustadz momod,, :tersipu:
mohon do'anya yah, semoga \ts diberi kesehatan n kemudahan untuk bisa melengkapi n update thread ini :hope:

satriapemberani
3rd April 2011, 08:32 PM
trid bagus nih...:tersipu:


Iya ndan,buat nambah2 ilmu
Untk adik sama anak kita :hope:

putra1st
4th April 2011, 10:33 AM
Ibadah Anak


Biasakan Anak Membaca Al-Qur'an

Sebagaimana kita ketahui al Quran adalah kitab suci kita.
Ia adalah kalamullah, yang diturunkan kepada nabi akhir zaman, Muhammad – shollallohu ‘alaihi wa sallam -, lewat malaikat Jibril – ‘alaihis salam -. Ia diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu dan menjadi petunjuk bagi manusia, agar kita dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, Rasulullah - shollallohu ‘alaihi wa sallam – menganjurkan dan memerintahkan kita untuk selalu membaca dan mentadaburi Al Quran serta mengenalkan dan mengajarkannya kepada anak kita, serta menganjurkan kepada mereka untuk selalu membacanya.

Sebab, membaca al Quran di sisi Allah ta’ala dihitung sebagai ibadah, yang tentunya jika kita ikhlas dalam membacanya, akan mendapat pahala dan menambah pundi-pundi amal kita. Sungguh, karunia yang besar dan luas dari Allah ta’ala kepada kaum muslimin, yang mana hanya sekadar membaca, yaitu membaca al Quran dijadikan sebagai bentuk ibadah kepada Allah ta’ala.


Perintahkan anak-anak membaca al Quran
Tanamkan pada diri anak kita untuk mencintai al Quran sebelum kitab-kitab yang lain, karena ia adalah kitab suci kita dan petunjuk di dunia agar kita dapat mencapai kebahagiaan.

Adapun caranya, dengan mengenalkan al Quran pada mereka sejak usia dini. Ajarkan cara membacanya dengan betul, sebelum mengenal pelajaran yang lain.
Dan hendaknya, pengajaran ini dijadikan yang awal dan utama sehingga menjadi kebiasaan bagi mereka. Karena kecintaan itu akan timbul dengan kebiasaan. Bahkan, Rasulullah - shollallohu ‘alaihi wa sallam - memberikan penghargaan kepada orang yang belajar dan mengajarkan al Quran dengan sabdanya,
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al Quran dan mengajarkannya” (Riwayat Muslim)


Setelah itu perintahkan dan tanamkan pada anak kita untuk selalu membaca Al Quran dan jangan sampai meninggalkan untuk membacanya. Hal ini akan terwujud jika kita sebagai orang tua menjadi contoh yang baik dan pelopor dalam hal ini. Bagaimana mungkin kita menginginkan anak kita rajin membaca al Quran sedang kita justru malah tidak sering membacanya atau justru sibuk dengan urusan-urusan yang lain.

putra1st
6th April 2011, 01:28 PM
Ibadah Anak


Sujud Tilawah

Anjurkan kepada anak/adik Anda untuk melakukan sujud yang dinamakan sujud Tilawah. Ini dilakukan ketika membaca ayat-ayat as Sajdah dalam al Quran, baik ketika sedang shalat ataupun di luar shalat.
Hal ini karena hadits abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang anak adam membaca ayat as Sajdah lalu ia bersujud, maka setan akan menyingkir sambil menangis dan berkata, ‘Sungguh celaka dia -(dalam riwayat lain disebutkan, ‘Sungguh celaka aku.’)- karena anak Adam itu diperintahkan untuk bersujud lalu ia bersujud dan akhirnya masuk surga. Sementara aku dahulu diperintahkan untuk bersujud, namun aku membangkang, sehingga akupun masuk neraka.’” (Riwayat Muslim)


Adapun hukumnya yang rajih adalah sunnah muakkad, bagi orang yang membaca dan yang mendengarkan, jika yang membaca melakukan sujud tilawah. Namun jika yang membaca tidak melakukan sujud tilawah, maka yang mendengar tidak perlu bersujud.


- Cara sujud tilawah

Ajarkan juga pada anak kita cara sujud tilawah yang benar yaitu ketika membaca satu ayat As-Sajdah, atau dengan sengaja mendengarkannya untuk menghadap kiblat dan bertakbir, kemudian bersujud seraya membaca doa sujud, baru kemudian mengangkat kepalanya tanpa bertakbir lagi juga tanpa membaca tasyahud serta tanpa salam.



Hal ini sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Abdullah bin Umar rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Daud, bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah membacakan Al-Qur’an kepada kami. Ketika beliau sampai kepada ayat sajdah, beliau bertakbir lalu bersujud dan kamipun ikut bersujud bersama beliau.

putra1st
6th April 2011, 01:35 PM
Kiat Asuh

Berpakaian Sendiri

Anak usia 2-3 tahun, sebenarnya sudah bisa diajari berpakaian sendiri. Memang, hasilnya belum prima, tapi minimal Anda sudah mengajarkannya mandiri dan punya percaya diri.
Mengajar anak berpakaian bukan saja melatih motorik tubuhnya, tetapi sekaligus melatih kemandiriannya. Sejak anak berusia 2 tahun mereka sudah mengenal instruksi, sehingga Anda sudah bisa mulai mengajarkan bagaimana memakai baju. Misalnya, “Ayo, Kakak pakai baju sendiri, tangan kanan dulu, tangannya ke atas.” Atau, “Mari pakai celana! Angkat kakinya, nah, masukkan ke dalamnya. Ya, kini yang sebelah kiri. Kemudian tarik ritsletingnya.”

Agar lebih efektif, Kita bisa memberi contoh secara langsung dan menyuruh si anak melakukannya secara langsung pula. Dalam hal membantu berpakaian, berbeda-beda kadarnya, tergantung tahap pengembangan keterampilan anak masing-masing. Namun jangan terkejut jika pada tahap awal ini, baru disuruh memakai celana, si kecil kemudian sudah melesat lari keluar.


Untuk itu diperlukan kesabaran ekstra dari kita. Tak ada salahnya, saat membantunya memakai pakaian, kita bisa mengemukakan harapan-harapannya. Misalnya, “Sebentar lagi Adik juga bisa memakai pakaian sendiri. Kan, enak, kalau basah bisa buka sendiri, bisa ganti sendiri, nggak perlu nunggu Ummi.” Hal ini akan lebih mendorong keinginannya untuk mampu mengerjakannya sendiri.


Barulah pada usia 2,5 – 3 tahun umumnya mereka sudah agak mahir memakai baju sendiri. Nah, untuk keadaan ini, sebaiknya kita hanya memberi aba-aba saja dari jauh. “Ya, masukkan sabuknya ke lubang itu. Tangannya begini, lalu bajunya dibeginikan.”

Begitu seterusnya, sampai akhirnya ia sudah bisa dilepas sendiri pada usia 3,5 tahun.
Memang, si kecil terkadang ngotot ingin memakai bajunya sendiri tidak sesuai petunjuk ummi-nya. Baru kalau tak bisa, dia akan teriak-teriak, “Bagaimana, sih, Mi?” Sekali lagi, Anda harus sabar. Lebih baik kita biarkan saja ia melakukan sendiri, toh akhirnya ia akan minta bantuan juga.


Mengapa demikian? Karena pada saat usia 2 tahunan, si kecil sudah mulai mengembangkan otonominya. Ia mulai ingin melakukan apa-apa sendiri. Untuk itu, pada tahap awal ini, lebih baik anak diajarkan memakai yang sederhana dulu. Misalnya, pakai kaos kaki sendiri atau memakai baju yang mudah. Jangan dulu mengajarkannya memakai pakaian yang banyak tali, yang akan menyulitkan anak.


Tapi, jangan buru-buru mengharapkan hasil yang sempurna. Ada anak yang cepat bisa, ada pula yang lambat. Sebaiknya latih sejak ia berusia 2 tahun meski umumnya baru setahun kemudian mereka mampu. Soalnya, kalau tak didorong sejak kecil, ia tak akan pernah mampu melakukannya. Anak jadi malas meski sebetulnya bisa. Dengan kata lain, bukan hanya soal kemampuan, namun kemauan pun menunjang keberhasilan anak.


Ingat Abu dan Ummu, tak perlu risau pula jika si kecil kerap “melawan” saat dilatih mengenakan pakaian. Masalahnya, anak umur 2,5 – 3 tahun sedang giat-giatnya menunjukkan kemauannya sendiri. Egonya mulai tumbuh. Karena ia mulai sadar, ia adalah pribadi yang lain dari orang lain. Anak cenderung untuk bilang tidak. Ngotot, itulah cirinya. Seakan ingin meyakinkan, “Kalau saya bilang tidak, orang lain tak bisa bilang apa-apa!”


Nah, kalau anak sudah ngotot, dekati ia secara persuasif. Jika ia ingin memakai baju sendiri, biarkan saja. Kalau hasilnya belum beres, bawa saja ia ke depan cermin untuk melihat sendiri hasilnya dan beri tahu kesalahannya. Kalau ia mengenakan kausnya terbalik, katakan padanya, gambar kausnya yang seharusnya di depan, jadi tak terlihat.

"Allah bersama orang-orang yang sabar"

putra1st
9th April 2011, 08:54 PM
KIAT ASUH

Model pengasuhan Ayah

Sama halnya seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda, sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan. Untuk itu, mari kita lebih jauh mengenal tipe – tipe pengasuhan seorang ayah, karena akan berpengaruh pada pola pengasuhan anak. Orangtua membawa serta pengalaman masa lalunya terdahulu saat diasuh orangtuanya semasa ia kecil, dan sejumlah nilai budaya yang membentuk apa yang mereka lakukan saat ini. Selain itu, orangtua juga memiliki pola-pola kehidupan sosial, seperti hubungan bersama pasangan, keluarga besar, dan dunia kerja. Pola kehidupan sosial itulah yang secara otomatis dibawa dalam pengasuhan anak.

Secara umum, ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam pengasuhan anak-anaknya. Namun, ada sedikit perbedaan sentuhan dari apa yang ditampilkan ayah dan ibu. Anak-anak biasanya memang dekat dengan sosok ibu, karena waktu yang dimiliki seorang ibu lebih banyak daripada seorang ayah, tapi hal itu tidak berarti ayah tidak berperan penting dalam perkembangan anak.
Ada pendapat yang menyatakan, melalui kehidupan dalam keluarga, seorang ayah bukan saja memengaruhi individualitas anaknya, tetapi juga memengaruhi kemampuannya bergaul dan bersikap dalam masyarakat.
Dari pendapat itu, secara garis besar dikategorikan tipe pengasuhan ayah yang dapat memberi dampak utama pada anak-anaknya:


1. Tipe ayah bom waktu
Tipe ayah seperti ini adalah ayah yang cenderung mempunyai sifat temperamental, bersikap perfeksionis yang selalu menginginkan kesempurnaan anak-anaknya. Jadi jangan heran, jika sang anak melakukan kesalahan, maka si ayah tak segan untuk memarahi atau bahkan menghukumnya. Biasanya, segala sesuatu yang menyangkut si anak selalu dikaitkan dengan prestasi, karena hal ini pula obrolan si ayah dan si anak tak jauh-jauh dari urusan prestasi di sekolah.
Dampak bagi si anak, ketika dewasa si anak cenderung merasa kurang nyaman dan tak mudah percaya pada orang lain, terutama dalam pergaulan dan di tempat kerja.


2. Tipe ayah acuh tak acuh
Namanya saja acuh tak acuh, ayah seperti ini cenderung cuek dengan kebutuhan anak-anaknya. Ayah tipe ini kebanyakan bersikap acuh tak acuh terhadap segala hal permasalahan anak-anak mereka, terutama pada kebutuhan psikis. Ayah tipe ini merasa tanggung jawab utamanya adalah menjalankan peran sebagai tulang punggung alias pencari nafkah. Oleh sebab itu, sang ayah cuek dan enggan memantau perkembangan fisik, mental, dan emosi anak-anaknya, karena menganggap sang ibunya lah yang bertanggung jawab dan memegang peranan penting dalam tugas ini.
Dampaknya adalah ayah tipe ini akan memengaruhi perkembangan anak, dalam arti sang ayah kurang mengenalkan anaknya pada kesulitan dan tantangan yang mungkin banyak ditemui di luar rumah.


3. Tipe ayah pembimbing
Ini merupakan tipe ayah ideal. Ayah yang selalu bersikap penuh kehangatan dalam mendidik anaknya. Ia memiliki metode pendekatan dengan cara membimbing anak-anaknya agar mau belajar dan meningkatkan kualitas. Ayah pembimbing selalu perhatian kepada anaknya. Ayah tipe ini juga senang meningkatkan pergaulannya agar bisa lebih terlibat dalam kegiatan anak-anaknya. Ayah tipe ini juga selalu “melek” teknologi supaya dapat mengikuti zaman, yang pada akhirnya dapat mendekatkan dirinya dengan anak-anak.


Ternyata pengasuhan seorang ayah juga berperan penting dalam membentuk pribadi anak-anaknya. Semoga kita menjadi sadar dan tak enggan untuk memperbaiki pola asuh kita, demi kebaikan anak-anak.

putra1st
9th April 2011, 09:15 PM
KIAT ASUH

Agar Anak Mau mendengar

Terkadang Anda mungkin dibuat jengkel karena anak-anak seringkali tak mau mendengarkan perkataan anda pada mereka. Meski begitu, kita tak perlu marah atau kesal lalu menggunakan kekerasan untuk mengatasinya, karena ada 6 cara agar si kecil mau mendengar. Biasanya, sebagian besar anak tidak mau mendengarkan orangtua karena ingin mendapatkan perhatian lebih. Tetapi hal ini tentu saja tak bisa dibiarkan, karena menjadi pendengar yang baik bisa membantu anak belajar lebih efektif, mengetahui adanya sinyal bahaya, bersosialisasi dengan baik serta bisa menghargai orang lain.
Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar si kecil mau mendengarkan orang lain, yaitu:


1. Dekati anak
Terkadang orangtua berteriak dari tempat yang jauh untuk memberitahu anak, hal ini tidak akan memberikan dampak yang efektif. Usahakan untuk berada setara dengan anak, misalnya berjongkok atau agak merunduk sehingga bisa melihat mata anak untuk mendapatkan perhatiannya. Kondisi ini akan membantu anak untuk mau mendengarkan orangtuanya.


2. Berikan pesan yang jelas dan sederhana
Anak-anak akan sulit menemukan pesan yang diinginkan orangtuanya jika kata-kata yang diucapkan bertele-tele atau terlalu panjang. Jika memang tidak ada pilihan bagi anak, maka sebaiknya tidak menggunakan kalimat pertanyaan. Misalnya “Sudah waktunya untuk masuk ke mobil,” akan berdampak lebih besar dibandingkan, “Ayo naik ke kursi mobil, sayang?”.


3. Jangan bosan untuk mengulang
Pesan yang ingin disampaikan ke anak mungkin tak akan cukup dengan hanya mengucapkannya sekali. Karena itu tak ada salahnya untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan berulang-ulang dengan mengucapkannya, lalu memberi isyarat visual (seperti menjentikkan jari), isyarat fisik (meletakkan tangan di bahu anak dengan lembut) dan mendemonstrasikannya.


Semua dimulai dari hal yang kecil

putra1st
9th April 2011, 09:19 PM
KIAT ASUH

Penyebab Si kecil megumpat

Mungkin Anda pernah dibuat terkejut saat si kecil tiba-tiba sering mengeluarkan kata-kata kasar/mengumpat? Apakah Anda dibuat bingung bagaimana cara menghadapinya? Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, salah satunya adalah lingkungan. Mungkin Anda tidak menyadari bahwa perilakunya yang kasar diadaptasi dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.

Beberapa Penyebab
1. Orang tua dan pola asuh
Pola asuh sangat berpengaruh pada tingkat emosi seorang anak dan cara bagaimana ia bersikap. Anda sebagai orang tua merupakan panutan baginya. Dari orang tua, si kecil untuk pertama kali mempelajari dan mencontoh perilaku. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bersikap dan bertindak kepada siapapun, baik kepada anggota keluarga ataupun orang lain. Jangan sampai si kecil melihat dan meniru berperilaku Anda yang mungkin tanpa Anda sadari kasar terhadap orang lain.


2. Lingkungan luar
Lingkungan di sekitar rumah ataupun di sekolah juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak.


3. Media
Beberapa jenis media, terutama TV dan komputer ikut memengaruhi perkembangan si kecil. Bentuk kekerasan serta kata cacian dan makian yang muncul dalam berbagai tayangan TV dan media lainnya dapat menambah kosa kata dan perilaku buruk si kecil.


4. Makanan
Mungkin tidak banyak yang tahu, ternyata faktor makanan juga dapat memicu perkembangan emosi anak. Jenis makanan yang mengandung tambahan zat kimia, pengawet, dan zat berbahaya diyakini dapat membuat si kecil temperamental.

Jagalah diri dan keluargamu dari Api neraka

putra1st
21st April 2011, 08:41 AM
KIAT ASUH

Hukuman atau Pukulan

Disadari atau tidak, masih banyak orang tua yang salah dalam menerapkan atau mengajarkan disiplin kepada anaknya. Sayangnya, para orang tua tidak pernah menyadarinya, dan bahkan tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya. Untuk itu, sudah seharusnya kita lebih peduli terhadap perkembangan adik/anak kita.

Memang, tidak mudah menjadi orang tua yang baik. Yang paling sulit, bagaimana sebagai orang tua bisa mengendalikan emosi dalam mengasuh anak. Mungkin secara teori, kita sudah banyak mendapatkannya, tetapi begitu menghadapi anak yang “nakal”, menguaplah semua teori itu dari kepala. Ketidakmampuan orang tua mengendalikan emosi ini, akhirnya muncul dalam bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak.

Semua buku/informasi tentang cara mengajar disiplin kepada anak, selalu menekankan untuk tidak boleh memukul atau memberikan hukuman fisik. Memang…, mudah dikatakan, tapi cukup sulit untuk diterapkan. Padahal, hukuman fisik justru bisa menjadi “permainan menarik” bagi anak, dan tidak akan mampu mendisiplinkan anak.


Hasil penelitian menunjukkan, anak balita belum bisa memahami hubungan antara tindakannya yang “nakal’ (menurut orang tua) dengan pukulan yang diterimanya. Anak hanya merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu kenapa dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan “nakal”-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas kesadarannya sendiri!


Jadi, jangan pernah memukul! Memukul tidak ada gunanya sama sekali bagi anak, kecuali hanya memuaskan emosi orang tua. Dalam menghadapi sikap anak yang ‘nakal’ dan tidak disiplin atau melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan untuk memberikan time-out kepada anak. Time-out di sini sebenarnya kata halus untuk sebuah hukuman, tetapi bukan hukuman fisik.


be wise, & everything will be nice

putra1st
21st April 2011, 08:45 AM
KIAT ASUH


Agar Anak Tak ingin Menang Sendiri

Egois berasal dari kata ego, artinya “aku” dalam bahasa Yunani. Jadi, yang dimaksud egois adalah sikap mementingkan diri di atas kepentingan orang lain tanpa batas. Artinya tidak mengenal kondisi, dalam pengertian dengan siapakah kita bersama, pokoknya dirinya yang harus mendapatkan prioritas utama.

Pada dasarnya, orang yang egois punya sifat serakah, meskipun tidak selalu nampak serakah. Orang egois sebetulnya menyimpan ketakutan dan kekhawatiran. Apa yang dikhawatirkan, dia takut kehilangan apa yang menjadi miliknya atau haknya, sehingga dia tidak rela kehilangan sedikit pun yang sudah menjadi miliknya. Dia takut sekali, maka bisa dikatakan orang egois sebetulnya punya kebutuhan besar akan ketenteraman atau keamanan.


Anak menjadi bersikap egois biasanya timbul karena kelanjutan dari apa yang telah diterimanya selama ini. Misalnya sejak kecil ia dijunjung dan diutamakan, ia tidak pernah disalahkan dan senantiasa dibenarkan. Nah, sewaktu dia dewasa, dia menuntut perlakuan yang sama dari semua orang. Dan dia akan gagal mengembangkan satu keterampilan yang sangat penting, yakni berempati yang artinya adalah menempatkan diri pada posisi orang lain, melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, atau merasakan sesuatu dari perasaan orang lain. Dalam hal ini anak tunggal cenderung juga untuk egois, karena anak tunggal tidak harus mengalah.

Metode Membimbing yg paling baik adalah dengan action/perbuatan

putra1st
21st April 2011, 08:52 AM
kiat asuh


cegah perilaku korupsi sejak dini

korupsi muncul akibat need of achievement (motivasi berprestasi) dari manusia yang terlalu berlebihan. Keinginan untuk melebihi orang lain, berdasarkan budaya yang berlaku di lingkungannya. Hal itulah yang menjadikan korupsi dapat bermacam-macam bentuknya. Selain uang dan kekuasaan, bentuk lain bisa berupa korupsi ayat suci, korupsi dalil, korupsi nilai rapor, dan banyak lagi bentuk korupsi lainnya. Dan semua itu, dilakukan atas dasar kebutuhan melebihi manusia lain yang terlalu berlebih.

seharusnya, seseorang harus punya pribadi sportif yang mau menerima batasan diri untuk “kalah” dengan orang lain. Ini adalah wujud motivasi berprestasi yang ideal.

anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa diharapkan punya pribadi ideal. Ada hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman jiwa anti korupsi dan mencegah perilaku korupsi pada anak.


teknik ego vincerio, sebuah teknik modifikasi perilaku bagi anak yang “motivasinya” terlalu tinggi. Intinya, diarahkan bahwa untuk mencapai keinginannya, akan lebih efektif dan lebih efisien bila bekerja sama dengan orang lain.
pikiran bawah sadar (subconcius) pada usia dini sedang membentuk polanya, semuanya tergantung pada pengaruh lingkungan. Sebaiknya, tidak menuntut anak terlalu tinggi untuk berprestasi. Tekanan pada usia dini, efeknya 1000 kali lebih besar dalam membentuk kepribadian, daripada saat dewasa. Gantilah tuntutan anda dengan tawaran.

.........