SexOnTheBeach
3rd October 2012, 10:33 AM
WISATA SPIRITUAL ke ADAT SUKU BADUY
TINJAUAN UMUM
Kalau ingin istirahat batin dengan cara menjauh sejenak dari kehidupan modern yang serba praktis, menetaplah beberapa hari di kampung Baduy yang menolak listrik hingga saat ini. Tanpa listrik membuat suasana kampung pada malam hari menjadi gelap gulita dan senyap tanpa suara, tetapi memberikan rasa tenang dan kedamaian. Dapat membangkitkan nuansa spiritual yang dalam terhadap diri kita serta merasakan bagaimana dekatnya dengan alam tempat kita menjalani kehidupan.
Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu.
Masyarakat Suku baduy sendiri juga terbagi menjadi dua, yakni masyarakat Baduy luar yang sudah sedikit-banyak menerima peradaban modern. Serta masyarakat Baduy Dalam yang tidak menerima sama sekali peradaban modern. Antara kedua masyarakat tersebut kita tetap dapat membedakannya. Masyarakat Baduy Luar mengenakan Ikat kepala berwarna Biru tua, sedangkan masyarakat Baduy Dalam mengenakan ikat kepala putih serta tidak mengenakan alas kaki.
Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Salah satu falsafah yang menjadi pegangan hidupnya yaitu �Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, kurang teu meunang ditambah, leuwih teu meunang dikurang� yang artinya, Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, dan lebih tidak boleh dikurang. Yang melekat kuat dalam harmonisasi kepercayaan religi yang mereka anut yaitu Sunda Wiwitan.
Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.
Sebagai perkampungan yang warganya masih memegang teguh peraturan adat, Kampung Baduy sangat tenang dan damai. Sepanjang hari kita hanya akan menikmati dering tonggeret, kicau burung, dan gemercik air yang dipelihara warga sebagai sumber kehidupan.Kalaupun terdengar suara, itu juga suara dari aktivitas warga yang tengah memainkan peralatan tenun atau suara alu dan lesung warga yang tengah menumbuk kopi atau padi. Suara itu biasanya nyaring terdengar pada pagi hari saat kaum perempuan Baduy melakukan aktivitas di rumah sebelum berangkat ke ladang.
Ketenangan dan keasrian di dalam perkampungan Baduy terlihat dari jalan beralas batu-batuan. Jalan tersebut ditata rapi, termasuk juga susunan batu untuk menguatkan tebing di sejumlah sudut permukiman. Lumut yang menyelimuti bebatuan itu memberi kesan hijau, sekaligus kuno. Ditambah kabut yang turun di perkampungan itu sehingga memberikan suasana batin yang nyaman.
Pada malam hari, ketika tidak ada mendung, perkampungan Baduy bisa menjadi tempat ideal menikmati bintang di langit secara langsung dengan mata telanjang. Di perkampungan Baduy, yang gelap karena ketiadaan listrik, setiap warga atau pelancong bisa melihat bintang,menikmati cahaya bulan atau mendalami makna alam dikeheningan.
Lebih syahdu lagi ketika hari mulai merambat malam, bisa menikmati merdunya suara jangkrik, serangga lain, dan burung malam.
Bayangkan jika kita dapat melihat dan menginjakkan kaki di perkampungan adat ini. Keindahan alam di tanah Baduy serta keramahan masyarakatnya, berada langsung di dalam adat istiadatnya menjadikan perjalanan ini suatu pengalaman yang sarat nuansa spiritual dan suasana baru yang takkan terlupakaan dikehidupan kita.
Kita akan merasakan suasana masyarakat pedalaman dan atraksi-atraksi alam yang jarang kita temui dalam rutinitas sehari-hari..
FASILITAS PAKET
+ Waktu: 4 hari 3 malam
+ Akomodasi (menginap di rumah panggung masyarakat adat)
+ Pendamping
+ Transportasi
+ Makan + snack
+ Mahar untuk bertemu Pu�un Cibeo,Cikeusik,Cikatawarna
SCHEDULE
Hari pertama berangkat jam 08.00 dari Bandung � 12.00 Jasinga Istirahat dan makan siang di Rumah makan. Jam 13.00 Jasinga � 16.00 desa Nanggrang � 16.30 Kampung Baduy luar Ciranji, 19.00 makan malam,istirahat dan bermalam.
