Log in

View Full Version : Backpacker Itu Ibarat Candu


atheis
10th February 2011, 04:49 AM
http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/spaw/uploads/images/article/image/2011_01_25_04_04_54_Bp.jpg
Ilustrasi -- vagabondjourney.com



RUANG lesehan di Pondok Penus, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (22/1), dipenuhi para petualang yang nampak antusias berbagai informasi. Para 'petualang mandiri' atau bisa disebutbackpacker, silih berganti mengajukan pertanyaan kepada para narasumber yang hampir kesemuanya telah membuat sebuah buku perjalanan.

"Saya ingin ke Siem Reap tapi cuma punya waktu cuti empat sampai lima hari, bagaimana ya enaknya,?" tanya seorang wanita yang berencana liburan ke Kamboja bersama teman-temannya. Dengan terperinci, salah satu pembicara yang mempunyai spesialisasi wilayah backpacking Asia Tenggara menjawab pertanyaan wanita tadi.

Suasana tanya jawab sekaligus diskusi itu berjalan santai. Para backpacker pemula nampak puas mendengar informasi menyangkut penginapan murah, transportasi, dan tempat-tempat yang harus dituju. Mereka seolah mendapat pencerahan sebelum membuka pintu gerbang dunia luarnya.

Perjalanan yang dilakukan para backpacker memang sudah lama ada, namun kini kesempatan itu semakin terbuka lebar dengan hadirnya berbagai penerbangan murah. "Penerbangan murah semakin memudahkanbackpacker lokal untuk keliling dunia," ujar Elok Dyah Messwati yang tahun lalu telah melancong ke 20 negara.

Elok yang telah menjadi backpacker selama lebih kurang 20 tahun mengaku melakukan kegiatan ini saat menginjak bangku SMP. Kala itu, ia (seorang diri) pergi mengunjugi kerabatnya yang ada di luar kota. Perjalanan ini membuatnya tertarik dan terus melanjutkannya. Hingga saat ini ia telah mengunjungi lebih dari 40 negara.

Menjadi backpacker menghadirkan kenikmatan sendiri bagi Elok dan teman lainnnya. Dikatakan Elok, dengan melakukan perjalanan mandiri kita bisa mengetahui bagaimana proses perjalanan dan bertemu teman lain. Kita juga bisa menelusuri jalur wisata yang berbeda dengan kebanyakan wisatawan.

Hal serupa diamini Risa yang mengaku mendapatkan pengalaman menarik dan tidak terduga, terutama saat melancong ke negeri Cina. "Saya suka spontan, waktu itu dengan modal nekat saya janjian dengan teman di sana. Ternyata menyenangkan meskipun saya harus menggunakan 'bahasa tarzan' untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal," ujarnya.

Cerita-cerita menarik di negeri seberang yang dilontarkan Elok dan Risa ternyata dipermudah dengan gabung ke situs jaringan sosial semisal couchsurfing.org dan hospitalityclub.org. Ini merupakan salah satu cara untuk menekan biaya liburan.

"Itu jaringan backpacker yang buka rumahnya untuk diinapi gratis oleh backpaker lainnya," ujar Elok yang bisa dibilang backpacker senior. Sedangkan untuk yang lokal para backpacker bisa gabung di Backpacker Dunia (Facebook) dan @BackpakerDunia (twitter).

Melalui jaringan tersebut, backpacker yang hendak menuju negara tertentu bisa mendapat teman baru dari anggota lain yang kebetulan tinggal di negara yang dituju. Atau mengajak sesama anggota untuk jalan bareng ke negara tujuan yang sama.

"Sewaktu di Cina, saya dijamu salah satu anggota yang dengan baik hati merelakan apartemennya untuk dijadikan tempat menginap oleh saya dan beberapa teman backpacker lain," ujar Risa.

Apa yang dilakukan Elok dan Risa memungkinkan mereka mendapat teman baru dari negara yang berbeda dan selangkah lebih maju melihat serba-serbi dunia luar yang mungkin tidak terbayang sebelumnya. Memang backpacker itu ibarat candu, membuat orang jadi ketagihan. Ingin mencobanya? (*/X-13)
~ SUMBER ~ (http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2011/01/26/2051/2/Backpacker-Itu-Ibarat-Candu)

atheis
10th February 2011, 04:50 AM
klo repost mohon maaf n silahkan diclosed
klo salah kamar silahkan di moderasi
klo suka silahkan dibaca dan dicoment ndan
klo berkenan ditunggu kiriman cabenya
:cabe::cabe::cabe:

:gomen: :shakehand: :gomen: