vals
19th October 2012, 07:18 AM
http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20121018_085712_Baumgartner.jpg
Para peneliti tengah bergairah mengenai kemungkinan yang dibawa dari keberhasilan aksi Felix Baumgartner yang membukukan diri sebagai orang pertama yang terjun payung dari ketinggian 38,62 kilometer.
Aksi pria yang dijuluki Fearless Felix pada Minggu (14/10) itu memberikan sejumlah informasi penting mengenai tanggapan tubuh terhadap kecepatan dan ketinggian ekstrem. Informasi itu bisa digunakan untuk memperbaiki desain baju luar angkasa, prosedur latihan, dan prosedur pengobatan darurat.
Dustin Gohmert, ilmuwan NASA yang mengurusi masalah sistem darurat astronaut mengatakan keberhasilan Baumgartner memberi dasar untuk meningkatkan peluang keselamatan astronaut, turis luar angkasa, dan pilot pesawat tempur untuk selamat dalam keadaan darurat.
Gohmert menyebut selama ini ilmuwan bekerja untuk menciptakan sebuah sistem darurat tanpa kemajuan sejak Joe Kittinger pada 1960 meloncat dari ketinggian 31,38 kilometer dan mencapai kecepatan 988 kilometer per jam.
Dengan bergerak dengan kecepatan melebihi 1 Mach, batas kecepatan suara, Baumgartner memberikan banyak data. Dengan mengenakan helm dan pakaian khusus, Baumgartner mencapai kecepatan 1.342 kilometer per jam.
Jonathan Clark, mantan pegawai NASA yang memimpin tim medis Baumgartner mengatakan timnya masih menganalisa data medis--detak jantung, tekanan darah, dan lainnya--yang dikumpulkan dari sensor yang dilekatkan di tubuh Baumgartner.
mediaindonesia.com
Para peneliti tengah bergairah mengenai kemungkinan yang dibawa dari keberhasilan aksi Felix Baumgartner yang membukukan diri sebagai orang pertama yang terjun payung dari ketinggian 38,62 kilometer.
Aksi pria yang dijuluki Fearless Felix pada Minggu (14/10) itu memberikan sejumlah informasi penting mengenai tanggapan tubuh terhadap kecepatan dan ketinggian ekstrem. Informasi itu bisa digunakan untuk memperbaiki desain baju luar angkasa, prosedur latihan, dan prosedur pengobatan darurat.
Dustin Gohmert, ilmuwan NASA yang mengurusi masalah sistem darurat astronaut mengatakan keberhasilan Baumgartner memberi dasar untuk meningkatkan peluang keselamatan astronaut, turis luar angkasa, dan pilot pesawat tempur untuk selamat dalam keadaan darurat.
Gohmert menyebut selama ini ilmuwan bekerja untuk menciptakan sebuah sistem darurat tanpa kemajuan sejak Joe Kittinger pada 1960 meloncat dari ketinggian 31,38 kilometer dan mencapai kecepatan 988 kilometer per jam.
Dengan bergerak dengan kecepatan melebihi 1 Mach, batas kecepatan suara, Baumgartner memberikan banyak data. Dengan mengenakan helm dan pakaian khusus, Baumgartner mencapai kecepatan 1.342 kilometer per jam.
Jonathan Clark, mantan pegawai NASA yang memimpin tim medis Baumgartner mengatakan timnya masih menganalisa data medis--detak jantung, tekanan darah, dan lainnya--yang dikumpulkan dari sensor yang dilekatkan di tubuh Baumgartner.
mediaindonesia.com