Hari kedua Jam 07.00 sarapan pagi. 08.00 keliling wilayah kampung Baduy, melihat kegiatan sehari-hari berkebun,ngahuma,pandai besi,pembuat kain tenun,pembuat gula aren dlsb. 12.00 Makan siang dengan suasana alam Baduy. 16.00 kembali di kampung Ciranji beramah tamah dengan penghuni kampung.19.00 Makan malam dan istirahat.
Hari ketiga Jam 07.00 sarapan pagi. 08.00 Perjalanan Jiarah/Bertemu Pu�un pedalaman Cibeo, pedalaman Cikatawarna, pedalaman Cikeusik. 12.00 makan siang di Huma pedalaman Cikeusik . Istirahat, bersilaturahmi dengan masyarakat pedalaman Cikeusik. Makan mlm dan bermalam disini.
Hari keempat Jam 07.00 sarapan pagi. O8.00-09.00 Menuju Cijengkol(Parigi) untuk perjalanan pulang. 12.00. istirahat dan makan siang di Jasinga. 13.00-17.00 Tiba kembali di Bandung.
PERLENGKAPAN PRIBADI PESERTA
1.Tas ransel/daypak, topi, pakaian lapangan, sendal jepit dan sepatu jalan.raincut(ketika musim hujan)
2.Obat pribadi, senter.
3.Perlengkapan mandi dan tidur (kupluk,sarung tangan,kaos kaki,baju hangat)
- Peserta minimal 6 Orang
- Keberangkatan Peserta bisa dari Kota Jakarta
Untuk reservasi dan informasi bisa disampaikan melalui :
e-mail : [email protected]
HP : +6281322179732 (Galuh)
http://static.kaskus.co.id/images/smilies/iloveindonesias.gifhttp://static.kaskus.co.id/images/smilies/iloveindonesias.gif
</div>
TINJAUAN UMUM
Kalau ingin istirahat batin dengan cara menjauh sejenak dari kehidupan modern yang serba praktis, menetaplah beberapa hari di kampung Baduy yang menolak listrik hingga saat ini. Tanpa listrik membuat suasana kampung pada malam hari menjadi gelap gulita dan senyap tanpa suara, tetapi memberikan rasa tenang dan kedamaian. Dapat membangkitkan nuansa spiritual yang dalam terhadap diri kita serta merasakan bagaimana dekatnya dengan alam tempat kita menjalani kehidupan.
Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu.
Masyarakat Suku baduy sendiri juga terbagi menjadi dua, yakni masyarakat Baduy luar yang sudah sedikit-banyak menerima peradaban modern. Serta masyarakat Baduy Dalam yang tidak menerima sama sekali peradaban modern. Antara kedua masyarakat tersebut kita tetap dapat membedakannya. Masyarakat Baduy Luar mengenakan Ikat kepala berwarna Biru tua, sedangkan masyarakat Baduy Dalam mengenakan ikat kepala putih serta tidak mengenakan alas kaki.
Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Salah satu falsafah yang menjadi pegangan hidupnya yaitu �Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, kurang teu meunang ditambah, leuwih teu meunang dikurang� yang artinya, Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, dan lebih tidak boleh dikurang. Yang melekat kuat dalam harmonisasi kepercayaan religi yang mereka anut yaitu Sunda Wiwitan.
Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.
Sebagai perkampungan yang warganya masih memegang teguh peraturan adat, Kampung Baduy sangat tenang dan damai. Sepanjang hari kita hanya akan menikmati dering tonggeret, kicau burung, dan gemercik air yang dipelihara warga sebagai sumber kehidupan.Kalaupun terdengar suara, itu juga suara dari aktivitas warga yang tengah memainkan peralatan tenun atau suara alu dan lesung warga yang tengah menumbuk kopi atau padi. Suara itu biasanya nyaring terdengar pada pagi hari saat kaum perempuan Baduy melakukan aktivitas di rumah sebelum berangkat ke ladang.
Ketenangan dan keasrian di dalam perkampungan Baduy terlihat dari jalan beralas batu-batuan. Jalan tersebut ditata rapi, termasuk juga susunan batu untuk menguatkan tebing di sejumlah sudut permukiman. Lumut yang menyelimuti bebatuan itu memberi kesan hijau, sekaligus kuno. Ditambah kabut yang turun di perkampungan itu sehingga memberikan suasana batin yang nyaman.
Pada malam hari, ketika tidak ada mendung, perkampungan Baduy bisa menjadi tempat ideal menikmati bintang di langit secara langsung dengan mata telanjang. Di perkampungan Baduy, yang gelap karena ketiadaan listrik, setiap warga atau pelancong bisa melihat bintang,menikmati cahaya bulan atau mendalami makna alam dikeheningan.
Lebih syahdu lagi ketika hari mulai merambat malam, bisa menikmati merdunya suara jangkrik, serangga lain, dan burung malam.
Bayangkan jika kita dapat melihat dan menginjakkan kaki di perkampungan adat ini. Keindahan alam di tanah Baduy serta keramahan masyarakatnya, berada langsung di dalam adat istiadatnya menjadikan perjalanan ini suatu pengalaman yang sarat nuansa spiritual dan suasana baru yang takkan terlupakaan dikehidupan kita.
Kita akan merasakan suasana masyarakat pedalaman dan atraksi-atraksi alam yang jarang kita temui dalam rutinitas sehari-hari..
FASILITAS PAKET
+ Waktu: 4 hari 3 malam
+ Akomodasi (menginap di rumah panggung masyarakat adat)
+ Pendamping
+ Transportasi
+ Makan + snack
+ Mahar untuk bertemu Pu�un Cibeo,Cikeusik,Cikatawarna
SCHEDULE
Hari pertama berangkat jam 08.00 dari Bandung � 12.00 Jasinga Istirahat dan makan siang di Rumah makan. Jam 13.00 Jasinga � 16.00 desa Nanggrang � 16.30 Kampung Baduy luar Ciranji, 19.00 makan malam,istirahat dan bermalam.
Hari kedua Jam 07.00 sarapan pagi. 08.00 keliling wilayah kampung Baduy, melihat kegiatan sehari-hari berkebun,ngahuma,pandai besi,pembuat kain tenun,pembuat gula aren dlsb. 12.00 Makan siang dengan suasana alam Baduy. 16.00 kembali di kampung Ciranji beramah tamah dengan penghuni kampung.19.00 Makan malam dan istirahat.
Hari ketiga Jam 07.00 sarapan pagi. 08.00 Perjalanan Jiarah/Bertemu Pu�un pedalaman Cibeo, pedalaman Cikatawarna, pedalaman Cikeusik. 12.00 makan siang di Huma pedalaman Cikeusik . Istirahat, bersilaturahmi dengan masyarakat pedalaman Cikeusik. Makan mlm dan bermalam disini.
Hari keempat Jam 07.00 sarapan pagi. O8.00-09.00 Menuju Cijengkol(Parigi) untuk perjalanan pulang. 12.00. istirahat dan makan siang di Jasinga. 13.00-17.00 Tiba kembali di Bandung.
PERLENGKAPAN PRIBADI PESERTA
1.Tas ransel/daypak, topi, pakaian lapangan, sendal jepit dan sepatu jalan.raincut(ketika musim hujan)
2.Obat pribadi, senter.
3.Perlengkapan mandi dan tidur (kupluk,sarung tangan,kaos kaki,baju hangat)
- Peserta minimal 6 Orang
- Keberangkatan Peserta bisa dari Kota Jakarta
Untuk reservasi dan informasi bisa disampaikan melalui :
e-mail : [email protected]
HP : +6281322179732 (Galuh)
http://static.kaskus.co.id/images/smilies/iloveindonesias.gifhttp://static.kaskus.co.id/images/smilies/iloveindonesias.gif
</div>